MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
PENGAKUAN


Hari terasa cepat sekali berlalu karena hari ini Elsa sudah lulus kuliah dan juga sudah menyelesaikan magangnya.


Hari ini adalah hari kelulusannya, sedangkan besok adalah hari pelepasan dirinya di perusahaan.


Elsa sudah bersiap di kamarnya untuk menghadiri acara kelulusannya, dia memang di beri cuti sehari oleh Rey karena acara kelulusannya.


Elsa juga mengundang Rey, Sandy, dan Karina agar datang ke acara kelulusannya, semua saudara dan keluarganya juga menghadiri acara kelulusannya.


"Wah cantiknya anak mama.." puji Rose saat melihat sang putri tercinta.


"Iya dong,, anak mama.." ucap Elsa sambil tertawa.


"Bisa aja kamu kalo di suruh muji mama! Apa kamu sudah selesai?" Tanya Rose.


"Sebentar lagi ma, kenapa?"


"Papa sudah menunggumu di bawah, dia terus bertanya apakah anak perempuannya ini sudah selesai atau belum.."


"Sebentar lagi Elsa selesai ma, Elsa akan segera turun oke."


Rose menganggukkan kepalanya sambil tersenyum melihat anak perempuannya yang sekarang sudah semakin dewasa.


Setelah puas menatapi anaknya, Rose segera turun ke bawah untuk menemui suaminya.


"Bagaimana? Mana anak kita?" Tanya Ryan saat melihat istrinya menuruni tangga.


"Dia masih berdandan sayang, sabarlah perempuan itu butuh waktu lebih untuk berdandan." ucap Rose.


"Bilang padanya jangan terlalu cantik karena aku tidak bisa menjaganya dari tatapan mata laki-laki hidung belang di luar sana!" ucap Ryan dengan wajah kesalnya.


"Kamu ini! Emang kamu ga suka kalau anakmu adalah wanita paling cantik di kampusnya?" Tanya Rose.


Ryan tidak mengucapkan apapun, dia hanya mengendus kesal mendengar ucapan istrinya.


Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki Elsa yang berasal dari tangga.


Ryan dan Rose sangat terpukau saat melihat anaknya yang terlihat sangat cantik itu.



"Kenapa papa sama mama ngeliatin Elsa begitu? Aneh ya? Elsa ganti aja ya.." ucap Elsa.


"Iya! Tidak!" teriak Ryan dan Rose secara bersamaan.


Elsa bingung dengan ucapan kedua orang tuanya.


"Kenapa jawabannya beda gini? Yang bener gimana sih?" Tanya Elsa.


"Jangan dengerin papa kamu, kamu cantik sekali sayang, ayo kita berangkat, Key bilang mereka sudah ada di kampusmu." ucap Rose.


"Sayang!! Lihatlah dia terlalu cantik, aku tidak mau laki-laki hidung belang menatapnya!" Protes Ryan.


"Kalau begitu papa harus berada di sebelahku terus biar aku ga di liatin laki-laki hidung belang." ucap Elsa sambil menertawakan sikap papanya yang posesif itu.


Setelah perdebatan kecil mereka, akhirnya Ryan, Rose, dan Elsa segera berangkat ke kampusnya karena acara akan segera di mulai.


Hari itu hanya pesta kelulusan yang di rayakan bersama keluarga karena acara wisuda telah di lakukan sehari sebelumnya.


Pesta itu di donasikan seluruhnya oleh papi Kalandra atas bentuk hadiah untuk Elsa yany sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Pa, papi Andra kenapa sampai membuat pesta seperti ini?" Tanya Elsa.


"Papi Andra dan mami Sasa itu sangat menyayangimu Els, dia bahkan tidak membuat pesta saat kelulusan Ken, Key dan Rey, sedangkan dia membuatkan pesta untukmu." ucap Ryan yang masih fokus menyetir.


"Tapi pa, semenjak Elsa tau kalau teman-temanku selama ini hanya memanfaatkan uangku saja, Elsa jadi tidak pernah berteman dengan siapapun lebih tepatnya takut." jelas Elsa.


"Sayang, sebenarnya maksud papa kamu membongkar kedok teman-temanmu agar kamu tidak terus-terusan boros dengan uang yang kamu pegang, bukan untuk menjauhkanmu dari teman-temanmu." ucap Rose.


"Elsa tau, tapi kalau sudah tau tentang kebenaran itu masa bisa Elsa menutup mata dan tetap bermain dengan mereka?" Tanya Elsa.


"Sudah jangan membahas masa lalu, kita sudah sampai, lihatlah Andra sudah menunggu kita." ucap Ryan.


Setelah memakirkan mobilnya, Ryan membukakan pintu mobil untuk istrinya dan setelah itu dia juga membukakan pintu untuk anaknya.


"Cantiknya.." gumam Rey dengan suara pelan.


"Cantik bukan? Mama setuju kalau Elsa menjadi menantu mama nantinya!" Bisik Hani di telinga anak laki-lakinya itu.


"Mama apaan sih! Rey mau fokus membesarkan nama perusahaan papa dulu!" tegas Rey.


"Perusahaan papamu sudah besar Rey, mau kamu besarkan bagaimana lagi?"


"Tapi ma.."


"Mama juga ingin melihatmu menikah seperti Ken dan Key." potong Hani.


Rey hanya mengendus kesal dengan ucapan mamanya, dan langsung masuk ke dalam lobby kampus.


Elsa yang tidak sengaja melihat Rey masuk ke dalam saat dirinya tiba di sana berfikir kalau Rey tidak menyukai kehadirannya.


"Segitu tidak sukanya kamu padaku kak Rey!" batin Elsa.


"Els, ayo mereka sudah menunggumu." ucap Ryan yang sudah menjulurkan tangan kepada anaknya.


Elsa dengan senang hati menautkan tangannya ke lengan papanya dan masuk ke dalam menghampiri kerabat mereka.


Ada banyak teman laki-laki yang seangkatan dengannya saling berbisik membicarakan kecantikan Elsa, Rey yang mendengarnya sangat tidak menyukai hal itu dan terus memperhatikan Elsa agar tidak ada laki-laki yang mendekatinya.


"Rey, kamu kenapa tidak menemaniku? Aku kan tidak tau daerah kampus ini!" ucap Karina yang dari tadi kebingungan mencari keberadaan Rey yang selalu menghilang.


"Kamu kan bisa berbaur Karina, ada Sandy juga kan."


"Sandy juga tidak ada, aku tidak tau dia kemana."


Baru saja Karina membicarakan tentang Sandy, Rey langsung membulatkan kedua matanya karena melihat orang yang baru saja mereka bicarakan.


"Sandy!" ucap Rey.


"Sandy? Dimana? Wah, pantesan aja dia menghilang ternyata dia sedang berduaan dengan Elsa!" ucap Karina.


"Kamu mau kemana lagi Rey?" Tanya Karina yang sudah memegang lengan Rey yang mau meninggalkannya.


"Diamlah di sini dulu! Aku masih memiliki urusan!" tegas Rey yang langsung menepis tangan Karina dengan kasar.


"Aw! Rey!" teriak Karina sambil menatap kepergian Rey.


Rey yang sudah berhasil lepas dari Karina segera menghampiri Elsa yang sedang berbicara dengan Sandy lalu menariknya dengan paksa dan membawanya ke taman yang ada di belakang kampus.


Kebetulan semua orang saat itu tidak sedang melihat Elsa, jadi tidak ada yang tau kalau Rey membawa paksa Elsa.


"Kamu ini apa-apaan Rey!" teriak Sandy.


"Diamlah! Aku memiliki urusan dengannya dan itu bukan urusanmu!" tegas Rey.


"Ini namanya pemaksaan! Lihatlah Elsa tidak ingin pergi bersamamu!"


Rey menatap ke arah Elsa dengan tajam, Elsa hanya bisa pasrah dan mengangguk sambil tersenyum ke arah Sandy untuk mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja.


Dengan terpaksa akhirnya Sandy membiarkan Elsa pergi bersama Rey.


Di taman, Elsa berhasil melepaskan tangannya dari genggaman Rey.


"Kak Rey apa-apaan sih!" ketus Elsa.


"Apa kamu benar-benar menyukai Sandy?!" Tanya Rey dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa kak Rey selalu bertanya tentang hal itu? Emang apa urusannya denganmu aku menyukainya atau tidak!"


"Karena aku menyukaimu!!" teriak Rey yang membuat Elsa terkejut dan membuka kedua matanya lebar-lebar.


"A-apa? A-apa yang barusan kak Rey katakan?" Tanya Elsa kembali.


"Aku menyukaimu Elsa! Aku menyukaimu! Apa kamu tidak mendengarnya!?" teriak Rey hingga membuat Elsa mendengarnya dengan sangat jelas.