MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
RENCANA RAHASIA KALANDRA


“Tidak ada yang abadi, begitu juga hati. Jangan menunggu untuk ungkapkan isi hati, ketika kamu sadari hanya tangis yang menghiasi.”




Pagi itu Khansa terbangun lebih dahulu lalu menatap anak dan suaminya yang masih tertidur pulas. Khansa beranjak dari tempat tidur lalu mencium kening Kenan dan Kalandra secara bergantian.



Khansa meninggalkan kamar menuju dapur karena ingin memasak sarapan untuk anak dan suaminya. Tidak lupa Khansa juga menyiapkan bekal untuk anaknya yang akan berangkat sekolah.



Saat sedang memasak, tiba-tiba ada tangan kekar yang melingkar di perutnya yang mulai membesar.



“Selamat pagi sayangku,,” ucap Kalandra sambil mencium lembut pundak Khansa.



“Selamat pagi mas, kok udah bangun?”



“Hm, kamu itu belahan jiwaku sayang, kalo kamu ga ada di dekatku aku pasti ga bisa tenang.”



“Heleh gombal.” Ucap Khansa dengan senyum yang mengembang di wajahnya.



“Hari ini kamu mau langsung ke kantor mas?” tanya Khansa.



“Iya sayang, tapi aku disana hanya membantumu mengurus perusahaan.”



“Ha? kamu kan sudah sembuh mas, kamulah yang harus mengurus perusahaan.”



“Tidak sayang, aku ingin kamu yang tetap menjadi CEO perusahaan, tapi karena aku tidak ingin membuatmu kelelahan jadi aku akan ikut untuk mendampingimu. Dan setelah usia kandunganmu ini 7 bulan baru aku akan mengambil alih pekerjaanmu.” Jelas Kalandra sambil mengelus perut buncit istrinya.



Khansa membalikkan badannya dan memegang pipi suaminya dengan kedua tangannya.



“Mas, selama kamu mendampingiku aku pasti akan selalu bersemangat untuk bekerja.” Ucap Khansa sambil tersenyum manis.



Kalandra mendekati wajah Khansa bermaksud untuk menciumnya, tiba-tiba..



“Mamiii!!!!” Teriak Kenan yang membuat Kalandra terkejut.



Khansa yang melihat ekspresi kaget suaminya itu hanya bisa menahan tawanya.



“Selamat ulang tahun mami! Kenan sayang mami…” ucap Kenan yang langsung memeluk dan mencium maminya itu.



“Terimakasih anak mami.” Ucap Khansa yang mencium wajah Kenan berkali-kali.



“Pasti papi ga inget kan kalo mami ulang tahun. Pasti Kenan orang pertama yang ngucapin kan mami?” ucap Kenan dengan semangat.



Khansa dan Kalandra saling menatap satu sama lain dan menahan tawanya mengingat kejadian yang mereka lakukan semalam.



“Iya sayang, kamu orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun untuk mami, terimakasih sayang.”



Kalandra yang tidak terima dengan perkataan Khansa ingin sekali protes namun Khansa menggelengkan kepalanya kepada Kalandra.



Khansa berdiri mendekati Kalandra dan mengelus pipi Kalandra untuk menenangkannya.



“Sudahlah, kalian berdua sekarang mandi dulu dan bersiap lalu kita makan bersama.” Perintah Khansa.



Kalandra dan Kenan yang mendengar peritah dari Khansa segera beranjak dari dapur menuju kamar masing-masing untuk bersiap. Khansa pun ikut mandi mempersiapkan dirinya untuk berangkat bekerja.



Setelah mereka selesai mempersiapkan dirinya masing-masing, mereka sarapan dengan tenang tanpa suara. Karena dari awal memang Kalandra membuat peraturan tidak berbicara saat makan.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605188911670.jpg)



Hari itu Kalandra dan Khansa mengantar Kenan sampai di sekolahnya, setelah melihat Kenan sudah masuk ke dalam kelas, Khansa dan Kalandra melajukan mobilnya kembali untuk menuju perusahaan.



Di perusahaan, semua karyawan menyambut mereka dengan ramah, tidak sedikit karyawan yang terkejut melihat kedatangan Kalandra dan Khansa secara bersamaan.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605188911676.jpg)



“Loh pak Andra sudah sehat? Bukannya media bilang jika pak Andra sakit parah? Tapi sepertinya baik-baik saja.”



“Wah setelah melihat pak Andra dan bu Khansa bersama ternyata mereka benar-benar serasi ya.”



Para karyawan saling berbisik membicarakan Kalandra dan Khansa.



Khansa dan Kalandra tidak menghiraukannya, justru Kalandra melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya yang membuat para karyawan wanita iri dan tidak menyangka jika CEO mereka yang selama ini terkenal cuek dan dingin itu bisa menjadi hangat jika berada di dekat istrinya.




“Memangnya kenapa? Aku ingin menunjukkan kepada mereka jika kamu adalah milikku.” Jawab Kalandra.



Khansa hanya menghela nafas mengalah terhadap suaminya.



Sesampainya di kantor mereka telah di sambut oleh Edo dan Anita dengan muka masamnya.



“Wah, jadi kalian sudah kasmaran kembali?” tanya Anita.



“Hai kak Anita, mas Andra..” ucapan Khansa terputus karena Anita memutusnya.



“Gausah ngebelain dia ya sa, hari ini dia akan ku marahi habis-habisan.” Tegas Anita.



Khansa hanya melihat ke arah suaminya dengan tatapan ragu, sedangkan Kalandra hanya mengangguk menyuruh Khansa menuruti perkataan Anita.



“Sa, kamu dan Edo keluarlah dulu. Aku akan memberinya pelajaran.” Ucap Anita.



Edo mempersilahkan Khansa keluar ruangan lebih dulu dan menatap ke arah Anita dan Kalandra lalu menyusul Khansa keluar dari ruangan.



“Ndra kamu tau kan kamu ini baru saja pulih dan masih membutuhkan banyak istirahat. Bagaimana bisa kamu keluar dari rumah sakit begitu saja dan sekarang kamu bahkan datang ke perushaan untuk bekerja.” Ketus Anita.



“Tenanglah nit, semua pekerjaan masih aku serahkan kepada Khansa. Tugasku di sini hanya untuk membantunya.”



“Astaga Ndra, jika Robert tau dirimu sudah baik-baik saja dia akan segera bertindak lagi.”



“Tenang saja, sepertinya Khansa sudah memiliki rencana untuk memberikan pelajaran terhadap Robert.” Ucap Kalandra sambil tersenyum licik.



“Bagaimana kamu tau.”



“Kemarin aku mengikutinya sampai penjara, dan setelah aku selidiki dia pergi untuk menemui Hani. Sepertinya dia sudah berbicara dengan Hani karena kata penjaga penjara, setelah bertemu dengan Khansa Hani menangis sangat kencang, entah apa yang dikatakan olehnya.”



"Khansa mengunjungi Hani?" Tanya Anita tidak percaya.



Kalandra menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Anita.



“Lalu kenapa kamu tidak memberitau Khans ajika kamu sebenarnya sudah mengingat semuanya?” tanya Anita.



“Belum saatnya nit, aku masih ingin melihat bagaimana Khansa bertindak menangani masalah Robert. Setelah Robert tau jika Khansa menggantikan posisiku dia pasti akan lebih fokus kepada Khansa, sedangkan aku akan mulai mencari bukti-bukti untuk menjatuhkannya.”



“Jika memang itu rencanamu lalu untuk apa kamu ke perusahaan Ndra.”



“Tenanglah nit, dia tidak akan fokus kepadaku karena aku sangat yakin jika dia sudah mengetahui jika aku kehilangan ingatanku.” Ucap Kalandra menatap lurus ke jendela kantornya.



“Terserah deh Ndra, intinya aku ga mau Khansa berada dalam bahaya.”



“Itulah kenapa aku menyuruhmu menjaganya, dan sekarang aku dan Edo juga akan menjaganya. Jangan sampai istriku kelelahan. Dan rencana ini hanya kita berdua yang mengetahuinya, jangan percaya kepada siapapun.” Perintah Kalandra.



Anita mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan Kalandra.



Di luar ruangan, Khansa dan Edo masih menunggu Anita dan Kalandra.



“Kak, apa yang mereka bicarakan ya? kenapa lama sekali? Apa kak Anita memarahi mas Andra?”



“Tenanglah sa, Anita tidak akan sekeras itu kepada Kalandra.” edo berusaha menenangkan Khansa yang mengkhawatirkan suaminya.



“Tapi kenapa mereka lama sekali.”



“Mungkin ada pekerjaan yang harus mereka bicarakan secara rahasia.”



Tidak lama kemudian, Anita dan Kalandra keluar ruangan. Khansa segera menghampiri suaminya dan menatapnya dengan tatapan penuh dengan pertanyaan.



“Mas, apakah kamu baik-baik saja? apakah kak Anita memarahimu?” tanya Khansa berbisik kepada Kalandra.



Anita yang masih bisa mendengar ucapan Khansa lalu menatap ke arah mereka dengan tatapan sinis.



“Ehem,, aku masih bisa denger loh sa, dan aku tidak sejahat itu.”



Khansa hanya memamerkan gigi putihnya karena ucapannya di dengar oleh Anita.


Sedangkan Kalandra hanya tersenyum melihat tingkah lucu istrinya itu.