
aku bukan menyerah dengan keadaan,
hanya saja aku hidup mengikuti alur.
Ryan po**v**
Namaku Ryan Prasongko, aku terlahir dari keluarga yang sederhana, aku berasal dari kampung, kebetulan saat itu aku dan keluargaku pindah ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih layak.
Saat itu aku masih SMP jadi aku pindah sekolah di sekolah yang cukup bagus di daerah itu, sebenarnya aku tidak ingin bersekolah disana karena biaya sekolah yang cukup mahal, namun orang tuaku tetap ingin aku bersekolah disana agar aku memiliki masa depan yang cerah.
Awal masuk ke sekolah itu, aku tidak memiliki teman karena mereka kebanyakan dari kalangan atas sedangkan aku hanyalah orang dari kalangan bawah, bajuku lusuh, tidak ada yang mau berteman dengan orang sepertiku. Aku selalu menyendiri, aku selalu diejek dan dibully oleh semua teman-temanku, hingga suatu hari ada seseorang dengan beraninya menghampiriku dan mengulurkan tangannya tanpa ada rasa jijik, aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya dan menerima uluran tangannya.
“hai, namaku Kalandra. Nama kamu siapa?” tanya anak laki-laki itu kepadaku.
“Ryan, namaku Ryan.” Aku hanya bisa menjawab dengan perasaan aneh, karena itu adalah pertama kalinya aku disapa oleh seseorang yang ada disekolah itu kecuali guruku.
Sejak saat itu kami berteman baik dan selalu bersama kemanapun, aku memberanikan diri untuk bertanya pertanyaan yang sangat membuatku penasaran hingga saat ini.
“aku mau tanya dong Ndra” ucapku saat kami sedang duduk dibangku halaman sekolah.
“ada apa Ryan?”
“mengapa dulu kau mau membantuku saat semua orang mengucilkanku?”
“karena aku tidak suka jika ada orang yang ditindas, awalnya aku hanya memperhatikanmu karena mereka belum bermain fisik, namun semakin lama aku semakin geram karena mereka mulai melakukan kekerasan fisik terhadapmu.”
“apa kamu tidak malu memiliki teman sepertiku?”
“untuk apa aku malu? Aku tidak mencuri atau melakukan kesalahan, yang aku lakukan hanya berteman dan orang tuaku berkata jika kita harus berteman dengan siapa saja, kita tidak boleh memilih-milih teman.”
“orang tuamu sangat baik Ndra”
“semua orang tua itu baik Ryan dan pasti sangat menyayangi anaknya, bukankah orang tuamu juga sangat baik dan menyayangimu? Mereka ingin kamu sekolah di sekolahan terbaik walaupun mereka harus banting tulang?”
“kau benar Ndra, aku beruntung memiliki orang tua seperti mereka.”
“ayo sudah waktunya kita masuk ke kelas, nanti kamu pulang bareng aku ya Ryan”
“baiklah”
Aku dan Kalandra tidak satu kelas, namun Kalandra selalu menghampiriku di kelas saat jam istirahat dan saat pulang sekolah, aku beruntung memiliki teman sepertinya, Kalandra seperti pahlawan bagiku.
Bel sekolah berbunyi tanda jam pelajaran sudah selesai, Kalandra segera menghampiriku dan mengajakku untuk pulang bersama.
Saat di perjalanan pulang, aku dan Kalandra melihat ada seorang anak laki-laki yang terlihat seumuran dengan kami sedang di pukuli oleh segerombolan anak SMA, Kalandra yang melihatnya langsung menyuruh supirnya untuk berhenti dan ia dengan berani segera keluar dari mobil dan menghampiri mereka, aku dan supirnya yang panik akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil dan membantu Kalandra menghajar anak SMA itu, anak SMA itu kabur setelah polisi datang karena sebelum keluar dari mobil, supir Kalandra sudah menghubungi polisi lebih dulu.
Kalandra yang wajahnya sudah memar menghampiri anak laki-laki itu dan mengulurkan tangannya sama seperti saat dia mengulurkan tangannya kepadaku. Dari situ aku tau bahwa dia adalah pahlawan sejati, dan memiliki hati yang sangat baik. Kami membawa anak laki-laki itu ikut bersama kami naik mobil, di mobil kami menanyai anak itu.
“nama kamu siapa?” tanyaku
“Edo”
Edo hanya mengangguk dan menyembunyikan wajahnya.
“kita ke rumah sakit dulu Ndra, lihat wajahmu dan Edo sudah babak belur.” Kataku
Akhirnya kami memutuskan untuk ke rumah sakit terdekat dan memeriksa keadaan kami masing-masing.
“rumah kamu dimana do?” tanyaku kembali
“aku tidak punya rumah, aku tinggal di panti asuhan. Anak-anak SMA tadi sering sekali meminta uang padaku, jika aku tidak punya uang aku akan dipukuli seperti tadi” ucap Edo
Aku dan Kalandra sangat iba mendengar penjelasan Edo, aku ingin sekali membawanya kerumahku namun keadaan rumah dan keuangan keluargaku tidak memungkinkan untuk Edo tinggal disana, lalu Kalandra menawarkan bantuan agar Edo tinggal dirumahnya dan bersekolah di sekolah yang sama dengan kami.
Edo senang mendengarnya dan langsung menyetujuinya. Sejak saat itu kami bertiga seperti trio wek-wek yang tidak bisa dipisahkan, kemanapun kami selalu bersama hingga SMA kami tetap berada di satu sekolah.
Memang benar kata orang kalau masa-masa SMA adalah masa terindah, di SMA kami menemukan sahabat, dan cinta. Saat itu aku memiliki pacar bernama Amelia, Kalandra dan Edo tidak memiliki pacar tapi Kalandra diam-diam menyukai sahabat Amelia yang bernama Hani namun ia tidak berani mengungkapkan perasaannya karena takut Hani menolaknya jadi mereka hanya berteman saja.
Aku dan Amelia saling mencintai satu sama lain, kami berpacaran sangat lama hingga saat lulus SMA aku berjanji pada Amelia jika aku akan kembali setelah sukses nanti, aku pergi merantau dan sangat jarang berkomunikasi dengan Amelia, awalnya Amelia akan selalu mengirimiku pesan walaupun tidak ku balas namun tiba-tiba ia tidak pernah mengirim pesan, aku tidak menghiraukannya aku hanya berfikir jika ia sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Tiga tahun berlalu, aku sudah mengumpulkan banyak uang untuk menikahi Amelia, namun saat aku menghampiri rumahnya betapa terkejutnya aku saat orang tuanya bilang jika Amelia sudah menikah, aku kesal sangat kesal akhirnya aku meminta Kalandra dan Edo untuk bertemu, disana aku mencurahkan kekesalanku dengan minum minuman terlarang. Kalandra dan Edo hanya saling menatap dan melihat ke arahku dengan tatapan iba dan bingung.
“kenapa kalian melihatku seperti itu? Apa aku sangat menyedihkan?” tanyaku pada mereka yang sedari tadi melihatku.
“emm Ryan,,,” ucapan Edo terputus karena Kalandra tiba-tiba menyauti.
“Ryan, em,, sebenarnya aku..” ucap Kalandra
“ada apa? Kenapa kalian semua gugup?” tanyaku yang penasaran
“Sebenarnya sesuatu terjadi dan akhirnya aku,, menikahi Amelia” ucap Kalandra setelah mengambil nafas panjang.
Aku terkejut mendengar perkataan Kalandra, emosiku semakin menjadi, aku bangun lalu menghampiri Kalandra dan memukulinya berkali-kali namun dia hanya diam saja.
“kenapa kau diam saja ha!?” tanyaku karena melihat Kalandra tidak berkutik
“jika itu bisa membuatmu lebih baik, pukulah aku sepuasnya” ucapnya
Mendengar perkataan Kalandra aku semakin menjadi-jadi, Edo yang sedari tadi berusaha menarikku akhirnya ikut terpukul olehku.
“Dengarkan penjelasan kami dulu!” ucap Edo sedikit berteriak.
“penjelasan? Penjelasan apa lagi ha! aku tidak butuh penjelasan kalian! Jadi begini cara kalian menganggapku teman? Begini cara kalian memperlakukan aku? Aku berusaha agar bisa memberi kehidupan yang layak untuk Amelia tapi usahaku sia-sia karena kau!” aku menunjuk Kalandra dengan penuh emosi.
“kenapa kalian begitu jahat kepadaku!? Aku sangat mencintai Amelia, namun kau merebutnya. Kau bilang kau tidak menyukainya, lalu kenapa kau menikahinya!? Apa karena uangmu Amelia mau bersamamu? Ha!” lanjutku.
“bukan seperti itu!” teriak Edo.
“DIAM! Aku tidak butuh penjelasan dari mulut kalian! Liat saja, aku akan membalas dendam Kalandra!!” aku langsung meninggalkan Kalandra dan Edo yang masih berada di dalam.
Setelah itu aku berusaha untuk mencari uang lebih banyak dan membangun perusahaanku sendiri agar tidak ada wanita yang bisa menolakku karena kekayaanku.
Namun saat aku mendengar kabar jika Amelia meninggal saat melahirkan, perasaanku campur aduk. Aku senang karena Kalandra bisa merasakan kehilanya seseorang, namun aku sedih dan marah karena Kalandra tidak mampu menjaga Amelia. Bahkan hingga saat ini aku masih mencintai Amelia di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku masih butuh penjelasan dari mulut Amelia langsung kenapa dia meninggalkanku.