
Jangan membenci siapapun, tidak peduli berapa banyak mereka bersalah padamu. Hiduplah dengan rendah hati, tidak peduli seberapa kekayaanmu.
Kenan mengantar Belinda ke apartment Belinda, Kenan membaringkan tubuh Belinda di atas tempat tidurnya dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang tebal.
“Apa kamu baik-baik saja Belinda?” tanya Kenan.
“Aku baik-baik saja Kenan, kamu pergilah dan istirahat.” Ucap Belinda dengan nada yang lemah.
“Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini, aku akan menunggu sampai Bernard datang.” tegas Kenan.
Kenan melangkahkan kakinya untuk pergi dari kamar Belinda, namun langkahnya terhenti karena Belinda memanggil namanya.
“Kamu mau kemana Kenan?” tanya Belinda.
“Aku mau memasak sesuatu untukmu, aku tau kalau dari tadi kamu belum makan apapun.” Ucap Kenan.
“Apa kamu bisa memasak? Kenapa aku tidak mengetahui hal itu?” tanya Belinda.
“Kamu ini jangan meragukanku! Aku ini serba bisa loh, kamu akan semakin terpesona denganku setelah mengetahui semua hal yang bisa aku lakukan.” Ucap Kenan dengan bangga.
“Iya memang kamu benar, dengan kamu yang begini saja sudah bisa membuatku terpesona, apalagi kalau kamu mengeluarkan semua hal yang kamu bisa, mungkin aku akan tergila-gila.” Jawab Belinda sambil tersenyum manis.
“Tentu saja harus, aku akan membuatmu hanya melihat ke arahku saja dan tidak aka nada kesempatan untukmu mengagumi laki-laki lain.” Canda Kenan yang membuat Belinda yang sedang pucat dan lemas itu tertawa.
“Kenapa ga dari tadi sih ketawa kayak gitu? Kamu tau ga, kalau kamu itu cantik banget pas lagi ketawa.” Puji Kenan.
“Kenan, duduklah dulu, ada yang mau aku bicarakan denganmu.” Ucap Belinda.
Kenan yang sudah ada di ambang pintu, segera menghampiri Belinda dan duduk di atas tempat tidurnya.
“Ada apa sayang?” tanya Kenan.
“Jangan memanggilku begitu, aku tidak terbiasa dengan sebutan itu.” Protes Belinda.
“Kenapa? Kita akan menikah, dan aku mau kita saling memanggil dengan sebutan ‘sayang’ satu sama lain.” Ucap Kenan.
“Apa kamu benar-benar menyukaiku Kenan?” tanya Belinda.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu Belinda? Tentu saja aku sangat menyukaimu!” tegas Kenan.
“Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Apapun itu.” Tanya Belinda lagi.
“*Tolong jawab jujur Kenan, tolong bilang kalau kamu pernah menjenguk Diana di rumah sakit, tolong*.” Batin Belinda sambil menatap Kenan dengan penuh harap.
“Kenapa kamu nanya gitu sayang? apa ada sesuatu yang membuatmu merasa kalau aku sedang menyembunyikan sesuatu?” tanya Kenan.
Mendengar Kenan yang justru memberinya pertanyaan kembali bukannya memberikan jawaban membuat Belinda menghela nafas panjang.
“Tidak ada, sudahlah kamu memasak saja aku sudah lapar.” Ucap Belinda.
“Baiklah, kamu harus beristirahat, aku akan memasak dengan cepat.” Ucap Kenan.
Ucap Kenan yang tersenyum sambil membelai rambut panjang Belinda dengan lembut lalu pergi meninggalkan Belinda di kamarnya sendiri.
“Oke, ga apa-apa Belinda, mungkin Kenan belum siap untuk menceritakan semuanya, aku yakin Kenan tidak akan melakukan hal yang akan menyakiti perasaanku.” Gumam Belinda yang mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
Belinda menghirup wangi masakan yang di buat oleh Kenan untuknya, Belinda segera bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri Kenan yang sedang berada di dapur.
“*Dia benar-benar terlihat sempurna, wanita mana yang tidak akan tergoda olehnya*.” Ucap Belinda pada dirinya sendiri.
Kenan sudah selesai memasak makanan untuk Belinda, saat dirinya berbalik untuk menaruh makanan di atas meja, dia melihat Belinda yang sedang menatapnya.
“Kamu ngapain di sana? Bukannya aku udah nyuruh kamu istirahat?” tanya Kenan.
“Aku udah laper banget nyium bau makanan yang kamu masak.” Ucap Belinda.
Mendengar ucapan Belinda, Kenan langsung menghampirinya dan menuntunnya duduk di kursi makan.
“Ini semua spesial aku siapin buat kamu, jadi kamu harus banyak makan lalu istirahat.” Ucap Kenan.
Belinda makan dengan sangat lahap hingga membuat Kenan tersenyum senang melihat Belinda menyukai makanan yang di buatnya.
“Sesuka itu kamu sama masakan aku?” tanya Kenan.
“Hem, ini enak banget serius deh, kayaknya kamu lebih baik jadi koki daripada CEO.” Ejek Belinda.
“Kalau bisa ngerjain keduanya kenapa engga? Aku bisa jadi CEO tampan dan koki hebat sekaligus.” Jawab Kenan.
“Itu namanya rakus tau!” protes Belinda yang membuat Kenan tertawa mendengarnya.
Drtt..drrtt..
Bunyi hp Belinda membuat Kenan dan Belinda yang sedang mengobrol di meja makan terkejut.
“Hp kamu di mana? Aku yang ambilin.” Ucap Kenan.
“Ada di tasku di kamar, minta tolong ya Kenan.” ucap Belinda.
Kenan segera mengambil tas Belinda yang berada di kamar dan memberikannya kepada Belinda. Belinda segera mengambil hpnya dan segera mengangkatnya setelah mengetahui kalau itu adalah telfon dari Key.
“Halo Key, ada apa?” tanya Belinda.
“Kak? Apa kak Belinda sudah baik-baik saja?” tanya Key dari sebrang telfon.
“Aku sudah baik-baik saja Key, aku juga sudah makan masakan abangmu.” Jawab Belinda.
“Ah jadi abang udah nunjukin kemampuan memasaknya? Boleh minta tolong kasih hpnya ke abang kak? Key mau ngomong sama abang.” Ucap Key.
Belinda segera memberikan hpnya kepada Kenan tanpa mengucapkan apapun lagi, Kenan segera mengambil hp Belinda dan berbicara dengan Key.
“Ada apa Key?” tanya Kenan.
“Pertama, hp dan tas abang sudah aku bawa pulang jadi abang tidak usah memikirkannya, kedua, abang ajak kak Belinda kerumah, karena kita akan menjemput Ken bersama nanti.” Ucap Key.
“Ken sudah pulang? Apa dia sudah menyelesaikan kerja sama dengan perusahaan C?” tanya Kenan yang tidak percaya dengan apa yang di bicarakan oleh adiknya.
“Aku juga ga tau masalah itu, intinya dia sudah berada di pesawat. Mami menyuruh om beruang untuk ikut menjemput Ken, itulah kenapa aku menyuruh abang membawa kak Belinda ke rumah.” Jelas Key.
“Baiklah, aku akan membawa Belinda ke rumah setelah dia menyelesaikan makannya.” Ucap Kenan yang langsung mematikan telfonnya.
“Ken sudah pulang? Benarkah itu?” tanya Belinda setelah Kenan menaruh hpnya di atas meja.
“Iya, mami menyuruhku untuk membawamu ke rumah karena Bernard di suruh ikut menjemput Ken, mami khawatir kalau kamu di tinggal di apartment sendirian.” Jelas Kenan.
“Baiklah, aku akan segera mengganti pakaianku, aku akan ikut menjemput Ken di bandara.” Ucap Belinda dengan semangat.
Kenan yang melihat Belinda sudah berdiri sebelum menghabiskan makanannya langsung menahan tangannya.
“Stop sayang! kamu harus menghabiskan makananmu lebih dulu.” Tegas Kenan.
“Tapi Kenan, aku tidak mau sampai kita terlambat untuk menjemput Ken di bandara.”
“Tidak akan terlambat, jarak dari Paris ke Indonesia itu jauh sayang, jadi kamu masih sempat untuk menghabiskan makananmu dan bersiap, oke?” ucap Kenan mencoba untuk meyakinkan Belinda.
Melihat wajah Kenan yang sudah mulai kesal membuat Belinda pasrah dan menuruti perintah Kenan untuk kembali duduk dan menghabiskan makanannya.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, Belinda segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, sedangkan Kenan membereskan bekas piring kotor di atas meja makan.
“Kamu mandi?” tanya Kenan yang melihat Belinda baru saja keluar dari dalam kamarnya.
“Tentu saja aku mandi! Masa iya aku mau ketemu sama calon mertua ga wangi sih.” Ucap Belinda.
“Tapi kamu lagi sakit sayang! kenapa kamu malah mandi? Tanpa mandi juga kamu tetap wangi kok.” Ucap Kenan.
“Kenan, jangan marah-marah untuk hari ini oke? Kita akan menjemput adikmu, jadi jangan buat mood kita berdua jadi jelek saat mau bertemu dengannya.” Ucap Belinda mencoba untuk membuat Kenan tidak marah.
Akhirnya Kenan mengalah dan menggandeng tangan Belinda untuk mengajaknya ke rumah keluarganya.