
*Di rumah Kalandra*
Kalanda Kenan dan kedua sahabatnya sudah berada dirumahnya bersama, mereka memasuki rumah Kalandra yang disambut dengan senyuman oleh Khansa.
“Kalian sudah datang? silahkan masuk..” ucap Khansa
Khansa langsung menuju kearah suaminya dan mencium punggung tangan suaminya, lalu beralih menciumi wajah anaknya bertubi-tubi. Khansa sudah mulai memberikan Ryan kesempatan untuk mendekati Kenan dan tidak merasa khawatir lagi.
“Mami, Kenan udah laper..” rengek Kenan.
“Ganti baju dulu baru makan ya sayang,,” ucap Khansa
Kenan langsung menuju kamarnya untuk mengganti bajunya, sedangkan Klandra dan kedua sahabatnya dipersilahkan untuk langsung duduk di meja makan sambil menunggu Kenan.
Setelah Kenan mengganti baju dan turun, ia langsung duduk di meja makan bergabung bersama orang tuanya.
“Sayang, gimana sekolahnya? Maaf ya mami gabisa jemput kamu sayang” ucap Khansa yang merasa bersalah karena tidak bisa menjemput Kenan.
“Gapapa mami, Kenan kan udah besar lagian ada papi yang jemput Kenan tadi.” ucap Kenan yang tidak ingin membuat maminya merasa bersalah.
Mereka makan dengan tenang, setelah selesai makan bersama mereka menuju ruang keluarga untuk berbincang-bincang bersama. Sedangkan Kenan meminta Khansa menemaninya karena ia sudah sangat mengantuk.
“Mas aku temenin Kenan tidur siang dulu ya” Khansa meminta ijin kepada suaminya yang dijawab anggukan oleh Kalandra.
*Dikamar tidur Kenan*
“Mami, kenapa om yang jahat itu jadi sering kerumah kita sih?” tanya Kenan yang membuat Khansa terkejut.
“Maksud kamu om Ryan? Dia bukan om jahat sayang” ucap Khansa
“Dia kan pas itu diem aja pas mami dimarahin sama tante itu”
“Iya sayang, tapi kan dia ga ikutan marahin mami”
“Tapikan sama aja mi dia tetep jahat gab elain yang benar”
“Sayang, om Ryan dan papi adalah sahabat dari mereka sekolah, Kenan ga boleh benci sama dia sayang, dia sama aja kayak om Edo kok.
Sebenarnya om Ryan itu baik banget loh, hanya saja saat itu ada salah paham antara mereka bertiga, tapi sekarang mereka udah baikan kan? Umur papi, om Ryan dan om Edo juga sama, berarti Kenan juga anak mereka sayang ” Khansa menjelaskan agar anaknya tidak membenci ayah kandungnya itu.
“Tapi kan Kenan anaknya papi, kenan gamau punya papi lain.” Ucap Kenan
“Iya sayang Kenan anaknya papi, tapi Kenan harus baik sama om Ryan juga ya, jangan cemberut terus mukanya nanti jadi jelek loh. Kan kasihan om Ryan di cemberutin terus sama Kenan nanti om Ryan nangis” Canda Khansa
“Iya mami Kenan ga cemberut lagi deh sama om Ryan.” Ucap Kenan dengan pasrah.
*Di ruang keluarga*
Kalandra, Ryan dan Edo sedang berbincang-bincang masalah perusahaan mereka, tiba-tiba saja Khansa turun dan ikut bergabung bersama mereka.
“Kenan sudah tidur sayang?” tanya Kalandra kepada Khansa yang baru saja duduk disebelahnya.
“Sudah mas, tadi juga dia nanya kenapa kak Ryan sering kerumah”
“Kayaknya dia beneran benci banget sama aku ya..” ucap Ryan dengan wajah murung.
“Engga kak, dia ga benci hanya saja masih belum terbiasa aja sama kehadiran kak Ryan, dia kan taunya Cuma kak Edo temen papinya. Jadi maklumi aja ya kak, harus sabar ngadepinnya.” Khansa memberikan pengertian kepada Ryan agar dia tidak merasa berkecil hati.
“Bagaimana caranya aku menjadi dekat dengannya?” tanya Ryan
“Bagaimana jika besok kalian pergi jalan-jalan bersama?” ucap Kalandra.
“Tidak mas, dia tidak akan mau jika hanya berdua dengan kak Ryan” ucap Khansa
“Ya kita juga ikut sayang, tapi jika Kenan ingin menaiki wahana yang disukainya kita biarkan Ryan yang menemaninya, bagaimana?”
Semua orang disana mengangguk setuju dengan apa yang direncanakan Kalandra termasuk Khansa.
“Tapi mas, besok kan kita harus nganter mama papa ke bandara, mereka kan mau berangkat besok.” Ucap Khansa yang baru mengingat jika mertuanya akan berangkat ke luar negeri besok.
“Ya kita bareng aja ke bandara terus berangkat dari bandara, Ryan juga udah lama ga ketemu mama pasti mereka seneng ketemu Ryan lagi.” Ucap Kalandra
Setelah merencanakan untuk membuat Kenan dan Ryan menjadi lebih dekat, Ryan dan Edo pulang ke rumah masing-masing.
Kalanda dan Khansa pergi ke kamar mereka untuk beristirahat.
“Sayang, kamu yakin setuju dengan rencanaku tadi?” tanya Kalandra kepada Khansa
“Yakin sayang, aku sudah mulai menerima kenyataan jika kita memang harus ikhlas menghadapi semua ini.” ucap Khansa dengan senyum yang terpampang di wajahnya.
“Kamu benar-benar hebat sayang, tapi aku benar-benar bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada mama dan papa.” Kalandra mengkhawatirkan kedua orangtuanya.
“Mas, kalau menurutku kita mau tidak mau harus menjelaskannya kepada mama dan papa, tapi tidak dalam waktu dekat ini, mereka akan ke luar negri yang ada mereka ga jadi berangkat lagi gara-gara khawatir.”
“Oh iya, aku tadi ketemu Hani dikantor.” Lanjutnya
“Hani? Dikantor? Maksudnya dia sekantor sama kamu mas?” tanya Khansa
“Bukan, waktu itu aku memberinya kartu namaku agar dia bisa menghubungiku jika mmembutuhkan sesuatu, terus toba-tiba dia telfon dan sudah didepan perusahaan, aneh kan? Tau darimana dia perusahaan aku? Edo aja sampe curiga.”
“Astaga mas, yaiyalah dia tau perusahaan kamu, kamu kan kasih dia kartu nama ya disana kan jelas banget nama perusahaan kamu dan jabatan kamu di perusahaan itu.”
“yaampun iya, kok aku mendadak ketularan oon nya si Edo ya.” Ucap Kalandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal
“astaga, katanya mereka kuliah di kampus ternama, tapi kenapa jadi mendadak oon gini. Masa kalah sama aku yang Cuma lulusan SMA.” Batin Khansa
“Terus mas, mbak Hani ngomong apa?” tanya Khansa
“Dia nanya tentang tawaran aku kemarin yang nawarin dia tinggal sama kita, tapi langsung aku tolak soalnya aku gamau menyakiti hati istriku yang cantik ini.” ucap Kalandra dengan kata-kata manisnya.
“Hmm mulutnya manis banget mas..” ucap Khansa
“hehehe, oh iya aku juga udah nyuruh Edo untuk mencarikan rumah yang layak untuk Hani.”
“Bolehkah aku ikut mas? Aku juga ingin tau mbak Hani dan mengenalnya.” Ucap Khansa
“Tentu saja, setelah rencana kita mendekatkan Kenan dan Ryan berhasil kita akan mengurus tentang kepindahan Hani.”
“Bagaimana jika kita kencan mala mini sayang?” tanya Kalandra
“Kencan? Yaampun mas kita udah mau punya anak loh kencan kayak anak muda aja deh”
“Kan kita masih muda, ayo kamu bersiaplah aku akan mengajakmu makan malam romantis” ucap Kalandra
“Terus Kenan gimana mas?”
“Sebentar lagi mama dan papa pasti sudah pulang, kita akan menitipkan Kenan pada mereka.”
Kalandra bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap pergi kencan dengan istrinya, Khansa hanya menggelengkan kepalanya karena sikap suaminya yang seperti anak muda.
Tidak lama setelah mereka selesai bersiap, mama Alisha dan papa Arnold pulang ke rumah. Kalandra yang mengetahui kepulangan orang tuanya langsung turun menghampiri orang tuanya.
“Ma, pa..” ucap Kalandra
“Ada apa Ndra?” tanya mama Alisha
“Kalandra titip Kenan ya ma”
“Loh emang kamu mau kemana?”
“Mau kencan sama Khansa mi, kalo ada Kenan kan dia jadi pengganggu nanti” ucap Kalandra
“Astaga kamu ini kayak masih muda aja pake kencan segala.” Ucap papa Arnold
“Ya gapapa lah pa, kan Andra sama Khansa gapernah pacaran jadi kencannya sekarang” ucap Kalandra
“Ya sudah sana pergilah, pusing mama denger suara kamu.” Ucap mama Alisha.
Kalandra dan Khansa sudah bersiap untuk pergi kencan, namun tidak lupa mereka meminta ijin kepada anak kesayangan mereka terlebih dahulu.
“Sayang, mami dan papi akan pergi dulu ya, kamu sama kakek dan nenek ya sayang?” ucap Khansa
“Iya mami, mami pergilah Kenan akan bersama kakek dan nenek”
“Kenan gapapa mami papi tinggal?” tanya Khansa kembali, dan dibalas anggukan dengan Kenan.
“Kenan jangan nakal ya sayang jangan buat kakek dan nenek marah-marah ya sayang..” ucap Khansa sambil mencium kening anak kesayangannya itu.
Mereka sudah berada di restoran bintang lima dan meja yang di pesan oleh Kalandra sudah disiapkan dengan sangat indah.
Kalandra terlihat sangat tampan malam itu dan Khansa juga terlihat sangat cantik.
“Sayang, sebenarnya aku mengajakmu makan malam sekaligus ucapan terimakasihku karena sudah melengkapi hidupku dengan kehadiranmu dan buah hati kita yang ada di dalam perutmu, aku sangat mencintaimu dan akan selamanya seperti itu, perasaanku tidak akan pernah berubah sampai rambut kita berdua sudah berubah warna menjadi putih.”
Kalandra memberikan buket bunga biru malam itu untuk istrinya sebagai ucapan terimakasihnya karena sudah melengkapi kehidupnya.
Khansa hanya bisa meneteskan air mata bahagianya mendengar kata-kata suaminya tanpa mengucapkan sepatah katapun.