MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SEASON 2 (PERTEMUAN)


Ketika kamu sedang jatuh cinta, kamu akan sulit tidur. Karena kamu mengetahui bahwa kehidupanmu jauh lebih indah daripada mimpi di dalam tidurmu.



Kenan dan Key baru saja memasuki perusahaan dan di sambut dengan sopan oleh para karyawan yang ada di sana.



“Huh, kemarin mereka menarik-narik tanganku, sekarang mereka menebarkan senyum termanisnya, menyebalkan!.” gumam Key yang masih terdengar oleh Kenan.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1609100964296.jpg)



“Apa perlu abang memecat mereka yang sudah menarik-narikmu?” tanya Kenan.



Key menoleh ke arah abangnya itu dan menarik nafas panjang.



“Tidak usah bang, mereka juga memiliki keluarga yang harus mereka nafkahi, jika abang memecat mereka, lalu siapa yang akan membiayai keluarga mereka.” Ucap Key.



Kenan hanya mengangguk dan tersenyum kepada adiknya itu, dia sangat tau jika sebenarnya adiknya sangatlah baik hanya saja dia memang susah beradaptasi dengan orang baru dan selalu saja blak-blakan jika berbicara sehingga membuat orang yang belum mengenalnya akan merasa tersinggung.



Namun saat bersama Belinda, entah Kenan pun tidak tau pasti kapan tepatnya mereka saling mengenal satu sama lain, karena sejauh yang dia lihat Key sangat nyaman dengan kehadiran Belinda.



Mereka berdua sudah berada di lantai khusus CEO, di sana Belinda sudah berada di tempat duduknya sambil tersenyum menyambut kedatangan Kenan dan Key.



“Selamat pagi Tuan Kenan, nona Key.” Sapa Belinda sambil sedikit membungkukan badannya.



“Kak Belinda,,, aku merindukanmu kak..” ucap Key yang segera menghampiri Belinda dan memeluknya dengan erat yang di balas pelukan juga oleh Belinda.



“Kak, Key ga suka ya kalo kakak manggil Key pake nona. Panggil Key aja, kan kakak calon kakak ipar Key.” Ceplos Key hingga membuat Kenan dan Belinda membulatkan matanya dan saling menatap satu sama lain.



“Ehem,, Bel masuklah dan bacakan jadwalku hari ini.” ucap Kenan mengalihkan pembicaraan.



“S,,siap tuan.” Balas Belinda yang segera melepaskan pelukannya dari tubuh Key lalu masuk ke dalam ruangan Kenan.



Diluar Key merasa jika sebenarnya mereka memang ada sesuatu yang tertahan di dalam diri mereka masing-masing.



“Huh, aku bosan jadi obat nyamuk di dalam. Mending aku ke café di sebrang perusahaan aja deh.” Gumam Key lalu masuk ke dalam ruangan abangnya untuk meminta ijin.



“Bang..” sapa Key yang bersandar di pintu.



Belinda yang sedang membacakan list jadwal kegiatan Kenan langsung melihat ke arah pintu begitu juga dengan Kenan.



“Apa Key?” tanya Kenan.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1609100964301.jpg)



“Key mau ke café sebrang dulu ya, kalian mau nitip sesuatu?” tanya Key.



“Boleh deh, abang mau cappuccino 1 ya. kamu mau apa Bel?” tanya Kenan yang langsung menoleh ke arah Belinda.



“Latte saja.” ucap Belinda.



Kenan mengeluarkan kartu berwarna emas dari dalam dompetnya, Key yang melihat abangnya mengeluarkan kartu emasnya segera masuk dan menghampiri abangnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.




“Kamu ini, ada kartu matanya langsung ijo!” ketus Kenan sambil memberikan kartu kepada Key.



“Tentu saja! hari gini siapa yang ga suka duit apalagi gold card bang!” ucap Key sambil menjulurkan lidahnya lalu pergi meninggalkan ruangan Kenan.



Kenan hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kepergian adik perempuannya itu.



Key mengambil dompetnya dan memasukkan gold card milik abangnya ke dalam dompet agar tidak terjatuh dan hilang.



Sesampainya di café, Key masuk ke dalam dan melihat jika café tersebut sedang ramai sekali hingga membuat antrian sangat panjang.



“Duh panjang banget sih kayak kereta aja, aku kan sudah haus sekali..” gumam Key.



Dengan terpaksa Key mengantri hingga sudah waktunya dia maju dan memesan pesanannya, namun tiba-tiba..



“Permisi, bisalah saya memesan 1 hot dog ukuran besar dan 1 latte” ucap laki-laki yang tiba-tiba menghadang Key hingga membuat Key kesal karena melihat pelayan yang ada di kasir terpesona dengan ketampanan laki-laki itu.



“Hei om! Tidak bisakah kamu melihat jika di sini sudah ada orang yang mengantri sampai kaki mereka pegal? Apa kamu tidak tau tata cara mengantri!?” ketus Key.



“What? Om?” ucap laki-laki tersebut.



“Iya om! Kenapa? Mengantrilah sana ke belakang, sekarang giliranku untuk memesan!”



Laki-laki tersebut tersenyum sinis ke arah Key.



“Hey anak kecil! Mereka semua tidak melarangku untuk memesan terlebih dahulu, kenapa kamu malah heboh sendiri? Dan satu lagi, aku ini bukan ommu jadi jangan memanggilku om!” ucap laki-laki tersebut.



Key semakin kesal di buatnya, hingga saat minuman yang di pesan laki-laki tersebut datang Key segera mengambilnya dan menyiram wajah laki-laki tersebut.



“Ingat ya om! Aku ini bukan anak kecil. Dan aku tidak seperti mereka yang bodoh karena membiarkanmu untuk memotong antrian sedangkan mereka juga sudah menunggu sejak tadi! jangan egois! Orang kayak om ini yang membuat negara kita tidak maju!” ketus Key lalu meninggalkan café tersebut dengan tangan kosong.



“*Ishhh!! Sial sekali aku hari ini harus bertemu dengang om-om menyebalkan sepertinya*!” batin Key sambil memanyunkan bibirnya.



Bernard yang baru saja menyelesaikan laporan perusahaannya merasa bosan karena dia tidak memiliki teman di Indonesia, Bernard juga tidak tau tempat menyenangkan di Indonesia karena menurutnya Indonesia sudah sangat berubah setelah 19 tahun.


“Apa aku ke perusahaan Kenan saja ya? di sana juga ada Belinda pasti akan menyenangkan jika aku mengajak mereka makan siang bersama.” Gumam Bernard.


Setelah memikirkan rencana untuk makan siang bersama dengan sahabat dan adiknya itu, akhirnya Bernard segera memakai jasnya dan meninggalkan perusahaannya untuk menuju perusahaan sahabatnya.


“Duh aku lapar sekali aku lupa jika aku belum makan sejak tadi pagi, sebaiknya aku membeli makanan untuk mengganjal perutku dulu lalu pergi menemui mereka.” Batin Bernard yang berhenti di depan café tepat di sebrang perusahaan sahabatnya.


Bernard menganga melihat antrian yang sangat panjang di café tersebut, dia sudah merasa lapar tapi seketika dia malas saat melihat antrian yang sangat panjang.


Karena terlalu lapar akhirnya Bernard memutuskan untuk meminta kepada pelanggan yang lain untuk mengalah kepadanya dan membiarkannya mendahului mereka.


Awalnya Bernard yakin jika mereka tidak akan mau membiarkan antrian mereka di rebut begitu saja, namun Bernard sangat terkejut mendengar jika mereka semua mengijinkannya untuk mendahului mereka.


Saat ingin memesan, tiba-tiba saja terjadi masalah dengan salah satu pelanggan café tersebut. Bernard berdebat dengan gadis kecil yang menurutnya sangat berani.


Bernard terkejut karena gadis itu sangat disiplin dan tegas, itu adalah pertama kalinya Bernard berhadapan dengan orang yang berani berdebat dengannya terlebih dia adalah seorang wanita. Biasanya tidak ada wanita yang tidak luluh karena ketampanan Bernard, namun lain halnya dengan gadis tersebut.


Bernard semakin terkejut saat gadis itu menyiram wajahnya dengan minuman yang dia pesan, Bernard sangat kesal namun dia juga penasaran tentang gadis itu.


Saat gadis itu pergi meninggalkannya, Bernard masih berada di posisinya dan tidak sengaja melihat dompet yang tertinggal di atas meja kasir.


“Huh, sepertinya kita akan bertemu lagi gadis kecil, dan saat itu kamu harus membayar atas apa yang sudah kamu lakukan kepadaku!” batin Bernard dengan senyum liciknya sambil mengambil dompet tersebut.


Bernard memasukkan dompet tersebut di saku celananya dan pergi menuju toilet untuk membersihkan dirinya.


Di dalam toilet, Bernard membuka isi dompet tersebut dan melihat ada gold card yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja dan kartu mahasiswa.



“Keyla Putri? Huh sepertinya kamu bukan gadis yang bisa di remehkan! Gadis yang menarik!” gumam Bernard sambil memegang kartu mahasiswa Key.