MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SEASON 2 (BERUSAHALAH MEMAHAMI SIKAPKU)


Jgn pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup jgn pernah mengatakan kamu tidak mencintainya jika kamu masih tidak dapat melupakannya.




Bernard sudah masuk ke dalam mobil bersiap untuk mengantar Key dan Lana pergi berbelanja, Key dan Lana duduk di kursi belakang mobil Bernard. Sedangkan Lila dan Riko melihat kepergian mereka dengan senyuman dan lambaian tangan.



“*Apa mereka fikir aku ini supir mereka*.” Batin Bernard yang melihat dari kaca spion.



Baru saja keluar dari halaman rumah Lana, tiba-tiba Bernard menghentikan mobilnya dan membuat Key dan Lana terkejut.



“Pindah ke depan Key!” perintah Bernard.



“Ha? Kenapa?” tanya Key.



“Apa kamu fikir aku ini supirmu? Key duduk depan.” Ucap Bernard sekali lagi yang akhirnya di turuti oleh Key.



Key pindah ke depan dengan perasaan kesal, Key kesal karena di suruh pindah ke depan, dan kesal karena Bernard dengan seenaknya mengaku sebagai pacarnya.



Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara di antara mereka bertiga yang membuat suasana di dalam mobil canggung. Sesampainya di mall, Bernard mengikuti kemanapun Key dan Lana pergi dan melihat-lihat setiap toko.



“Lan, lihatlah ini bagus sekali.” ucap Key dengan semangat menunjukan baju santai yang indah.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1609686167648.jpg)



"*Huh, tadi aja di dalem mobil mukanya asem banget, sekarang malah lebar banget ketawanya sampe lalat aja bisa masuk ke mulutnya*.” Batin Bernard sambil menatap tajam ke arah Key.



“Wah kenapa semuanya bagus sekali..” ucap Lana sambil melihat-lihat baju yang ada di toko itu.



“Benar Lan! Semuanya bagus sekali.” lanjut Key.



“Apa perlu aku membeli semua baju yang ada di toko ini?” ucap Bernard yang sedari tadi mendengar obrolan kedua gadis kecil itu.



“Cih, sombong sekali! aku juga bisa membeli semua baju yang ada di sini.” Ketus Key.



“Kalo gitu beli lah semuanya, agar tidak usah repot untuk keliling mencari-cari.” Ucap Bernard.



“Untuk apa membeli semuanya om? Karena memang dari awal semua yang ada di mall ini adalah milik papinya Key.” Celetuk Lana yang segera di senggol oleh Key.



“Kamu kenapa bilang!?” bisik Key.



“Aku kan ngomong apa adanya Key.” Balas Lana dengan wajah polosnya.



Bernard hanya menatap tajam ke arah Key karena sudah membuatnya mengikutinya dari satu toko ke toko yang lain dan membawa belanjaan yang sudah di beli oleh kedua gadis itu.



“Apa!? Kenapa om beruang ngeliat aku kayak gitu?” tanya Key.



“Terus tujuan kamu belanja itu buat apa kalau semua ini adalah milik keluargamu ha?!” ucap Bernard yang mulai kesal.



“*Untuk membalasmu karena sudah mengatakan kalau dirimu adalah pacarku*!” batin Key.



Bernard menelfon seseorang yang Key dan Lana pun tidak tau siapa yang di telfon oleh Bernard. Setelah menelfon, 25 menit kemudian datanglah seseorang yang segera menghampiri Bernard.



“Tuan,,” sapa Jonathan.



“Jo, bawa semua ini dan antar sekalian teman Key pulang ke rumahnya karena aku akan mengantar Key pulang.” Perintah Bernard sambil memberikan semua kantong belanjaan yang di pegangnya ke Jonathan.



“Baik tuan, mari nona.” Ucap Jonathan kepada Lana.



“Tapi kami belum selesai berbelanja om.” Ucap Lana kepada Jonathan.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1609686167643.jpg)



“*Ha? om? Yaampun jadi gini rasanya jadi tuan Bernard yang di panggil om oleh nona Key*.” Batin Jonathan.



“Silahkan nona, kita harus pulang sekarang.” Perintah Jonathan yang akhirnya di turuti oleh Lana.




Key hanya membalas dengan anggukan dan lambaian tangan kepada Lana. Setelah melihat kpergian sahabatnya Key menoleh ke arah Bernard dengan tatapan tajam namun tidak di perdulikan oleh Bernard.



“Ayo kita juga pulang.” Ucap Bernard santai.



Di dalam mobil Bernard kembali melihat Key dengan wajah yang kembali di tekuk.



“Kamu ini kenapa setiap masuk ke dalam mobil mukanya jelek begitu?” tanya Bernard.



“Om, bisa tidak kalo ga nyebelin sekali aja.” Ketus Key.



“Nyebelin gimana sih Key?”



“Masih tanya? Om beruang ngapain nyuruh temen Key pulang?”



“Ya karena kamu udah ngerjain aku Key, aku ini sama sekali tidak pernah mau mengikuti wanita berbelanja bahkan mama dan Belinda sekalipun. Sekalinya ikutin kamu malah di kerjain muter-muter ke sana kemari.”



“Loh kita kan beneran nyari barang om.”



“Kan mall itu milik papimu, kenapa tidak kamu beli saja semuanya!”



“Om beruang itu tidak tau apapun tentang aku! Aku ini bukan wanita yang dengan seenaknya ngambil semua baju yang ada di mall miliknya sendiri! Dari kecil aku, abang dan saudara kembarku di ajarkan untuk membeli barang yang kami inginkan dengan uang kami sendiri!”



"Papi dan mami tidak pernah memberikan apa yang kami mau dengan mudah, kami juga di suruh berusaha untuk mendapatkan sesuatu dengan usaha kami sendiri, bahkan saat aku masih SMP aku pernah di belikan hp oleh mami tapi setiap bulan aku menyicilnya dengan uang jajanku sendiri! Jadi kalau om beruang berfikir aku adalah gadis manja yang dengan mudahnya meminta sesuatu kepada orang tuanya itu salah besar!” jelas Key yang membuat Bernard kaku di buatnya.



“Bagaimana bisa begitu? Lalu untuk apa orang tuamu bekerja selama ini jika bukan untuk memberikan vasilitas kepada anak-anaknya?” tanya Bernard.



“Tentu saja untuk kami! Papi dan mami bekerja untuk membuat perusahaan, mall, rumah dan lain-lain untuk kami. Papi membangun 3 mall, 3 perusahaan, 3 hotel, 3 rumah untuk 3 anaknya, tapi kami tidak bisa mendapatkannya dengan mudah! Kami harus membuktikan kepada papi kalau kami pantas mendapatkan hak yang sudah papi siapkan untuk kami!” ucap Key.



“*Aku benar-benar tidak menyangka dengan cara tuan Kalandra mendidik ketiga anaknya, itu benar-benar sangat efektif dan patut di coba untuk anak-anakku kelak*.” Batin Bernard dengan mata yang masih melihat ke depan.



“Dan om! Kenapa om beruang bilang kalau om ini adalah pacarku kepada aunty Lila?!” Ucap Key.



“Emang salah? Kan kita juga emang bakalan jadi pacar pura-pura, bedanya aku ga bilang ke orang tua kamu dan orang tua Lana kalau hubungan kita pura-pura.” Ucap Bernard.



“Ya tapikan mereka pasti kaget, secara aku ini ga pernah deket sama cowok apalagi punya pacar.. pasti aunty Lila udah bilang mami soal ini deh.” Ucap Key.



“So tau kamu ini, ya ga mungkin secepet itu lah..” jawab Bernard santai.



“*Ga ada yang ga mungkin, aunty Lila kan sama kayak Lana mulutnya bocor*..” batin Key sambil menatap malas ke depan.



Bernard sesekali menatap Key yang berada di sebelahnya, dia benar-benar tidak mengerti sebenarnya Key itu wanita yang seperti apa.



“*Aku benar-benar semakin ingin mengenalmu lebih jauh lagi Key*.” Batin Bernard dengan senyumnya.



“Om beruang udah gila ya!? kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Key.



“Ha? eh engga tuh, kan aku emang suka tersenyum.” Ucap Bernard yang tidak di gubris oleh Key.



“Oh iya Key, bisakah kamu tidak memangilku om beruang?”



“Emang salah? Kan perbedaan umur kita jauh.”



“Aku kan seumuran dengan abangmu, tapi kenapa kamu tidak memanggilnya om?”



“Ya itu beda lagi ceritanya om!”



“Masa iya aku bilang ke orang tua kamu kalau kita pacaran tapi kamu memanggilku dengan sebutan om? Tadi saja aku menyebutmu sayang.” ucap Bernard.



“Ya anggap saja itu panggilan sayangku untuk om beruang gampang kan!”



“Yaampun, aku beneran ga paham sama sikap kamu Key.” Ucap Bernard.



“Maka dari itu mulai sekarang berusahalah memahami sikapku, dan jangan menilaiku seenaknya seperti tadi.” tegas Key.