MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
BAPAK SAMA ANAK SAMA AJA


Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari satu tubuh. Jika kepalanya menghilang maka keseluruhan tubuhnya akan membusuk. Sama halnya jika kesabaran hilang, maka semua hubungan akan rusak.




“Semoga kerjasama kita akan menghasilkan untung yang berlipat-lipat tuan Andra.” Ucap Aldi.



“Tentu saja tuan Aldi saya pun berharap seperti itu.”



“Saya lebih muda di bawah anda, anda bisa menyebut saya Aldi saja.”



“Tidak bisa begitu, walaupun usia anda lebih muda dari saya tetapi anda tetaplah CEO perusahaan C, aku harus menghormatinya.” Ucap Kalandra.



Perusahaan Kalandra berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan C, Kalandra bersyukur karena atas bantuan istrinya dia bisa menjalin kerjasama ini, mungkin jika tidak ada Khansa entah apa yang akan terjadi kepada perusahaannya.



“Oh iya, saya ingin mengundang tuan Andra dan istri untuk menghadiri pesta ulang tahun adik perempuan saya besok malam.” Ucap Aldi.



“Kehormatan untuk saya dan istri saya karena telah di undang ke pesta penting itu, tentu saja saya akan datang ke pesta itu.” Ucap Kalandra.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1606634723026.jpg)



Aldi hanya tersenyum kepada Kalandra sambil menjabat tangannya dan berpamitan. Kalandra mengantar Aldi sampai ke depan perusahaan, setelah melihat kepergian Aldi Kalandra berbalik ingin menuju ke ruangannya.



“Gila ya Ndra, ternyata Khansa hebat juga bisa memprediksi pertanyaa-pertanyaan yang akan di tanyakan kepada kita, untung saja kita sudah melakukan persiapan.” Ucap Edo.



“Hm, kamu benar do aku juga tidak menyangka jika Khansa memiliki pikiran sejauh itu.” Balas Kalandra.



Kalandra dan Edo masuk ke dalam ruangan dan melihat Rose sedang duduk di sofa sedangkan Kalandra tidak melihat keberadaan Khansa di sana.



“Dimana Khansa?” tanya Kalandra kepada Rose.



“Ada di ruang istirahat tuan.” Ucap Rose.


“Baiklah, kamu dan Edo silahkan pergi untuk makan siang. Edo akan menunjukkan dimana ruanganmu.” Jelas Kalandra.



Rose mengangguk dan pergi bersama Edo untuk istirahat makan siang di kantin.



Sedangkan Kalandra segera masuk ke dalam ruang istirahat dan memeluk Khansa yang sedang menyusui anaknya sambil tertidur.



“Hai sayang..” ucap Kalandra.



“Loh sudah selesai mas? Bagaimana hasilnya?” tanya Khansa sambil menutup kembali dadanya karena Ken sudah tertidur.


Khansa menghadap ke arah Kalandra dan membalas pelukan suaminya itu.



“Semuanya berjalan dengan lancar sayang itu semua karena kamu, terimakasih.” Ucap Kalandra sambil mencium kening Khansa.



“Untuk apa berterimakasih kepada istrimu sendiri mas..”



“Anak-anak rewel?” tanya Kalandra.



“Engga kok tadi mereka cuma haus aja udah gitu tidur lagi, oh iya Kenan ga di jemput mas?” tanya Khansa.



“Ini aku mau ngajak kamu jemput dia, tapi si kembar gimana.”



“Ada Rose di sini mas, toh jarak sekolah Kenan tidak jauh dari perusahaan insyaAllah si kembar tidak akan bangun.” Ucap Khansa.



Akhirnya Kalandra dan Khansa memutuskan untuk menjemput Kenan bersama, Khansa menghubungi Rose untuk meminta tolong menjaga si kembar sebentar karena dia dan suaminya akan menjemput Kenan.



“Kamu udah bilang ke Rose?” tanya Kalandra.



“Hm, aku sudah menelfonnya aku menyuruhnya segera kemari setelah selesai dengan urusannya.”



“Baiklah, kita tunggu dia datang setelah itu baru kita berangkat.”



Kalandra dan Khansa menunggu kedatangan Rose terlebih dahulu, setelah Rose datang ke ruangan Kalandra, mereka segera pergi untuk menjemput putra sulungnya itu.



Kalandra menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang, tiba-tiba saja terdengar suara perut Khansa yang berbunyi sangat kencang hingga membuat Kalandra tertawa mendengarnya.



“*Aduh malu-maluin banget sih perut, biasanya juga ga sampe bunyi kenceng banget gini*.” Batin Khansa yang sedikit malu dengan suara perutnya yang begitu kencang.



“Pfftt,, di dalam perutmu sedang ada konser ya sayang?” ledek Kalandra yang membuat Khansa memukul lengan suaminya itu.



Kalandra melihat jam yang ada di tangannya itu. “Kita jemput Kenan dulu baru makan ya sayang, soalnya udah mepet banget sama waktu pulangnya Kenan.” ucap Kalandra.




![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1606634723033.jpg)



Khansa dan Kalandra sampai di sekolah Kenan dan menunggu Kenan di dalam mobil. Khansa menoleh ke jendela dan melihat anak muda yang membantu ibunya berjualan di depan sekolah.



“Kamu lihat apa sayang?” tanya Kalandra yang melihat istrinya sedang fokus melihat ke arah luar.



“Aku hanya ingat jika dulu aku juga membantu ibuku berjualan sepulang bekerja, dan karena hal itulah aku bertemu dengan laki-laki seperti kamu, laki-laki yang sudah memiliki anak yang sangat tampan dan menggemaskan, laki-laki yang datang seperti malaikat yang datang menghampiriku dan menawarkan bantuan di saat-saat terberatku, laki-laki yang mengajakku menikah dan selalu menghormatiku dan tidak pernah memperlakukanku seenaknya.” Ucap Khansa sambil menoleh ke arah Kalandra.



Kalandra tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.



“Apa kamu sempat menyesal saat mengambil keputusan untuk menikah denganku?” tanya Kalandra.



“Jujur saja, saat itu aku menerima tawaranmu itu murni karena aku ingin menyelamatkan Leo tapi saat aku melihat Kenan dan mendengar ceritanya aku sangat ingin menjadi sosok ibu yang baik untuknya, aku sangat ingin memberikan kasih sayang yang selama ini tidak pernah dia dapatkan. Sampai akhirnya aku mulai mencintaimu dan tidak pernah menyesal telah mengambil keputusan saat itu, itu adalah pilihan terbaik yang pernah aku pilih.” Ucap Khansa yang mulai berkaca-kaca.



“Sudahlah jangan menangis, nanti Kenan akan memarahiku karena mengira aku memarahimu sayang.” Kalandra mencoba untuk menghibur istrinya sambil mengelus punggung istrinya dengan lembut.



“Mas, jika suatu saat nanti kamu menemukan perempuan yang lebih baik dariku apa kamu akan meninggalkanku?” tanya Khansa.



“Tidak akan sayang, rumput tetangga memang terlihat lebih segar tapi kalau basah sama aja beceknya, untuk apa aku membuang berlian hanya untuk perhiasan imitasi yang hanya terlihat bercahaya saat pertama melihatnya namun lambat laun akan menghitam dan tidak bercahaya lagi.” Jelas Kalandra yang membuat Khansa tersenyum lebar.



Tiba-tiba terdengar suara bel sekolah yang menandakan jam pelajaran telah selesai, Kalandra dan Khansa turun dari mobil dan mendekat ke gerbang sekolah.



Kenan melihat papi dan maminya yang sedang menunggunya itu berlari dan berteriak karena senang.



“Papii,, Mamii..” ucap Kenan yang langsung memeluk tubuh papi dan maminya secara bergantian.



“Halo gantengnya mami, gimana tadi sekolahnya?” tanya Khansa.



“Ya gitu-gitu aja mi.” ucap Kenan dengan malas.



“Kenan!” sapa Belinda yang datang menghampiri Kenan dan papi maminya.



“Kamu ngapain sih ke sini.” Ketus Kenan kepada Belinda.



Khansa terkejut melihat anaknya yang dingin terhadap teman perempuannya.



“Kenan kok gitu sama temennya.” Tegur Khansa.



“Halo cantik, nama kamu siapa?” tanya Khansa kepada gadis kecil itu.



“Halo tante, namaku Belinda teman sekelas Kenan.” Belinda memperkenalkan dirinya dengan sopan.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1606634723030.jpg)



“Namanya cantik seperti orangnya.” Puji Khansa. “Kamu pulang sama siapa sayang? mau bareng Kenan?” tanya Khansa lagi.



“Tidak mi, Kenan ga mau sama dia.” Ujar Kenan sambil melipat kedua tangannya di dadanya.



“Kenan sayang.” Khansa kembali mengingatkan anaknya itu.



“Tidak usah tante, Belinda pulang bersama dengan kembaran Belinda dia juga temannya Kenan tante. Kami sudah di jemput oleh supir jadi tante tidak usah repot-repot.” Ucapnya dengan tersenyum manis.



“Belinda ayo kita pulang.” Teriak anak laki-laki yang berdiri lumayan jauh di belakang Belinda.



“Dah tante, dah om, dah Kenan Belinda pulang dulu ya.” ucap Belinda sambil melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan mereka.



Kalandra, Khansa, dan Kenan masuk ke dalam mobil, disana Khansa membahas perlakuan Kenan kepada teman perempuannya.



“Kenan sayang, kamu kok tadi ngomongnya jutek gitu ke temen kamu?” tanya Khansa.



“Kenan males sama Belinda mi dia itu gangguin Kenan terus anaknya bawel lagi.”



“Tapi menurut mami dia imut kok, benarkan mas?” tanya Khansa kepada Kalandra.



“Aku no comment ya sayang..” ucap Kalandra mencari aman.



Khansa hanya menghela nafas dan memanyunkan bibirnya.



“*Bapak sama anak sama aja dinginnya kayak es batu*.” Batin Khansa.