MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
ANAKKU?


Persahabatan akan abadi jika salah satu dari mereka tidak ada yang saling menghianati.


Tidak ada manusia didunia ini yang tidak sakit hati jika dikecewakan oleh orang yang dia sayangi.



Acara di gallery tersebut semakin lama semakin ramai dengan para pebisnis-pebisnis yang ada di indonesia bahkan ada beberapa pebisnis yang berasal dari luar negeri.



Khansa yang masih menggendong Rey sedang memikirkan alasan agar dia bisa menauh dari suaminya.



Khansa merasa beruntung karena kebetulan rekan bisnis suaminya menghampiri mereka dan mengajak Kalandra berbincang-bincang, Khansa tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan matanya.



“Mas, aku ke toilet dulu ya kayaknya Rey butuh ganti pampers.” Ucap Khansa kepada Kalandra.



Kalandra menoleh ke arah istrinya, ia sedikit ragu karena takut jika ada sesuatu yang terjadi kepada Khansa, namun ia juga tidak bisa meninggalkan rekan bisnisnya itu karena kebetulan rekan bisnis yang sedang berbicara dengannya adalah rekan bisnis yang berasal dari luar negeri.



“Apa tidak masalah jika kamu ke toilet sendiri sayang?” tanya Kalandra yang di jawab anggukan oleh Khansa.



“Baiklah, jika ada sesuatu segera hubungi aku ya sayang.” lanjut Kalandra.



Khansa tersenyum dan pergi meninggalkan Kalandra, sedangkan Kalandra memperhatikan Khansa hingga tidak terlihat oleh matanya lagi.



“Your wife?” tanya rekan bisnis Kalandra.


(“Istrimu?”)



Kalandra tersenyum dan mengangguk mengiyakan ucapan rekan bisnisnya itu.



“She’s beautiful.” Ucapnya lagi.


(“Dia cantik.”)



“Thanks, I'm so lucky to have her.” Ucap Kalandra sambil tersenyum.


(“Terimakasih, saya sangat beruntung memilikinya.”)



Di tempat lain, Khansa yang baru saja mengganti pampers Rey segera keluar dari toilet dan melihat Robert dan Olivia yang masih berbincang-bincang tidak jauh dari tempatnya berdiri, Khansa tersenyum licik dan segera menghampiri Robert dan Olivia.



“Oliv?” sapa Khansa yang baru saja mendekat dengannya.



“Kak sasa, yaampun kak ternyata kakak ke sini juga?” tanya Olivia dengan antusias.



“Iya, aku ga tau kamu ternyata ada di sini. Apa kamu ke sini bersama kakakmu?” tanya Khansa yang berusaha untuk mengulur waktu agar tidak cepat pergi dari sana.



“Justru karena kakak tidak bisa ke sini jadi aku yang menggantikannya, padahal aku paling ga suka ke acara kayak gini kak bosen.” Keluh Olivia.



Khansa hanya tersenyum melihat sikap Olivia yang masih sangat muda itu, Khansa mengerti jika Olivia pasti masih ingin bermain dibandingkan ke tempat yang penuh dengan orang tua ini.



Robert tersenyum melihat Khansa yang sedang berbicara dengan Olivia, Robert tidak bisa mengalihkan pandangannya terutama saat melihat Khansa tersenyum.



Sedangkan asisten Robert yang sedari tadi berada di sebelah Robert menatap dengan tatapan heran ke arah Khansa.



“*Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya? ah iya, dia istrinya Kalandra bukan? Untuk apa dia kemari*.” batin Ardi sambil menatap Khansa.



“Kak, ini anak kak sasa? Lucu sekali dan sangat tampan.” Ucap Olivia.



“Benarkah? tapi ini bukan anakku liv.”



“Loh terus ini anaknya siapa kak?”



“Ini keponakannya suamiku, anak dari kakaknya suamiku.” Ucap Khansa yang sengaja menekankan kata keponakan agar di dengar oleh Robert.



Benar saja, Robert dan Ardi yang tadinya selalu melihat ke arah Khansa tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah bayi yang di gendong oleh Khansa.




“*Astaga jangan-jangan ini anaknya Robert*?” batin Ardi yang melihat bayi itu.



“Keponakan? Siapa namanya kak? Kemana anak-anak kakak?” tanya Olivia.



“Namanya Rey, aku dan suamiku yang merawatnya karena dia memiliki papa yang tidak bertanggung jawab. Suamiku sangat menyayanginya bahkan selalu menjaganya setiap malam. Sedangkan anak-anakku sedang berada di rumah bersama neneknya.” Jelas Khansa.



“Wah, pasti tuan Kalandra sangat menyayangi kakaknya.”



“Benar sekali, dia sangat menyayangi kakaknya tapi gengsi untuk mengatakannya.” Ucap Khansa.



“Sudah dulu ya liv, aku sepertinya sudah pergi terlalu lama. Suamiku pasti sedang mencariku.” Lanjut Khansa yang segera pergi meninggalkan mereka.



Robert masih terdiam dan berdebat dengan pikirannya sendiri, dia tidak tau apa yang harus di lakukan atas kejadian yang baru saja terjadi.



Robert berjalan mengikuti Khansa dan melihat kemanapun Khansa berjalan hingga tatapannya berhenti di tempat di mana Kalandra berada. Robert melihat Kalandra segera menggendong Rey, menciuminya dan bercanda dengan Rey hingga Rey tertawa lebar.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1607489483334.jpg)



“Rey, anakku? Dia benar-benar anakku? Apakah Hani melahirkan di penjara? Kenapa aku tidak tau mengenai hal itu?” gumam Robert yang masih menatap ke arah Kalandra.



“Itu karena kamu memang sudah tidak ingin mendengar tentangnya lagi, lihatlah wanita itu telah memberikanmu putra yang sangat menggemaskan.” Ucap Ardi dari belakang hingga membuat Robert terkejut.



Robert menoleh ke arah Ardi yang datang tiba-tiba seperti hantu itu, Robert menatap Ardi dengan tatapan sinisnya.



“Apa perlu aku mengumpulkan informasi tentang mereka?” tanya Ardi.



“Tidak, tidak perlu. Aku tida perduli dengan mereka.” Ketus Robert yang langsung meninggalkan Ardi.



Ardi tersenyum melihat kepergian Robert dan menatap ke arah Khansa dan Kalandra.



“*Dia perduli, sangat perduli terhadap mereka*.” Batin Ardi.



Rumah Kalandra


“Assalamualaikum.” Teriak Kenan yang baru saja pulang sekolah.


“Waalaikumsalam sayang.” ucap kakek Arnold yang sedang membaca koran di ruang tamu.


“Kakek sedang apa di sini?” tanya Kenan yang duduk di sebelah kakeknya.


“Sedang membaca koran sayang, emang Kenan ga lihat?” ucap kakek Arnold.


“Lihat sih kek, cuma pura-pura tanya aja hehehe.” Ucap Kenan sambil memamerkan gigi putihnya.


Arnold menggelengkan kepala dan tersenyum melihat kelakuan cucunya yang sangat jahil itu. Kenan melihat sekeliling rumah dengan perasaan heran karena tidak ada orang sama sekali di rumah itu.


“Kek, kenapa di rumah sepi sekali? papi dan mami kemana?” tanya Kenan.


“Papi dan mamimu sedang menghadiri acara rekan bisnis papimu, Rey ikut dengan mereka.”


“Lalu nenek, Ken dan Key?”


“Mereka sedang berada di kamar, mungkin sedang tidur.” Ucap kakek Arnold.


Kenan menganggukkan kepalanya dan pergi ke dapur untuk meminta minum kepada bi Rini.


“Bi, Kenan mau minta minum dong.” Ucap Kenan.


Bi Rini tersenyum dan segera mengambil air putih untuk tuan mudanya itu.


“Ini tuan Kecil, minumnya sambil duduk ya .” Ucap bi Rini dengan menyodorkan segelas air putih kepada Kenan.


Kenan tersenyum dan mengangguk kepada bi Rini, Kenan mengambil gelas yang di berikan bi Rini lalu duduk di kursi makan untuk meminum air putihnya.


“Terimakasih bi Rini, Kenan mau ke nenek dan adek-adek dulu ya.” ucap Kenan sambil menaruh gelasnya di tempat cucian piring dan pergi meninggalkan dapur.


Arnold yang melihat Kenan berlari menaiki tangga merasa bingung.


“Kenan kamu mau kemana?” tanya kakek Arnold dengan nada sedikit berteriak.


“Mau ke nenek dan adek-adek kek.” Teriak Kenan.


Sesampainya di depan kamar adik-adiknya, Kenan membuka pintu dengan perlahan dan melihat neneknya sedang tertidur di sofa sedangkan adik-adiknya tertidur di tempat tidurnya masing-masing.


Kenan masuk ke dalam kamar dan menghampiri neneknya dengan perlahan lalu berjongkok di dekat kepala neneknya, Kenan mengelus kepala neneknya dengan perlahan.


“Nenek pasti capek ngurus Kenan sama adek-adek ya. Nenek istirahat ya, sekarang Kenan yang akan menjaga adek-adek menggantikan nenek.” ucap Kenan dengan nada berbisik.