MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SEASON 2 (MIRIP)


Aku telah jatuh cinta, dengan seseorang yang kisahnya hanya mampu ku ukir dalam rangkaian kata. Dengan tetap memanggil namanya di dalam do’a.




“Apa dia akan baik-baik saja?” tanya Bernard kepada Belinda.



“Aku yakin dia akan baik-baik saja Bernard.” Ucap Belinda yang mencoba untuk menenangkan saudara kembarnya itu.



“Seharusnya aku tidak mengadu kepada om dan tante tadi.” ucap Bernard yang merasa bersalah.



“Tidak, aku tau maksud kamu memberitahu semuanya agar mereka bisa menjaga Key dengan lebih ketat lagi dan agar Key tidak melakukan hal seperti itu lagi.” Ucap Belinda.



Mendengar ucapan Belinda akhirnya Bernard hanya bisa menghela nafas panjang dan mengangguk mengiyakan ucpan Belinda.



“Nyonya dan tuan Sanjaya, kami mohon maaf karena kalian harus melihat kejadian seperti ini.” ucap mami Khansa yang menghampiri orang tua Bernard dan Belinda.



“Tidak masalah nyonya Kalandra, saya juga paham kenapa tuan Kalandra jadi semarah itu. Mungkin kalau kami yang ada di posisinya kami juga akan semarah itu.” Ucap nyonya Sanjaya.



“Silahkan duduk tuan dan nyonya Sanjaya, saya akan mengambilkan kalian minum.” Ucap mami Khansa.



“Biar Elsa aja mami, mami duduklah bersama mama dan papa kak Belinda.” Ucap Elsa yang menawarkan diri.



“Terimakasih sayang.” ucap mami Khansa sambil duduk di sebelah mama Belinda.



Kedua orang tua Belinda melihat kepergian Elsa dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.



“Keluarga anda memiliki anak perempuan yang manis-manis nyonya Kalandra.” puji mama Belinda.



“Anda benar sekali nyonya Sanjaya, Elsa sangat manis dan juga cantik.” Ucap mami Khansa.



“Sepertinya akan cocok kalau kita kenalkan dia dengan Henry ma.” Ucap papa Belinda kepada istrinya.



“Ih papa ada-ada aja deh, Elsa masih sangat muda untuk di kenalkan dengan Henry.” Balas mama Belinda.



“Kenapa? Hanya beda sedikit dengan Key dan Bernard kok.” Ucap papa Belinda.



Tidak jauh dari sana, Rey mendengar pembicaraan kedua orang tua Belinda dan mami Khansa, dia sangat kesal dan mengepalkan kedua tangannya.



“*Tidak boleh, Elsa tidak boleh di kenalkan dengan kak Henry*.” Gumam Rey di dalam hatinya lalu berbalik ingin meninggalkan tempat itu.



“Kamu mau kemana Rey?” tanya papa Robert.



“Mau ke atas pa, mau menyiapkan beberapa barang yang belum di kemas.” Ucap Rey.



Papa Robert hanya mengangguk mengiyakan ucapan anak semata wayangnya itu dan membiarkannya pergi menuju apartmentnya.



\*\*\*



Di kamar Key, Kenan baru saja menuntun Key untuk berbaring di atas tempat tidurnya dan menyuruhnya untuk beristirahat.



“Kamu istirahatlah dulu.” Ucap Kenan.



“Terimakasih ya bang, dan maaf karena sudah mengecewakan kalian semua.” Ucap Key dengan perasaan bersalah.



“Sudahlah, kamu juga manusia Key, selama ini kamu tidak pernah membuat kami kecewa dan menurutku itu adalah hal yang justru aneh karena kamu adalah anak yang sangat sempurna di dalam keluarga ini, jadi sepertinya kesalahan seperti ini tidak masalah untukku.” Ucap Kenan.



“Tapi papi benar-benar kecewa karena sikapku bang.”



“Tentu saja dia sangat kecewa denganmu, tapi semuanya akan kembali seperti semula abang yakin Key.” Ucap Kenan mencoba untuk menenangkan adiknya.



Kenan memberikan selimut kepada adiknya agar Key bisa tertidur dengan nyenyak di bawah selimut kesayangannya.



“Sudahlah lebih baik kamu tidur, aku akan membangungkanmu saat waktunya kita akan berangkat.” Ucap Kenan.



Key hanya mengangguk mengiyakan ucapan abangnya lalu mencoba untuk memejamkan matanya dan beristirahat.




Bernard dan Belinda yang melihat Kenan yang sedang menuruni tangga langsung menghampirinya untuk bertanya tentang keadaan Key.



“Bagaimana Key? Apa dia baik-baik saja?” tanya Bernard.



“Dia baik-baik saja, hanya butuh waktu untuk menenangkan diri dan aku yakin sebentar lagi dia akan baik-baik saja.” Jelas Kenan.



“Lalu papimu? Apa kamu tidak melihat keadaannya?” tanya Belinda.



“Biarkan dia menyendiri dulu sama seperti Key, karena sifat papi dan Key itu sama.” Ucap Kenan.



Akhirnya Bernard dan Belinda mengangguk mengiyakan ucapan Kenan lalu Kenan menghampiri orang tua Belinda dan Bernard untuk menyapa mereka.



“Om, tante maaf karena keributan yang ada di sini, Kenan tidak menyangka kalian akan melihat kejadian seperti tadi, dan Kenan juga mohon maaf karena papi belum bisa menyambut kedatangan kalian.” ucap Kenan dengan sopan.



“Sudahlah Kenan kami tidak masalah dengan itu, kalau Belinda melakukan hal itu juga kami pasti akan marah padanya, dan om juga yakin kalau papi kamu butuh waktu untuk menenangkan dirinya.” Ucap papa Belinda.



Kenan hanya tersenyum menanggapi ucapan papa Belinda, sebenarnya perasaannya masih tidak enak karena calon mertuanya harus melihat perdebatan antara papinya dan adiknya itu.



“Nyonya Kalandra, sepertinya akan lebih baik jika anda menyusul dan menenangkan tuan Kalandra.” ucap mama Belinda.



“Iya, istri saya benar nona Kalandra sebaiknya anda menyusul tuan Kalandra dan mencoba untuk meredakan amarahnya.” Sambung papa Belinda.



Mami Khansa yang mendengar ucapan itu dari orang tua Belinda langsung melihat ke arah Kenan, sedangkan Kenan yang di lihat oleh maminya langsung mengetahui maksud dari maminya itu dan mengangguk memberi persetujuan kepada maminya.



“Baiklah kalau begitu, saya mohon undur diri untuk menemui suami saya dulu tuan dan nyonya Sanjaya, sekali lagi saya benar-benar minta maaf atas kejadian yang baru saja anda lihat.” Ucap mami Khansa.



Kedua orang tua Belinda dan Bernard hanya menganggukkan kepalanya dan memberi ijin kepada mami Khansa untuk menghampiri suaminya.



Mami Khansa langsung ke atas menuju apartmentnya untuk melihat suaminya yang benar-benar sangat marah hari itu.



“Mas?” sapa mami Khansa saat baru masuk ke dalam apartment.



“*Kemana mas Andra? Kenapa tidak ada di sini*?” gumam mami Khansa di dalam hatinya yang melihat suaminya tidak ada di ruang tamu apartmentnya.



Melihat suaminya yang tidak ada di ruang tamu, mami Khansa menuju ke kamarnya untuk memastikan apakah suaminya ada di dalam kamar atau tidak.



“Mas?” sapa mami Khansa.



Papi Kalandra menoleh ke arah pintu kamar dan melihat istrinya yang sedang berada di ambang pintu dengan wajah yang cemas.



“Kamu kenapa ke sini sayang? bukankah ada orang tua Bernard dan Belinda? Aku harus meminta maaf kepada mereka karena kejadian tadi.” ucap papi Kalandra yang beranjak dari tempat tidurnya.



“Tidak usah mas, aku dan Kenan sudah meminta maaf mewakili dirimu dan mereka bisa mengerti keadaan kamu, mereka yang menyuruhku untuk menemanimu mas.” Jelas mami Khansa.



Mendengar ucapan istrinya, papi Kalandra kembali duduk di pinggir tempat tidurnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.



“Aku tidak menyangka kalau kita memiliki anak perempuan yang sangat baik hati.” Ucap papi Kalandra.



“Key adalah gabungan dari kita berdua mas, dia memiliki ketangguhan dan keberanian sama sepertimu dan dia juga memiliki hati yang mudah sekali luluh sama denganku.” Ucap mami Khansa.



“Tapi ini keterlaluan sayang, dia berbaik hati dengan orang yang hampir mencelakainya!” ketus papi Kalandra.



“Apa kamu tidak mengingat sesuatu kejadian yang sama dengan yang Key lakukan?” tanya mami Khansa.



“M,,maksud kamu apa?” tanya papi Kalandra yang tidak mengerti maksud dari istrinya.



“Dulu aku juga dengan baik hati menjenguk dan merawat anak dari seseorang yang sudah membuat anak dan suamiku celaka, bukankah hal itu mirip dengan yang Key lakukan?” ucap mami Khansa.



Papi kalandra yang mendengar ucapan istrinya langsung teringat akan hal itu dan menatap ke arah istrinya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan,



“Kamu benar! Kenapa kalian berdua ini benar-benar sangat mirip.” Ucap papi Kalandra yang di balas senyuman oleh mami Khansa.