
Di dalam ruangan yang gelap, Elsa sedang berusaha untuk tidak menangis walaupun dia sudah sangat ketakutan.
Tangan dan kakinya di ikat di sebuah kursi kayu yang ada di sana, Elsa sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya, dia hanya bisa berteriak namun rasanya percuma karena gudang kosong itu berada di tempat yang terpencil.
“Bagaimana ini, kenapa tidak ada orang sama sekali? Apa anak-anak Rania inget buat ngasih hp yang aku titip ke orang tuanya?” gumam Elsa sambil memejamkan kedua matanya menahan air mata yang sudah terbendung.
Elsa terus-terusan berdoa agar seseorang segera menyelamatkannya dan mengeluarkannya dari gudang itu.
Tiba-tiba saja seseorang masuk ke dalam gudang dengan besi yang berada di tangannya dan di geret di lantai hingga membuat Elsa semakin ketakutan.
“Hikss,, hikss.. sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku Sandy!” Elsa berteriak sambil mengeluarkan air mata yang sudah lama dia bendung.
“Hahaha, kamu menangis?! Bukankah kamu tau betul apa yang aku inginkan darimu?!” tanya Sandy.
Elsa hanya diam tidak mengatakan apapun lagi.
“Aku hanya ingin dirimu Elsa! Apa kamu tidak mengerti!?” bentak Sandy.
“Tapi aku tidak menyukaimu!” teriak Elsa.
Prang!! Tiba-tiba Sandy memukul besi yang ada di tangannya ke lantai dengan keras hingga membuat Elsa terkejut di sela-sela tangisannya hingga membuatnya cegukan.
Sandy tiba-tiba berjalan secara perlahan mendekati Elsa, Elsa semakin takut mendengar suara Sandy yang berjalan mendekatinya.
“J-jangan mendekat!” teriak Elsa.
“Ada apa? Apa kamu takut aku akan melakukan sesuatu kepadamu?” tanya Sandy.
“Jangan sakiti keluargaku Sandy!”
“Ah, keluargamu? Mereka terlalu menyayangiku sampai mereka tidak pernah berfikir kalau aku sudah menyakiti putri kesayangannya.” Ucap Sandy dengan senyum liciknya.
“Aku mohon, jangan melakukan hal ini mereka tidak salah apapun padamu!”
“Iya memang! Kamulah orang yang bersalah di sini! Selama ini aku menyukaimu dengan tulus, aku memberikan apapun yang kamu butuhkan, aku memberikan perhatian yang lebih kepadamu, tapi kamu bahkan tidak pernah memiliki perasaan untukku walau hanya sedikit saja?” tanya Sandy.
“Cinta tidak bisa di paksa Sandy! Selama ini aku tidak menutup mataku, aku juga berusaha untuk membuka hati untukmu, tapi aku tetap tidak menyukaimu! Aku mohon jangan pernah sakiti keluargaku, aku mohon biarkan aku memilih seseorang yang aku sukai sendiri.” Elsa sudah benar-benar putus asa saat ini.
Yang Elsa harapkan hanyalah hp yang dia titipkan kepada anak-anak sahabatnya itu.
FLASHBACK
Di café, Elsa, Rania, suami Rania dan kedua anak Rania sedang menikmati makanan mereka masing-masing sampai di mana Rania mengalami mual yang sudah tidak tertahan lagi.
“Ueekk,, ueekk..”
“Ran, kamu baik-baik saja? Apa makanan ini tidak sesuai dengan seleramu?” tanya Elsa khawatir.
“Tidak Elsa, Rania baik-baik saja, hanya saja selama kehamilan kadang beberapa kali Rania mual saat memakan sesuatu, jangan khawatir aku akan mengantarnya ke kamar mandi.” Roy mencoba untuk menenangkan sahabat istrinya yang khawatir itu.
“Kalau begitu segera bawa dia ke toilet, aku akan menjaga anak-anak kalian.” Ucap Elsa.
Setelah kepergian Rania dan suaminya, Elsa mengajak kedua anak sahabatnya itu mengobrol, Elsa tidak kehabisan pertanyaan untuk mereka, bahkan hingga mereka sudah lelah menjawabnya.
“Oh iya, bahkan sampai sekarang tante belum tau nama kalian berdua.” Ucap Elsa.
“Huh! Dari tadi tante banyak bertanya tapi tidak menanyakan nama kami!” ucap salah satu dari mereka.
“Hehehe, namanya juga orang lupa ya begitulah.” Ucap Elsa sambil memamerkan gigi putihnya.
“Namaku Dafa aku adalah yang lebih tua, kalau dia adikku Dafi.” Ucap Dafa.
“Ah jadi kalian berdua Dafa dan Dafi?” tanya Elsa mengulangi dan di balas anggukan oleh keduanya.
Tiba-tiba saja Elsa merasa ada seseorang yang melihat ke arah mereka dari tadi, perasaan Elsa sudah tidak enak saat itu, karena memang di sana tidak ada banyak orang jadi Elsa tau jika ada yang memperhatikan mereka.
“Dafa, Dafi, kalau ada seseorang yang membawa tante atau terjadi sesuatu kepada tante berikan hp ini kepada kedua orang tuamu atau seseorang yang mengenal tante.” Bisik Elsa sambil memberikan hpnya secara diam-diam.
“Kalau tidak ingin kedua orang tuamu terluka, lebih baik kamu ikut denganku secara hati-hati.” Bisik Sandy.
Elsa ingat betul dengan suara yang saat itu berbicara kepadanya, suara yang paling tidak ingin dia dengar selama hidupnya.
“Om! Kenapa om berbisik kepada tante Elsa!? Om orang jahat ya!?” ceplos Dafi.
“Diam! Kamu anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa!” bentak Sandy.
“Jangan membentak mereka! Urusanmu denganku, jadi jangan pedulikan mereka!” teriak Elsa.
Sandy mengeluarkan hp dari kantong celananya, dia melihatkan foto-foto papa dan mamanya yang sedang tidak sadarkan diri dengan tubuh yang terikat.
“Papa, mama!” ucap Elsa.
“Stt,, jangan berisik! Aku tidak mau menjadi pusat perhatian! Aku ingin kamu ikut denganku secara diam-diam dan tenang hingga tidak ada orang yang menyadarinya.”
Akhirnya Elsa berdiri dari tempat duduknya mengikuti ucapan Sandy, Dafi yang melihat hal itu langsung memeluk Elsa.
“Tidak boleh! Tante Elsa tidak boleh kemana-mana!” ucapnya.
Sandy yang kesal langsung mendorong tubuh Dafi hingga dia terjatuh membuat Elsa langsung berlari ke arah Dafi dan membantunya berdiri.
“Dafi! Jangan dekati tante! Tante tidak apa-apa, tante akan ikut dengan om ini kalian bersembunyilah di bawah meja sampai kedua orang tua kalian datang, berikan hp yang tante titipkan kepada mereka.” bisik Elsa yang di balas anggukan oleh keduanya.
Setelah mengatakan hal itu, Elsa kembali berjalan di sebelah Sandy dengan tenang dan tibalah dia di sebuah gudang tua yang sudah lama tidak terpakai lagi.
FLASHBACK END
Rumah Kenan.
“Aku akan ikut menyelamatkan Elsa!” ucap Key dengan tekatnya.
“No! Kamu sedang hamil Key! Aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa!” tegas Bernard.
“Om beruang, kamu tau bukan kalau aku ini pernah melepaskan diri dari segerombolan preman, jadi aku pasti bisa sekarang!”
“Tidak Key! Sekarang kamu sedang hamil, ada dua nyawa yang harus kamu lindungi, nyawamu dan nyawa anak kita!” tegas Bernard.
“Suami kamu benar Key! Kamu tidak hamil saja abang tidak akan pernah mengijinkannya, bagaimana saat kamu sedang hamil begini.” Ucap Kenan.
“Iya! Kamu adalah barang berharga bagi kami semua terutama papi dan mami, kalau sampai ada apa-apa kepadamu, kami semua yang akan mati di tangan papi dan mami!” sambung Ken.
“Elsa juga kesayangan papi dan mami! Aku juga akan ikut mati di tangan papi dan mami kalau sampai terjadi sesuatu kepada Elsa!” ucap Key.
“Key aku mohon tetaplah di sini bersama Rania, kami akan selalu memberikan kabar kepada kalian berdua, kalian juga harus menemani Belinda agar dia tidak stress karena dia sedang menyusui.” Ucap Kenan.
Key kesal dengan keputusan abang dan yang lain, dia ingin sekali menyelamatkan Elsa dia ingin melihat Elsa selamat dengan mata kepalanya sendiri.
“Sayang,, kamu tau bukan kami semua sangat menyayangi Elsa, apa kamu tidak percaya kepada kami kalau kami bisa menyelamatkan Elsa tanpa kekurangan satu apapun?” tanya Bernard dengan lembut sambil menggenggam kedua tangan istrinya.
“Apa kamu meragukan kemampuan suamimu ini? Kamu meragukan kemampuan abangmu, Rey dan saudara kembarmu? Dan Roy, dia juga petarung yang hebat setauku saat kuliah dulu, jadi kamu tidak perlu khawatir, Elsa akan di selamatkan oleh orang-orang hebat.” Lanjutnya.
“Apa maksudnya ini!? Kenapa kalian harus menyelamatkan Elsa!?” ucap Belinda yang mendengar semua ucapan mereka.
Semua orang yang ada di sana melihat ke arah Belinda secara bersamaan tanpa mengatakan apapun.
***
Hai kakak-kakak semuanya, pertama author mau minta maaf karena telat update 🙏
Dan author juga mau ngingetin kalau novel Elsa dan Rey akan update beberapa hari lagi~
Doakan semoga author selalu tepat waktu dan punya waktu luang untuk membuat ceritanya ya biar update terus hihi~
Selamat membaca💙