MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
BERBEDA DARI YANG LAIN


Dan akhirnya,selalu ada batas untuk setiap perjalanan, dan selalu ada kata selesai untuk setiap yang dimulai.




“Bernard, kamu ga mau ke rumah Key?” tanya Belinda kepada Bernard yang sedang bersiap untuk pulang.



“Aku akan ke sana, kamu duluan aja karena aku ingin membelikan sesuatu untuk Key terlebih dahulu.” Ucap Bernard.



“Mau beli apa? Kenapa kita ga bareng aja sih?” tanya Belinda.



“Kepo deh! Aku habis ini mau ngajak Key keluar, kamu akan di antar oleh Jonathan ke sana.” Ucap Bernard.



Mendengar ucapan Bernard membuat Belinda meliriknya dengan tajam sambil memanyunkan bibirnya.



“Jo!! Jonathan..” teriak Belinda memanggil Jonathan yang sedang berada di ruang istirahat Bernard.



“Ada apa?”



“Antarkan aku ke rumah Kenan!” ucap Belinda.



“Kenapa aku harus mengantarmu? Ada banyak pekerjaan yang harus aku lakukan di sini.” Ucap Jonathan.



“Jo!! Jangan menyebalkan seperti Bernard!” rengek Belinda.



“Kamu bisa naik taxi, Jonathan masih harus lembur di sini.” Sambung Bernard.



“Kalian berdua ini memang sama-sama menyebalkan!” ucap Belinda yang langsung keluar dari ruangan Bernard dan pergi untuk mencari taxi.



Jonathan dan Bernard hanya terdiam sambil melihat kepergian Belinda.



“Apa tidak masalah kalau kita membiarkan Belinda pergi sendirian? Lagipula kamu tumben sekali tidak marah saat aku menolak untuk mengantar Belinda.” Ucap Jonathan.



“Karena aku sudah menghubungi Kenan untuk menjempunya, aku yakin dia sudah ada di depan perusahaan untuk menjemput Belinda.” Ucap Bernard sambil tersenyum penuh dengan teka-teki.



“Apa!? Kamu serius? wah pantesan kamu santai sekali.” ucap Jonathan sambil menggelengkan kepalanya.



“Aku juga ga mungkin lah ngebiarin kembaranku pulang sendirian.” Ucap Bernard.



“Sudahlah kamu lanjut bekerja saja, jangan terlalu memaksakan ya, aku mau pergi dulu oke..?” ucap Bernard sambil menepuk punggung Jonathan yang sedang menata kertas dokumen di atas meja Bernard.



“Hah! Nasib seorang jomblo begini emang, yang lain pada keluar pacaran sedangkan aku hanya diam berkencan dengan kertas-kertas yang menumpuk ini.” gumam Jonathan kepada dirinya sendiri.



Di luar perusahaan, Belinda sedang menunggu taxi yang melewati perusahaannya dengan wajahnya yang masih kesal dengan Bernard dan Jonathan.



“Kenapa mukanya kesal begitu tuan putri.” Ucap seseorang dari arah belakang.



Belinda yang mendengar ada seseorang yang berbicara kepadanya langsung menoleh ke belakang lalu membuka kedua matanya.



“Kenan?” ucap Belinda.



“Kamu nungguin aku udah lama?” tanya Kenan.



“Ha? maksudnya apa? Aku nunggu taxi yang lewat di sini.”



“Loh, tapi Bernard tadi mengirimkan pesan kepadaku kalau kamu meminta aku untuk menjemputmu.” Jelas Kenan.



“Apa? Dasar kurang asem Bernard! Dia itu ngerjain aku tadi, aku juga ga tau kalo kamu ternyata jemput aku di sini.” Jelas Belinda.



“Yaudah kalo gitu, ayo kita pulang saja.” ajak Kenan yang di balas anggukan oleh Belinda.



Sedangkan tidak jauh dari sana, Bernard melihat adiknya yang tersenyum lebar saat melihat Kenan.



“*Aku harap kamu akan selalu bahagia dengan Kenan, Belinda*.” Gumam Bernard di dalam hatinya.



Setelah melihat Kenan dan saudara kembarnya pergi dari perusahaannya, Bernard segera menuju mobilnya untuk pergi membeli beberapa bunga untuk Key.



“Aku sengaja ga ngabarin Key dari tadi, dia marah ga ya..” gumam Bernard yang sedang mengendarai mobilnya.



Bernard mengendarai mobilnya hingga dia sampai di depan toko bunga yang cukup terkenal di daerah tersebut.



“Permisi tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan wanita yang ada di dalam toko bunga tersebut.



“Ah iya, saya mau membeli bucket bunga untuk kekasih saya.” ucap Bernard.




“Mawar merah saja, saya ingin bunga mawar merah yang besar dan indah.” Ucap Bernard yang segera di balas anggukan oleh pelayan tersebut.



Sambil menunggu bucket bunga yang dia pesan jadi, Bernard pergi ke market yang ada di sebrang toko bunga tersebut untuk membeli kopi hangat dan beberapa makanan ringan untuk dia makan karena Bernard merasa sangat lapar setelah bekerja seharian.



Saat sedang membayar makanannya, tiba-tiba saja ada yang menyerobotnya untuk membayar terlebih dulu.



“Maaf nona, saya di sini lebih dulu.” Ucap Bernard.



“Ah, maaf tuan tapi saya benar-benar terburu-buru sekali, bisakah saya yang lebih dulu membayar makanan ini?” tanya wanita itu.



Tiba-tiba saja Bernard tersenyum karena mengingat pertama kali bertemu dengan Key dalam kejadian seperti yang sedang dia alami saat ini.



“*Kenapa dia tersenyum seperti itu? Apa jangan-jangan dia menyukaiku? Ah tapi dia tampan sekali*.” gumam wanita tersebut sambil menatap kagum kepada Bernard.



Kasir yang melayani mereka hanya bisa mengerutkan keningnya melihat kedua orang yang ada di hadapannya malah melamun entah sedang memikirkan apa.



“Permisi, tuan dan nona, siapa yang akan saya layani terlebih dulu?” tanya kasir tersebut hingga membuat Bernard dan wanita itu tersadar dari lamunan mereka.



“Ah, biarkan nona ini yang membayar terlebih dulu karena dia sedang terburu-buru.” Ucap Bernard.



Mendengar ucapan Bernard, membuat wanita tersebut tersenyum senang dan berterimakasih kepada Bernard.



“Terimakasih banyak tuan, jika suatu saat kita bertemu kembali aku akan membalas kebaikan tuan ini.” ucap wanita itu sambil tersenyum manis.



“Tidak perlu, terimakasih.” Ucap Bernard dengan sopan sambil sedikit menundukkan kepalanya.



Setelah membeli semua yang dia inginkan, Bernard segera kembali ke toko bunga tersebut untuk mengambil bunga yang dia pesan.



“Apa bunga pesanan saya sudah selesai?” tanya Bernard yang baru saja masuk ke dalam toko bunga.



“Sudah tuan, ini bunga yang anda minta.” Ucap pelayan tersebut.



“Boleh saya minta tolong masukkan ke dalam bagasi mobil saya?” tanya Bernard.



“Tapi ini tidak akan muat jika di taruh di dalam bagasi tuan.”



“Saya memang sengaja, pintu bagasi saya tidak akan saya tutup dan biarkan saja bunganya terlihat, rumah kekasih saya tidak jauh dari sini kok.” Jelas Bernard yang di balas anggukan oleh pelayan tersebut.



Akhirnya pelayan tersebut dengan beberapa temannya membantu untuk memasukkan bucket bunga mawar merah yang berukuran besar itu ke dalam bagasi mobil Bernard.



“Terimakasih banyak, ini adalah tip untuk kalian semua karena sudah membantu saya.” ucap Bernard.



“Terimakasih banyak tuan, semoga hubungan anda dengan kekasih anda akan selalu langgeng hingga kalian menikah dan membangun keluarga yang harmonis.” Ucap salah satu pelayan.



“Terimakasih untuk doanya, saya juga berharap seperti itu.” Ucap Bernard.



Setelah selesai dengan urusah bunga, Bernard segera menancap gas mobilnya menuju rumah keluarga papi Kalandra untuk memberi kejutan kepada Key.



“Aku akan mencoba menelfon Key.” Gumam Bernard sambil mengambil hp di saku celananya.



“Halo.” Ucap Key dari sebrang telfonnya.



“Halo Key, kamu di mana?” tanya Bernard.



“Tentu saja aku berada di rumah, memangnya di mana lagi.” Ketus Key.



Mendengar nada bicara Key yang jutek seperti itu, Bernard sangat yakin kalau dia sudah membuat Key kesal.



“Bisakah kamu keluar rumah? Sebentar lagi aku akan sampai di depan rumahmu, aku ingin mengajakmu makan karena aku belum makan sejak pagi tadi.” rengek Bernard.



“Apa? Kenapa om beruang tidak makan?!” ketus Key.



“Aku terlalu sibuk dengan dokumen yang harus di periksa secepatnya.” Jelas Bernard.



“Baiklah, om beruang tunggu di depan rumah saja, aku akan segera mengganti baju dan keluar untuk menemani om beruang makan.” Ucap Key yang langsung mematikan telfonnya.



Bernard tersenyum sambil melihat ke layar hpnya, Bernard tersenyum kecil melihat tingkah lucu kekasihnya itu.



“*Kamu ini benar-benar berbeda dari wanita manapun Keyla*!” gumam Bernard dengan senyum yang mengembang di wajahnya.