MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
MAGANG


Di ruang tamu, Ryan dan Rose sedang duduk menikmati minuman mereka sedangkan Elsa sedang sibuk dengan laptopnya karena dia sudah mulai mengerjakan tugas akhirnya.


“Kamu akan magang di perusahaan om Robert yang sekarang sedang di pegang oleh Rey.” Ucap Ryan tiba-tiba.


Mendengar ucapan papanya membuat Elsa menghentikan aktifitasnya dan langsung melihat ke arah papanya yang berada di hadapannya.


“Apa pa? Kenapa harus di perusahaan om Robert?”


“Kenapa? Ada masalah kalau kamu magang di perusahaan om Robert?”


“Pa, bukankah lebih baik kalau aku magang di tempat papi Andra aja? Abang Kenan dan kak Ken sudah lebih berpengalaman memegang perusahaan, jadi aku bisa belajar banyak darinya.” Ucap Elsa mencoba untuk mencari alasan.


“Kamu lupa kalau abangmu sudah tidak bekerja di perusahaan? Dan papa tahu kalau kamu sangat manja jika sudah bersama Ken, jadi bukan pilihan yang bagus kalau kamu magang di sana.” Jelas Ryan.


“Tapi pa…” rengek Elsa.


“Kenapa? Rey juga tidak kalah hebatnya dalam menangani perusahaan, selama ini dia selalu di bawah pengawasan Kenan dan juga Ken.”


“Iya Elsa tahu pa,, tapi kan… aaaa,,, mama tolong lah kasih penjelasan ke papa.” Rengek Elsa kepada mamanya.


“Ada apa Elsa? Kenapa kamu sampai seperti ini sebenarnya?” tanya Ryan yang bingung karena tingkah anak perempuannya.


“Elsa hanya gugup sayang, dia dan Rey tidak begitu dekat jadi Elsa takut kalau harus magang di perusahaan kak Robert, beri dia waktu untuk menyiapkan dirinya sayang.” Rose berusaha untuk menjelaskan kepada suaminya.


“Kamu tenang saja Elsa, Rey akan mengajarimu dengan baik, dia orangnya baik kok hanya saja lebih tertutup saja.”


Elsa hanya menghela nafas panjang dan melihat ke arah mamanya berusaha untuk meminta pertolongan namun usahanya sia-sia.


“Sayang, papa kamu menyuruhmu magang di sana karena kamu dan Rey sama-sama baru belajar menangani perusahaan, dengan begitu kalian berdua akan sama-sama belajar, kalau kamu magang di perusahaan Ken kamu tidak akan belajar karena kami yakin kalau kamu kesulitan kamu pasti meminta bantuan dari kakakmu.” Jelas Rose.


Elsa tidak ada pilihan lain selain menyetujui permintaan papanya untuk magang di perusahaan Robert bersama dengan Rey.


“Baiklah, Elsa akan magang di sana!” ucap Elsa.


“Baguslah, besok kamu sudah bisa datang ke perusahaan, om Robert akan menjelaskan semua tentang perusahaannya kepadamu.” Ucap Ryan hingga membuat Elsa terkejut untuk kedua kalinya.


“Apa kak Rey tahu kalau aku akan magang di perusahaannya pa?”


“Entahlah, mungkin om Robert akan memberitahunya! Papa ke atas dulu, papa mau menghubungi om Robert untuk memberitahu tentang magangmu.” Ucap Ryan yang langsung meninggalkan istri dan anaknya di ruang keluarga.


Setelah punggung papanya tidak terlihat lagi, Elsa langsung menghampiri mamanya dan memeluk tubuhnya dengan erat.


“Ma, kenapa mama tidak membantu Elsa tadi..” rengek Elsa.


“Maaf sayang, mama tidak punya pilihan lain karena papamu pasti menginginkan yang terbaik untukmu.”


“Tapi bagaimana Elsa bisa melihat kak Rey setiap hari ma, dan bagaimana bisa Elsa melupakan kak Rey kalau Elsa harus melihatnya setiap hari?” tanya Elsa.


“Sayang, intinya sekarang kamu harus meyakinkan dirimu kalau kamu di sana untuk bekerja bukan untuk melupakan Rey, semakin kamu berusaha melupakannya semakin kamu teringat padanya.” Jelas Rose.


“Lalu? Elsa harus bagaimana saat melihat kak Rey ma?”


“Kamu harus bersikap biasa saja sayang, tunjukkan padanya kalau kamu sudah dewasa dan kamu sudah tidak menyukainya lagi.” Ucap Rose.


“Sudahlah, sekarang kamu pergilah ke kamarmu dan siapkan pakaian yang akan kamu pakai besok.” Lanjutnya.


Elsa menganggukkan kepalanya dan segera merapihkan laptop dan bukunya yang ada di atas meja lalu membawanya ke kamarnya.


Di dalam kamarnya, Elsa menaruh laptopnya di sembarang tempat dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Elsa melihat langit-langit kamarnya dan memikirkan tentang ucapan papanya.


“Bagaimana aku bisa mengatasi hatiku kalau harus bertemu dengannya setiap hari?” gumam Elsa lalu berusaha memejamkan kedua matanya.


***



“Aish! Kenapa aku bisa lupa kalau aku baru mewarnai rambutku? Padahal aku sering sekali melihat diriku di cermin tapi kenapa aku bisa lupa!” ucap Elsa sambil memukul keningnya.


“Oke, it’s okey Elsa! Perusahaan om Robert itu bebas kok tidak mengharuskan pegawainya mewarnai rambutnya atau tidak jadi kamu tidak perlu takut.” gumam Elsa menyemangati dirinya sendiri.


Elsa mengambil tasnya dan membuka pintu kamarnya, namun dia berhenti setelah berada di luar kamar karena kembali memikirkan tentang rambutnya.


“Tapi kak Rey pasti membuat rambutku sebagai alasan dia memarahiku! Huaaa,, rasanya aku ingin kabur saja ke rumah papi Andra kalau sudah begini.” Ucap Elsa sambil mengacak-acak rambutnya.


“Elsa! Ayo kita berangkat!” teriak Ryan dari bawah.


Mendengar suara papanya, Elsa segera merapihkan rambutnya kembali dan menarik nafas mencoba untuk mengendalikan perasaannya.


“Pa, kenapa aku tidak naik mobil sendiri saja?” tanya Elsa.


“Tidak sayang, papa akan mengantarmu karena ini hari pertamamu, kamu itu buta arah jadi papa tidak yakin kalau kamu akan sampai tepat waktu ke perusahaan om Robert.”


“Pa, perusahaan om Robert kan ada di pinggir jalan, jadi tidak mungkin aku tersesat.”


“Tapi kamu kan tidak pernah ke sana Elsa, pokoknya kamu harus mau di antar papa tidak boleh membantah!”


“Lalu bagaimana Elsa pulang nanti?”


“Papa akan menjemputmu!”


Elsa hanya bisa pasrah menuruti ucapan papanya, setelah sarapan bersama Ryan dan Elsa berpamitan kepada Rose untuk berangkan bekerja.


Selama di perjalanan, Elsa tidak mengucapkan apapun kepada papanya karena dia sudah tidak bisa mengucapkan apapun lagi, dia hanya bisa mnghela nafas panjang beberapa kali


.


“Kamu segugup itu ya sampai harus menghela nafas berkali-kali?” tanya Ryan.


“Magang itu hal yang mudah sayang, kamu tidak perlu pusing memikirkan masalah itu.” Lanjutnya.


“Bukan gugup karena magang, aku gugup karena harus bertemu dengan orang yang menyebalkan sebentar lagi!” batin Elsa sambil melihat ke luar jendela dan tidak menjawab ucapan papanya.


Sesampainya di perusahaan Robert, Ryan menyuruh Elsa untuk turun dan masuk ke dalam perusahaan sendiri.


“Papa! Yang benar saja, papa menyuruh Elsa untuk masuk ke dalam sendiri?” tanya Elsa.


“Kenapa sayang? Mereka tidak akan memakanmu kok.”


“Iya aku tau pa, tapi kan tetap saja papa harus menemaniku masuk ke dalam.”


“Papa harus bekerja sayang, kamu bisa memberitahu receptionist kalau kamu adalah peserta magang yang baru dan sebutkan saja namamu karena om Robert sudah mengurusnya.” Jelas Ryan.


“Papa,,, kenapa aku tidak magang di perusahaan papa saja sih!”


“No! magang di tempat kakakmu saja papa tidak setuju, apalagi magang di perusahaan papa! Sudahlah selamat bekerja anak papa, bye..” ucap Ryan yang langsung melajukan mobilnya tanpa mendengar keluhan dari anak perempuannya.


Melihat kepergian papanya membuat Elsa kesal, dia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya karena dia tidak mau berdosa kalau mau mengatai papanya sendiri.


“Papa! Papa tidak tahu kalau anakmu sebentar lagi akan gila karena perang batin!” gumam Elsa sambil menatap gedung yang sangat tinggi di hadapannya.


Hai kakak-kakak semuanya,,,,, hari ini partnya Elsa dan Rey nihh...


Ada yang penasaran ga sih awal mula Elsa bisa suka sama laki-laki sedingin Rey dan gimana sikap Rey selama ini ke Elsa? Insyaallah Bulan depan author mau bikin cerita khusus Elsa dan Rey yaa karena author ga bisa fokus kalo di jadiin satu begini...


Selamat membaca kakak-kakak semua~~