
Ada senyum yang buatku lupa, saat dimana luka berada dan rindu tak lagi menyapa.
Waktu jam makan siang pun tiba, Kenan bersiap untuk makan siang di luar bersama adik perempuannya itu.
“Mau makan siang di luar Kenan?” tanya Belinda yang melihat Kenan keluar dari ruangannya.
“Iya nih, Key ngajak aku makan siang di luar katanya ada yang mau ngobrol sama aku. Kamu ikut sekalian makan siang sama aku dan Key.” Ajak Kenan.
“Engga deh, Key bilang ada seseorang yang mau ngobrol sama kamu kan? Pasti penting, aku ga mau ganggu.” Ucap Belinda.
“Ga akan ganggu Bel, justru Key pasti seneng ada kamu.”
“Engga deh Kenan, aku makan di kantin perusahaan aja ya.”
“Baiklah, aku tinggal ya Bel kalau ada apa-apa langsung kabarin aku ya..” ucap Kenan.
Akhirnya mau tidak mau Kenan mengiyakan ucapan Belinda dan pergi meninggalkan Belinda yang masih berada di tempatnya.
Belinda yang melihat Kenan sudah tidak terlihat dari pandangannya lagi segera mengambil hpnya dan menghubungi Bernard untuk mengajaknya makan siang bersama.
“Halo?” ucap Bernard dari sebrang telfon.
“Halo Bernard, bisakah kamu menemaniku untuk makan siang?” tanya Belinda.
“Tidak bisa! Aku kan sudah bilang siang ini aku ada meeting penting dengan klient.” Jelas Bernard.
“Yah,, baiklah jika begitu.”
“Memang kemana Kenan?” tanya Bernard.
“Dia makan siang di luar bersama adiknya. Sudahlah aku akan makan siang di kantin dengan karyawan lain saja.” ucap Belinda lalu mematikan telfonnya.
“Om beruang! Kamu di mana? Abangku sudah berada di café sejak 5 menit yang lalu!” ucap Key di telfon.
“Aku sedang di jalan! Kamu ada di mana? Bagaimana kamu tau abangmu sudah ada di café? Apa kamu juga sudah berada di sana?” tanya Bernard.
“Aku sudah di dekat café tapi aku tidak berani masuk aku akan menunggumu di sini, setidaknya nanti kita di marahi bersama.” Ucap Key.
Bernard hanya bisa tersenyum sendiri di dalam mobil, dia tidak menyangka ternyata gadis kecil yang selalu membuatnya kesal itu masih mengkhawatirkannya.
“Aku sudah sampai, aku sudah melihatmu bersembunyi di balik pohon. Keluarlah, aku akan memarkirkan mobilku sebentar.” Ucap Bernard lalu mematikan telfonnya.
Key menoleh ke sana kemari mencari keberadaan Bernard namun dia tidak melihatnya.
“Huh, katanya sudah sampai tapi aku tidak melihatnya sama sekali tuh!” gumam Key sambil memanyunkan bibirnya.
“Ciye, lagi nungguin aku ya..” ucap Bernard dari belakang yang membuat Key terkejut.
“Ih! Om beruang ini membuat aku jantungan saja!” ketus Key.
“Bisakah kamu tidak memanggilku om beruang lagi!? Aku ini masih terlalu muda untuk di panggil om! Lagipula namaku Bernard bukan beruang!” protes Bernard.
“Sudah,, sudah,, aku tidak ingin berdebat om! Ayo kita masuk, abangku akan sangat marah jika kita terlambat!” ajak Key.
Key yang mendengar keluhan Bernard hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang.
“Kamu belum tau saja siapa abangku, jika tau mungkin kamu akan terkejut!” batin Key.
Kenan yang sudah menunggu di salah satu kursi di sana dari tadi melihat anak-anak yang sedang bermain di taman hingga tidak mengetahui kedatangan Key dan Bernard.
“Lucu sekali mereka, apa anak-anakku kelak akan selucu mereka.” Batin Kenan sambil tersenyum.
Key yang sudah berada di belakang abangnya itu melihat ke arah abangnya yang sedang serius melihat anak-anak yang sedang bermain di taman.
“Makanya cepatlah menikah agar abang bisa memiliki anak-anak yang lucu seperti mereka!” ucap Key yang membuat Kenan terkejut.
“Yaampun kamu ini Key, abang sudah me..” ucapan Kenan terputus saat dia membalikkan badannya dan melihat laki-laki yang sangat di kenalnya.
Bernard! Ya, Kenan terkejut melihat Bernard berada di sebelah adiknya begitu juga dengan Bernard yang tidak menyangka jika abang yang di maksud Key adalah Kenan, sahabat baiknya.
“Kenan?” ucap Bernard.
Key tidak terkejut mendengar Bernard memanggil nama abangnya itu karena dia mengira Bernard mengenal abangnya karena abangnya itu sering muncul di TV.
“Bernard!? Kamu datang dengan adikku? Jadi maksudnya orang yang ingin berbicara denganku itu kamu?!” tanya Kenan tidak percaya akan kejadian itu.
Key mulai terkejut sekarang, karena abangnya juga mengenali Bernard dan bahkan mereka terlihat sangat akrab.
“Abang sama om beruang saling kenal?” tanya Key yang dari tadi hanya bisa melihat ke arah Kenan dan Bernard secara bergantian.
“Ya kenal banget lah Key, dia ini adalah sahabat abang dan juga kembarannya Belinda!” jelas Kenan.
“What!!? Kembarannya calon kakak ipar? Eyy, tidak mungkin bang, mereka ini sangat berbeda jauh seperti langit dan bumi!” ketus Key sambil melirik ke arah Bernard.
“Key, yang sopan kalau bicara dengan orang yang lebih tua! Sekarang kalian berdua duduklah.” Ucap Kenan.
Key yang mendapatkan teguran dari abangnya itu hanya bisa memanyunkan bibirnya dan menuruti perintah abangnya untuk duduk, begitu pula dengan Bernard yang segera duduk setelah Kenan menyuruhnya.
“Dunia ini memang sempit ya! aku tidak menyangka jika Key adalah anak dan adik dari dua laki-laki hebat!” puji Bernard.
“Hm, aku juga tidak menyangka ternyata adikku memiliki laki-laki yang juga hebat!” balas Kenan.
“Abang! Dia ini bukan pacarku! Makanya dengerin dulu kita mau ngomong apa!” ketus Key.
“Oke! Sebenarnya ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Kenan yang sudah mulai serius.
Melihat sahabatnya mulai serius itu akhirnya Bernard juga ikut menanggapi Kenan dengan serius.
“Aku ingin meminjam adikmu dan membawanya ke jepang!” ucap Bernard to the point.
“Apa!? Untuk apa!?” tanya Kenan terkejut.
Akhirnya Bernard menceritakan semua kejadian yang di alami Key dan dirinya dengan sangat detail hingga membuat Kenan sesekali menahan tawanya karena mendengar tentang tingkah laku adiknya itu.
“Apa Key ingin membantu Bernard?” tanya Kenan kepada adiknya itu.
“Em,, karena Key kasihan dengan om beruang jadi Key memutuskan untuk menerima permintaan om beruang bang! Sekalian liburan kan, tidak mungkin bukan jika aku tidak di ajak jalan-jalan?” tanya Key sambil menoleh ke arah Bernard.
“Tentu saja aku akan mengajakmu mengelilingi Jepang!” ucap Bernard yang membuat Key senang.
“Tapi dengan syarat! Key harus membawa Lana bersamanya!” tegas Kenan.
“Baiklah.” Ucap Bernard dengan mudah menyetujuinya karna menurutnya Key akan bosan jika di Jepang tanpa ada teman.
Key semakin gembira karena dirinya akan berlibur bersama sahabat baiknya di Jepang. Sedangkan Bernard tersenyum melihat tingkah Key yang menurutnya sangat menggemaskan itu, sedangkan Kenan melihat ada yang berbeda dari tatapan Bernard terhadap adiknya.
“Dan satu lagi! Aku akan selalu memantau kalian berdua. Aku akan sering menelfon dan video call Key di manapun dan kapanpun aku mau! Aku juga tidak ingin sampai mendengar jika kamu macam-macam dengan adikku Bernard!” Kenan memberi peringatan kepada sahabatnya itu dengan tatapan yang mengintimidasi.
“Tenanglah, aku tidak akan berani macam-macam dengan adik seorang Kenan!” ketus Bernard.
“Dan kamu Key, abang harap kamu bisa sopan santun di sana! Kamu harus menuruti perkataan orang tua Bernard agar lebih meyakinkan mereka jika Bernard benar-benar memilih pasangan yang tepat!” jelas Kenan.
Key hanya mengangguk mengiyakan setiap perkataan abangnya.
“Baiklah jika begitu aku akan mengantar Key untuk segera berkemas! Aku akan berangkan lusa.” Ucap Bernard.
“Apa? Lusa? Apa harus secepat itu om beruang..” rengek Key.
“Lebih cepat lebih baik Key! Aku sudah muak selalu saja di telfon oleh mamaku untuk segera pulang dan menemui calon istriku!” tegas Bernard.
Akhirnya Key menyetujui ucapan Bernard, namun Kenan menyuruh Key pulang ke rumah naik taxi karena ada yang masih ingin dia bicarakan dengan Bernard. Dengan terpaksa Key pulang menggunakan taxi, sedangkan Bernard dan Kenan masih berada di café tersebut.
“Kenapa kamu menyuruhku tetap di sini?” tanya Bernard sambil meminum minuman yang masih tersisa di gelasnya.
“Apa kamu menyukai adikku?!” selidik Kenan dengan tatapan tajamnya hingga membuat Bernard yang sedang minum itu tersedak.