MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
DICULIK


Andini sudah berada di sebuah gedung yang sangat gelap, Andini juga masih belum sadarkan diri karena efek obat bius yang di berikan kepadanya.


"Apa dia masih belum sadar juga?" Tanya Audrey yang sudah berada di gedung tersebut.


"Mungkin obat biusnya terlalu kuat." ucap salah satu laki-laki yang ada di sana.


"Bangunkan dia!" perintah Audrey.


Akhirnya laki-laki tersebut menyiramkan air ke wajah Andini yang sedang tidak sadarkan diri.


Andini yang terkejut langsung terbangun dan melihat ke depannya dengan samar-samar.



"Cih! Akhirnya kamu sadar juga!" ketus Audrey dengan senyum sinisnya sambil membuka lakban yang ada di mulut Andini dengan kencang.


"Aw! Kamu!" teriak Andini.


"Iya, aku! Kenapa!?"


"Jadi kamu adalah dalang dari penculikanku ini? Apa yang kamu mau dariku!?" Tanya Andini.


"Aku hanya ingin melihat bagaimana wanita yang sudah merebut laki-laki milikku!" ketus Audrey.


"Milikmu? Kalian bahkan tidak pernah berpacaran, lalu siapa yang kamu bilang milikmu?" Tanya Andini.


"Apa!? Beraninya kamu bicara seperti itu! Walaupun kami tidak memiliki hubungan apapun tapi akulah wanita yang di sukai Ken!" ucap Audrey sambil mendorong Andini hingga terjatuh bersama dengan kursinya.


"Aw!!" Teriak Andini.


Benturan kursi dan lantai yang sangat kencang membuat Andini merasa sangat kesakitan di bagiang pinggang dan menjalar ke perutnya.


Namun tanpa di duga-duga, ada darah yang mengalir dari sela-sela kaki Andini yang membuat Audrey dan yang lain terkejut.


"T-tolong, a-anakku.." rintih Andini yang samar-samar terdengar oleh Audrey.


"Hikss,, yaallah, bahkan ayah kandungnya belum tahu jika anaknya ada di dalam perutku, aku mohon selamatkan anakku.." batin Andini.


"Apa kamu bilang tadi?!" Tanya Audrey sambil membuka tali yang mengikat di tangan Andini.


"A-anakku! Tolong selamatkan anakku!" teriak Andini.


"Anak? Anak dengan siapa! Siapa ayah anak yang kamu kandung?" Tanya Audrey.


"Apa kamu fikir Ken akan meninggalkanmu dan menikah denganku secara tiba-tiba? Apa kamu tidak pernah berfikir untuk bertanya alasan Ken menikah denganku?" Tanya Andini dengan nada lemah.


"T-tidak! Tidak mungkin!" teriak Audrey.


Lily yang baru saja datang sangat terkejut melihat Andini yang terbaring dengan lumuran darah di lantai, dia segera menyuruh laki-laki suruhannya untuk membawa Andini ke rumah sakit dengan segera.


"Audrey! Apa yang kamu lakukan padanya! Bukankah kamu bilang tidak akan melukainya!" bentak Lily.


"Hiksss,, dia, dia hamil Lily, aku,,, aku sudah melukai anaknya hikss.." ucap Audrey yang mulai menangis.


"Ayo kita ke rumah sakit, aku sudah membawanya ke rumah sakit." ajak Lily.


Lily membantu Audrey berdiri dan berjalan ke luar gedung itu dan segera menyusul Andini ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Andini segera di tangani oleh dokter, sedangkan Audrey dan Lily menunggu di depan ruangan tersebut.


"Bagaimana ini, aku benar-benar tidak tahu kalau dia sedang hamil, bagaimana ini Lily aku sudah melukai anak yang tidak berdosa hikss.."


"Jangan menangis Audrey, kamu harusnya belajar dari semua ini, ayo kita menyerahkan diri! aku akan menemanimu karena aku juga bersalah sudah membantumu menculik Andini." ucap Lily.


"Tidak Lily, aku lah yang harus menanggung semuanya, kamu tidak bersalah aku akan menanggung semuanya." ucap Audrey.


Audrey mengambil hp yang ada di dalam sakunya, dia segera menelfon seseorang.


"Halo.." ucap Audrey.


"Kembalikan Andini sekarang!!!" bentak seseorang dari sebrang telfon.


"Kamu ternyata benar-benar menyukainya Ken, maaf tapi dia sedang ada di rumah sakit X, segeralah kemari dan berikan hukuman yang tepat untukku." ucap Audrey.


"Apa!! Gila kamu Audrey!" teriak Ken lalu segera mematikan telfonnya.


"Kamu benar-benar sudah menyukai wanita itu Ken, tidak! Kamu sudah mencintainya." batin Audrey.


"Pergilah Lily, biarkan aku sendiri di sini, aku tidak ingin kamu terlibat dalam hal ini." ucap Audrey.


"Sayangnya kamu sudah melibatkan aku Audrey, dan aku akan tetap bersamamu." tegas Lily.


Di tengah pembicaraan mereka, orang tua Audrey menelfonnya dan langsung di angkat oleh Audrey.


"Halo Audrey sayang, kamu sedang apa? Apa kamu sudah makan?" Tanya mama Audrey.


"Hikss,, hikss, mama maafkan Audrey ma maaf hikss.." ucap Audrey.


"Kenapa kamu menangis Audrey? Ada apa?"


"Audrey sudah melakukan kesalahan besar ma hikss,, Audrey benar-benar sangat berdosa hikss.."


"Kamu di mana sayang? Dimana kamu sekarang?"


"Audrey ada di rumah sakit ma."


"Apa!? Kenapa kamu di rumah sakit? Apa kamu sakit sayang? Papa dan mama akan segera ke sana." ucap mama Audrey.


"Ma, sebenarnya..." Audrey menceritakan semuanya kepada mamanya dan mamanya akan segera menghampirinya ke rumah sakit.


Tidak lama kemudian dokter yang menangani Andini keluar dari ruangan, Audrey yang melihatnya segera mematikan telfon dan langsung menghampiri dokter tersebut.


"Dok gimana keadaan wanita itu?" Tanya Audrey.


"Anda siapanya?" Tanya dokter.


"Saya temannya, saya temannya dok, bagaimana keadaannya?" Tanya Audrey lagi.


"Pasien baik-baik saja, tapi janin yang ada di kandungannya tidak bisa di selamatkan karena usia kandungannya masih sangat muda sekali." jelas dokter tersebut.


Audrey terkejut mendengarnya hal itu, dia tidak percaya kalau dirinya sekarang benar-benar menjadi seorang pembunuhan yang kejam.


Lily tahu betul kalau sahabatnya itu merasa sangat bersalah, begitu juga dirinya, kalau saja dia tidak menuruti ucapan Audrey mungkin Andini tidak akan mengalami keguguran.


Tidak jauh dari sana ada beberapa orang yang berlari menghampiri Audrey.


"Kau apakan Andini Audrey!!" bentak Ken sambil memegang pundak Audrey dengan kencang hingga Audrey merasa kesakitan.


Audrey yang melihat mata Ken yang di penuhi oleh amarah itu hanya bisa menangis dan bersujud kepada Ken.


"Hikss,, hikss maafkan aku Ken maaf karena sudah membuat Andini terluka dan membuat anakmu tiada hikss.." ucap Audrey sambil menangis.


Mendengar ucapan Audrey membuat Ken bertanya-tanya.


"Apa maksudnya? Apa maksud perkataanmu tadi? Anak?" Tanya Ken.


"Apa!? Yaampun Ken! Aku baru ingat kalau tadi di butik Andini memberitahuku jika dia sedang hamil dan meminta pendapatku apakah dia harus memberitahumu atau tidak." sambung Key.


"Apa? Kenapa kamu tidak bilang tadi Key?" Tanya Rey.


"Karena kita sedang panik tadi, aku mana sempat mengingat untuk memberitahu kalian tentang hal ini!" ketus Key.


"Semua itu gara-gara Audrey! Calon keponakanku bahkan meninggal karena dirinya!" ucap Key yang mau menghampiri Audrey namun di tahan oleh Rey.


"Jangan sekarang Key, biarkan Ken mengeluarkan semua amarahnya kepada Audrey sekarang, setelah Ken barulah kamu yang mengeluarkan amarahmu." ucap Rey.


Mendengar hal itu membuat Key berusaha untuk menetralkan emosinya.


Sedangkan Ken yang mendengar hal itu langsung membuatnya semakin frustasi, dia berteriak seperti orang gila sambil mengacak-acak rambutnya.


Audrey yang melihat kondisi Ken yang sudah kacau itu segera menghampirinya dan ingin menyentuh tangannya namun Ken langsung menepisnya hingga Audrey terjatuh.


Ken mendekat ke arah Audrey dan mencengkram dagu Audrey dengan kasar.


"Kau! Apa kau tau kalau Andini adalah korban dari keegoisan kita, dan sekarang anakku menjadi korban kegilaanmu Audrey! Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Biarkan kamu di hantui dengan rasa bersalahmu kepada anakku yang sudah meninggal!" ketus Ken dengan mata yang di penuhi amarah.


"Jangan pergi kemanapun sampai aku melihat Andini sadar dengan mata kepalaku sendiri!" lanjutnya.


Mendengar ucapan Ken hanya membuat Audrey semakin menangis dengan perasaan bersalahnya.