
Dunia ini di penuhi oleh orang-orang baik, jika kamu tidak menemukannya maka jadilah salah satunya.
“A-apa!? Dia menelfon siapa?” gumam pelayan tersebut yang masih bisa di dengar oleh Belinda.
“Kamu seharusnya lebih berhati-hati, suamiku paling tidak suka dengan seseorang yang hanya suka merendahkan orang lain!” ucap Belinda pelan.
Setelah Kenan selesai menelfon, tidak lama kemudian datanglah seseorang dengan tergesa-gesa ke arah Kenan.
“T-tuan Kenan? ada apa? kenapa anda ada di luar?” tanya seseorang yang tak lain adalah manager toko tersebut.
“Apa kamu sekarang tidak menyeleksi pelayanmu!? Bagaimana bisa ada orang yang menilai dari penampilannya saja! memang papiku tidak pernah bilang kalau siapapun orangnya, pelanggan tetaplah pelanggan mau bagaimanapun penampilannya!” ketus Kenan.
“Aku bisa saja pindah ke toko lain, tapi aku hanya ingin kamu memberi pelajaran kepada pelayanmu ini! tidak! Kamu harus memberi pelajaran tentang sopan santun kepada seluruh pelayanmu!” lanjut Kenan.
“B-baik tuan, saya akan segera mengajarinya! Sekali lagi saya benar-benar minta maaf karena sikap pelayan saya tuan!” tegas manager tersebut sambil membungkukkan badannya.
Sedangkan pelayan tadi hanya bisa ternganga karena terkejut melihat kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya.
“*Apa-apaan ini? siapa sebenarnya orang ini sampai manager toko kami ketakutan seperti itu*?” gumam pelayan tersebut di dalam hatinya.
“Apa yang kamu lakukan! Cepat minta maaf! Kamu kira kamu ini siapa berani melawan anak pemilik mall ini!” ketus manager tersebut.
Pelayan tersebut kembali terkejut mendengar ucapan managernya, dia tidak tau kalau ternyata orang yang dia usir tadi adalah anak dari pemilik mall besar itu.
“M-maaf tuan, saya tidak tau kalau anda adalah anak pemilik mall ini.” ucap pelayan tersebut sambil menundukkan kepalanya.
“Jadi maksud kamu, kalau bukan anak pemilik mall ini kamu akan tetap melarangnya masuk ke sini?” tanya Kenan.
“T-tidak tuan, saya tidak akan mengulangi hal ini lagi, saya akan melayani siapapun orangnya.” Ucap pelayan tersebut.
“Silahkan masuk tuan Kenan, saya sendiri yang akan melayani anda dengan sangat baik.” Ucap manager toko tersebut.
“Tidak terimakasih! Saya sudah tidak mood untuk berbelanja di toko ini!” ucap Kenan yang langsung mengajak Belinda dan Alya pindah ke toko lain.
Akhirnya Kenan dan Belinda sudah membelikan banyak pakaian untuk Alya, dan Belinda juga membeli pakaian untuk dirinya sendiri karena pakaian yang tadi dia pakai sudah kotor karena tumpahan es kirm.
“Alya mau makan apa?” tanya Belinda dengan lembut.
“Telor ceplok.” Ucap Alya dengan polosnya.
Belinda dan Kenan hanya saling menatap satu sama lain mendengar jawaban dari Alya, akhirnya mereka berdua mengajak Alya ke café yang ada di dalam mall.
Kenan memesan banyak makanan, minuman dan juga es krim untuk Alya, Alya yang melihat ada banyak sekali makana di hadapannya langsung menganga dan membulatkan kedua matanya.
“B-banyak sekali.” gumam Alya yang masih bisa di dengar oleh Kenan dan Belinda.
“Alya, berapa umur kamu?” tanya Belinda.
“Delapan tahun.”
“Wah, berarti Alya sudah SD ya? Alya sekolah di mana?”
“Alya ga sekolah tante.” Ucap Alya sambil menundukkan kepalanya.
“Apa? Alya tidak punya orang tua?” tanya Kenan.
Mendengar penjelasan Alya membuat mata Belinda menjadi berkaca-kaca karena tersentuh akan kisah Alya.
“Apa Alya mau tinggal bersama tante?” tanya Belinda.
“Bel!” ucap Kenan.
“Kenapa Kenan? dia tidak memilikir rumah, dan aku akan menyuruhnya tinggal bersamaku.” Ucap Belinda.
“Tidak! Kamu tinggal di apartment dan lagi kamu tinggal bersama Bernard, lalu bagaimana jika kamu dan Bernard bekerja?” tanya Kenan.
“Lalu kita harus bagaimana?”
“Aku akan membawanya tinggal di rumahku, pasti mami sangat senang karena dia sangat menyukai anak kecil.” Ucap Kenan.
“Alya tidak mau jadi beban om, tante,, Alya ga mau kalau akhirnya om dan tante juga akan membuang Alya.” Ucap Alya.
“Jangan mengatakan hal seperti itu Alya, kami tidak akan membuangmu, kami sangat senang jika kamu mau tinggal bersama dengan kami, setelah om dan tant resmi menikah, kami akan mengangkatmu menjadi anak pertama kami, bagaimana? Apa kamu mau?” tanya Kenan yang membuat Belinda dan juga Alya terkejut mendengarnya.
“Jadi maksud om, Alya akan punya orang tua lagi?” tanya Alya dengan semangat.
“Tentu saja, kami akan menjadi orang tua kamu.” Jawab Kenan.
“Kamu serius Kenan?” tanya Belinda dengan berbisik.
“Aku serius sayang, kamu tidak masalah bukan kalau nantinya Alya akan menjadi anak angkat kita?” tanya Kenan.
“Tentu saja tidak! Justru aku akan sangat senang karena akan memiliki teman untuk aku ajan shopping.” Ucap Belinda sambil memamerkan gigi putihnya.
“Halo.” Ucap Key dari sebrang telfonnya.
“Halo Key, kamu di mana?” tanya Bernard.
“Tentu saja aku berada di rumah, memangnya di mana lagi.” Ketus Key.
Mendengar nada bicara Key yang jutek seperti itu, Bernard sangat yakin kalau dia sudah membuat Key kesal.
“Bisakah kamu keluar rumah? Sebentar lagi aku akan sampai di depan rumahmu, aku ingin mengajakmu makan karena aku belum makan sejak pagi tadi.” rengek Bernard.
“Apa? Kenapa om beruang tidak makan?!” ketus Key.
“Aku terlalu sibuk dengan dokumen yang harus di periksa secepatnya.” Jelas Bernard.
“Baiklah, om beruang tunggu di depan rumah saja, aku akan segera mengganti baju dan keluar untuk menemani om beruang makan.” Ucap Key yang langsung mematikan telfonnya.
Bernard tersenyum sambil melihat ke layar hpnya, Bernard tersenyum kecil melihat tingkah lucu kekasihnya itu.
Key yang baru saja keluar dari rumahnya langsung melihat Bernard yang sedang bersandar di pintu mobilnya dengan santai.
“Hai Key, aku memiliki sesuatu untukmu jadi kamu harus menutup kedua matamu lebih dulu ya.” ucap Bernard sambil berjalan menghampiri Key dan menutup kedua mata Key dengan tangannya.
“Apa-apaan sih ini om beruang? Bukannya om beruang mau mengajakku untuk menemanimu makan?” tanya Key.
Bernard tidak menggubris ucapan Key dan hanya menuntun Key untuk berjalan ke belakang mobilnya dengan perlahan dan memberikan kejutan yang sudah di siapkan kepadanya.
“Tara…!!” ucap Bernard sambil menyingkirkan tangannya dari mata Key.
Key terkejut melihat bucket mawar merah yang sangat besar itu, dia tidak menyangka jika Bernard akan memberinya bucket bunga sebesar itu, namun Key tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tetap dengan wajah yang biasa saja.
“Jadi ceritanya om beruang sedang menyogokku agar mau memaafkanmu ya?” ketus Key.
“Tidak kok, aku memang sengaja tidak menghubungimu jadi aku bisa memberikan kejutan untukmu, lagi pula aku ingin melakukan hal yang selama ini tidak pernah ku lakukan.” Ucap Bernard yang segera berjongkok dengan kaki kiri menekuk dan mengeluarkan sebuah cincin berlian berwarna merah.
Key tidak pernah memikirkan hal seperti ini akan terjadi kepadanya, selama ini dia selalu melihat jijik kepada pasangan yang melakukan hal ini, namun kali ini dia merasa ada sesuatu yang berdetak kencang di dalam dirinya.
“Apa-apaan ini om beruang.” Ucap Key.
“Aku tau kalau selama ini aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku kepadamu, dan sekarang aku ingin mengatakan kepadamu, maukah kamu menjadi sahabat, pacar, musuh, dan juga istriku Keyla Putri Kalandra?” ucap Bernard dengan lantang membuat Key tersipu malu.
“Aih, malu-maluin deh om beruang, untung gaada yang lihat.” Gumam Key di dalam hatinya.
Ckrekk!
Key dan Bernard terkejut mendengar suara hp yang sedang memotret itu, mereka berdua kebingungan mencari asal suara tersebut.