
Tidak ada seorang pun yang bisa kembali ke masa lalu dan memulai awal yang baru lagi. Tapi semua orang bisa memulai hari ini dan membuat akhir yang baru.
Tepat pukul 5 pagi Andini terbangun dari tidurnya, Andini segera turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya.
"Aku mau sholat tapi aku tidak tau apakah Ken memiliki mukenna di sini." gumam Andini.
Andini memutuskan untuk pergi ke kamar yang ada di sebelah untuk bertanya kepada Ken.
"Ken.." panggil Andini sambil mengetuk pintu kamarnya.
Ken yang ada di dalam kamarnya mendengar panggilan Andini dari luar, Ken segera beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Din?" Tanya Ken dengan muka bantalnya.
"Em,, aku ingin bertanya apakah kamu memiliki mukenna di sini?" Tanya Andini.
"Kamu mau sholat? Kita sholat bareng aja, aku juga belum sholat, aku akan ambilkan mukenna mami yang ada di sini sebentar." ucap Ken.
Andini yang mendengar hal itu langsung terkejut, hatinya berdetak dengan kencang mendengar Ken mengajaknya sholat bersama.
"*M-maksudnya Ken yang jadi imam kan*?" batin Andini.
Tidak lama kemudian, Ken kembali dengan mukenna di tangannya dan memberikannya kepada Andini.
"Ini pakailah, aku mau mengambil wudhu dulu." ucap Ken.
"Kita sholat di mana?" Tanya Andi.
"Di dekat ruang tv ada tempat untuk sholat, kita akan sholat di sana." Ucap Ken.
"Sejak kapan di apartment ada ruangan untuk sholat?" Tanya Andini.
Mendengar ucapan Andini membuat Ken tersenyum ke arah nya.
"Walaupun keluargaku tidak sempurna, tapi mereka mewajibkan anak-anaknya untuk sholat, itulah kenapa di setiap apartment milik kami orang tuaku membuatkan ruangan sendiri untuk sholat." jelas Ken.
"Wah hebat sekali, jadi keluargamu tidak pernah meninggalkan sholat ya?"
"Insyaallah tidak pernah, walaupun kami sedang di jalan pun kami menyempatkan untuk berhenti dan mencari tempat sholat." Ucap Ken.
"Aku iri sekali! Aku akan menyiapkan semuanya dulu ya." ucap Andini dan di balas anggukan oleh Ken.
Andini melihat ke setiap sudut apartment Ken, semua tertata dengan rapi dan bersih membuat Andini nyaman berada di sana.
Tidak lama kemudian Ken datang dengan sarung yang sudah terlilit di perutnya.
"Tampan sekali." gumam Andini.
"Sudah siap? Ayo kita sholat berjamaah."
Akhirnya mereka berdua sholat berjamaah dengan khusyuk layaknya pasangan suami istri.
Setelah selesai sholat mereka berdoa masing-masing, Ken menghadap ke belakang sambil mengulurkan tangannya.
"Kamu ngapain?" Tanya Andini.
"Kamu ga mau mencium tanganku?" Tanya Ken.
"Untuk apa? Kita seumuran tau!" ketus Andini.
"Anggap saja latihan, aku kan calon suamimu!" ucap Ken.
"Siapa yang mau menjadi istrimu?"
"Kamu! Kamu kan bilang kalau aku harus memikirkannya, dan aku sudah memikirkannya sekarang." ucap Ken.
Ken berbalik arah dan duduk menghadap Andini, Ken memegang kedua tangan Andini hingga membuat Andini terkejut.
"Ken kamu apaan sih!" Ucap Andini yang berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Ken.
"Diamlah Andini aku ini ingin bicara serius denganmu." ucap Ken.
Akhirnya Andini diam dan mendengarkan ucapan Ken.
"Kamu ga penasaran kenapa aku bisa kembali ke rumahmu malam itu?" Tanya Ken.
"Emangnya kenapa?" Tanya Andini.
"Karena di tengah jalan aku sudah memantapkan hatiku untuk menikah denganmu dan aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu walaupun Audrey atau siapapun kembali." ucap Ken dengan wajah yang serius.
"Maka dari itu Andini, menikahlah denganku jadilah istriku untuk selamanya, aku tau pernikahan kita berawal dari kesalahan tapi aku ingin menjadi laki-laki yang bertanggung jawab atas dirimu." tegas Ken.
Andini yang mendengar ucapan Ken langsung meneteskan air mata, menurutnya kata-kata itu adalah kata-kata terindah yang pernah di dengar olehnya.
"Kenapa kamu menangis? Apa kamu tidak ingin menikah denganku?" Tanya Ken sambil mengusap air mata di pipi Andini.
"Aku memiliki perusahaan sendiri, jadi kamu tidak perlu takut kekurangan apapun, kamu boleh membeli apapun yang kamu sukai, aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan." ucap Ken.
"Aku tidak ingin apapun, aku hanya ingin keluarga kecil yang bahagia." ucap Andini.
Ken segera memeluk tubuh Andini, Ken senang karena Andini sudah mau menerimanya.
"Aku akan memberitahu papi dan mami tentang hal ini, aku yakin mereka akan senang mendengarnya." Ucap Ken.
Andini tersenyum menatap Ken yang bersemangat untuk memberitahu kedua orang tuanya.
"Terimakasih ya Allah, di balik kesalahan yang engkau berikan aku mendapatkan laki-laki yang baik dan bertanggung jawab." gumam Andini.
Andini segera merapihkan semua alat sholatnya lalu pergi ke dapur untuk memasak sarapan untuknya dan Ken.
Saat Andini sedang asik memasak, Ken sudah duduk di meja makan menatap Andini yang sedang fokus memasak hingga tidak menyadari keberadaan Ken
"Bolehkah aku bertanya?" Tanya Ken tiba-tiba hingga membuat Andini terkejut.
"Yaampun Ken! Kamu ga bisa apa kalo gabbikin jantungan?" Tanya Andini.
"Maaf Din, kamu ga apa-apa kan?" Tanya Ken
"Aku tidak apa-apa, kamu mau bertanya apa?" Tanya Andini.
"Kenapa ayahmu bisa di tangkap polisi? Dan kenapa wajahmu penuh luka?" Tanya Ken.
Mendengar pertanyaan Ken membuat Andini mematikan kompornya dan duduk di kursi yang ada di hadapan Ken.
**Flashback**
Saat Andini baru saja masuk ke dalam rumah, Andini melihat ayahnya yang sedang meminum minuman beralkohol.
"Yaampun ayah, sampai kapan ayah akan mabuk seperti ini?" Tanya Andini sambil menarik botol minuman yang ada di tangan ayahnya.
"Diam kamu! Kenapa kamu kembali ha!? Kenapa kamu tidak menjual tubuhmu saja agar bisa memberiku uang yang banyak!" Teriak ayahnya.
"CUKUP AYAH CUKUP! AKU LELAH DENGAN PERLAKUAN AYAH PADAKU!" Bentak Andini.
Ayah Andini yang mendengar Andini membentaknya langsung memukul wajah Andini.
"Dasar anak kurang ajar! Aku sudah mengurusmu selama ini, aku seperti ini karena aku ingin membahagiakan kamu dan ibumu!"
"Tidak! Ayah seperti ini karena keserakahan ayah sendiri, aku dan ibu tidak membutuhkan uang yang banyak, aku senang selama kami bertiga bersama seperti dulu! Kenapa ayah melakukan itu? Kenapa ayah mengkhianati perusahaan tuan Kalandra kenapa yah? hikss.." tanya Andini sambil menangis.
"Selama ini aku membenci keluarga mereka karena menurutku merekalah yang membuat keluarga kita hancur, tapi ternyata aku sudah membenci keluarga yang salah! Ayah lah yang membuat keluarga kita hancur! ayah yang membuat ibu mati!" teriak Andini.
Plak! Ayah Andini memukul kembali wajah Andini berkali-kali, bahkan ayah Andini membanting botol minumannya hingga pecah dan serpihan kacanya terpantul mengenai wajah Andini.
Saat itu kebetulan ada tetangga yang melewati rumah Andini dan segera menelfon polisi, itulah yang membuat ayah Andini di tangkap oleh polisi.
**Flashback End**
"Apa kamu sering mendapatkan kekerasan seperti itu dari ayahmu?" Tanya Ken.
"Hampir setiap hari, tapi kemarinlah yang terparah, mungkin karena aku mengungkit masalah perusahaan papimu." ucap Andini.
"Apa kamu menikahiku karena kasihan?" Tanya Andini.
"Awalnya aku ingin menikahimu karena kesalahan yang sudah aku perbuat, tapi saat pertama kali aku melihat perlakuan ayahmu kepadamu tiba-tiba saja aku memiliki rasa ingin melindungimu." jelas Ken.
Drrtt,, drrtt
Hp Ken berbunyi hingga membuat Ken dan Andini melihat ke arah hp Ken.
"Ini mami, dia pasti ingin berbicara denganmu." ucap Ken.
"Tapi Ken, apa yang harus aku bicarakan dengan mami kamu?" Tanya Andini.
Tanpa memperdulikan ucapan Andini Ken langsung mengangkat telfon maminya dan memberikan hpnya kepada Andini
"Aku sudah mengangkatnya, bicaralah." ucap Ken sambil memberikan hpnya kepada Andini.
Dengan gugup Andini mengambil hp yang di berikan oleh Ken.
"H-halo tante.." sapa Andini.
"Hai sayang, mulai hari ini kamu harus memanggilku mami oke? Nanti sore Ken akan mengantarmu ke butik Key, Key akan membuat gaun istimewa untuk hari pernikahan kamu." Ucap mami Khansa.
"Ah, b-baiklah tan, eh mami terimakasih banyak karena mau menerima Andini menjadi bagian dari keluarga kalian." ucap Andini.
"Tidak perlu berterimakasih, mami yang berterimakasih karena kehadiranmu membuat Ken menjadi lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab." ucap mami Khansa.
"Baiklah kalau begitu mami matikan dulu ya, jangan lupa minta antar Ken ke butik milik Key." ucap mami Khansa lalu mematikan telfonnya.
Andini tersenyum menatap hp yang ada di tangannya, dia bersyukur karena akan mendapatkan keluarga yang sangat baik dan menyayanginya.