MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SEASON 2 (MENEMUKAN)


Bisa aku melihatnya akan tetapi aku tidak bisa aku menyentuhnya,, begitulah aku mempunyai cara yang selalu mengagumimu walaupun hanya lewat sebuah selembar foto.



Drtt.. drrtt..



Hp Kenan berbunyi, terlihat jelas di monitor mobilnya nama Diana muncul di sana. Kenan melihat ke arah Key yang sudah melirik dan membaca nama tersebut.



“Apa abang boleh menjawabnya?” tanya Kenan.



“Tentu saja boleh! Dia kan pacar abang.” Ucap Key.



Akhirnya Kenan menjawab panggilan dari pacarnya itu.



“Halo Diana ada apa? Aku sedang menyetir.” Ucap Kenan.



“Sayang, kata sekretaris barumu adikmu hilang ya?” tanya Diana dengan nada sok sedih.



Key yang mendengarnya hanya tersenyum sinis mendengar kekhawatiran palsu dari nenek lampir itu.



“Iya, tapi dia sudah ketemu. Terimakasih atas ke khawatiranmu!” ucap Kenan.



“Apa!? Apa sudah ketemu? Kenapa cepat sekali!” Diana tidak sengaja mengucapkan kata-kata itu.



“Apa maksudnya Diana! Apa kamu tidak senang jika adikku ketemu?” tanya Kenan dengan nada yang mulai meninggi.



“B,,bukan begitu sayang,, maksudnya syukurlah jika adikmu cepat kamu temukan.” Elak Diana.



“Sudahlah, aku sudah mau sampai di rumah.” Ucap Kenan lalu mematikan telfonnya.



Key menatap abangnya dan melihat ada rasa kebingungan terpancar dari wajah abangnya itu.



“Apa abang sedang bimbang saat ini?” tanya Key.



“Maksudnya?”



“Ya, apakah sekarang abang baru berfikir apakah nenek lampir itu adalah wanita yang tepat untuk abang.”



“Kenapa kamu selalu memanggilnya nenek lampir Key? Namanya Diana dan dia adalah pacarku!” tegas Kenan.



“Aku tau dia adalah pacar abang, tapi aku yakin semenjak kak Belinda datang perasaan abang jadi bimbang kan?”



“Sudahlah, kamu tidak mengetahui apapun!” ucap Kenan.



Setelah mendengar ucapan abangnya, Key akhirnya tutup mulut dan tidak berbicara apapun lagi karena dia takut jika abangnya akan marah kepadanya.



“*Aku yakin, hatimu sudah memilih kak Belinda saat pertama kali melihatnya bang*.” Batin Key sambil melihat keluar jendela mobilnya.



“Sekarang giliranmu menceritakan apa yang terjadi kepadamu hingga kamu sampai di taman bermain itu?” tanya Kenan.



“Aku di café tadi ketemu sama om-om egois yang asal memotong antrian bang, lalu aku berdebat dengannya dan menyiramnya dengan minuman yang dia pesan lalu pergi meninggalkannya. Saat berjalan mau menuju ke perusahaan tiba-tiba aku teringat dompetku tertinggal di café, saat aku kembali sudah tidak ada. Aku takut kalau abang akan memarahiku akhirnya aku kabur aja ke taman bermain.” Jelas Key.



“Huhh,, lain kali jangan pernah kabur dari masalah seperti tadi! jika memang kamu bersalah, maka hadapilah dan harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat!” tegas Kenan.



“Iya bang, maaf ya. Key tidak akan seperti itu lagi.” Ucap Key sambil menundukkan kepalanya.



Kenan dan Key sudah berada di depan rumah mereka, Kenan segera turun dari mobil dan di ikuti oleh Key.



Di dalam ada Ken dan Rey yang sedang berbicang-bincang. Dan ada papi Kalandra, mami Khansa, Robert dan Hani yang sedang duduk di sofa ruang tamu.



“Loh, sayang.. kalian kenapa sudah pulang?” tanya mami Khansa.



“Anak gadis mami nih yang minta pulang..” ucap Kenan lalu menceritakan semua kejadian yang sudah di alami Key.




![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1609138315297.jpg)



“Kalian ini sebenarnya kenapa sih!?” ucap Key yang merasa risih dengan kelakuan kedua saudaranya.



“Apa kamu tidak apa-apa Key?” tanya Ken.



“Hm, apa om-om itu tidak menyentuhmu?” lanjut Rey.



Kenan hanya menggelengkan kepala melihat ke khawatiran adik laki-lakinya dan adik sepupunya itu. Sedangkan para orang tua tersenyum melihat kelakuan anak mereka yang sangat mengkhawatirkan keadaan Key.



Ken dan Rey sejak dulu memang selalu over terhadap Key walaupun kadang mereka tidak jarang bertengkar dan berdebat mengenai beberapa hal, namun sebenarnya mereka saling memperhatikan satu sama lain.



“Sudahlah, biarkan Key duduk dan meminum segelas air untuk menenangkannya.” Ucap Hani.



Akhirnya Ken dan Rey mengiyakan ucapan Hani dan menuntun Key untuk duduk di sofa.



“Kalian ini! aku sudah besar dan bisa berjalan sendiri. Kenapa kalian menuntunku seperti aku tidak bisa berjalan!” ketus Key.



Ken menjitak Key dengan keras hingga membuat Key meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.



“Hei, kamu ini! kita mengkhawatirkanmu! Kenapa kamu malah kesal dengan kami!” ucap Ken.



“Hei! Kenapa kamu menjitak Key! Lihatlah dia kesakitan!” ucap Rey.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1609138315295.jpg)



“Kenapa kamu membelanya! Dia sudah memarahimu!” ketus Ken.



“Kenapa? Biarkan saja dia berkata seperti itu. Dia kan memang sudah besar jadi tidak salah jika dia berbicara seperti itu.”



“Diamlah!!! Apa kalian harus berdebat seperti ini? aku pusing mendengarnya!” ketus Key.



Akhirnya, Ken dan Rey berhenti berdebat dan kembali duduk di tempatnya masing-masing.



“Lihatlah mereka, dulu mereka masih sangat kecil. Sekarang mereka sudah sebesar ini bahkan selalu saja berdebat mengenai hal yang tidak penting.” Ucap Khansa yang di balas tawa dari semua orang.



“Kamu dari tadi kenapa diem aja sih Bernard?” tanya Belinda yang melihat kembarannya hanya diam saja selama perjalanan.


“Memangnya aku harus apa? Joget?”


“Aku serius Bernard! Apa terjadi sesuatu di perusahaan?” tanya Belinda.


“Tidak. Hanya saja tadi aku mengalami kejadian yang menyebalkan tapi lucu.” Ucap Bernard.


“Ha? maksudnya?”


“Aku tadi di siram oleh seorang gadis kecil.”


“Apa? Serius? siapa dia? Sepertinya aku harus memberinya penghargaan karena sudah memperlakukanmu seperti itu!” ucap Belinda sambil tertawa.



“Apa kamu mengejekku!? Apa aku kurang tampan sampai dia tidak tertarik kepadaku sama sekali?” tanya Bernard.


“Hm, masih ada laki-laki yang lebih tampan darimu!” ucap Belinda.


“Siapa!?”


“Kenanku!” ucap Belinda di iringi tawa.


Citt….


Bernard mengehentikan mobilnya di pinggir jalan dengan tiba-tiba hingga membuat Belinda terkejut.


“Bernard! Apa kamu mau mati!?” bentak Belinda.


“Bel, kamu tau bukan jika Kenan sudah memiliki kekasih?” tanya Bernard.


“Tentu saja tau!”


“Lalu kau tetap mengharapkannya saat sudah mengetahui hal itu? Apa kamu berniat untuk merusah hubungan mereka? Aku tidak ingin memiliki adik yang merusak hubungan orang lain!” tegas Bernard.


“Tapi mereka belum menikah! Sebelum janur kuning melengkung bukankah tidak apa-apa? Lagi pula Diana sepertinya bukan perempuan baik-baik. Dia pasti menyukai Kenan karena sesuatu yang Kenan miliki!” ucap Belinda.


“Jangan seperti itu, kamu tidak mengetahui apapun tentang kisah mereka! Aku tidak ingin kamu sakit hati Bel. Jangan terlalu berharap kepada laki-laki yang sudah memiliki kekasih.”


Belinda hanya diam tanpa bersuara, dia tau jika dirinya salah kalau masuk ke dalam hubungan Kenan dan Diana. Tapi hatinya tidak bisa melupakan Kenan begitu saja karena Kenan adalah cinta pertamanya.


“Aku mengatakan hal ini karena aku sangat menyayangimu, aku tidak ingin suatu saat nanti aku berada di mana aku harus memilih antara adikku dan sahabatku sendiri.” Ucap Bernard.


Belinda memalingkan wajahnya dan melihat ke luar jendela mobil sambil memikirkan perkataan kembarannya itu.


“Apa aku benar-benar harus menyerah begitu saja? tapi aku bahkan belum memulainya!” batin Belinda.