
Wanita adalah buah karya terindah Sang Pencipta maka perlakukanlah mereka dengan penuh kelembutan, keimanan, dan cinta.
Semenjak obrolan saat sarapan, Kalandra menjadi sangat pendiam tidak seperti biasanya. Khansa tau betul jika suaminya sedang merasa kesal dengan dirinya karena obrolan mereka saat sarapan tadi pagi.
Saat pengambilan raport di sekolah Kenan pun Kalandra hanya diam saja dan menjawab pertanyaan Kalandra dengan singkat.
“Mas, kamu masih kesal karena kejadian tadi pagi?” tanya Khansa kepada Kalandra yang sedang fokus dengan laptopnya.

Melihat suaminya tidak menjawab pertanyaannya itu, Khansa menjadi kesal dan merasa jika Kalandra seperti anak kecil.
“Mas, aku sedang berbicara denganmu. Mau sampe kapan kamu seperti ini?” tanya Khansa kembali.
Kalandra tetap fokus dengan laptopnya dan tidak menjawab pertanyaan Khansa. Khansa menutup layar laptop yang berada di hadapan Kalandra.
Kalandra yang masih merasa kesal itu segera menaruh laptopnya di sofa dan menatap Khansa dengan penuh amarah.
“Kamu apa-apaan sih sa!” bentak Kalandra kepada Khansa.
Khansa sangat terkejut karena itu adalah pertama kalinya Kalandra membentaknya. Kalandra yang selama ini selalu lembut kepadanya tiba-tiba saja membentak dirinya dengan mata yang penuh amarah.
“K,,kamu membentakku mas?” tanya Khansa dengan suara yang bergetar.
Kalandra menarik rambutnya dengan kasar, dia merasa bersalah telah membentak istrinya.
Khansa berlari menuju kamarnya, Khansa menangis karena untuk pertama kalinya Kalandra membentak Khansa.
Kenan yang tadinya sedang tidur siang langsung terbangun karena mendengar teriakan papinya, dia mengintip dari balik pintu kamarnya dan melihat maminya berlari menuju kamarnya dengan wajah yang sedih.
“Hikss,, bagaimana mungkin mas Andra membentakku seperti itu hikss..” gumam Khansa menangis di dalam kamar.
“Padahal kan aku hanya ingin bicara baik-baik hikss,, mas Andra jahat..” lanjutnya.
Di bawah, Kalandra duduk bersandar di sofa sambil memejamkan matanya karena merasa bersalah kepada Khansa.
“*Mengapa aku tidak bisa menahan emosiku*.” Batin Kalandra.
Kenan menghampiri papinya yang sedang berada di bawah.
“Papi?” sapa Kenan.
Kalandra yang merasa terpanggil langsung menoleh ke asal suara dan melihat anaknya yang baru saja menuruni tangga.
“Hai sayang.” Sapa Kalandra menjawab sapaan anaknya.
Kenan menghampiri Kalandra dan duduk di depan papinya dan menaruh kepalanya di meja.

“Papi lagi marah sama mami ya?” tanya Kenan.
“Hm, engga kok sayang papi ga marah sama mami.” Ucap Kalandra yang mencoba untuk menutupi masalah di antara Kalandra dan Khansa kepada anaknya.
“Bohong, tadi Kenan denger kok papi marahin mami.”
“Engga sayang, papi ga sengaja bentak mami tadi.”
“Terus papi ga mau minta maaf sama mami?”
“Nanti sayang, papi mau mami menyadari kesalahannya dulu.”
“Kata mami, semua orang berhak memiliki kesempatan kedua papi.”
“Itu karena mami terlalu baik sayang, tidak semua orang yang diberi kesempatan kedua tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Bahkan bisa jadi orang itu akan semakin berbuat jahat kepada keluarga kita karena dia merasa kita akan selalu memaafkan segala kesalahannya.”
“Tapi bi Rini sudah lama bersama dengan kita pi.” Kenan tetap berusaha membujuk papinya.
“Justru karena dia sudah lama bersama kita, kenapa dia bisa melakukan hal sejahat itu?”
“Pasti ada alasannya papi, kita kan harus mendengar penjelasan orang lain dulu sebelum mengambil keputusan.”
“Kenan, kalau kamu masih berusaha untuk membujuk papi mengenai bi Rini lebih baik kamu kembali ke kamarmu sebelum papi memarahimu juga.”
Kenan yang mulai merasa takut karena nada bicara Kalandra sudah mulai meninggi akhirnya pergi ke atas menuju kamar maminya.
Kenan memberanikan diri untuk mengetuk lalu membuka pintu kamar maminya. Kenan melihat maminya sedang duduk di pinggir tempat tidur sedang menangis tanpa mengeluarkan suara.
“Mami?” sapa Kenan sambil mendekat ke arah maminya.
Khansa menoleh ke asal suara lalu berusaha menghapus air matanya dan tersenyum ke arah Kenan.
“Mami, nangis ya?” tanya Kenan kepada maminya.
“Engga kok sayang.”
“Mami ga bisa bohongin Kenan loh, Kenan tau mami habis di marahin papi kan?” tanya Kenan.
“Engga sayang, Cuma ada sedikit kesalah pahaman aja antara papi dan mami.”
“Mami jangan sedih lagi ya, Kenan ga suka liat mami sedih nanti adek di perut mami juga ikut sedih.” Ucap Kenan sambil mengelus perut buncit Khansa.
Khansa tersenyum melihat Kenan yang mengkhawatirkan dirinya dan adik-adiknya.
“Iya sayang, selama ada kamu di dekat mami, mami tidak akan bersedih. Kamu adalah penyemangat mami sayang.” Ucap Khansa sambil mencium kening anak kesayangannya.
“Kenan sayang banget sama mami, kalau mami bersedih Kenan juga akan bersedih.”
“Mami akan berusaha untuk tidak bersedih sayang, mami tidak ingin membuatmu bersedih.”
Khansa memeluk tubuh mungil Kenan dengan sangat erat, dia merasa bersalah karena membiarkan Kenan melihatnya menangis.
Di luar Kamar, Kalandra mendengar percakapan Khansa dan Kenan lalu menyenderkan tubuhnya di tembok dan memejamkan matanya.
“*Apa aku terlalu berlebihan membentak Khansa*.” Batin Kalandra.
Hari sudah menjadi malam, Khansa menuju dapur dan mulai menyiapkan makan malam untuk suami dan anaknya. Setelah selesai menyiapkan makan malam dan merapihkan meja makan, Khansa segera kembali ke kamarnya dan memanggil suaminya.
Khansa berusaha untuk mengalah dan melupakan bentakan Kalandra padanya tadi. Dia memasuki kamarnya dan melihat Kalandra yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Mas, makan malam lah lebih dulu baru melanjutkan pekerjaannya.” Ucap Khansa.
Kalandra yang ingin membuat istrinya mengerti pun sengaja tidak mendengar ucapan istrinya itu, namun tidak seperti kejadian tadi siang, Khansa justru pergi meninggalkan Kalandra tanpa menyuruh Kalandra lagi.
“*Ada apa dengannya? Kenapa tidak menyuruhku untuk turun lagi*?” batin Kalandra.
Khansa memang sengaja tidak menyuruh untuk kedua kali karena ia tidak ingin merasa sakit hati dan dibentak untuk kedua kalinya oleh Kalandra.
Khansa menuju kamar Kenan dan menyuruhnya utuk makan malam bersama papinya.
“Kok Cuma sama papi mi? mami ga ikut makan?” tanya Kenan.
“Mami tidak lapar sayang, nanti kalo papi nunggu mami turun, bilang saja jika mami sudah makan malam duluan.”
“Kan kata mami kita gaboleh bohong sama orang tua.”
Khansa mendadak jadi bingung menjawab perkataan anaknya itu.
"*Duh kan aku yang ngajarin dia gaboleh bohong, tapi kenapa aku sekarang ngajarin dia bohong*." Batin Khansa.
“Sayang, pokoknya bilang aja sama papi kalo mami ga ikut kalian makan dan kalian makan duluan saja, oke?”
Kenan mengangguk tanda mengerti dengan perkataan maminya lalu segera turun menuju ruang makan seorang diri.
Khansa langsung masuk ke dalam kamarnya, dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Di meja makan, Kalandra sudah duduk menunggu kedatangan istri dan anaknya namun ia hanya melihat Kenan turun seorang diri.
“Mami kemana sayang?” tanya Kalandra kepada Kenan yang baru duduk di kursinya.
“Mami bilang kita suruh makan duluan aja papi, mami ga laper katanya.” Ucap Kenan.
Kalandra merasa aneh karena ia tau jika Khansa belum makan apapun sejak siang hari. Akhirnya Kalandra melanjutkan makan malamnya berdua dengan anaknya.
“Papi ke kamar duluan ya sayang.” Kalandra pamit kepada anaknya untuk pergi ke kamar lebih dulu.
Kenan hanya menjawab ucapan papinya dengan anggukan.
Kalandra membuka pintu kamar dengan perlahan, dia melihat istrinya sedang tertidur membelakangi Kalandra yang baru masuk ke dalam kamar.
Kalandra mendekati Khansa dan berbarin di sebelah istrinya itu.
“Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud untuk membentakmu dan membuatmu bersedih, kamu terlalu baik sayang aku hanya tidak ingin kebaikanmu dimanfaatkan oleh orang lain, maafkan aku sa maaf, aku harap kamu mengerti maksudku, hatiku sakit telah membentakmu tadi sa maaf.” Ucap Kalandra dengan pelan karena takut mengganggu tidur istrinya.
Khansa yang ternyata hanya pura-pura tertidur itu tidak sadar jika dia sudah meneteskan air matanya mendengar ucapan suaminya.