MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
MENJENGUK


Kenan yang baru saja kembali dari jalan-jalan bersama papanya itu masuk ke dalam rumah dengan perasaan senang.


“Halo anak ganteng mami..” sapa Khansa yang sedang berada di ruang tamu bersama dengan Key.


“Halo mami, halo adek Key.” Kenan segera menghampiri maminya dan mencium punggung tangan maminya lalu beralih mencium pipi mungil adik perempuannya.


“Gimana hari ini sayang, apa kamu bersenang-senang dengan papa Ryan dan tante Rose?” tanya Khansa.


“Iya mi, hari ini Kenan bersenang-senang. Kenan naik banyak permainan sampe baju Kenan ada yang basah.”


“Wah sepertinya kamu sangat bersemangat sayang.” ucap Khansa sambil mengacak-ngacak rambut Kenan.


“Aduh kak, Kenan tuh ga ada capeknya naik wahana di sana..” keluh Rose yang baru saja masuk sambil membawa tas sekolah Kenan dan baju Kenan.


“Gimana ngurus anak? Ini termasuk latihan buat kamu loh Rose, kalo kamu bisa melewatinya berarti kamu siap untuk menikah dan menjadi mama baru Kenan.” Ucap Khansa menggoda Rose.


“Apaan sih kak, ga secepat itu tau.” Rose tersipu malu mendengar ucapan Khansa.


“Sudah ya kak aku pulang dulu, kak Ryan kasihan nunggu di mobil sendirian.”


“Loh kenapa kak Ryan ga masuk dulu?”


“Buru-buru katanya dia ada urusan di perusahaannya.”


“Oh iya Rose sebentar, aku ingin berbicara denganmu.”


“Ada apa kak?”


“Mulai besok aku akan kembali bekerja bersama suamiku, aku akan membawa si kembar bersamaku ke perusahaan sedangkan Kenan akan menyusul ke perusahaan setelah pulang sekolah. Aku takut jika aku atau mas Andra tidak bisa menjemput Kenan dari sekolah, aku mau kamu sebagai asisten pribadiku selalu mengawasi dan menjaga Kenan ya.” ucap Khansa.


“Kak, tanpa di suruh pun aku akan selalu menjaga Kenan dan si kembar, kak sasa ga perlu mengkhawatirkan hal itu, aku juga akan kembali bekerja saat kak sasa kembali ke perusahaan.” Ucap Rose.


“Terimakasih banyak Rose.”


Rose hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan rumah Kalandra dan pulang bersama dengan Ryan.


“Mami, papi sama Ken dimana?” tanya Kenan.


“Ada di atas sayang, tadi Key nangis makanya mami bawa ke sini takut ngebangunin Ken. Kamu makan ya sayang, mami sudah masak sayur buat kamu.” Ajak Khansa.


“No mami.. Kenan ga suka sayur..” rengek Kenan.



“No Kenan, kamu harus makan sayur agar tumbuh menjadi laki-laki yang kebih hebat dari papi dan papamu.”


“Huaa mami..”


“Sudah gausah pura-pura menangis, ayo makan mami akan bawakan sayurnya untukmu.”


Akhirnya Kenan hanya pasrah untuk menuruti permintaan maminya dan memakan sayur yang di suguhkan secara perlahan sampai habis.




Pagi itu setelah membangunkan Kalandra dan Kenan untuk sholat subuh, Khansa pergi ke kamar si kembar dan memberi ASI kepada kedua anaknya itu, setelah kedua anaknya kenyang dan kembali tertidur Khansa pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi menjenguk Hani di penjara.



“Mas, jangan tidur lagi ya aku mau mandi di kamar si kembar jadi kamu mandi di kamar setelah sholat.” Ucap Khansa yang sedang membawa baju ganti kepada suaminya yang baru saja selesai sholat.



Setelah selesai mandi, Khansa keluar dengan pakaian yang sudah rapih. Khansa terkejut mlihat suaminya yang kembali tertidur dengan tangan yang memeluk tubuh putranya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1606455532948.jpg)



“YaAllah mas Andra.. ayo bangun mumpung anak-anak baru pada tidur..” ucap Khansa sambil menarik-narik tangan suaminya.



“Iya sayang sabar dong, aku masih ngantuk tau.”



“Kenapa bisa ngantuk? Kamu kan ga begadang tadi malem.”



“Begadang menahan sesuatu yang tidak bisa aku luapkan sayang.” rengek Kalandra.



“Ha? maksudnya apaan sih mas?”



“Engga deh lupain aja, udah ah aku mandi dulu.” Ucap Kalandra sambil beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.



Khansa menyiapkan pakaian untuk suaminya dan juga menyiapkan seragam sekolah untuk Kenan. Khansa juga tidak lupa menyiapkan sarapan dan juga bekal untuk anak pertamanya itu.



“Bi, nanti minta tolong bantu Kenan menyiapkan semuanya ya, dia udah bisa mandi sendiri sekarang terus sasa juga udah siapin seragamnya nanti bibi liat ya udah rapih belum soalnya dia biasanya ga rapi pakai dasinya.” Ucap Khansa.



“Iya nyonya..”



“Terus nanti minta tolong suruh dia makan ya bi terus bekalnya langsung masukin ke dalam tasnya, kalo ga gitu dia suka nolak bawa bekal.”



“Baik nyonya.”



“Terimakasih ya bi..”



Khansa meninggalkan bi Rini yang berada di dapur dan membukakan pintu karena ada yang memencet bel rumahnya.



“Assalamualaikum..”



“Waalaikumsalam.. ibu, Leo. Kalian sudah datang? masuklah.” Ajak Khansa dan menyuruh ibu dan adiknya untuk duduk di sofa ruang tamu.



“Sebentar ya, sasa panggil mas Andra dan mama dulu.”



Khansa pergi ke atas untuk menghampiri mama mertua dan suaminya.




“Mama papa, apa kalian sudah bangun? Sarapan sudah siap ma pa, ibu dan Leo juga sudah berada di sini.” Ucap Khansa dari luar kamar mama Alisha.



“Iya sayang, mama dan papa akan segera turun sebentar lagi kami akan bersiap-siap terlebih dahulu.” Sahut mama Alisha dari dalam kamar.



Setelah sudah mendapat sahutan dari mama mertuanya, Khansa pergi ke kamarnya dan melihat apakan suaminya itu sudah bersiap.



“Mas, kamu sudah siap?” tanya Khansa.



“Hm sayang, aku sudah siap. Ayo” ajak Kalandra.



Khansa tersenyum dan mengangguk kepada suaminya, namun sebelum berangkat Kalandra tidak lupa untuk mencium ketiga anaknya terlebih dahulu.



“Hari ini kita langsung ke kantor saja, tidak usah bawa si kembar biar kita ga bolak-balik.” Ucap Khansa.



“Emang kenapa kalo bolak-balik sayang?”



“Ya ga apa-apa sih mas, lagian di sini ada ibu juga yag jagain si kembar.”



“Baiklah, tapi beok akum au kita bawa sikembar ya.” ucap Kalandra yang dibalas anggukan oleh Khansa.



Kalandra dan Khansa berpamitan kepada kedua orang tuanya setelah selesai sarapan bersama.



Setelah berpamitan, Khansa dan Kalandra pergi menuju penjara untuk menjenguk Hani.



“Tuan Kalandra? ada keperluan apa sampai datang kemari?” tanya salah satu atasan kepolisian yang ada di sana.



“Saya ingin menjenguk tahanan di sini, namanya Hani.” Ucap Kalandra tegas.



“Hani? Bukankah wanita hamil itu? Yang melakukan penculikan terhadap anak tuan Kalandra kan?” ucap polisi itu yang baru saja mengingat Hani.



“Iya, dia adalah penculik anak saya. istri saya ingin menjenguknya dan ingin tahu keadaan bayi yang di kandungnya.”



“Oh silahkan tuan, nyonya.” Polisi tersebut mempersilahkan Kalandra dan Khansa untuk masuk di ruang tunggu dan polisi itu menyuruh bawahannya untuk membawa Hani ke tempat itu.



Tidak lama kemudian, Hani masuk ke ruangan untuk bertemu dengan Kalandra dan Khansa. Betapa terkejutnya Khansa melihat perut Hani yang sudah rata.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1606455532944.jpg)



“Hani? Bayi,, kemana bayimu apa kamu sudah melahirkan?” tanya Khansa.



“Hm, karena air ketubanku pecah jadi aku melahirkan sebulan lebih awal.” Ucap Hani.



“Apa aku boleh melihatnya?” tanya Khansa.


Hani mengangguk, setelah melihat jika hani mengijinkan untuk membawa bayinya akhirnya petugas kepolisian membawa bayi Hani ke ruangan itu.



“Bayiku adalah bayi laki-laki.”



“Tampan sekali, benarkan mas?” tanya Khansa sambil melihatkan bayi itu kepada suaminya.



“Hm, mirip kak Robert.”



“Ah iya, berarti kamu adalah om dari anak ini mas, dan papa mama memiliki 4 cucu sekarang.” Ucap Khansa yang di balas anggukan oleh Kalandra.



“Hani, sebenarnya kami kemari untuk menawarkan bantuan untuk membawa anakmu bersama kami.” Ucap Khansa.



“Apa!?” Hani sedkit terkejut mendengar ucapan Khansa.



“Tidak, aku tidak akan membiarkan siapapun membawa anakku. Aku mohon, apa kalian ingin membalas dendam kepadaku dan menjauhkan anakku dariku?” lanjut Hani.



“B,,bukan begitu, pikirkanlah kembali membesarkan seorang bayi di dalam penjara itu tidaklah baik. Keluarga mas Andra pasti akan menerima anak ini dengan senang hati.” Ucap Khansa.



“Iya Han, biar bagaimanapun dia adalah keponakanku, anak dari kakakku jadi keluargaku juga akan menerima anak ini.” lanjut Kalandra.



“Aku akan menjadi ibu susunya dan aku juga akan menyayanginya sama seperti aku menyayangi anak-anakku, aku juga tidak akan pernah menyembunyikan identitasmu sebagai ibu kandungnya, dan setelah dia sudah mulai mengerti aku akan membawanya untuk menjengukmu di sini.” Ucap Khansa.



“B,baiklah aku menyetujui saranmu, hanya untuk 5 tahun setelah itu aku akan kembali mengambil anakku. Dan terimakasih banyak karena kalian mau mengurus anakku setelah apa yang pernah aku lakukan kepada keluarga kalian.” Ucap Hani.



Khansa mengangguk dan tersenyum tulus ke arah Hani.