
Ken sudah berada di perusahaannya, sudah beberapa hari dia tidak pergi ke perusahaan untuk bekerja.
"Good afternoon saudaraku sayang.." teriak Ken hingga membuat Rey yang ada di ruangannya terkejut.
"Ehbuset! Itu mulut apa toa masjid woy gede amat!" ketus Rey.
"Aku sedang bersemangat hari ini!" ucap Ken.
"Semangat karena sudah di perbolehkan untuk kembali ke perusahaan kan?"
"Betul sekali! Bagaimana keadaan perusahaan? Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Ken sambil menghampiri Rey.
"Apa kamu meragukan kemampuanku Ken?"
"Tentu saja tidak! Aku tidak pernah meragukan kemampuanmu."
"Aku sudah menyelesaikan tugasku, dan aku sarankan kamu untuk mulai mencari sekretaris dan asisten pribadi!" Ucap Rey.
"Kenapa? Kan ada kamu."
"Papaku sudah menyuruhku untuk masuk ke perusahaan karena menurutnya aku sudah cukup belajar dari abang Kenan dan kamu."
"Aku? Apa yang kamu pelajari dariku memangnya? Aku rasa aku tidak pernah mengajari apapun kepadamu."
"Kamu mengajariku hal yang paling berharga, yaitu membuat wanita hamil!" ucap Rey yang membuat Ken membuka kedua matanya lebar-lebar.
"Apa!? Dasar Rey kurang asem!!" teriak Ken sambil melempar buku ke arah Rey.
Sedangkan Rey hanya tertawa sambil menghindari kejaran Ken, namun tiba-tiba Ken berhenti karena hpnya berbunyi.
"Kamu selamat karena orang ini tau!" ketus Ken.
"Kalau laki-laki aku akan mengajaknya makan siang bersama, kalau wanita aku akan mengajaknya makan malam bersama karena sudah menyelamatkanku." ucap Rey sambil tertawa.
Ken hanya menggelengkan kepala sambil melihat layar hpnya.
"Audrey?" ucap Ken.
"Ha? Kamu masih aja nyebut Audrey! Inget Ken kamu mau menikah." Ucap Rey.
"Ini Audrey Rey, dia menelfonku!"
"Waduh gawat! Aku ga bisa ke Paris hanya untuk mengajaknya makan malam!" ucap Rey sambil menepuk jidatnya.
"Bukan itu yang jadi masalah bodoh!"
"Lalu?"
"Untuk apa dia menelfonku?"
"Coba angkat saja!" ucap Rey sambil berjalan mendekati Ken karena ingin mendengar percakapan antara Audrey dan Ken.
Sebelum menjawab telfon dari Audrey, Ken berdehem untuk menetralkan jantungnya yang masih berdetak kencang karena telfon dari Audrey.
"Kamu se gugup itu Ken? Benar kata orang ya, kalau melupakan mantan itu butuh waktu yang panjang tapi dapet 1 notif dari mantan langsung membuyarkan waktu yang panjang itu!" Ucap Rey sambil menggelengkan kepalanya.
Ken tidak menggubris ucapan Rey, dia langsung mengangkat telfon Audrey dan mengaktifkan mode speaker.
"Halo..?" ucap Audrey dari sebrang telfon.
"A-ada apa?" Tanya Ken.
"Bagaimana kabarmu Ken?"
"Baik!"
"Aku merindukanmu."
"Aku tidak!" Ken berusaha untuk tidak terpengaruh karena Audrey.
"Apa kamu masih marah kepadaku Ken?" Tanya Audrey.
"Aku tidak pernah marah kepadamu."
"Aku punya kabar baik untukmu!"
"Apa?" Tanya Ken dengan malas.
"Mamaku sudah mengijinkan kita bersama Ken!" Ucap Audrey dengan antusias.
DEG!! Betapa terkejutnya Ken dan juga Rey yang ikut mendengarkan ucapan Audrey.
"Apa?!" ucap Ken dan Rey secara bersamaan.
"Gila ya Ken!" ucap Rey dengan berbisik.
Ken langsung menaruh jari telunjuk ke bibirnya menyuruh Rey untuk diam.
"Lalu? Emangnya kenapa kalau sudah mengijinkan kita bersama?" Tanya Ken dengan santainya.
"Apa? Kenapa kamu bertanya seperti itu Ken? Apa kamu tidak mau bersama denganku lagi?" Tanya Audrey.
"Dulu aku mungkin sangat ingin bersama denganmu tapi maaf, aku tidak bisa kembali bersama kamu karena aku akan segera menikah dengan seseorang." ucap Ken.
"Tidak Audrey! aku tidak bercanda, aku memang akan menikah dan aku juga akan mengundangmu, aku harap kamu bisa datang ke acara pernikahanku." Ucap Ken.
"Tidak! Tidak mungkin Ken! Bilang padaku kalau kamu berbohong, kamu hanya ingin menghukumku karena sudah menggantungkan hubungan kita kan?" Tanya Audrey yang masih tidak bisa menerima kenyataan itu.
"Aku serius Audrey, aku tutup ya aku harus bekerja, setelah undangannya selesai aku akan segera mengirimnya kepadamu." Ucap Ken lalu segera mematikan telfonnya.
Ken segera mematikan telfonnya dan menaruh kembali hpnya di atas meja.
"Ken kamu ga apa-apa kan?" Tanya Rey.
"Aku baik-baik saja Rey."
"Bagaimana kalau dia kembali kemari?"
"Ya biarkan saja, aku tetap harus bertanggung jawab kepada Andini." Ucap Ken dengan yakin.
"Apa kamu tidak akan menyesal dengan pilihanmu?"
"Lalu jika aku menyesal? Apa aku harus memilih Audrey dan menelantarkan Andini? Audrey masih bisa mendapatkan yang lebih baik dariku, tapi Andini? Siapa yang mau menerimanya apa adanya karena orang brengsek sepertiku?" Tanya Ken kepada Rey.
"Jangan menyebut dirimu brengsek Ken, kamu sudah mau bertanggung jawab saja sudah sangat gentle menurutku." ucap Rey sambil menepuk pundak saudaranya itu.
"Ah aku jadi tidak bersemangat, kenapa di saat seperti ini dia muncul dan mengatakan hal yang sejak dulu ingin aku dengar."
"Sudahlah, cobalah untuk tidak memikirkannya, Andini akan merasa bersalah jika mengetahui hal ini."
Akhirnya Ken mencoba untuk melupakan hal yang baru saja terjadi dan kembali bekerja di temani oleh Rey.
"Kamu ga pulang?" Tanya Ken.
"Aku akan menemanimu saja di sini."
"Kenapa? Kamu takut aku bunuh diri gara-gara telfon dari Audrey? Emang kamu fikir aku ini gila?" Tanya Ken sambil tertawa.
"Tidak! Aku tau kamu tidak akan melakukan hal seperti itu! Aku hanya menemanimu biar kamu ga mikirin Audrey terus." jelas Rey.
"Aku baik-baik saja Rey, pulang dan beristirahatlah." ucap Ken.
"Engga! Pokoknya aku di sini menemanimu!" tegas Rey.
"Baiklah terserah kamu saja kalau begitu!" ucap Ken mengalah.
***
Di sisi lain, Audrey yang baru saja selesai menghubungi Ken langsung terkejut dan melempar hpnya hingga hancur, Audrey menangis sangat kencang hingga membuat kedua orang tuanya datang ke dalam kamarnya.
"Aaa!! Tidak mungkin hikss, aku tidak akan membiarkannya memilih wanita lain!!" Teriak Audrey.
"Audrey!" panggil Aldi sambil membuka pintu kamar anaknya.
"Hikss,, papa.." ucap Audrey.
Aldi yang melihat anaknya menangis seperti itu langsung memeluknya dengan erat.
"Kenapa kamu menangis Audrey, papa ada di sini tenanglah.." ucap Aldi.
"Hikss, pa hancur sudah pa Audrey tidak ingin hidup lagi hikss, Audrey sudah kehilangan orang yang berarti buat Audrey." ucap Audrey dalam tangisnya.
Mama Audrey masuk ke dalam kamar Audrey, seketika Audrey menatapnya dengan tajam.
"Ini semua karena mama! Hidupku hancur karena pikiran mama yang seperti anak kecil!" Ucap Audrey dengan penuh amarah.
"Audrey apa maksudmu? Kenapa kamu bicara seperti itu kepada mamamu!" ucap Aldi.
"Karena mama Ken akan menikah dengan wanita lain pa hikss.."
"Apa!? Mama tidak tau kalau akan menjadi seperti itu Audrey, maafkan mama sayang tolong jangan membenci mama." ucap mama Audrey sambil menggenggam tangan Audrey.
"Diam! Mama menangis darahpun tidak akan membuat Ken merubah keputusannya! Audrey ga mau hidup lagi hikss." ketus Audrey.
"Ayo kita ke Indonesia, mama yang akan berbicara langsung kepada Ken, mama juga akan meminta maaf kepadanya."
"Iya mama kamu benar, ayo kita bicarakan ini baik-baik dengan Ken! Jangan lakukan hal yang tidak-tidak Audrey papa mohon." ucap Aldi.
"Papa dan mama akan membantu kamu untuk berbicara dengan Ken dan mendapatkan ya kembali jadi jangan lakukan hal yang berbahaya sayang, papa dan mama tidak akan bisa hidup tanpamu." ucap mama Audrey.
Mendengar ucapan kedua orang tuanya membuat Audrey sedikit lebih lega dan menghapus air matanya.
Author ingin mengucapkan mohon maaf karena baru sempat update huhuhu~
Nih author bonusin foto Keyla hihiđź’™
