
Wanita muslimah menggunakan mulutnya untuk mengatakan kebenaran, suaranya untuk kebaikan, telinganya untuk welas asih, dan hatinya untuk mencintai mereka yang tidak menyukainya.
“Siapa Key?” tanya Bernard kepada Key yang baru saja mematikan telfonnya.
“Dari mami om, katanya besok mami dan yang lain mau ke Jepang.”
“Ada acara apa mereka ke Jepang?”
“Melamar kak Belinda, ah akhirnya aku memiliki kakak perempuan.” Ucap Key dengan semangat.
“Oh..” seru Bernard.
“Apa!? Melamar Belinda katamu?! Ke rumahku? Bagaimana ini, mama dan papa belum tau kalau Belinda dan Kenan memiliki hubungan, pasti mereka akan terkejut.” Ucap Bernard.
“Kenapa terkejut om?” tanya Key yang tidak mengerti maksud dari perkataan Bernard.
“Coba deh kamu fikir baik-baik, kalau mama dan papa tau jika kedua anaknya menyukai anak dari keluarga Kalandra bagaimana?” tanya Bernard.
“Ah iya! Om beruang benar juga, kita harus segera memberitau orang tua om beruang agar mereka tidak terkejut saat keluargaku datang.” ucap Key.
“Iya setelah kita ke rumah sakit, kita akan langsung pulang dan memberitau papa dan mama.” Ucap Bernard.
“Huh, padahal aku berharap om beruang tidak jadi membawaku ke rumah sakit.” Gumam Key yang masih bisa di dengar oleh Bernard.
Drrtt,, drrtt,,
Hp Kenan berbunyi hingga membuatnya terbangun dari tidur nyenyaknya, dengan malas Kenan mengambil hpnya dan melihat siapa yang menelfonnya.
“Halo.” Ucap Kenan dengan nyawa yang masih belum terkumpul.
“Halo abang!” ucap Ken dari sebrang telfon dengan nada sedikit berteriak.
“Ken?” ucap Kenan.
“Iya abang ini Ken! Abang mau lamaran? Kenapa tidak bilang padaku?” tanya Ken.
“Aku hanya mau kamu fokus kepada gamemu.” Ucap Kenan.
“Tidak ada yang lebih penting dari urusanmu bang!”
“Tapi tetap saja kamu harus fokus untuk mengembangkan game yang sedang kamu kerjakan Ken.”
“Abang jahat sekali, ini adalah kabar yang besar tapi aku malah tau dari mami dan aunty Anita bukan dari abang langsung. Lagipula pekerjaanku di sini sudah selesai jadi aku akan menyusul ke Jepang!” tegas Ken.
“Baiklah, terserah kamu saja, kamu bisa ambil penerbangan pagi agar sampai di Jepang lebih dulu dan bisa beristirahat di apart papi atau di rumah om Leo.” Ucap Kenan.
“Baiklah, aku akan membeli tiket pesawat dulu. Oh iya bang, selamat untukmu karena sudah menemukan perempuan yang kamu sukai, aku turut senang mengetahui hal itu.” Ucap Ken lalu mematikan telfonnya karena dia merasa malu setelah mengucapkan kata-kata yang menggelikan menurutnya.
Kenan yang mengetahui jika adiknya sudah mematikan telfonnya itu hanya menatap layar hpnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepala.
Kenan tau jika sebenarnya Ken sangat menyayanginya, dan memang Ken selalu menceritakan semua hal kepada Kenan tanpa terkecuali. Hanya saja Ken tidak seperti Key yang dengan mudahnya menunjukkan rasa sayangnya kepada sang abang.
Kenan kembali menaruh hpnya dan kembali menarik selimutnya untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu tadi.
***Paris***
Ken yang baru saja selesai menelfon abangnya langsung memesan dua tiket untuk ke Jepang lalu kembali menaruh hpnya di dalam saku celananya dan masuk ke dalam ruangan rapat karena sebentar lagi dia akan rapat dengan para divisi perusahaan yang akan menjadi investornya.
“*Aku beli dua untuk berjaga-jaga jika Audrey boleh ikut bersamaku ke Jepang*.” Gumam Ken di dalam hatinya sambil tersenyum.

“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri Ken?” tanya salah satu temannya yang ada di dalam ruangan.
“Eh, masa sih? Engga ah, sudahlah nanti setelah rapat aku akan langsung berangkat ke Jepang oke? Kamu bisa menghandle semuanya kan?” tanya Ken.
“Tentu saja bisa! Kamu tenang saja dan jangan terlalu memikirkan tentang hal ini karena semuanya sudah selesai, kita hanya tinggal menandatangani kontrak dengan perusahaan C.” ucap teman Ken.
Mendengar ucapan temannya, Ken menjadi lebih tenang karena dirinya bisa meninggalkan pekerjaannya dengan tenang.
Rapat di mulai dengan lancar, Ken mempresentasikan game hasil buatannya dan semua kepala divisi menyukai game buatan Ken tersebut dan setuju untuk berinvestasi kepada perusahaan Ken dan menandatangani kontrak.
“*Kemampuan dari anak tuan Kalandra memang tidak perlu di ragukan lagi. Dia bahkan bisa mengatasi masalah yang tidak bisa di pecahkan oleh para ahli*.” Gumam Aldi di dalam hati.
Ken menatap Aldi dengan senyum yang mengembang di wajahnya dan menundukkan kepala untuk menyapanya dengan sopan.
Melihat Aldi yang keluar dari ruangan, Ken segera berpamitan kepada para kepala Divisi dan menyusul Aldi untuk berbicara.
“Tuan Aldi.” Panggil Ken dari belakang yang membuat Aldi menoleh ke arahnya.
“Ken? Ada apa?” tanya Aldi.
“Bisakah saya berbicara dengan anda?” tanya Ken.
“Tentu, mari kita berbicara di ruanganku saja.” ajak Aldi dengan ramah.
Ken mengikuti Aldi ke ruangannya, sesampainya di ruangan Aldi, Ken langsung mematung dan tersenyum lebar karena melihat bingkai foto berukuran besar yang menampilkan wajah cantik Audrey. Aldi yang menyadari jika Ken memperhatikan foto anak gadisnya itu.

“Ehem.. duduklah dulu Ken.” Aldi pura-pura batuk agar membuyarkan lamunan Ken.
“Eh iya tuan terimakasih.” Ucap Ken lalu duduk di kursi yang ada di sana.
“Panggil saya om saja, ini sudah di luar jam kerja.” Ucap Aldi.
“Eh, apa tidak masalah om? Baiklah saya akan memanggil om saja.” ucap Ken dengan senyum di wajahnya.
“Oke jadi, sebenarnya ada hal apa yang ingin di bicarakan oleh Ken?” tanya Aldi.
“Jadi gini om, hari ini saya ingin pergi ke Jepang dan saya berencana untuk mengajak Audrey dengan saya. apakah om mengijinkan?” tanya Ken.
“Untuk apa kamu pergi ke Jepang?” tanya Aldi.
“Orang tua saya akan pergi ke Jepang untuk acara lamaran abang saya, jadi saya ingin menyusul ke sana sekalian mengajak Audrey dan mengenalkannya kepada orang tua saya.” jelas Ken.
“Kenapa kamu mengenalkannya kepada orang tuamu? Memang apa hubungan kalian sampai harus saling di kenalkan kepada orang tua?” tanya Aldi mencoba untuk mengintrogasi Ken.
Ken yang yang mendengar pertanyaan dari Aldi tiba-tiba mematung karena tidak siap menjawab pertanyaan Aldi.
“Kenapa kamu diam saja Ken? Saya di sini sebagai orang tua Audrey bukan sebagai atasan kamu. Audrey adalah anak perempuan saya satu-satunya dan saya sangat menjaganya, bagaimana bisa saya memberikan ijin kepada laki-laki yang bukan siapa-siapanya membawanya pergi jauh dari saya.” ucap Aldi.
“Em, saya..” ucap Ken terputus.
“Kenapa? Kalau kamu tidak memiliki alasan yang tepat untuk membawa anak saya, saya juga tidak akan mengijinkannya ikut denganmu.” Ucap Aldi.
Ken yang mendengar hal itu menjadi bingung karena dirinya ingin sekali mengenalkan Audrey kepada orang tuanya dan ingin menunjukkan jika dirinya sangat serius dengan Audrey.
“Saya tau kalau saya dan Audrey baru mengenal beberapa hari yang lalu dan tidak memiliki hubungan apapun dengannya, tapi saya ingin mengenalkannya kepada orang tua saya karena saya ingin membuktikan kepada anda dan Audrey kalau saya sangat serius dengannya.” Jelas Ken.
“Mungkin anda melihat saya hanya sebagai anak papi saya, itulah kenapa saya membuat perusahan sendiri dan ingin membuat semua orang melihat saya sebagai diri saya sendiri bukan karena saya anak papi saya. Jadi mulai sekarang saya berjanji kalau saya akan membuktikan kemampuan saya lebih banyak kepada anda dan seluruh dunia, agar anda merasa tenang untuk mempercayakan anak anda kepada saya.” lanjut Ken.
Aldi tersenyum mendengar ucapan Ken dan ketulusan yang terpancar di wajahnya, dia sebenarnya sangat yakin kalau Ken memang memiliki kemampuan dan pantas untuk menjaga anaknya, namun Aldi hanya mengetes Ken saja.
“Baiklah, saya akan mengijinkan Audrey ikut denganmu. Silahkan telfon dia dan bilang kepadanya untuk bersiap.” Ucap Aldi.