
Orang-orang menyebut kamu egois hanya ketika mereka tidak bisa memanipulasi kamu untuk melakukan apa yang mereka inginkan.
“Kenan, tolong telfon Belinda atau Bernard lagi, kenapa Lana di suruh membawa baju Key, memang di sana tidak ada baju Key yang tertinggal?” tanya mami Khansa kepada Kenan yang sedang sarapan.
“Ya mungkin saja Key bosan dengan pakaian yang di sana makanya dia menyuruh Lana untuk membawakan pakaian.” Ucap Kenan berbohong.
“Tapi perasaan mami ga enak.”
“Sudahlah mi, mami tau kan kalau Key itu bukan cewe sembarangan, dia itu luarnya doang cewe dalemnya laki-laki perkasa.” Sambung Ken yang di ikuti tawa oleh Rey, Elsa dan Audrey.

“Kamu ini! kalau Key dengar yang baru saja kamu bicarakan, mami tidak akan membantumu kalau dia menghajarmu.” Ucap mami Khansa sambil menggelengkan kepalanya.
“Pokoknya Kenan, mami mau sekarang juga kamu telfon Bernard mami mau bicara dengan Key.” Lanjut mami Khansa lalu pergi meninggalkan ruang makan.
“Emangnya kenapa tante Khansa ga telfon kak Key langsung aja?” tanya Audrey.
“Nomernya tidak aktif, Key itu pegang hp juga percuma sebenernya karena dia jarang memegang hp dan kalau hpnya mati dia tidak akan mengisi batrenya kalau bukan ada hal penting yang mengharuskannya melihat hp.” Jelas Ken kepada Audrey.
“Lebih baik abang segera telfon kak Bernard biar mami Khansa tidak khawatir lagi.” Ucap Elsa yang di balas anggukan oleh Kenan.
Kenan pergi ke halaman belakang mencoba menjauh dari semua orang, dia berusaha menghubungi Bernard dan bertanya mengenai keadaan Key.

“Halo Kenan?” ucap Bernard dari sebrang telfon.
“Halo Bernard, bagaimana keadaan Key? Mami sangat mengkhawatirkannya karena hpnya tidak aktif.” Ucap Kenan.
“Key baik-baik saja, emm,, sebenarnya ada masalah yang ingin aku ceritakan kepadamu Kenan.” ucap Bernard.
Kenan yang mendengar ucapan Bernard sedikit bernafas lega karena Bernard pasti akan jujur kepadanya tentang kejadian di pesta semalam.
“Hm, ada apa Bernard?” tanya Kenan pura-pura tidak tau.
“Nanti saja, akan lebih baik kalau aku menjelaskan semuanya secara langsung. Sebentar lagi aku akan membawa Key pulang.” Ucap Bernard lalu mematikan telfonnya.
Setelah selesai berbicara dengan Bernard, Kenan segera masuk ke dalam rumahnya dan terkejut melihat Belinda yang baru saja masuk ke dalam lobby apartment.
“Assalamualaikum..” sapa Belinda yang baru saja masuk ke dalam.
“Waalaikumsalam,..” ucap semua orang yang memang sedang berkumpul di sana.
“Yaampun Belinda, kamu kok sendirian? Kemana Key? Dia tidak ikut bersamamu?” tanya mami Khansa sambil menghampiri Belinda.
Belinda tidak mengerti apa yang di bicarakan mami Khansa.
“Kenapa Belinda harus bersama Key tante?” tanya Belinda.
“Loh, kan Key sedang menginap di rumahmu jadi kenapa ga bareng aja ke sininya.” Ucap mami Khansa.
Belinda semakin bingung dengan ucapan yang di bicarakan mami Khansa, dia tidak tau apa yang harus di katakana karena memang Key tidak ada di rumahnya.
“Key kan ke sana bareng Bernard mi, tentu saja ke mari harus bersama Bernard juga.” Ucap Kenan yang langsung menghampiri Belinda dan maminya.
Belinda melihat ke arah Kenan sambil menaikkan kedua alisnya untuk bertanya maksud yang di bicarakan oleh Kenan.
“Benarkah?” tanya mami Khansa.
“Iya tante, sebentar lagi mungkin mereka berdua akan datang kemari.” Ucap Belinda.
Mendengar ucapan Belinda, mami Khansa menganggukan kepalanya dan langsung pergi meninggalkan Kenan dan Belinda, Kenan yang melihat maminya pergi tanpa bertanya apapun lagi merasa lega karena Belinda mau membantunya berbohong kepada mami Khansa, namun Belinda menatap ke arah Kenan dengan tatapan curiga.
“Kamu jangan santai dulu, kamu masih berhutang penjelasan kepadaku.” Ketus Belinda dengan tatapan tajam.

Kenan yang melihat tatapan tajam calon istrinya itu hanya bisa memamerkan gigi putihnya, akhirnya Kenan mengajak Belinda ke ruang kerjanya dan menjelaskan semua yang terjadi.
“Apa?! Siapa yang berani mencelakai Key?” tanya Belinda dengan nada sedikit berteriak.
“Sstt,, kecilkan suaramu kalau mami mendengar bisa bahaya.” Bisik Kenan.
“Kamu ini gimana sih, kenapa kamu ga langsung bilang ke Bernard kalau kamu sudah mengetahui hal itu?” tanya Belinda.
“Aku ingin tau apakah Bernard akan jujur kepadaku atau tidak.” Ucap Kenan.
“Jadi kamu mengira kalau saudaraku akan berbohong? Dia itu juga sahabatmu Kenan, kamu tidak mempercayainya?” tanya Belinda yang mulai sedikit kesal dengan perkataan Kenan.
“Bukan begitu maksudku sayang, duduklah dulu dan Tarik nafas pelan-pelan jangan emosi lah.” Ucap Kenan berusaha menenangkan Belinda.
“Aku bukannya tidak percaya dengan Bernard sayang, tapi aku juga seorang kakak yang memiliki adik perempuan, mungkin kalau Bernard di posisiku juga dia akan melakukan hal yang sama, dia akan curiga kepada siapapun sekalipun sahabatnya sendiri.” Jelas Kenan.
Belinda hanya diam tidak berkata apapun, memang benar maksud Kenan kalau dirinya mengkhawatirkan adiknya tapi Belinda juga merasa kalau Kenan sangat keterlaluan kalau sampai mencurigai Bernard.
“Tolong mengertilah, aku hanya ingin tau apakah dia akan jujur kepadaku atau tidak tentang kejadian kemarin.” Ucap Kenan.
Akhirnya Belinda mengangguk mengiyakan ucapan Kenan, dia berusaha untuk mengerti keadaan Kenan.
“Sudah lah sayang,, jangan marah kepadaku, aku hanya berfikir sebagai seorang kakak bukan sahabat.” Ucap Kenan mencoba untuk membujuk kekasihnya.
Setelah selesai berbicara, Kenan dan Belinda pergi ke bawah berkumpul bersama yang lainnya agar mereka semua tidak berfikiran aneh-aneh dengan mereka berdua.
“Kalau mamimu menelfon mamaku bagaimana? Mama tidak bisa berbohong, dia juga akan khawatir dan berfikiran aneh-aneh kalau tau Bernard dan Key tidur di apartment yang sama.” Bisik Belinda.
“Kalau memang seperti itu berarti itu nasib Bernard dan Key yang apes, biarin aja mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.” Jawab Kenan.
Di sisi lain, Lana dan Jonathan yang berada di dalam mobil terpisah dari Key dan Bernard hanya terdiam dengan fikirannya masing-masing.
“Aku harus bagaimana ini? kalau aku bicara nanti Key marah padaku, kalau aku tidak bicara terus abang Kenan tau aku pasti di gantung hidup-hidup. Huaa bagaimana ini aku bingung.” Batin Lana sambil membenturkan kepalanya di kaca mobil.
Jonathan yang melihat Lana membenturkan kepalanya di kaca mobil seketika terkejut dan merasa takut, Jonathan takut kalau Lana menjadi tidak waras karena masalah ini.
“Aku tau kalau dia gila, tapi aku baru tau kalau kegilaannya sampai menyakiti dirinya sendiri.” Gumam Jonathan yang masih fokus menyetir namun sesekali dia melirik Lana yang berada di sebelahnya.
Jonathan yang awalnya ingin mengacuhkan Lana, seketika menjadi kesal dan tidak tahan dengan sikap Lana karena semakin lama Lana semakin keras membenturkan kepalanya.
“Hei! Apa kamu sudah bosan dengan kepalamu? Kalau memang sudah bosan, aku akan membantu menghancurkan kepalamu!” ketus Jonathan.
Mendengar ucapan Jonathan, Lana langsung menghentikan kepalanya dan menoleh ke arah Jonathan.
“Om Jojon, apa kalau kepalaku hancur kamu akan tetap menyukaiku?” tanya Lana yang membuat Jonathan merinding seketika.
“A,,apa? Apa maksudmu?” tanya Jonathan gugup.
“Karena kalau kepalaku hancur dan aku mati, aku akan menghantui om Jojon terlebih dahulu.” Ucap Lana dengan santai.
“Wanita ini benar-benar sudah gila!” gumam Jonathan.
Seketika suasana di dalam mobil langsung hening dan canggung karena ucapan Lana yang menyeramkan menurut Jonathan. Sedangkan Lana juga sedang menyesali kebodohannya mengatakan hal creepy seperti tadi.
“Bodoh sekali aku! Bagaimana bisa om Jojon semakin tidak suka kepadaku? Ah tapi apa perduliku mau dia menyukaiku atau tidak.” Gumam Lana di dalam hatinya.