
Ternyata logika itu penting. Menuruti kata hati hanya akan membuatmu terlihat bodoh.
Alya dan Key sedang berada di kamar Key, Key menyuruh Alya untuk membersihkan tubuhnya agar lebih segar.
“Alya sudah bisa mandi sendiri kan?” tanya Key yang di balas anggukan oleh Alya.
“Bagus kalau begitu, kamu mandi dulu agar badanmu terasa lebih segar oke?” ucap Key sambil memberikan handuk kepada Alya.
Akhirnya Alya masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Key sedang mencari baju Alya yang baru saja di belikan oleh Kenan.
“Tante, bagaimana caranya mandi? Kamar mandi di sini berbeda dengan kamar mandi di rumah Alya.” Ucap Alya dengan polosnya.
Mendengar ucapan Alya membuat Key tertawa karena kepolosannya, sedangkan Alya bingung karena Key menertawakannya.
“Kenapa tante ketawa? Emangnya ada yang lucu ya? di sini ga ada bak mandi, jadi Alya ga bisa mandi.” Ucapnya lagi.
“Tidak, tidak ada yang lucu kok Alya, sini tante bantu kamu untuk mandi.” Ucap Key sambil menggandeng tangan Alya masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan di bawah semua orang sedang berkumpul dan berbicara mengenai Alya.
“Kamu yakin dengan keputusanmu Kenan?” tanya papi Kalandra.
“Kenapa papi bilang gitu? Papi juga mengurusku seperti anak papi sendiri kan.” Ucap Kenan.
“Papi tau, tapi ini berbeda Kenan! dia masih memiliki keluarga, terlebih lagi dia sudah besar dan mengerti mengenai keluarganya.” Ucap papi Kalandra.
“Tapi dia mau kok kalau aku jadikan anak Kenan pi.”
“Kenan sayang, kami tidak mempermasalahkan Alya! Alya adalah anak yang sangat baik, kami dengan senang hati akan menyambutnya di keluarga ini, tapi yang kami masalahkan ini adalah keluarganya, bukannya suudzon tapi kalau sampai keluarganya tau kalau Alya di adopsi oleh keluarga kita, mereka akan memanfaatkan Alya untuk memeras kita.” Ucap mami Khansa dengan sangat hati-hati karena takut menyinggung hati Kenan.
“Mami kamu benar Kenan, yang kami takutkan hanya itu, apalagi keluarga Alya rela menjual darah dagingnya sendiri demi uang.” Sambung papi Kalandra.
“Tidak, itu tidak akan terjadi! Kenan akan mengusahakan untuk memberikan kontrak tertulis yang mengandung hukum saat perjanjian nanti.” Ucap Kenan.
Sebenarnya papi Kalandra ingin berbicara kembali, namun mami Khansa menghalangi suaminya agar tidak menjadi panjang.
“Sayang, kita harus mengingatkannya.” Bisik papi Kalandra.
“Untuk saat ini biarkan Kenan melakukan apa yang dia mau, Kenan sudah sangat menyayangi Alya walaupun baru bertemu hari ini mas.” Ucap mami Khansa.
“Kalau apa yang kita takutkan benar-benar terjadi, kita yang harus bertindak mas.” Sambung mami Khansa.
Papi Kalandra hanya pasrah dan menuruti ucapan istrinya, dia juga tau kalau Kenan sudah menginginkan sesuatu akan sulit untuk mencegahnya.
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba saja pak Joko datang untuk mulai bekerja dan berlatih bela diri dengan Kenan.
“Selamat sore tuan, nyonya.” Sapa pak Joko.
“Dia siapa Bel?” bisik Bernard yang tidak mengenal pak Joko.
“Aku juga tidak tau, aku baru pertama kali ini melihatnya.” Jawab Belinda.
“Bernard, Belinda, kenalkan dia pak Joko, supir pribadi baru Key, dan pak Joko, kenalkan dia adalah tunanganku namanya Belinda dan di sebelahnya adalah saudara kembarnya sekaligus pacar Key.” Ucap Kenan mengenalkan mereka bertiga.
“Selamat sore tuan, nyonya, semoga saya bisa bekerja sesuai keinginan kalian.” Ucap pak Joko sambil menundukkan kepalanya.
“Supir pribadi? Sejak kapan?” tanya Bernard.
“Sejak kemarin, Key sendiri yang memilihnya untuk menjadi supir pribadi sekaligus bodyguardnya.” Jelas Kenan.
“Ah,, begitu, salam kenal pak Joko saya titip Key ya, tolong jaga Key dengan baik karena dia sedikit bandel.” Ucap Bernard dengan nada bercandanya.
“Eh, Key? Ga ada yang bandel kok, kayaknya ga ada yang ngomong bandel kok.” Ucap Bernard.
Key yang mendengar Bernard sedang mengeles itu hanya bisa menghela nafas panjang dan memutar bola matanya karena kesal.
“Wah, cucu oma sudah cantik sekali.” ucap mami Khansa yang melihat Alya yang sudah mandi dan memakai baju yang lucu.
“Tentu saja, Key gituloh.” Ucap Key menyombongkan diri.
“Kamu kenapa pakein Alya baju itu? Kenapa ga baju tidur aja Key?” tanya Kenan.
“Key mau ajak Alya keluar sama om beruang, iyakan om beruang?” tanya Key.
“Ha? bukannya Cuma kita berdua?” tanya Bernard yang di balas tatapan tajam oleh Key.
“Sabar ya kak, sepertinya ada pengganggu baru di tengah-tengah hubungan kalian.” Ucap Ken pelan namun masih bisa di dengan Belinda yang berada di sebelahnya.
“Pftt,, anggap saja ini latihan kalau kalian punya anak nanti Bernard, selamat menikmati.” Ucap Belinda sambil menahan tawanya.
“Diamlah! Kamu ini sangat menyebalkan Belinda!” jawab Bernard.
“Apa saya haru memulai pekerjaan saya sekarang nona?” tanya pak Joko.
“Eh pak Joko, tidak usah pak bapak kan baru sampai, bapak istirahat saja lebih dulu dan bersiap untuk latihan bersama abang jangan lupa makan yang banyak dulu ya pak.” Ucap Key.
“Ha? kenapa saya harus makan banyak non?” tanya pak Joko yang kebingungan.
“Karena energy pak Joko akan terkuras habis oleh abang.” Bisik Key yang membuat semua orang kecuali Kenan tertawa.
“Enak aja! Emang kamu kira aku ini apa!” ketus Kenan.
Setelah menggoda abangnya, Key langsung menyuruh Bernard memanaskan mobilnya karena dia mau keluar membawa mobilnya.
“Aku panasin mobil kamu dulu ya Key.” Ucap Bernard yang langsung berpamitan dengan yang lainnya.
Di dalam mobil Key, Bernard mulai menyalakan mesin mobil Key yang sudah beberapa hari tidak di pakai itu, dia meneliti isi mobil Key yang benar-benar lengkap seperti pembalap.
“Foto apa ini?” gumam Bernard yang melihat ada foto yang terselip di bawah jok mobil Key.
Bernard mengambil foto tersebut dan melihat dengan teliti siapa orang yang ada di foto tersebut, terlihat Key dan Ken yang masih imut dan Kenan yang sedang memegang bucket bunga di tangannya, namun perhatian Bernard terletak pada pakaian Kenan yang di pakainya.
“Bukankah ini adalah pakaian dokter? Foto ini juga di ambil di rumah sakit terkenal di Jepang, ada apa ini? bukankah Kenan kuliah di bidang bisnis? Lalu kenapa di foto ini Kenan adalah seorang dokter?” gumam Bernard.
Bernard menyadari kalau Key dan Alya sudah keluar dari rumahnya segera menyembunyikan foto itu di dalam dompetnya, Bernard berniat untuk menanyakan hal itu jika dia dan Key sedang berdua saja.
“Hai Key, hai Alya, kemana tujuan kita hari ini para tuan puteriku?” tanya Bernard dengan lembut.
“Huh, tumben lembut banget om beruang?” selidik Key yang hanya di balas senyuman oleh Bernard.
“Beruang? Kenapa tante panggil om Bernard beruang?” tanya Alya dengan polosnya.
“Itu adalah panggilan sayang tantemu kepada om, tidak ada orang yang memanggil om seperti itu selain tantemu, dan kamu jangan mengikuti jejaknya ya Alya.” Jelas Bernard yang di balas anggukan kepala oleh Alya.
Mendengar ucapan Bernard membuat Key hanya menggelengkan kepalanya, dia berusaha untuk tidak berdebat dengan Bernard karena takut Alya takut dengan mereka.
“Kita mau kemana?” tanya Bernard kepada Key yang sudah berada di dalam mobil.
“Kita ke café pertama kali abang mengenalkan om beruang kepadaku saja, di sana ad ataman bermainnya dan Alya bisa bermain di sana dan berteman dengan yang lain.” Ucap Key yang di balas anggukan oleh Bernard.
Akhirnya Bernard, Key dan Alya berangkat menuju café yang di sebutkan oleh Key, Key berniat untuk membiarkan Alya bertemu dengan anak-anak yang lain di taman bermain itu.