
Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dengannya
Meskipun jalan yang harus kautempuh keras dan terjal
Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu, serahkan dirimu padanya
Meskipun pedang-pedang yang ada di balik sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu.
***Rumah sakit***
Anita yang baru saja menelfon Kalandra merasa kesal karena telfonnya di matikan secara sepihak oleh Kalandra.
Edo yang baru saja datang untuk mengajak Anita makan bersama itu merasa aneh karena melihat ekspresi wajah Anita yang kesal.
“Ada apa nit?” tanya Edo kepada Anita.
“Aku kesel sama Andra, mentang-mentang sudah bisa berjalan dia langsung kabur gitu aja dari rumah sakit, padahal dia belum benar-benar pulih.” Protes Anita.
“Andra sudah bisa berjalan!?” tanya Edo yang baru saja mengetahui kabar baik itu.
“Hm,, kemarin saat latihan dia tiba-tiba saja ingin berjalan tanpa di pegangi, dan dia sudah bisa berjalan. Aku ingin memberitau semua orang tapi dia melarangnya karena dia ingin memberikan kejutan kepada semua orang.”
“Apa secepat ini dia bisa pulih?”
“Pulih atau tidaknya pasien tergantung dengan keinginan pada dirinya sendiri. Kalandra begitu gigih ingin segera bisa berjalan dan mengajak Khansa dan Kenan bertamasya.”
“Kalau begitu kita sudah bisa membicarakan tentang pernikahan kita bukan?” tanya Edo yang membuat Anita terkejut.
“O,oh iya aku lupa aku masih harus memeriksa beberapa pasien, k,kamu tunggu disini dulu ya.” ucap Anita dengan gelagapan.
Edo yang melihat tingkah Anita itu hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat kepergian Anita.
“Bagaimana aku tidak menyukaimu jika kamu seimut itu.” Gumam Edo.
Pesawat
Di dalam pesawat, Ryan dan Rose tidak berbicara sepatah kata pun. Ryan hanya sibuk dengan hpnya sedangkan Rose hanya menatap ke luar jendela karena tidak tau harus melakukan apa.
“Rose, kamu lapar?” tanya Ryan.
“Engga kak.”
“Terus kenapa kamu diem aja?”
“Lah terus kak Ryan mau aku ngapain? Emang kak Ryan ga malu kalo aku guling-guling di sini?” tanya Rose.
“Ya malu lah, kalo sampe kamu guling-guling bakalan aku tinggal kamu di sini.” Ketus Ryan.
“Yee, biasa aja kali kak gausah pake otot gitu kalo ngomong. Lagian kak Ryan kan yang mancing-mancing.”
“Siapa yang lagi mancing Rose, udah tau aku lagi duduk dari tadi.”
Rose hanya bisa menganga dan menepuk keningnya, dia merasa bersalah berbicara dengan Ryan.
“Susah emang ngomong sama om-om.” Gumam Rose yang masih bisa di dengar oleh Ryan.
“Apa? Kamu tadi ngomong apa?” tanya Ryan.
“Engga kak, aku dari tadi diem aja tuh.”
“Kak, kita berapa lama sih disana?” tanya Rose.
Ryan menatap Rose sejenak lalu menaruh hpnya kedalam sakunya.
“Sebenarnya kita hanya seminggu melakukan urusan bisnis, hanya saja aku memninta waktu seminggu lagi agar kita bisa berlibur. Stop! ga perlu bilang terimakasih sama aku.” Ucap Ryan dengan pedenya.
“Astaga kepedean banget nih om-om.” Batin Rose dengan senyum terpaksa ke arah Ryan.
“Tidurlah, jika sudah sampai akan aku bangunkan.” Ucap Ryan.
Rose menuruti perkataan Ryan untuk tidur. Setelah beberapa jam mereka telah tiba di Jepang.
“Rose bangunlah.” Ryan membangunkan Rose dengan perlahan.
Rose membuka matanya dan menoleh ke arah Ryan sambil membenarkan rambutnya.
“Astaga, kenapa dia cantik sekali padahal baru bangun tidur.” Batin Ryan yang melihat Rose sedang menatapnya.
“Kak, aku lapar.” Ucap Rose.
“Iya setelah kita turun dan menaruh barang di hotel, kita akan mencari restoran.”
Rose menuruti perkataan Ryan dan mengikutinya sampai di hotel.
Kamar Rose tepat berhadapan dengan kamar Ryan. Rose merasa kesulitan saat berusaha membuka pintu hotel tersebut. Ryan yang melihat Rose sedang kesulitan akhirnya membantunya.
“Kamu buka pintu aja ga bisa Rose?” ejek Ryan.
“Ya maaf aja, aku kan ga kayak kak Ryan yang bolak balik nginep di hotel. Ini hari pertamaku tidur di hotel jadi aku ga paham.” Ketus Rose.
“Aku bercanda kali Rose gausah marah gitu. Sudahlah cepat taruh barangmu dang anti bajumu, kita akan mencari makan sambil berjalan-jalan keliling Jepang sebelum bertemu dengan klient besok pagi.” Ucap Ryan.
Dengan bersemangat mendengar tentang makanan, Rose segera mandi dan bersiap untuk keluar mencari makan.
Setelah siap, Rose segera keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Ryan tanpa henti.
Ryan membuka pintu dengan kesal karena dia baru saja menyelesaikan mandinya.
“Ada apa!?” ketus Ryan kepada Rose.
“AAA!!!” Rose menatap Ryan dari atas ke bawah.
Melihat ekspresi Rose yang berteriak, Ryan langsung melihat kebawah. Betapa terkejutnya Ryan karena ternyata dirinya masih bertelanjang dada dan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Ryan yang sadar akan kesalahannya dengan segera menutup pintu, sedangkan Rose masih ternganga didepan pintu kamar Ryan, ia tidak percaya bahwa dirinya melihat pemandangan yang menurutnya begitu memalukan.
“Astaga,, mataku sudah tidak suci lagi.. bagaimana bisa om-om itu hanya melilitkan baju di pinggangnya dan memperlihatkan perut kotaknya di depan gadis polos sepertiku.” Gumam Rose yang masih berdiri di depan pintu.
“Tapi di lihat-lihat kak Ryan tampan juga jika seperti itu hihihi” Rose cekikikan dan berlari kecil masuk ke dalam kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya, Rose langsung memukul pipinya sendiri untuk menyadarkannya.
“Sadar Rose, kamu masih kecil. Masa iya terpana sama om-om kayak kak Ryan.” Batin Rose yang masih memukul pipinya sendiri.
Tidak lama setelah itu, Ryan mengetuk pintu kamar Rose dan mengajaknya untuk mencari makan.
Rose dan Ryan mengendarai mobil yang sudah disiapkan oleh Kalandra untuk berjalan-jalan. Di sepanjang perjalanan, Ryan dan Rose merasa canggung karena teringat kejadian yang tadi mereka alami.
“Rose. Masalah tadi jangan diingat lagi ya, tadi aku lupa kalo aku baru selesai mandi.” Ucap Ryan memulai pembicaraan.
“Tenang saja kak, lagi pula aku juga akan menghapus kenangan buruk yang menodai mataku.” Ucap Rose.
“Apa kamu bilang? M,menodai matamu?”
“Hmm,,” jawab Rose sambil menganggukan kepalanya.
“Astaga Rose, apa kamu tau jika badanku ini..” ucapan Ryan terputus karena sadar jika dirinya sudah memalukan diri sendiri dengan mengungkit masalah badannya.
Rose yang bingung hanya menatap ke arah Ryan dan membasahi bibirnya dengan lidahnya. Ryan yang melihat Rose menjulurkan lidahnya untuk membasahi bibirnya itu hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
“Astaga dia cantik sekali.” Batin Ryan sambil melihat Rose.
“Jangan menjulurkan lidahmu jika berada di sebelahku Rose.” Ujar Ryan.
Rose tidak mendengarkan perkataan Ryan karena Rose merasa bibirnya sangat kering saat terkena ac mobil.
Dengan segera Ryan menepikan mobilnya dan memberhentikannya. Rose yang terkejut hanya bisa melihat ke arah Ryan dengan tatapan sinis.
“Kak Ryan mau aku mati ya!?” bentak Rose yang benar-benar merasa terkejut.
“Kamu yang salah karena tidak menurutiku Rose.” Ucap Ryan yang langsung menyosor mulut Rose.
Ryan mencium bibir Rose dengan tiba-tiba, sedangkan Rose hanya bisa melebarkan matanya karena terkejut dengan perlakuan Ryan.