
Kalandra, Khansa, dan Kenan sudah berada di rumah mereka dengan selamat.
Kenan langsung berlari sambil memanggil kakek dan neneknya, Kalandra dan Khansa hanya saling menatap dengan tatapan sedih karena melihat anaknya yang lupa jika kakek dan neneknya sudah tidak tinggal dirumah itu.
Kenan turun dengan perasaan sedih dan air mata yang membasahi pipinya.
“Kenan sayang, jangan nangis lagi ya sayang..” ucap Khansa sambil memeluk Kenan untuk menenangkannya.
“Hikss,, Kenan lupa kalo kakek dan nenek udah pergi,”
“Tidur aja yuk, mami temenin kamu sampe kamu tidur sayang.”
“Tidurlah Kenan setelah itu kamu tidak akan sedih lagi.. Aku pergi ke kantor dulu ya sayang..” ucap Kalandra kepada Kenan dan Khansa lalu mencium kening mereka berdua secara bergantian.
“Hati-hati ya mas, ingat aku ingin bertemu dengan Hani nanti setelah kamu pulang kerja.” Ucap Khansa mengingatkan.
“Siap sayang, setelah pekerjaan di kantor selesai aku akan segera pulang dan menjemputmu”
Setelah kepergian Kalandra, Khansa mengajak Kenan ke kamarnya untuk menidurkannya. Di atas tempat tidur, Khansa mengelus lembut rambut Kenan.
“Kenan, kalau misalkan ada tante baru yang ingin menjadi ibu Kenan apa Kenan akan pergi meninggalkan mami?” tanya Khansa kepada anak kesayangannya itu.
“Kalo ada tante baru yang mau jadi mami Kenan, Kenan ga akan ma umami. Mami Kenan Cuma ada 1 yaitu mami, kalau papi memilih tante baru Kenan dan mami kabur aja dari rumah ya mi.” ucap Kenan dengan polosnya.
Khansa tersenyum mendengar jawaban dari anaknya itu, dan dia berharap agar apa yang ditakutinya tidak akan pernah terjadi.
“Mami Kenan ada 2 sayang, mami Amel dan mami. Mami ga akan pernah bisa menggantikan posisi mami Amel yang sudah berjuang untuk melahirkanmu sayang.” Ucap Khansa.
“Tapi kan Kenan ga pernah ketemu sama mami Amel mi, papi juga ga pernah cerita apa-apa.”
“Nanti, nanti papi akan menceritakan tentang mami kamu saat waktunya tiba sayang. Dan di saat papi menceritakan semuanya, mami ingin Kenan tau kalau papi melakukan ini semua karena papi sangat menyayangi Kenan dan jangan membencinya.” jelas Khansa.
“Kenan tau mami, Kenan tau kalau papi sayang banget sama Kenan jadi Kenan ga akan membenci papi.”
“Anak pintar.. ayo sekarang Kenan harus tidur siang. Nanti saat papi pulang kita akan jalan-jalan bersama oke?”
“Siap mami.” Ucap Kenan dengan semangat dan langsung memejemkan matanya.
“Mami harap apa yang kamu katakana benar sayang, mami harap kamu tidak akan membenci papi dan mami setelah mengetahui semuanya.” Batin Khansa sambil tangannya masih tetap mengelus rambut Kenan dengan lembut.
***Kantor Kalandra***
Kalandra dan Edo sedang berbincang mengenai pekerjaannya.
“Bagaimana masalah tentang Robert dan Hani?” tanya Kalandra kepada Edo.
“Ah iya, aku jug ingin membicarakan soal itu. Sepertinya mereka berdua terhubung”
“Maksudnya?”
“Hani pernah tinggal di Jepang dan disanalah dia bertemu dan berkencan dengan Robert.”
“Jadi lelaki yang di ceritakan oleh Hani saat itu adalah Robert?” ucap Kalandra dengan perasaan curiga.
“Dia pernah menceritakan tentang Robert?”
“Saat kita bertemu di café, disana dia bercerita jika dia menemukan lelaki yang baik namun karena dirinya di nodai oleh sekumpulan preman makanya lelaki itu sudah tidak menginginkannya.” Jelas Kalandra.
“Bukankah itu aneh? Apa jangan-jangan mereka bekerja sama untuk menghancurkan keluargamu?” tanya Edo
“Aneh memang. Teruslah menyelidiki masalah ini do, aku ingin secepatnya membongkar kerja sama mereka. Aku tidak ingin mendapatkan masalah lagi di dalam kehidupan keluargaku.”
“Oh iya satu hal lagi. Tolong jaga keluarga Khansa, aku takut mereka akan mengancam kami dengan keluarga Khansa.” Lanjutnya.
Edo mengangguk tanda setuju lalu meninggalkan ruangan Kalandra. Kalandra yang merasa sudah menyelesaikan pekerjaan kantornya langsung beranjak dari tempat duduknya dan berniat untuk pulang ke rumahnya dan menepati janjinya kepada sang istri untuk mempertemukannya dengan Hani.
“*Semoga saja Hani masih bekerja di café itu*.” Batin Kalandra sambil menancap gas menuju rumahnya.
“Assalamualaikum..” ucap Kalandra setelah tiba di rumahnya.
“Kan aku sudah bilang, aku akan segera pulang setelah selesai dengan pekerjaanku.” Ucap Kalandra sambil tangan kirinya mengelus kepala Khansa yang sedang menunduk mencium punggung tangannya.
“Aku akan memasak untukmu dulu ya mas..” ucap Khansa yang ingin beranjak ke dapur lalu ditahan oleh Kalandra.
“Tidak usah memasak, kita makan di luar aja nanti. Sudah lama kita bertiga tidak akan di luar.” Ucap Kalandra yang dibalas anggukan oleh Khansa.
Khansa beranjak menuju kamar Kenan untuk membangunkannya dan menyiapkan anaknya itu untuk pergi, lalu setelah menyiapkan anaknya Khansa menuju ke kamarnya untuk mandi dan bersiap.
Setelah selesai, Khansa menuruni tangga dengan cantik dan anggun.

“Astaga cantik sekali istriku..” puji Kalandra yang melhat Khansa sedang menuruni tangga.
“Mami cantik sekali” teriak Kenan memuji maminya.
Khansa hanya tersenyum mendengar pujian dari kedua laki-laki yang dia sayangi.
“Terimakasih sayang-sayangnya mami.” Ucap Khansa dengan senyum indahnya.
“Kamu ga mau mandi dulu mas?” ucap Khansa kepada suaminya.
“Aku ga mandi juga tetep ganteng kok sayang.” Ucap Kalandra dengan pedenya.
“Mas… Ayo sekarang mandi dulu cepetan. Aku dan Kenan akan menunggu disini.” ucap Khansa sambil mendorong punggung suaminya.
Kalandra akhirnya mengalah dan menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap. Setelah semuanya siap mereka menaiki mobil dan melajukan mobilnya.
“Sayang, kita mau makan di mana? Di café itu apa di tempat lain saja?” tanya Kalandra kepada Khansa.
“Kalau di café dan melihat cinta pertamamu itu sepertinya aku tidak akan bisa makan dengan tenang deh mas. Kita makan di tempat lain aja lalu ke café untuk makanan penutupnya.” Ucap Khansa
“Baiklah, siap bu bos” Kalandra melajukan mobilnya ke restoran dimana dia dan Khansa makan disana untuk pertama kalinya setelah menikah.
“Mas? Restoran ini kan..?”
“Iya sayang, ini rentoran dimana kamu makan banyak sekali” ucap Kalandra sambil cekikikan.
“Papi? Apakah makanan disini enak?” ucap Kenan yang tidak pernah pergi ke tempat itu.
“Enak banget sayang, mami aja sampe makan buanyak.. banget.” Ucap Kalandra dengan nada mengejek.
Khansa hanya melirik tajam ke arah suaminya itu tanpa mengatakan sepatah katapun. Kalandra yang mendapat lirikan tajam dari istrinya itu langsung tersenyum canggung dan mengajak Kenan untuk turun dari mobil.
“Ayo Kenan kita masuk dulu, dari tadi papi mendapatkan sinar laser yang sangat menyilaukan.” Ucap Kalandra menyindir Khansa dan mengajak Kenan memasuki restoran.
“*Mas Andra ngeselin banget sih, awas aja nanti*.” Batin Khansa sambil menyilangkan tangan di dadanya dan menatap punggung anak dan suaminya itu.