MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
MASALAH SELESAI


Jika kamu bertemu seseorang yang senyumnya mampu membuat dirimu tersenyum, kamu mungkin telah menemukan orang yang tepat untuk hidupmu.



Tengah malam di rumah Kalandra, Khansa terbangun dari tidurnya lalu melihat jam yang masih menunjukkan pukul 00.30 malam.



Khansa menoleh ke sebelahnya tidak menemukan suaminya, Khansa turu dari tempat tidurnya untuk mencari keberadaan suaminya di kamar anak-anaknya namun tidak ada.



“Mas, Andra di mana sih?” gumam Khansa.



Akhirnya Khansa memutuskan untuk turun ke bawah dan mencari keberadaan suaminya di bawah. Setelah sampai di ambang pintu dapur, ia melihat Kalandra duduk di sana sambil memutar gelas berisi teh tersebut.



Khansa menghampiri suaminya itu dan mengambil gelas yang di pegangnya secara tiba-tiba hingga membuat Kalandra terkejut.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1608169152090.jpg)



“YaAllah sayang, kamu ini udah kayak mbak kunti aja deh tengah malem dateng rambut acak-acakan, terus ngagetin orang!” ucap Kalandra sambil memegangi dadanya.



“Ih kamu ngatain aku kayak kunti mas?” tanya Khansa sambil memanyunkan bibirnya.



“Hehehe enga sayang, aku bilang malaikat kok tadi.” ucap Kalandra berbohong.



“Terserahlah, toh kunti sama malaikan sama-sama udah matinya mas!” ketus Khansa sambil duduk di hadapan suaminya.



“Mas, kita harus berbicara tentang Kenan bukan?” ucap Khansa.



“Apa yang mau di bicarakan sayang?” tanya Kalandra heran.



“Apa Kenan selalu seperti itu mas?”



“Seperti itu yang kayak gimana?”



“Apa dia memang tidak pernah bermain dengan teman-teman di kelasnya?” tanya Khansa.



“Aku juga tidak tau sayang, dulu aku hanya sibuk bekerja tanpa memikirkan Kenan di sekolahnya.”



Khansa hanya menghela nafas panjang mendengar ucapan suaminya itu.



“Bagaimana caraku membuat Kenan mau untuk bersosialisasi ya mas? Karena setauku anak yang sulit berinteraksi dengan teman seusianya akan menimbulkan masalah kedepannya.” Ucap Khansa.



“Apa kita harus membawanya ke dokter spesialis sayang?” tanya Kalandra.



“Aku akan bertanya kepadanya lebih dulu mas, aku tidak ingin membawa anakku ke dokter spesialis padahal dia tidak apa-apa.”



“Bukankah biasanya kamu selalu bisa mengatasi masalah Kenan?” tanya Kalandra.



“Iya mas, tapi ini beda. Aku sulit mengatasinya karena aku tidak paham dengan akar permasalahannya.”



“Aku akan menyuruh orang-orangku untuk menyelidiki hal ini sayang, kamu tenang saja.”



“Tidak mas, kita harus ke sekolah Kenan lagi dan mencari kebenaran melalui mulut anak-anak sendiri.” Ucap Khansa.



“Tapi pekerjaan kita masih menumpuk sayang, kita juga akan menemui klient penting nanti.”



“Kamu dan Leo bisa mengatasi itu mas, aku akan ke sekolah Kenan sendiri. Biar mama yang menjaga Ken dan Key hari ini di rumah. Kenan lebih penting bagiku di bandingkan dengan perusahaan sayang, perusahaan membutuhkanmu, tapi anakku membutuhkanku!” Tegas Khansa.




Tidak terasa setelah lama berbincang dengan suaminya, Khansa mendengar suara adzan di hpnya. Khansa segera mengajak suaminya untuk melaksanakan sholat subuh bersama.



“Mas, kamu naik ke atas duluan ya,. aku akan membangunkan Kenan terlebih dahulu.” Ucap Khansa yang pergi meninggalkan suaminya di meja makan.



Khansa pergi ke atas menuju kamar Kenan untuk membangunkan anak sulungnya itu.



“Sayang ayo bangun kita sholat subuh dulu..” ucap Khansa membangunkan Kenan dengan sangat lembut.



Kenan yang mendengar suara lembut yang berasal dari maminya itu segera membuka matanya dan tersenyum manis kepada maminya itu.



Kalandra, Khansa dan Kenan melaksanakan sholat berjamaah dengan sangat khyusuk.



“Kenan sayang, hari ini mami ingin ke sekolahmu ya..” ucap Khansa yang sedang melipat mukenanya.



“Untuk apa mami?”



“Mami ingin berbicara denganmu dan anak yang kamu pukul kemarin.”



Kenan sempat berfikir sejenak karena ia takut jika teman kelasnya itu akan berbicara macam-macam dengan maminya, namun akhirnya Kenan mengiyakan rencana maminya untuk pergi ke sekolahnya dan berbicara dengan temannya itu.



Sekolah Kenan


Khansa dan Kenan masuk ke dalam sekolah dan menuju ruang BK karena sebelumnya Khansa sudah menghubungi guru Kenan sebelumnya.


“Permisi..” ucap Khansa sambil membuka pintu ruangan tersebut.


“Oh mami Kenan, silahkan duduk.” Ucap kepala sekolah yang ternyata ada di ruangan itu juga.


Khansa dan Kenan duduk sesuai dengan keinginan kepala sekolah, tidak lama kemudian teman kelas Kenan datang dan duduk di ruangan tersebut.



“Baiklah mami Kenan, saya sudah memanggil teman kelas Kenan kemari.” Ucap kepala sekolah tersebut.


“Pertama saya tau jika anak saya bagaimanapun juga tetap salah karena telah memukul wajah temannya, karena itu saya ingin Kenan meminta maaf kepada temannya.” Ucap Khansa yang membuat Kenan terkejut.


“Mami.!” Protes Kenan.


“Sayang, bagaimanapun dia memulainya kamu tetap salah karena telah menggunakan kekerasan, jadi kamu harus minta maaf oke? Percayalah kepada mami!” ucap Khansa.


Akhirnya dengan berat hati Kenan meminta maaf kepada temannya itu, Kenan kesal melihat wajah temannya yang tersenyum mengejek karena Kenan telah meminta maaf.


“Dan yang kedua, saya mau dia meminta maaf kepada Kenan dengan tulus, karena bagaimanapun juga dialah yang memancing anak saya untuk melakukan kekerasa!” tegas Khansa.


Kenan yang mendnegar ucapan maminya langsung tersenyum dan menoleh ke arah maminya yang membalas senyuman anaknya itu.


“Tidak! Aku tidak memancing Kenan, dia sendiri yang memukulku tiba-tiba!” ucap teman kelas Kenan yang berusaha untuk membela dirinya sendiri.


“Iya benar, saya sendiri yang melihat Kenan tiba-tiba memukul temannya!” timpal guru yang kemarin membawa Kenan.


“Pilihannya hanya dua, meminta maaf atau di keluarkan dari sekolah ini. Karena saya mempunyai bukti kuat jika dialah yang memancing anak saya untuk melakukan kekerasan!” tegas Khansa.


“Ma!” ucap teman kelas Kenan kepada guru tersebut.


“Dia anak kamu?!” tegas kepala sekolah kepada guru tersebut.


“Pantas saja kamu sangat membelanya, padahal selama ini kamu tidak pernah membela muridmu yang memiliki masalah!” lanjut kepala sekolah.


Khansa tersenyum melihat wajah guru tersebut yang berubah menjadi gugup karena sebenarnya dia sudah tau dari suaminya jika guru tersebut adalah ibu dari anak yang telah Kenan pukul, itulah kenapa dia sangat membela anak itu.


“Tapi tetap saja, bagaimana bisa Kenan memukul wajah temannya!” guru tersebut masih tidak mau kalah.


“Bukankah saya sudah menyuruh anak saya meminta maaf? Lalu apa lagi yang salah? Saya hanya ingin anak anda meminta maaf kepada anak saya!”


Guru tersebut menyuruh anaknya untuk meminta maaf, walaupun awalnya dia tidak mau meminta maaf tapi dia akhirnya mau meminta maaf walaupun harus dengan sapaan.


“Apa kamu menerima permintaan maafnya sayang?” tanya Khansa kepada anaknya.


“Sepertinya dia tidak ikhlas meminta maaf mi.” ucap Kenan.


“Dengar bukan? Seingat saya tadi anak saya sudah meminta maaf dengan tulus, lalu kenapa dia tidak bisa meminta maaf kepada anak saya dengan tulus? Apa anda tidak mendidiknya dengan benar di rumah?” tanya Khansa.


Akhirnya anak tersebut mengulangi meminta maaf kepada Kenan dengan tulus dan Kenan memaafkannya lalu tersenyum karena ia tidak menyangka jika maminya memiliki maksud lain menyuruhnya meminta maaf.


“Kenapa kamu menatap mami seperti itu sayang?” tanya Khansa yang daritadi merasa jika anaknya menatap dirinya terus menerus.


“Terimakasih mami!” ucap Kenan.


“Untuk apa sayang?”


“Karena sudah membantu Kenan!”


“Lain kali, jangan pernah memakai kekerasan jika tidak di perlukan dan satu lagi, kamu harus berusaha untuk berinteraksi dengan teman-temanmu mulai sekarang, karena mami tidak ingin kamu di kucilkan karena tidak ingin bermain dengan siapapun!” tegas Khansa yang di balas anggukan oleh Kenan.