
Cinta Itu Ikhlas
cinta bagaikan air laut yang mengisi sebagian isi bumi…
memberi banyak kehidupan..
membuat orang ingin tahu..
dan tiap orang pasti mengalami cinta..
***Rumah Sakit***
Kalandra tersenyum menatap layar hpnya yang terpampang jelas foto Khansa yang menjadi wallpaper hpnya.

“*Entah kapan dan bagaimana aku memiliki foto ini, tapi aku sangat menyukainya dan tidak akan menggantinya*.” Batin Kalandra sambil mengusap wajah Khansa di layar hpnya.
Tiba-tiba saja Kalandra terkejut karena Khansa membuka pintu ruangannya dan masuk dengan lemas karena habis mengurus urusah pekerjaan.
“Apa kamu merasa lelah?” tanya Kalandra.
“Hmm,, bagaimana kamu bisa bekerja selama ini tanpa merasa lelah?” tanya Khansa.
“Kemarilah..” Kalandra menyuruh Khansa untuk mendekat padanya.
Dengan ragu Khansa menghampiri suaminya itu, lalu tiba-tiba Khansa terkejut karena Kalandra memeluknya. Kepala Kalandra tepat berada di dadanya dan Khansa sangat yakin jika Kalandra pasti mendengar dengan jelas jantunya yang berdetak dengan sangat kencang.
“*Yaampun, kenapa dia memelukku secara tiba-tiba begini? Apa dia sudah mengingatku*?” batin Khansa.
“Mas? Apakah ingatanmu sudah kembali?” tanya Khansa.
Kalandra melepaskan pelukannya dan menatap Khansa lalu menggelengkan kepalanya.
“Aku belum mengingat apapun, tidak tau kenapa aku sangat ingin memelukmu dan mengucapkan terimakasih karena sudah memutuskan untuk menggantikan posisiku sementara.” Ucap Kalandra.
“*Oh, jadi pelukan itu untuk mengucapkan terimakasih*.” Batin Khansa yang tiba-tiba menunduk sedih.
“Ada apa?” tanya Kalandra yang melihat perubahan ekspresi Khansa.
“Tidak apa-apa mas. Oh iya apakah kak Anita harus menemaniku setiap hari di perusahaan?” tanya Khansa.
“Hmm,, dia harus berada di sampingmu terus.”
“Bisakah aku meminta Rose yang menemaniku? Kasihan kak Anita jika harus mengurus rumah sakit dan mengurusku.”
“Tidak bisa, Rose akan aku tugaskan untuk menemani Ryan menemui klient mewakiliku.”
“Kak Ryan mewakilimu?”
“Hm, perusahaan kita sudah menjalin kerja sama dan Ryan juga memiliki sedikit saham di perusahaanku. Jadi dia bisa aku tugaskan untuk mewakiliku bertemu dengan klient.”
“Lalu kenapa Rose harus menemaninya?” tanya Khansa.
“Karena aku ingin Rose belajar bagaimana cara mendampingi seseorang di dunia bisnis, aku ingin menjadikannya pendampingmu jadi aku harus melatihnya dulu.”
“Jadi maksudnya kak Ryan yang akan mengajarinya?” tanya Khansa.
“Hmm.”
“Kapan mereka akan berangkat?”
“Nanti malam.”
“Lalu bagaimana dengan Kenan?”
“Aku akan mengantar dan menjemputnya mulai saat ini.” ucap Kalandra sambil turun dari tempat tidurnya dan berdiri tegak.
Khansa terkejut hingga menjatuhkan tas yang sedang di pegangnya.
“M,,mas? K,kamu?”
“Iya, aku sudah bisa berjalan dan bisa memenuhi janjiku padamu dan Kenan.” ucap Kalandra sambil tersenyum kepada Khansa.
“Kenapa kamu menangis? Apa perutmu sakit?” tanya Kalandra panik karena tiba-tiba Khansa menangis.
“Tidak apa-apa, aku hanya bahagia karena kamu sudah bisa berjalan seperti dulu.” Ucap Khansa sambil menghapus air matanya yang membasahi pipinya.
Kalandra hanya mengelus kepala Khansa dengan lembut sambil tersenyum. Khansa yang mendapat perlakuan manis dari Kalandra sangat bahagia, jantungnya berdetak lebih cepat diandingkan biasanya.
“*Apa aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya terhadap suamiku*?” batin Khansa sambil tersenyum malu memikirkan perasaannya sendiri.
“Kamu segera mandilah lalu kita jemput Kenan, aku ingin mengajakmu untuk melihat persiapan Ryan dan Rose.” Ajak Kalandra.
“Mereka pasti akan terkejut melihat kamu berjalan lagi.” Ucap Khansa.
Khansa berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Kalandra tersenyum melihat Khansa yang sudah terlihat cantik lalu merentangkan tangan kanannya ke arah Khansa.
Khansa yang bingung hanya mengerutkan keningnya, ia tidak tau apa yang dimaksud suaminya itu.
“Ayo..” ajak Kalandra sambil menggerakkan tangannya ke arah tangan Khansa dan menggandengnya ke luar rumah sakit.
Khansa sangat senang dengan perlakuan manis suaminya itu.

“*Aku tidak masalah jika kamu melupakan kenangan kita, tapi aku ingin kita membangun kembali kenangan yang lebih indah dari sebelumnya*.” Batin Khansa yang menatap ke arah tangan yang digandeng Kalandra.
Ryan&Rose
“Kak, aku harus menyiapkan apa saja? aku tidak memahami apapun.” Ucap Rose yang sedang merapihkan beberapa lembar kertas dan memasukkannya ke dalam tas koper.
Ryan dan Rose sedang berada di perusahaan Kalandra dan mengambil keperluan yang harus dibawa saat menemui klient.
“Sudahlah, ambil semua berkas yang ber map merah. Aku juga tidak akan sempat untuk membacanya satu per satu.” Ucap Ryan.
“Lagian tuan Andra ada-ada aja, kenapa harus mendadak seperti ini sedangkan aku juga belum memiliki pengalaman bekerja seperti ini.” protes Rose.
“Justru karena kamu belum memiliki pengalaman bekerja makanya dia ingin aku mengajarimu.”
“Kenapa dia mau aku mempelajari hal mengenai ini.”
“Karena dia ingin kamu menjadi pendamping Khansa, mungkin dia ingin Khansa bekerja di perusahaan.” Jelas Ryan.
“Maksudnya, walaupun tuan Andra sudah pulih dia akan tetap menyuruh Khansa bekerja di perusahaan?” tanya Rose.
Ryan hanya menaikkan kedua pundaknya menandakan tidak tau.
Drrtt,, drrtt..
“Kak, ada telfon.” Ucap Rose yang melihat panggilan masuk di hp Ryan.
Ryan segera mengambil hpnya dan mengangkatnya, ia melihat nama Kalandra di layar hpnya.
“Halo Ndra.”
“Halo, kamu dimana yan? Apa semua keperluan yang akan kalian bawa sudah siap?” tanya Kalandra.
“Aku dan Rose masih berada di kantormu dan masih memilih berkas-berkas yang akan kami bawa.”
“Baiklah, aku dan Khansa akan kesana untuk membantu kalian.”
“Eh Ndra..”
Tut,tut,tut.
Kalandra mematihan telfonnya secara sepihak tanpa mendengar jawaban dari Ryan.
“Ada apa kak?” tanya Rose yang penasaran.
“Andra bilang dia mau kesini bersama Khansa, apa dia sudah bisa berjalan sehingga dia ingin membantu kita disini?” selidik Ryan.
“Hee,, ga mungkin lah kak. Masa iya tuan Andra bisa sembuh secepat ini?”
Ryan menggelengkan kepalanya dan melanjutkan pekerjaannya.
“Hahh,, akhirnya sudah selesai juga..” ucap Rose.
Kalandra dan Khansa tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan mengejutkan Ryan dan Rose yang baru saja menyelesaikan berkemas.
“N,,ndra? Ini beneran kamu? Kamu udah bisa jalan?” tanya Ryan sambil memutar badan sahabatnya itu.
“Kan benar apa yang aku bilang, mereka pasti sangat terkejut melihat kamu sudah bisa berjalan mas.” Ucap Khansa menoleh ke arah suaminya.
“Papa! Papi sekarang sudah sembuh, dia berjanji akan mengajak Kenan jalan-jalan.” Ucap Kenan yang berlari menghampiri Ryan untuk bercerita tentang kesembuhan papinya.
“Wah, sepertinya anak papa sangat senang karena ingin berjalan-jalan bersama papi dan mami ya?” tanya Ryan.
“Iya pa, papa cepatlah mencari mama baru agar Kenan juga memiliki mama dan mami.”
Khansa dan Kalandra saling tatap dan tersenyum mendengar ucapan Kenan kepada Ryan.
“Kenan mau punya mama baru sayang?” tanya Khansa.
“Iya mi, Kenan kan sudah punya papa dan papi. Kenan juga ingin punya mama dan mami.” Ucap Kenan.
Ryang hanya bisa tersenyum canggung mendenar ucapan anaknya itu.
“Mmm,, Kenan juga mau kalo tante Rose yang menjadi mama Kenan.” ucap Kenan polos sambil menoleh ke arah Rose yang berdiri di belakang Ryan.
Ryan dan Rose hanya bisa diam seribu kata mendengar ucapan Kenan, seketika suasana di dalam kantor Kalandra terasa canggung.
Sedangkan Khansa dan Kalandra hanya menahan tawanya mendengar ucapan Kenan yang masih sangat polos itu.