MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
TINGKAH KENAN


Dia yang tulus mencintaimu, bukan dia yang buatmu tertawa ketika kamu bersedih, tapi dia yang melihatmu tertawa tapi tahu kamu tengah bersedih.



Selang beberapa bulan setelah pernikahan Robert dan Hani, Edo dan Anita melaksanakan acara pernikahan, begitu pula dengan Rose dan Ryan yang melakukan pernikahan 2 bulan setelah Anita dan Edo.



Ryan yang berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan Rose untuk menikah dengannya akhirnya berhasil membuat Rose menerimanya walaupun awalnya mama Ryan sempat protes setelah mengetahui masalah kesehatan Rose, namun Ryan berusaha membujuk mamanya dan akhirnya mereka berdua bisa menikah.



Karena jarak pernikahan Edo dan Ryan hampir bersamaan, mereka pergi untuk berbulan madu dengan istri mereka masing-masing, sedangkan Kalandra dan Khansa mengurus semua pekerjaan kantor yang menumpuk setelah di tinggal Edo.



“Duh mas, kenapa kita jadi kelabakan gini ga ada Edo dan Rose.” Protes Khansa.



“Entahlah, lagian mereka pake acara menikah dengan jarak yang berdekatan jadi gini nih kita kelabakan! asisten ga ada, sekretaris pun tidak ada!” ketus Kalandra.



“Oh iya mas, aku sudah menyuruh Leo untuk kemari dan membantu kita mengerjakan sebagian pekerjaan yang ada.”



“Baguslah, Leo juga memiliki kemampuan untuk mengurus urusan bisnis. Mungkin aku akan mempekerjakannya di perusahaan baruku nanti, karena sebentar lagi perusahaan ini akan menjadi milik kak Robert.” Jelas Kalandra.



“Apa kamu tidak keberatan jika aku tidak se kaya dulu sayang?” tanya Kalandra kepada Khansa.



Khansa tersenyum mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh suaminya itu.



“Mas, aku mencintai kamu bukan hartamu. Bahkan jika kamu jatuh ke lubang yang paling dalam pun aku akan menemanimu dan membantumu untuk bangkit kembali menuju puncak ter atas.” Ucap Khansa.



Kalandra segera menghampiri istrinya dan memeluknya dengan erat, entah sudah berapa kali dia mengatakannya tapi dia benar-benar beruntung mendapatkan istri seperti Khansa.



“Sayang, apa kita juga harus pergi berlibur?” tanya Kalandra yang masih memeluk tubuh Khansa.



“Mas, pekerjaan masih menumpuk kok udah ngomongin liburan sih. Ayo cepet bereskan dulu semua pekerjaan kita lalu kita membicarakan tentang liburan kembali.” Ucap Khansa sambil menggerakkan badannya untuk melepaskan pelukan suaminya.



“Hahh.. baiklah, aku akan segera menyelesaikan pekerjaan kita dengan cepat dan segera membawa kamu dan anak-anak berlibur selama sebulan.” Ucap Kalandra.



Khansa hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum mendengar suaminya yang merencanakan liburan mereka.



Sekolah Kenan


Kenan sedang duduk di meja sekolahnya, Kenan kembali menjadi anak yang pendiam dan dingin kepada semua orang. Kenan tidak pernah berbicara dengan siapapun di kelasnya semenjak kepindahan Bernard dan Belinda.


“Kenan, ayo kita main!” ajak salah satu teman laki-laki di kelasnya.


Kenan hanya melirik sinis ke arah teman sekelasnya itu tanpa menjawab apapun, hal itu membuat teman kelasnya kesal dengan tingkah Kenan yang sombong itu.


“Jangan mentang-mentang kaya kamu bisa seenaknya Kenan! kamu ini tidak ada apa-apanya jika bukan karena papimu! Kamu hanya mau berteman dengan Bernard karena dia juga dari golongan orang kaya seperti papi kamu kan!” ucap teman sekelas Kenan.


Kenan berdiri dari bangkunya dan memukul wajah teman kelasnya itu, selama ini Kenan tidak pernah melakukan kekerasan kepada siapapun, jika ada temannya yang mengejeknya tau berbicara dengannya, dia hanya diam tidak meresponnya.


Namun karena temannya berani menyebut nama papinya, Kenan menjadi kesal dan akhirnya Kenan berani memukul teman sekelasnya itu dan itu adalah pertama kalinya Kenan memlakukan kekerasan kepada temannya.


“Yaampun! Ada apa ini!?” tanya ibu guru yang baru saja masuk ke dalam kelas dan melihat Kenan memukul wajah temannya.


“Huaa,,, bu guru.. tadi Kenan pukul wajah saya bu..” adu anak itu kepada guru kelasnya sambil menangis.


“Kenan! kenapa kamu memukul wajah temanmu!?” tanya guru tersebut.


“Dia membawa nama papi saya bu!” bela Kenan.


“Benarkah begitu?” tanya guru tersebut kepada teman kelasnya.


“Tidak bu, saya juga tidak tau kesalahan saya tiba-tiba Kenan memukul saya. Tanya saja pada teman-teman yang lain!” ujar anak itu.


Guru tersebut menatap semua anak di dalam kelas dan semuanya mengangguk mengiyakan ucapan anak itu, akhirnya guru tersebut menyuruh Kenan ke ruang BK dan menelfon kedua orang tuanya.


“Bu, tidak bisakah ibu menghukum saya saja? jangan bicarakan masalah ini kepada papi dan mami.” Mohon Kenan.


“Kenapa tidak boleh memberi tau papi dan mamimu? Kamu takut di marahin oleh mereka kan? Makanya jangan pakai kekerasan!” ketus guru tersebut.


“Bu guru salah! Justru orang tua saya tidak akan memarahi saya bu, mereka akan mencari tau kebenaran tentang kejadian tadi dan jika Kenan benar tidak bersalah, ibu yang akan di marahi oleh papi! Kenan cuma ga mau papi dan mami sedih karena Kenan!” ujar Kenan.


Guru tersebut kaget mendengar ucapan anak kecil seperti Kenan yang berani mengancam gurunya sendiri.


“Kamu masih kecil sudah bisa mengancam guru kamu sendiri ya! dasar tidak sopan!” bentak guru tersebut.



Drrtt,, drrtt…



Khansa melihat hp Kalandra yang dari tadi berbunyi dan terpampang nama ‘sekolah’ di layar hpnya.



“Mas, sekolah Kenan menelfon!” ujar Khana dengan nada sedikit berteriak.



“Angkat dulu sayang, aku sedang bisnis di kamar mandi nih nanggung!” teriak Kalandra yang sedang berada di toilet ruangannya.



“Ih, jorok banget jadi orang!” Ketus Khansa sambil menggelengkan kepalanya lalu mengangkat hp suaminya.



“Halo..” ucap Khansa.



“(….)”



“APA!! Tidak mungkin anak saya seperti itu!”



“(….)”



“Baiklah, saya akan segera ke sekolah sekarang juga!”



Khansa segera mematikan telfonnya dan bersiap untuk pergi ke sekolah Kenan. Tidak lupa Khansa menuju kamar mandi untuk memberi tau suaminya.



“Tok,,tok,,tok.. mas! Cepatlah, ayo kita ke sekolah Kenan sekarang juga!” ucap Khansa.



“Ada apa sayang? kenapa kamu berteriak?” tanya Kalandra yang tidak mengetahui apa-apa.



“Kenan masuk ke ruang BK karena memukul temannya!” ucap Khansa.



Kalandra segera keluar dari kamar mandi setelah mendengar ucapan istrinya itu.


“Apa? Kenan tidak mungkin melakukan kekerasan kecuali ada sesuatu!” ucap Kalandra yang baru saja membuka pintu.



“Iya aku tau, mending kamu siram dulu deh bau banget ih! Aku tunggu di depan ruangan!” ucap Khansa sambil menutup hidungnya karena mencium bau yang tidak sedap.



“Hehehe, maaf sayang maklum lah kan terkejoet acuu..” ucap Kalandra dengan nada sok imut dan membuat Khansa menjadi geli melihat tingkah suaminya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1608115818007.jpg)



“*Untung suami! Kalau bukan sudah ku potong mulutnya itu*!” batin Khansa sambil berlalu meninggalkan suaminya yang masih di depan pintu kamar mandi.



Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, Kalandra segera menyusul Khansa di depan dan berangkat bersama ke sekolah Kenan.



Di sekolah Kalandra dan Khansa segera menuju ruang BK dan masuk ke dalam tanpa mengetuk pintunya karena dia mendengar suara bentakan dari dalam ruangan.



“Berhenti! Berani-beraninya kamu membentak anakku!” teriak Kalandra dan membuat guru tersebut terkejut lalu menoleh ke arah asal suara.



“Papi..” ucap Kenan dengan wajah melasnya.



Hai kakak-kakak pembaca setia ‘MENIKAH DENGAN HOT DADDY’ mohon maaf kemarin author tidak update karena ada kesibukan yang tidak bisa author tinggalkan huhuhu, tapi author janji akan menebus keterlambatan updatenya ya~


Semoga kalian suka dengan ceritanya~ ceritanya author skip yaa biar cepet-cepet bisa nyeritain tentang Kenan dan baby twin saat besar hihihi~