
Waktu terus berjalan, belajarlah dari masa lalu, bersiaplah tuk masa depan, berikan yg terbaik untuk hari ini.
**PARIS**
“Kak Ken, kamu kenapa?” tanya Audrey yang sedang bersama dengan Ken dan melihat Ken sibuk dengan hpnya.
“Biasalah, Key nyari masalah lagi.” Ucap Ken.
“Masalah? Masalah apa kak?” tanya Audrey.
Akhirnya Ken menceritakan semua tentang informasi yang di berikan oleh Rey kepadanya, Audrey yang mendengar cerita dari Ken langsung membulatkan matanya karena tidak percaya kalau Key memiliki keberanian untuk melakukan hal berbahaya itu.
“Kamu serius kak Key melakukan hal itu? Wah keren sekali..” ucap Audrey yang kagum karena sikap Key.
“Kamu malah bilang dia keren? Dia itu bodoh karena memasukkan dirinya sendiri ke lubang buaya, hari ini dia beruntung tapi aku tidak akan membirakan hal ini terjadi untuk yang kedua kalinya.” Ucap Ken.
“Kerja sama kamu dengan papa sudah selesai, besok kamu akan pulang ke Indonesia bukan? Jadi kamu harus pulang dengan hati yang gembira karena akan bertemu dengan keluargamu dan jangan langsung memarhi kak Key karena aku yakin dia pasti akan kesal kalau langsung di marahin oleh kembarannya.” Jelas Audrey.
“Aku tidak akan memarahi Key kalau kamu mau menjadi pacarku.” Celetuk Ken yang membuat Audrey memukul lengan Ken.
“Aku tidak mau membahas tentang hubungan kak Ken, kamu harus mengejar impianmu terlebih dahulu begitupun denganku setelah itu baru kita bicarakan hubungan kita oke?” ucap Audrey dengan senyuman di wajahnya.
“Kenapa kita tidak berpacaran saat kita mengejar impian kita? Bukankah menemani dari nol akan lebih berkesan?” tanya Ken.
“Menemani dari nol bukan berarti harus memiliki hubungan kak Ken, walaupun sekarang kita tidak memiliki hubungan apapun tapi aku akan menjadi sahabatmu yang selalu menemanimu dan selalu menghiburmu jika kamu sedang membutuhkanku.” Ucap Audrey.
“Kamu ini memang selalu memiliki jawaban untuk semua pertanyaan yang aku tanyakan.” Ucap Ken yang di balas tawa oleh Audrey.
“Sudahlah aku ingin membahas kak Key, bagaimana keadaan orang yang sudah menerror kak Key? Aku jadi merasa tidak enak karena aku tidak ada di saat kak Key membutuhkanku.” Ucap Audrey sambil menundukkan kepalanya.
“Sudahlah, Key juga tidak akan memikirkan hal seperti itu jadi kamu tidak usah merasa tidak enak dengannya.”
“Kak Ken, bisakah kamu menceritakan bagaimana kamu, abang Kenan dan kak Key selama ini hidup bersama? apakah kalian sering bertengkar?” tanya Audrey.
“Kenapa kamu tiba-tiba mau mengetahui tentang hal itu?” tanya Ken.
“Entahlah, aku hanya ingin tau saja.” ucap Audrey.
Akhirnya Ken mengangguk dan bersedia untuk menceritakan tentang apapun yang ingin di ketahui oleh Audrey.
“Kamu mau tau tentang apa?” tanya Ken.
“Seberapa sayang kak Ken dengan abang Kenan dan kak Key?” tanya Audrey.
“Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata karena menurutku mereka berdua adalah hal yang paling berharga di dalam hidupku setelah kedua orang tuaku.”
“Abang selalu membelaku saat papi memarahiku, abang selalu menutupi semua keburukanku di hadapan papi, abang tidak pernah melarangku untuk melakukan apapun yang aku sukai, aku sedih saat tau kalau abang sebentar lagi akan segera menikah karena tidak akan ada lagi yang membelaku.” Ucap Ken.
“Ya memang aku melihat kalau abang Kenan selalu melindungi keburukanmu di hadapan papi kakak sih aku akui, lalu kalau kak Key bagaimana? Bukankah kalian tidak pernah akur? Apa kak Ken juga sangat menyayanginya?” tanya Audrey.
“Tentu saja! ya walaupun sebenarnya kami memang lebih sering bertengkar dan saling mengejek tapi kalau saat sedang jauh begini aku malah merindukan hari-hari kami yang di penuhi dengan ejekan.” Ucap Ken dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Audrey yang mendengar ucapan Ken hanya tersenyum karena melihat kalau mereka sangat menyayangi satu sama lain.
\*\*\*
“Mas, kamu marah sama aku ya?” tanya mami Khansa kepada suaminya yang sedang duduk bersandar di sofa apartmentnya.
Papi Kalandra yang mendengar pertanyaan istrinya langsung menatap tajam ke arah mami Khansa dengan tatapan tajam.
“Mas, aku hanya ingin anak kita tidak hidup dalam bayang-bayang kita terus. Sampai kapan kita harus membantu mereka menghadapi masalah? Kita sudah semakin tua mas, dan kita tidak mungkin selalu bersama dengan mereka.” Jelas mami Khansa.
“Tapi aku masih hidup dan masih mampu untuk membantu anakku!”
“Lalu? Kamu akan membiarkan mereka terbiasa dengan bantuanmu sehingga saat kita sudah meninggal nanti mereka tidak bisa mengatasi masalah mereka sendiri?” tanya mami Khansa.
“Mereka bisa melihat caraku bertindak dan mereka akan mempelajarinya.”
“Melihat dan mempelajari? Apa menurut kamu mereka mampu melakukan apa yang kamu lakukan hanya dengan melihat dan mempelajarinya mas? Mereka juga butuh mempraktekan apa yang sudah mereka lihat dan mereka pelajari darimu, dan itu sudah di buktikan oleh Key yang berhasil menerapkan apa yang sudah kamu ajarkan, dan seharusnya kamu memberinya hadiah untuk itu bukan malah menghukumnya.”
“Aku tau kalau dia salah karena tidak memberitahu kita tentang masalah ini, tapi bukankah keberaniannya patut di beri hadiah?” tanya mami Khansa.
Papi Kalandra hanya melihat ke arah istrinya dan menelaah semua perkataan istirnya, dia memang terlalu mengkhawatirkan anak perempuannya yang sudah berani menghadapi hal yang berbahaya sendirian karena tidak ingin jika keluarganya yang lain terluka karena dirinya.
“Aku akan membiarkan dia membawa kembali mobilnya ke Indonesia setelah ini.” ucap papi Kalandra setelah memikirkan ucapan istrinya.
“Kamu serius mas? Ga boong kan? Pasti Key senang sekali mendengar hal ini.” ucap mami Khansa.
“Yasudah sana kamu bilang Key.” Ucap papi Kalandra.
“Kamu yang harus memberitahu hal ini kepada Key, aku yakin dia akan lebih senang jika mengetahui hal ini langsung dari kamu mas.” Ucap mami Khansa.
“Huh, aku tidak suka hal-hal seperti ini.”
“Benarkah tidak suka? Kamu dulu selalu mengucapkan kata-kata manis kepadaku tapi kenapa kamu sekarang jadi gengsian mas?” ejek mami Khansa.
Papi Kalandra melirik ke arah mami Khansa lalu segera pergi meninggalkan apartment mereka menuju apartment anak perempuannya.
Key yang baru saja selesai mengganti pakaiannya dan berbaring di tempat tidurnya sambil memejamkan matanya tiba-tiba terkejut karena mendengar ketukan di depan pintu apartmentnya.
“*Yaampun siapa sih yang ngetuk pintu, aku kan mau istirahat*.” Rengek Key di dalam hatinya.
Key beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu apartmentnya untuk melihat siapa yang mengganggu tidurnya.
“Papi?” ucap Key yang melihat papinya berada di hadapannya.
“Papi ngapain di sini?” tanya Key kepada papinya.
“Kenapa emangnya kalau papi di sini? Apa papi tidak boleh pergi ke apartment anak perempuannya? apa kamu menyembunyikan sesuatu dari papi?” tanya papi Kalandra.
“Haha, tidak mungkin aku menyembunyikan sesuatu dari papi dong, silahkan masuk pi.” Ucap Key dengan senyum canggungnya.
“*Aduh bagaimana ini, semoga saja papi tidak masuk ke dalam kamar deh, papi pasti tau kalau ada ruang rahasia di kamarku. Kalau sampai papi tau tentang hal itu yang ada aku semakin menambah masalah*.” Gumam Key di dalam hatinya.
Papi Kalandra masuk ke dalam apartment Key dan duduk di sofa di ruang tamu apartment Key.
“Kamu kenapa canggung sekali? apa ada yang kamu sembunyikan dari papi?” tanya papi Kalandra.
“Tidak papi, aku tidak menyembunyikan apapun kok beneran deh. Papi mau minum apa? Key akan buatkan untuk papi.” Ucap Key.
“Tidak usah, duduk saja di sini karena ada yang mau papi beritahu kepadamu.” Ucap papi Kalandra.
Key yang mendengar ucapan papinya langsung gugup karena tidak tau apa yang akan papinya beritahu kepadanya.
“*Apa papi akan kembali menyita mobil kesayanganku*?” batin Key sambil melangkahkan kakinya ke arah sofa dengan lemas.