
*T*erkadang kamu harus berhenti mencari orang yang tepat untuk hidupmu, dan membiarkan dia datang sendiri padamu.
“Papi! Mami!” teriak Kenan yang langsung lari ke pelukan papinya.
“Apa anda orang tua Kenan?” tanya guru tersebut.
“Iya! Saya papinya Kenan! apa pantas anda sebagai seorang guru membentak muridnya? apa anda tau jika anak yang anda bentak adalah sesuatu yang berharga bagi orang tuanya!?” Ketus Kalandra.
“Mas..” Khansa mencoba untuk menenangkan suaminya agar tidak terbawa emosi.
“Silahkan duduk terlebih dahulu.” Guru tersebut mempersilahkan Kalandra dan Khansa untuk duduk.
“Maafkan sikap suami saya ya bu, sebenarnya apa yang terjadi? Anak kami tidak mungkin melakukan hal seperti itu.” Ucap Khansa.
“Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau Kenan memukul wajah temannya!” ujar guru tersebut.
“Apa ibu sudah bertanya kenapa dia memukul anak itu?”
“Sudah, dan teman-teman yang lain juga sudah bilang kalau Kenan yang tiba-tiba memukulnya tanpa alasan!”
“Benarkah? tapi setau saya, Kenan adalah anak yang pendiam di sekolah bahkan tidak memiliki teman di kelasnya, apakah ibu tidak pernah berfikir jika mungkin saja anak-anak itu sengaja membuat Kenan menjadi orang yang bersalah!?” tegas Khansa.
“Tidak mungkin anak-anak berbohong! Saya mendidik anak-anak dengan sangat baik di sekolah ini!”
“Lalu? Apakah ibu tau bagaimana didikan mereka di rumah? Berarti ibu tidak bisa mendidik anak dengan benar di sekolah jika sampai ada kejadian seperti ini! bagaimana cara anda mendidik anak saya di sekolah sampai dia bisa memukul teman kelasnya!?” ujar Khansa.
“Kami mengajarkan anak kami untuk tidak memakai kekerasan di manapun dia berada, kami tidak mengajarkan anak kami untuk mencari masalah lebih dulu, tapi jika orang-orang itu sudah menyakiti atau menghina orang-orang yang dia sayangi, kami menghalalkan segala cara untuk membuat mereka jera!” lajutnya.
“*Bagaimana bisa ibunya memiliki mulut yang manis tapi ternyata lebih kejam*!” batin guru tersebut.
“Kami akan membawa anak kami pulang ke rumah sambil menyelidiki kasus ini, jika anak saya yang bersalah saya akan menghukumnya dengan hukuman yang setimpal, tapi jika anda dan anak-anak itu yang salah, saya akan memikirkan kembali bagaimana cara menghukum anda dan mereka semua! saya tau ini hanya masalah anak-anak biasa, tapi saya tidak ingin nama anak saya ternoda dengan kasus kecil seperti ini yang bahkan gurunya saja tidak bisa mengatasi hal ini!” tegas Kalandra.
Kalandra, Khansa dan Kenan segera berdiri dan ingin meninggalkan ruangan tersebut, namun langkah Khansa terhenti dan membalikkan badannya.
“Dan satu hal lagi, selama ini kami tidak pernah memukul bahkan membentak anak kami. Sedangkan anda berani-beraninya menarik dan membentak anak kami! Sepertinya anda tidak pantas menjadi guru jika kelakuan anda masih seperti itu!” tegas Khansa lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Kalandra dan Khansa mengantar Kenan untuk masuk ke dalam kelas dan mengambil tas miliknya, semua anak-anak yang melihat Kenan masuk ke dalam kelas tertawa sinis ke arahnya, mereka tidak tau jika orang tua Kenan berada di luar kelas.
“Hei anak papi! Bagaimana? Apa enak di hukum? Kenapa kamu mengambil tasmu? Apa kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini!?” ejek anak-anak di dalam kelas sambil tertawa sedangkan Kenan tidak memperdulikan ucapan teman-temannya.
Kalandra yang mendengar hal itu sangat geram dan mengepalkan kedua tangannya, Khansa menahan suaminya agar tidak emosi terhadap anak kecil.
“Sudahlah, mereka hanya anak kecil. Kita juga tidak bisa menyalahkan mereka mas.” Ucap Khansa.
Akhirnya Kalandra hanya diam menunggu anaknya keluar dari kelasnya lalu mereka membawa Kenan ke kantor untuk berkumpul bersama di sana karena Kalandra dan Khansa harus kembali ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya.
“Papi, mami.. maafin Kenan ya, Kenan udah ngingkarin janji untuk ga nakal di sekolah.” Ucap Kenan memecah keheningan di dalam mobil.
“Sayang, mami tau kamu tidak akan memukul orang jika orang itu tidak mulai mengganggmu lebih dulu.” Ucap Khansa.
“Memang apa yang mereka katakan hingga membuatmu memukulnya Kenan?” tanya Kalandra.
“Mereka awalnya ngajak Kenan main, tapi Kenan ga suka sama mereka yang suka menyombongkan barang-barangnya, kalau dulu Bernard tidak pernah menyombongkan apapun makanya Kenan suka bermain dengannya.” Jelas Kenan.
“Bernard? Siapa dia?” tanya Kalandra yang tidak mengenal Bernard.
“Dia kembarannya Belinda yang waktu itu nyamperin kita pi.” Ucap Kenan.
Kalandra dan Khansa hanya menganggukan kepalanya mendengar penjelasan anak sulungnya itu.
“Papi dan mami akan menemukan bukti jika kamu tidak bersalah sayang, kamu tenanglah..” ucap Kalandra.
“Hm, papi benar. Tapi jika kami tau memang kamu yang memulai perkelahian itu duluan, kamu akan mendapatkan hukuman dari kami ya sayang..” ucap Khansa yang di jawab anggukan oleh Kenan.
Sesampainya di kantor, Kalandra, Khansa dan Kenan masuk ke dalam ruangannya. Di sana sudah ada Leo yang mengurus pekerjaan sambil menjaga si kembar.

“Hai om Leo.. Kenan kangen om Leo..” ucap Kenan sambil memeluk tubuh Leo.
“Hai jagoan om Leo! Kamu udah berani memukul wajah temanmu?” tanya Leo dengan nada candaan.
Kenan yang mendengar ucapan Leo langsung menundukkan wajahnya dengan ekspresi sedih, Leo tersenyum melihat keponakannya itu seketika merubah mimik wajahnya.
“Sudahlah, selama bukan kamu yang memulai om Leo akan selalu mendukungmu.” Ucap Leo memberikan semangat kepada Kenan.
“Leo!” tegur Khansa dengan mata yang terbuka lebar.
“Hehehe maaf kak, kan Leo bener selama ga berbuat salah kenapa harus takut?” tanya Leo.
“Sudahlah, lanjutkan pekerjaanmu bersama mas Andra! Kakak mau melihat si kembar dan mengajak Kenan beristirahat di kamar.” Ucap Khansa sambil mengajak Kenan ke dalam ruang istirahat.
“Kamu ganti baju dulu setelah itu Tidurlah dulu sayang, mami akan memesankan makanan untuk kamu ya. Nanti setelah makanannya datang mami akan membangunkanmu.” Ucap Khansa sambil mengelus rambut putranya yang sedang berbaring di atas kasur.
“Mami marah sama Kenan?” tanya Kenan.

“Tidak sayang! mami tidak marah kepadamu, mami tau kamu tidak memulai pertengkaran lebih dahulu. Tapi sayang, lain kali kamu harus bisa menahan emosi karena kamu akan tumbuh di dunia bisnis yang sangat kejam, jika kamu mudah terbawa emosi musuhmu dengan mudah bisa menebak kelemahan kamu sayang.” jelas Khansa.
“Kenan tau mami, lain kali Kenan akan menahan emosi Kenan. Tapi mami, kenapa adek-adek tidak di kenalkan kepada wartawan?” tanya Kenan.
“Kalau masalah itu kamu bisa tanya papi langsung ya, mungkin papi tidak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.” Ucap Khansa.
“Kesalahan apa mi?”
“Kata papi, mengenalkanmu kepada wartawan adalah salah satu kesalahan terbesarnya.”
“Kenapa mi?”
“Karena sama saja dia menuntunmu ke dalam bahaya sayang, dia takut saingan bisnisnya akan menyakitimu untuk menjatuhkannya.” Jelas Khansa.
“Kalau begitu biarkan saja Ken dan Key tidak di kenalkan kepada wartawan, biar saja Kenan yang akan menjaga mereka mami!”
“Tidak sayang, papi dan mami akan berusaha menjaga kalian semua agar tidak ada yang berani menyakiti kalian!” tegas Khansa.
“Sudahlah, sekarang kamu istirahat dulu. Kalau berbicara masalah bisnis silahkan kepada papi nanti ya sayang..” ucap Khansa yang memejamkan matanya sambil mengelus rambut Kenan dengan lembut.