
Rumah Robert.
“Kamu kenapa diam saja di dalam kamar Rey? Kamu sakit?” tanya Hani kepada anak sematawayangnya yang sejak pernikahan Ken hanya mengurung diri di dalam rumah.
“Engga sakit kok ma, Rey hanya bosan ma biasanya Ken akan mengajak Rey bermain tapi sekarang dia bahkan tidak menghubungiku!” keluh Rey kepada mamanya.
Hani tersenyum mendengar keluhan anaknya itu, dia segera menghampirinya dan duduk di tepi tempat tidur anaknya.
“Sayang, Ken sudah menikah sekarang bahkan baru menikah, tentu saja dia akan sibuk dengan istrinya, mereka sedang proses menyesuaikan diri jadi butuh waktu yang cukup lama.” Jelas Hani.
“Huh! Aku tidak usah menikah saja kalau hanya menyusahkan!” ketus Rey.
“Hus! Ngawur kamu ini! jangan bicara seperti itu karena mama ingin melihatmu menikah dan memiliki anak yang menggemaskan!”
“Mama yakin kamu akan bertemu dengan perempuan yang baik sayang, sekarang kamu lebih baik bermainlah! Kamu bisa ke rumah papi Kalandra, mama khawatir kalau kamu hanya diam di rumah nanti kamu jadi gila lagi.” Ejek Hani.
“Ma! Mama ngatain Rey gila?”
“Hehehe, tidak sayang mama hanya bercanda saja kok.”
“Rey mau ke apartment Ken saja mau bermain dengannya!”
“No Rey! Kalau mau mengganggu mereka kamu tidak akan memiliki keponakan yang lucu nanti!” cegah Hani.
“Huh mama,, baiklah Rey akan berjalan-jalan keluar saja siapa tau ketemu jodoh!” ucap Rey sambil berjalan keluar kamarnya.
“Ingat jangan mengganggu saudaramu Rey!” teriak Hani mengigatkan anaknya kembali.
Rey hanya menghela nafas panjang dan keluar rumahnya dengan malas, dia tidak mendengarkan peringatan mamanya dan mengambil hpnya untuk menghubungi Ken.
“Halo Ken, kamu sedang apa?” tanya Rey.
“Aku sedang di apartment, kenapa Rey?”
“Apa kamu tidak merindukanku? Kamu ini betah banget di apartment!”
“Tentu saja aku betah, kamu akan merasakannya jika kamu sudah menikah nanti!”
“Cih! Sepertinya kamu sudah mulai mencintai Andini ya!”
“Hahaha kamu tidak tahu bagaimana rasanya Rey! Kamu juga akan menyukai Elsa suatu saat nanti.”
“Diamlah! Kenapa jadi kamu membicarakan Elsa? Aku tidak percaya cinta!” ketus Rey lalu mematikan telfonnya.
“Cih! Kenapa harus membicarakan Elsa terus sih! Aku tidak akan menyukai apa lagi mencintai anak manja itu!” gumam Rey setelah menutup hpnya.
Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah papi Kalandra, Rey yang baru saja memasuki halaman rumah papi Kalandra langsung mengerutkan keningnya melihat ada mobil Ryan dan Rose yang terparkir rapih di halaman.
“Kenapa ada mobil om Ryan di sini? Jangan-jangan ada Elsa di dalam? Ah malas sekali rasanya aku harus masuk dan melihat anak manja itu! Padahal aku bersyukur karena akhir-akhir ini kita sudah tidak pernah bertemu!” ketus Rey yang sudah mengambil ancang-ancang untuk memutarbalik mobilnya namun tiba-tiba Belinda keluar rumah dan melihat mobil Rey yang baru saja datang.
“Rey!!” teriak Belinda.
“Aduh! Alamat ga bisa kabur ini sih!” gumam Rey yang sedang keluar dari mobil karena di panggil oleh Belinda.
“Hai kak Belinda!” sapa Rey yang baru keluar dari mobilnya sambil melambaikan tangan.
“Kamu sepertinya tadi mau putar balik, kenapa?” selidik Belinda.
“Ah masa sih kak? Engga kok.”
“Awas kalau kamu berbohong! Dosa loh berbohong sama orang hamil.” Ketus Belinda.”
“Yaampun kak, emang ya susah musuh orang hamil!” ucap Rey sambil menepuk keningnya.
“Sudahlah! Ayo masuk ke dalam, di dalam ada Bernard, Key dan Elsa, kamu sudah lama sekali tidak kemari semenjak Ken menikah!” ucap Belinda.
“Halah lebay kamu Rey! Di sini masih ada Key dan Elsa yang masih menemanimu.”
“Beda lah kak, mereka perempuan sedangkan aku laki-laki.”
Belinda tidak melanjutkan ucapannya karena tidak ingin memperpanjang perdebatannya dengan Rey yang sudah dia anggap sebagai adiknya juga.
“Oh iya kak, abang sudah mulai bekerja di rumah sakit ya?” tanya Rey.
“Hm, dia sudah mulai bekerja di rumah sakit kembali.”
“Pasti abang senang sekali karena dia bisa memenuhi impiannya lagi, lalu bagaimana dengan perusahaan?” Ucap Rey.
“Perusahaan untuk saat ini akan di pegang oleh asistent pribadinya, papi Kalandra, Ken dan dia juga akan mengajari Alya untuk menjadi pengusaha nantinya.” Jelas Belinda.
“Alya? Tapi dia masih kecil kak.”
“Kan aku bilang nanti, sekarang tidak mungkin dia menjadi pengusaha, yang ada ruangan abangmu akan hancur lebur seperti kapal pecah hihihi.” Ucap Belinda sambil terkekeh.
Obrolan mereka terhenti saat Rey melihat Elsa yang sedang duduk sambil tertawa dengan yang lainnya.
“Ujung-ujungnya aku bertemu lagi dengan perempuan manja itu!” gumam Rey di dalam hatinya dengan malas.
Elsa yang tadinya ceria langsung diam seketika dia melihat Rey masuk ke dalam untuk menyapa semuanya.
“Sudah dua minggu aku berusaha melupakannya dan sekarang aku melihatnya kembali, tapi kenapa jantungku masih tetap saja berdetak kencang! Ayo Elsa kamu pasti bisa menahan perasaanmu, ingatlah kalau laki-laki sepertinya hanya akan membuatmu patah hati.” Gumam Elsa di dalam hatinya.
Rose yang mengetahui tentang perasaan anaknya kepada Rey dan juga perjuangannya untuk menghindari Rey segera melihat wajah anak perempuannya itu dan menggenggam tangannya.
“Sayang, kamu tidak apa-apa?” tanya Rose.
“Tidak apa-apa ma, Elsa bisa melewati ini!” ucapnya dengan yakin.
Rose tersenyum mendengar jawaban anak perempuannya, setidaknya walaupun sebenarnya masih ada sedikit kekhawatiran di dalam hatinya namun Rose berusaha untuk mempercayai keyakinan anaknya.
“Hai semuanya, maaf karena Rey sudah lama tidak mengunjungi kalian semua.” Ucap Rey dengan sopan.
“Duduklah Rey, mami tahu kalau kamu pasti sangat merasa kehilangan Ken ya? kamu tenang saja, Ken akan mulai bekerja besok jadi kamu bisa menemuinya di perusahaan.” Ucap mami Khansa.
“Benarkah mi?! asikk,, Rey bisa bertemu dengan Ken dan menceritakan banyak hal kepadanya.” Seru Rey.
“YaAllah, kenapa engkau jahat sekali membuat makhluk ciptaanmu yang ada di hadapanku ini terlalu sempurna untuk ku gapai.” Batin Elsa yang terpaku melihat senyuman Rey.
“Segitunya banget kalau ngeliatin! Katanya sudah mau melupakan.” Ejek Rose dengan nada berbisik.
“Stt,, mama jangan ngomong begitu, nanti kalau dia dengar bagaimana?” balas Elsa namun Rose hanya menggelengkan kepalanya saja.
“Apa kamu mau pulang saja?” tawar Rose.
“Tidak ma, Elsa mau menunggu kak Key selesai beristirahat dan kami akan pergi ke apartment kak Ken untuk mengunjungi mereka.” Jelas Elsa.
“Sayang! kalian tidak boleh mengganggu mereka, mereka berdua pasti masih kelelahan sayang..” ucap Rose.
“Tidak apa ma, kak Andini sendiri kok yang mengajak kami bermain di sana.”
“Benarkah? bagaimana bisa? Bukankah dia di temani oleh Ken, kakakmu akan marah pada kalian berdua jika kalian mengganggunya!”
“Kak Andini bilang kalau bermain dengan kak Ken sangat melelahkan, berbeda kalau bermain dengan kita!” ucap Elsa dengan polosnya membuat kedua mata Rose terbuka lebar.
Elsa tidak menyadari jika dari tadi ada seseorang yang menatapnya dari kejauhan, orang itu tidak lain adalah Rey, tidak tahu kenapa tapi rasanya mata Rey hanya ingin melihat wajah Elsa saja.
“Kenapa aku merasa ada yang berbeda dari penampilan Elsa, tapi apa ya..?” gumam Rey yang tetap menatap Elsa yang masih mengobrol dengan mamanya.
“Ah apa-apaan kamu ini Rey! Bagaimana bisa kamu memperhatikan anak manja itu, yang ada dia malah ke pedean lagi dan mengira kalau aku menyukainya!” lanjut Rey di dalam hatinya