MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SEASON 2 (ADA APA SEBENARNYA?)


Hidup itu seperti pohon, ada saat buahny bagus, busuk, di makan tupai, dan jatuh. Tapi jika akarnya kuat untuk menahan, ia tak akan roboh begitu saja.



Key dan Kenan langsung berlari sekencang-kencangnya tanpa memperdulikan Bernard yang dari tadi memanggil mereka dan pak Joko yang kebingungan.



“Hikss,, om bagaimana ini? opa sakit hikss..” ucap Alya yang masih ada di sana.



Bernard segera menghampiri Alya dan memeluknya untuk menenangkannya.



“Ssstt,, sudah ya Alya, jangan menangis lagi, sekarang kamu ceritakan sebenarnya ada apa?” tanya Bernard.



“Alya juga ga tau,, tapi tadi ada suara barang yang jatuh terus oma dan tante Belinda berteriak kencang, Alya langsung nyamperin mereka dan melihat oma dan tante menangis di hadapan opa yang sedang terjatuh di lantai.” Jelas Alya.



Mendengar penjelasan Alya membuat Bernard terkejut dan langsung menggendong Alya untuk masuk ke dalam rumah.



“Pak Joko tolong siap-siap ya, aku rasa kami akan membutuhkan mobil untuk membawa om Kalandra.” ucap Bernard yang langsung di balas anggukan oleh pak Joko.



Bernard segera masuk sambil menggendong Alya dan menuju kamar papi Kalandra, di depan Key, Kenan, Belinda dan mami Khansa sedang berdiri.



“Hikss,, papi, kenapa papi bisa jatuh begini.” Ucap Key sambil menangis.



“Ada apa ini sebenarnya tante?” tanya Bernard kepada mami Khansa.



“Sepertinya tadi om Kalandra kepeleset dan terjatuh, untung saja tante dan Belinda segera menghampirinya dan membantunya untuk berbaring di atas kasur kembali.” Jelas mami Khansa.



“Mi, mami! Papi ga bernafas!” teriak Key hingga membuat semua orang terkejut.



“Papi kena serangan jantung!” ucap Kenan.



“Abang! Cepat abang harus menyelamatkan papi! Ayo abang cepetan kasih pertolongan pertama untuk papi!” teriak Key.



Mami Khansa, dan Bernard melihat ke arah Kenan yang sedang berjalan mudur sedikit demi sedikit, keringat yang bercucuran di wajah Kenan, dan tangan yang gemetar.



“Ada apa ini? kenapa Kenan yang harus menyelamatkan om Kalandra? Kenan bukan dokter, bagaimana bisa dia menyelamatkannya?” ucap Belinda yang tidak tau apa-apa.



“Abang cepat! Apa abang hanya akan melihat papi tidak bernafas seperti ini!?” bentak Key yang melihat abangnya berjalan mundur secara perlahan.



Mami Khansa yang tau kalau anak sulungnya itu memiliki trauma segera menghampirinya dan tiba-tiba saja..



Plak!!



Mami Khansa menampar pipi Kenan dengan keras hingga membuat semua orang terkejut.



“Sadar Kenan! bukannya kamu yang selalu bilang sama mami, kalau kamu sangat ingin menjadi dokter dan menyelamatkan orang yang sedang sakit? Sekarang papi kamu membutuhkanmu Kenan, kamu harus menyelamatkannya!” bentak mami Khansa.



Itu adalah pertama kalinya mami Khansa membentak Kenan, Key yang melihatnya saja benar-benar terkejut mendengar maminya membentak abangnya.



Mendengar maminya berbicara seperti itu membuat Kenan tersadar dan langsung memberikan CPR kepada papinya.



“Tolong ambilkan peralatan medisku di kamar!” perintah Kenan.



Key yang mendengar perintah abangnya langsung tersenyum dan berlari menuju kamar abangnya itu untuk mengambil peralatan medis yang selama ini selalu di simpan Kenan dengan sangat rapih.



“Inia bang.” Ucap Key.




“Cepat panggil ambulance!” ucap Kenan.



“Sepertinya akan terlalu lama kalau kita harus menunggu ambulance, aku sudah menyuruh pak Joko bersiap dengan mobilnya, kita bisa ke rumah sakit langsung dengan pak Joko.” Ucap Bernard.



Kenan setuju dengan ucapan Bernard dan langsung menggotong papinya bersama dengan Bernard.



Setelah memasukkan papinya ke dalam mobil, Kenan dan mami Khansa ikut naik ke dalam mobil menuju ke rumah sakit.



Sedangkan Key, Bernard, Belinda dan Alya menyusul mereka dari belakang. Key berusaha untuk menelfon Ken yang sedang berada di perusahaannya.



“Halo Ken! Cepat ke rumah sakit X, papi serangan jantung setelah terjatuh!” ucap Key singkat lalu segera mematika telfonnya.



Belinda dan Bernard yang mendengar kepanikan dari Key hanya bisa terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun.



“*Sebenarnya ada apa ini? apa yang tidak aku ketahui*?” Gumam Belinda di dalam hatinya.



Di perusahaannya, Ken yang sedang membaca beberapa berkas yang di bantu oleh Rey, tiba-tiba saja mendapatkan telfon dari saudara kembarnya.


“Woy Ken! Key telfon tuh!” ucap Rey.


Mendengar ucapan Rey, Ken segera melihat hpnya dan mengangkat telfon dari Key.


“Hal..” belum saja Ken berbicara, Key sudah memotong ucapannya.


“Halo Ken! Cepat ke rumah sakit X, papi serangan jantung setelah terjatuh!” tegas Key yang langsung mematikan telfonnya tanpa memberi kesempatan untuk Ken berbicara.


Ken yang mendengar ucapan Key segera berdiri dari tempat duduknya dengan wajah yang berubah menjadi panik.


“Kamu kenapa Ken? Apa ada sesuatu yang terjadi kepada Key?!” tanya Rey yang ikut khawatir.


“Papi! Papi terkena serangan jantung Rey! Ayo kita sekarang juga ke rumah sakit X!” perintah Ken.


“Apa!? Bagaimana bisa om Andra kena serangan jantung setelah sekian lama?” tanya Rey.


“Entahlah! Kamu mau ikut ga?” tanya Ken.


“Tentu saja aku ikut! Ayo, biarkan pekerjaan ini kita lanjutkan besok!” ucap Rey.


Akhirnya Ken dan Rey segera menuju rumah sakit untuk melihat keadaan papi Kalandra. sesampainya di rumah sakit, Ken dan Rey segera berlari menanyakan tentang keberadaan papinya.


“Ken! Pelan-pelan dong! Kalau kamu sampai jatuh yang ada kita ga jadi nengokin om Andra!” teriak Rey yang tertinggal di belakang Ken.


Ken yang terlalu panik itu sama sekali tidak menggubris ucapan saudaranya itu, dia tetap berlari menaiki lift untuk ke kamar papinya.


Brugg!!!


“Papi!!!” teriak Ken yang membuka pintu dengan sangat kencang hingga membuat orang yang ada di dalam kamar tersebut terkejut.


Ken yang beru saja masuk ke dalam kamar langsung terkejut karena orang yang ada di dalam kamar tersebut bukanlah keluarganya.


“Anda siapa?” tanya salah satu orang di dalam kamar yang di masuki oleh Ken.


“Loh, kalian semua siapa? Kemana papiku!?” tanya Ken.


“Ken! Kamu salah masuk kamar! Kamar om Andra di sebelah!” ucap Rey yang langsung menarik Ken ke belakangnya.


“Saya minta maaf karena saudara saya sudah mengganggu ketenangan kalian semua, sekali lagi mohon maaf.” Ucap Rey sambil membungkukkan badannya.


Setelah meminta maaf, Rey langsung menarik Ken ke kamar yang ada di sebelahnya.


“Kamu tuh makanya jangan terlalu terburu-buru, jadinya begini kan?! Untung aja mereka ga marah-marah!” ketus Rey.


“Iya-iya bawel!” ucap Ken yang langsung masuk ke dalam kamar papinya.


“Papi..?” ucap Ken yang baru saja masuk.


“Ken? Kamu di sini? Apa pekerjaan di kantormu sudah beres?” tanya papi Kalandra yang sudah sadar namun masih sangat lemah.


“Apa!? Papi masih mikirin kantor? Papi tidak perlu khawatir, karena Ken akan mengatasi perusahaan Ken, lebih baik papi fokus untuk memulihkan kondisi papi.” Ketus Ken.


“Sebenarnya kenapa papi bisa seperti ini mi?” tanya Ken.


“Entahlah, kamu tau sendiri kan kalau serangan jantung itu datangnya tiba-tiba, papi kamu juga ga tau kenapa bisa tiba-tiba kena serangan jantung.” Jelas mami Khansa.


“Kalau papi kena serangan jantung, berarti nafasnya berhenti bukan? Lalu siapa yang memberikan pertolongan pertama?” tanya Ken.


Mami Khansa, Key, dan Belinda hanya saling menatap satu sama lain, Ken yang melihat ekspresi wajah semuanya langsung mengerti.


“Tidak mungkin! J-jangan-jangan..” ucap Ken.


“Kemana abang sekarang?” lanjutnya.


“Abang dan om beruang masih menemui dokter yang menangani papi.” Ucap Ken.


“Oh iya, ngomong-ngomong soal yang tadi, sebenarnya kenapa Kenan bisa melakukan pertolongan pertama kepada om Kalandra?” tanya Belinda secara tiba-tiba.