
Hidup bukanlah tentang bagaimana menemukan diri kita tetapi bagaimana menciptakan diri kita yang sebenarnya.
“Key, kamu katanya mau ke perusahaan Sanjaya..” ucap Lana mengingatkan.
“Aku takut Lan, kalau dia mau macem-macem gimana?” tanya Key.
“Apa aku antar kamu ya? tapi aku tunggu di lobby, kalau kamu tidak keluar setelah satu jam aku akan meminta pertolongan.” Ucap Lana.
“Ah, kamu pintar juga Lan. Ayo kita berangkat.” Ajak Key dengan semangat.
Di perjalanan mereka berdua hanya saling diam di dalam mobil tanpa mengatakan apapun karena sebenarnya mereka sama-sama gugup untuk datang ke perusahaan yang besar itu.
“Key, kamu juga gugup ya? padahal kan kamu sudah biasa keluar masuk perusahaan besar.” Bisik Lana.
“Aku bukan gugup karena perusahaannya.”
“Lalu?”
“Aku gugup karena harus bertemu dengan om-om menyebalkan itu lagi!” ucap Key.
“Lagi pula untuk apa kamu mengambil dompet itu, bukankah kartu abangmu sudah di urus?” tanya Lana.
“Aku tidak mempermasalahkan kartu abangku, tapi aku mempermasalahkan kartu-kartu timezone ku. Kamu tau kan kalau semua kartuku selalu di isi saldo berlimpah sama abang.” Ucap Key.
“Yaampun Key! Jadi kamu sampai seperti ini demi kartu timezone?!” teriak Lana sampai Key menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
Supir taxi yang mengantar mereka hanya bisa melihat tingkah mereka dari kaca spion dan menggelengkan kepalanya.
“Sudah sampai nona-nona.” Ucap supir taxi tersebut.
“Ah sudah sampai, baiklah ini pak kembaliannya ambil saja terimakasih.” Ucap Key lalu menarik Lana keluar dari mobil.
Supir taxi melihat 5 lembar uang seratus ribuan yang di berikan oleh Key dengan mata yang berbinar dan bersyukur karena ada orang baik yang memberinya rejeki lebih lalu menancap gas mobilnya untuk kembali mencari penumpang.
Key dan Lana sudah ada di dalam lobby, mereka terkagum melihat interior design yang tertata di ruangan itu.
“Wah, ini sangat indah. Berbeda dengan perusahaan abang yang hanya berwarna abu-abu dan hitam.” Gumam Key.
Key berjalan menuju receptionist sedangkan Lana duduk di sofa yang ada di lobby untuk menunggu sahabatnya.
“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tanya receptionist itu.
“Ah, saya ingin bertemu dengan CEO perusahaan ini..” ucap Key.
Receptionist tersebut menatap penampilan Key dari atas hingga bawah, mereka melihat ada kemewahan di setiap barang yang Key gunakan.
“Ada apa? Kenapa kalian melihat saya seperti itu?” tanya Key sambil mengerutkan keningnya.
“Ah maaf, kalau boleh tau anda siapanya CEO kami?”
Key berfikir sejenak dan mengingat jika Bernard menyuruhnya untuk bilang jika dia adalah wanitanya, namun Key tersenyum sinis memikirkan hal lain.
“Saya adalah keponakannya, dan saya ingin bertemu dengan om saya segera karena ada masalah keluarga yang belum terselesaikan.” Ucap Key dengan nada yang di manjakan.
Receptionist terkejut mendengar jika CEO perusahaan merekasudah memiliki keponakan yang sangan imut dan cantik itu. Karena tidak melihat ada yang aneh dari Key, akhirnya receptionist tersebut menghubungi asisten pribadi Bernard.
“Halo, ada apa?” tanya Jonathan.
“Ada seorang wanita yang ingin beremu dengan tuan Bernard.”
“Siapa?”
“Entahlah, dia hanya bilang kalau dia adalah keponakan tuan Bernard.”
“Keponakan!?”ucap Jonathan bingung lalu langsung mematikan telfonnya.
Di sisi lain, Jonathan yang baru saja menerima telfon segera masuk kembali ke dalam ruangan dan memberi tau kabar ini kepada atasannya.
“Tuan, ada seorang wanita yang mengaku sebagai keponakan tuan ingin bertemu.” Ucap Jonathan.
“Keponakan? Aku tidak memiliki keponakan Jo.” Tegas Bernard.
Jonathan ingin kembali menelfon receptionist itu dan ingin bilang jika itu bukan keponakan tuan Bernard.
“Tunggu jo!” teriak Bernard.
Jonathan segera berhenti dan membalikkan badannya setelah mendengar teriakan atasannya.
“Ada apa tuan?”
“Baik tuan.” Tegas Jonathan lalu menghubungi receptionist kembali untuk menyuruh wanita itu masuk.
“*Sial! Aku menyuruhnya mengatakan jika dia adalah wanitaku, tapi dia malah bilang jika dia adalah keponakanku!? Berani sekali dia*!” ketus Bernard di dalam hati namun dengan senyum yang menghiasi wajahnya, dia tidak menyangka aka nada wanita yang tidak tertarik kepadanya.
Di lobby, receptionist yang baru saja di telfon kembali oleh Jonathan akhirnya menyuruh Key naik ke lantai atas untuk bertemu dengan CEO perusahaan.
Key masuk ke dalam lift dengan perasaan tenang, dia sudah tidak gugup lagi karena dia dan sahabatnya sudah memiliki rencana yang matang jika sesuatu terjadi.
Key yang sudah berada di depan pintu ruangan CEO tiba-tiba saja kembali menjadi gugup. Key berusaha untuk menenangkan diri dan menarik nafas panjangnya.
“*Ayo Key, jangan takut karena ada Lana yang akan membantumu jika terjadi sesuatu. Aku bisa mengandalkan Lana bukan*?” batin Key lalu akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
“Masuk!” perintah orang yang ada di dalam.
Dengan perasaan was-was, akhirnya Key masuk ke dalam ruangan itu dan mencari keberadaan om-om yang bertemu dengannya saat itu.
“Kemana om-om itu? Bukankah tadi dia menyuruhku masuk? Tapi kenapa tidak ada siapa-siapa di sini? Jangan-jangan tadi yang berbicara itu hantu!” gumam Key yang tiba-tiba menjadi ketakutan.
Key memberanikan diri untuk masuk lebih dalam ke ruangan itu dan melihat ada seseorang berada di balkon sendirian.
“P,,permisi om?” ucap Key dengan ragu.
Bernard yang dipanggil om itu kesal dan akhirnya membalikkan badannya, betapa gagah dan tampannya Bernard saat itu, hingga membuat Key tidak percaya jika laki-laki yang berdebat dengannya waktu di café adalah laki-laki yang sama dengan yang sekarang sedang dia lihat.

“Selamat datang gadis kecil.” Ucap Bernard dengan senyum liciknya.
“K,,kamu! Mana dompetku!?”
“Wah, kamu ternyata tidak sabaran sekali. Duduklah dulu, kita perlu berbicara!” ucap Bernard.
“Tidak perlu! Aku tidak memiliki waktu untuk duduk dan berbicara dengan om-om sepertimu!” ketus Key.
“Aku kan sudah bilang jangan panggil aku om!” bentak Bernard yang semakin kesal karena dipanggil om oleh Key.
“Lalu aku harus memanggilmu apa? Kakek buyut?” tanya Key dengan polosnya.
Bernard hanya tertawa tidak menyangka dengan apa yang sedang di hadapinya itu.
“Sebenarnya makhluk apa kamu ini ha?!” ucap Bernard.
“Apa kamu bilang? Makhluk? Kamu fikir aku ini setan atau binatang ha?!”
“Duduklah jika ingin dompetmu kembali!” tegas Bernard.
Akhirnya Key menuruti perintah Bernard untuk duduk di kursi karena Key takut jika dirinya semakin memancing emosi laki-laki di hadapannya, laki-laki itu akan beruat yang tidak-tidak kepadanya.
“Minumlah!” ucap Bernard sambil menyodorkan minuman kepada Key.
“Apa minuman ini sudah di campur obat tidur? Atau racun sianida?” selidik Key dengan mata tajamnya.
“Ha? sepertinya kamu terlalu baca novel dan melihat berita sampai kamu berfikir seperti itu!” ucap Bernard tersenyum melihat tingkah polos Key.
“Sudahlah tidak usah basa-basi, sebenarnya apa maumu!? Aku yakin kamu tidak membutuhkan uang bukan melihat beapa besarnya perusahaanmu!” ucap Key.
“Hm, ternyata kamu pintar juga! Aku ingin membuat kesepakatan denganmu!” ucap Bernard secara tiba-tiba.
“Kesepakatan apa?” tanya Key curiga.
“Ikutlah aku ke Jepang untuk bertemu kedua orang tuaku! Aku akan mengenalkanmu sebagai pacarku agar orang tuaku tidak menjodohkanku dengan wanita pilihannya!” ucap Bernard.
Key yang mendengar ucapan Bernard itu terkejut dan tidak menyangka jika laki-laki di hadapannya membuat kesepakatan murahan seperti itu, dan akhirnya Key tertawa terbahak-bahak dan membuat Bernard merasa aneh dengan Key.
“Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?” tanya Bernard.
“Apa kamu serius dengan ucapan om barusan?” tanya Key.
“Tetu saja serius! Sekali lagi jangan panggil aku om!” tegas Bernard.
“Oke oke aku tidak akan memanggilmu om.”
“Kenapa kamu tertawa?”
“Karena aku tidak menyangka jika laki-laki kaya raya dan wajah yang cukup lumayan itu tidak bisa mendapatkan wanita sampai harus di jodohkan oleh orang tuanya hahaha..” ucap Key dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.

“*Sialan gadis ini! apa dia tidak tau jika aku adalah laki-laki yang selalu menjadi rebutan para wanita-wanita cantik di luar sana*!” ketus Bernard di dalam hatinya.