
Khansa dan Kenan sudah berada di pusat perbelanjaan terlengkap disana.
“sayang, kamu mau beli apa?” tanya Khansa kepada anaknya.
“Kenan mau apa ya mi, Kenan bingung nih”
“kok bisa bingung sih sayang, kita liat-liat baju dulu yuk sayang, mami mau beli baju baru buat kamu dan mami, soalnya sebentar lagi perut mami jadi besar terus baju mami yang sekarang ga muat lagi deh.”
Kenan mengangguk dan mengikuti kemana Khansa pergi.
Khansa memilihkan pakaian untuk anak kesayangannya terlebih dahulu, Khansa mengukur setiap inci tubuh anaknya itu hingga Kenan merasa pusing.
“mamii,, masa Kenan di puter-puter sih? Pusing kepala Kenan mi”
“hehe maafin mami ya sayang,,”
Akhirnya Kenan memutuskan untuk duduk di kursi yang disediakan disana dan melihat maminya yang sedang memilih-milih baju.
“hahh,, maaf ya papi, Kenan gabisa ngikutin mami terus Kenan capek mami jalan-jalan mulu” batin Kenan yang tiba-tiba saja teringat oleh perkataan papinya.
Khansa dan Kenan tidak mengetahui jika mereka sedang diikuti dua pengawal suruhan Kalandra. Setelah Khansa selesai berbelanja, ia menghampiri anaknya yang sudah kelelahan.
“kamu capek ya sayang?” tanya Khansa
“iya mi capek banget Kenan.” rengek Kenan
“baiklah, kita cari es krim dulu yuk, setelah itu kita ke toko buku untuk membeli alat tulismu.”
Kenan yang mendengar kata es krim sangat antusias dan segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari butik.
Khansa tersenyum dan mengikuti kemana Kenan pergi. Kenan berhenti di salah satu café yang ada disana dan menoleh ke arah Khansa untuk memastikan apakah ia boleh masuk ke café itu, setelah melihat Khansa mengangguk Kenan masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman untuknya dan maminya.
“mami ayo duduk disini.” Ucap Kenan sambil menarik kursi untuk Khansa.
“terimakasih anak mami.”
Setelah Khansa duduk Kenan ikut duduk tepat di hadapan Khansa. Khansa menanyakan apa yang Kenan inginkan dan memesankannya.
“sayang, kamu sudah besar sekarang dan akan segera menjadi abang. Jadi Kenan jangan nakal ya, harus jadi anak yang pintar, Kenan harus bisa menjaga adik Kenan dan harus menjadi contoh yang baik untuk adiknya ya sayang.” Ucap Khansa
“iya mami Kenan ga akan nakal lagi, sekarang Kenan sudah besar dan sebentar lagi Kenan udah sekolah SD.”
“pintarnyaa, Kenan harus ingat satu hal. Mami akan selalu menyayangi Kenan walaupun Kenan sudah punya adik. Mami janji tidak akan membeda-bedakan Kenan dan adik-adik Kenan nanti.”
“Kenan percaya sama mami, Kenan juga sayang banget sama mami.”
“terimakasih sayang..”
“sama-sama mami,, oh iya mami, apa mami udah telfon papi kalo kita udah sampe disini?”
“yaampun mami lupa, pantesan aja dari tadi kayak ada yang lupa tapi apaan, untung kamu ngingetin sayang.”
Khansa yang baru ingat untuk menghubungi Kalandra akhirnya mengambil hpnya dan menyalakannya, betapa terkejutnya dia melihat ada banyak sekali pesan dan panggilan dari suaminya. Dengan segera ia menghubungi Kalandra.
“assalamualaikum mas?”
“kamu itu kemana aja Khansaaaa!! Yaampun aku dari tadi nunggu kabar dari kamu, mana hp kamu ga aktif.” Teriak Kalandra
“mas,, jawab dulu salamku baru marah-marah.”
“waalaikumsalam”
“nah gitu dong,, maaf ya mas tadi aku lupa nyalain hp jadi gatau kalo ada telfon.”
“kamu sekarang dimana?”
“aku lagi pesan makan sama Kenan mas, aku dan Kenan baik-baik saja tidak perlu khawatir. Sudah ya mas aku matikan dulu assalamualaikum.”
Khansa langsung mematikan telfon dan melihat ada pesan masuk dari Lila dan membuka pesan itu. Khansa yang membacanya hampir saja menangis dan membuat Kenan merasa aneh.
“mami kenapa sedih? pasti papi marah-marah ya mi? mami tenang aja nanti Kenan bakalan marahin papi, nanti Kenan jewer telinga papi.” ucap Kenan karena melihat maminya sudah berkaca-kaca.
“hehe iya sayang, papi kamu marah-marah tadi gara-gara mami lupa ngabarin. Tapi mami sedih bukan karena papi..”
“loh terus gara-gara siapa dong?”
“mami baca pesan yang dikirimkan tante Lila sayang”
“jadi tante Lila nakal ya mi?”
“pfftt,, engga sayang tante Lila baik kok, mami itu ngeluarin air mata terharu soalnya tante Lila bilang kalo mami malaikat.”
“mami emang malaikat, mami malaikat buat semua orang.”
Khansa tersenyum mendengar pujian dari anaknya.
Tidak jauh dari tempat duduk mereka, ada seseorang yang dari tadi sudah memperhatikan mereka dan tersenyum senang. Pria itu beranjak dari tempat duduknya karena melihat Khansa ingin membayar tagihannya dan dengan sengaja ia menabrak Khansa hingga Khansa hampir terjatuh namun ditahan oleh pria itu.
“ah iya tidak apa-apa, terimakasih sudah membantu saya” ucap Khansa yang melepaskan tangan pria itu dari tangannya.
“sama-sama,, loh bukannya kita pernah bertemu?” tanya pria itu berpura-pura
“ha? maaf tapi saya merasa tidak mengenal anda. Permisi” Khansa ingin meninggalkannya tetapi ditahan oleh pria itu.
“aku Ryan, bukankah kita pernah memiliki kesalah pahaman saat di Jepang?” ucap pria itu
Khansa segera menarik tangannya dan mengingat kejadian itu terutama nama yang baru saja disebutkannya adalah nama yang membuatnya sangat penasaran.
“jadi itu anda? Lalu anda mau apa? Apa anda meminta saya untuk mengganti rugi barang-barang pacar anda?” ketus Khansa
“wah ternyata galak juga ya, saya hanya ingin tau siapa namamu.”
“maaf tapi kita tidak dalam hubungan yang harus mengenal satu sama lain, permisi!” Khansa pergi meninggalkan Ryan yang sedang berdiri menatap kepergiannya.
“wanita yang menarik.” Gumam Ryan
Ternyata disana bodyguard yang disuruh oleh Kalandra berhasil memotret kejadian dimana Ryan memegang tangan Khansa dan mengirimkan hasil fotonya kepada Kalandra.
Khansa menggandeng Kenan untuk segera keluar dari café itu karena takut jika pria itu mengikuti dan menyakiti mereka. Khansa dan Kenan menuju toko buku yang ada di mall itu, Khansa sangat antusias memilih alat tulis untuk Kenan.
“mami, sebenarnya yang sekolah itu mami atau Kenan?”
“loh emang kenapa sayang?”
“soalnya mami terlihat lebih semangat dari pada Kenan.”
Khansa tertawa mendengar ucapan anaknya itu lalu membungkuk agar sejajar dengan Kenan.
“tentu saja mami semangat, seorang ibu dimanapun akan bersemangat kalau menyangkut tentang anaknya, apalagi ini adalah pertama kalinya anak mami masuk sekolah SD, mami sangat semangat sayang, itu tandanya anak mami sudah besar.”
Kenan memeluk Khansa dengan sangat erat dan berulang kali mengucapkan terimakasih.
Setelah selesai berbelanja, mereka pulang ke rumah mereka karena Kenan sudah merasa lelah hingga tertidur.
Sesampainya di halaman rumahnya, supir pribadi mereka(pak Asep) segera turun dan membantu Khansa untuk menggendong Kenan yang tertidur namun Khansa menolak, akhirnya pak Asep hanya membantu membawakan barang-barang belanjaan mereka saja.
Kebetulan keluarga Khansa hari ini datang tanpa diketahui oleh Khansa, mereka semua melihat Khansa yang baru saja datang menggendong Kenan yang tubuhnya sudah mulai berat. Dengan sigap Kalandra berdiri dan mengambil alih Kenan dari gendongan Khansa.
“aku kan udah bilang, kamu itu lagi hamil. Terus kenapa kamu gendong Kenan? harusnya biarin pak Asep yang menggendong Kenan.” tegas Kalandra yang kesal karena Khansa tidak menuruti perkataannya.
“maaf mas, aku hanya ingin menggendongnya, nanti kalau dia sudah semakin besar lagi aku tidak akan bisa menggendongnya.” Ucap Khansa yang merasa bersedih karena tidak boleh menggendong anak kesayangannya itu.
“sudah jangan bersedih, aku hanya mengkhawatirkanmu”
“iya mas, maafkan aku.”
Kalandra membawa Kenan untuk di baringkan di kasurnya, sedangkan Khansa berpamitan kepada orang tua mereka untuk mengikuti Kalandra.
“mas, jangan marah dong maafin aku ya” ucap Khansa
“gimana aku ga marah sa, kamu susah banget dibilangin. Pas Kenan sakit terus kamu gendong dia kan aku udah bilang jangan gendong Kenan.”
“iya mas maaf yaa..”
“ini yang terakhir ya, jangan diulangi lagi.”
“iya mas janji.”
Kalandra memang tidak bisa marah terlalu lama pada Khansa, akhirnya Kalandra memaafkan Khansa.
“emm, mas aku mau ngomong sesuatu..” ucap Khansa
“ada apa sayang?”
“tadi aku bertemu dengan orang di Jepang waktu itu, namanya Ryan.”
Kalandra tidak menunjukkan reaksi apapun karena ia sudah mengetahuinya dari bodyguard nya.
“ternyata kamu jujur sa, aku kira kamu tidak akan memberi tauku tentang hal ini.” Batin Kalandra tersenyum kepada istrinya.
“kamu kok diem aja sih mas?” ucap Khansa yang melihat Kalandra termenung.
“ya terus aku harus gimana sayang?”
“ceritain dong kamu kok bisa kenal sama dia?”
“mau banget ya aku ceritain?” ucap Kaladra dengan nada yang menyebalkan.
“kan kamu mulai ngeselin lagi.” Khansa mulai kesal dengan Kalandra dan pergi ke kamar mandi meninggalkan Kalandra.
“apa aku harus menceritakan semuanya?” batin Kalandra yang melihat istrinya meninggalkannya.