
Rumah Kalandra
Khansa menunggu di rumah dengan perasaan cemas. Rose dan Lila menenangkan Khansa agar tidak merasa khawatir lagi.
“Sa tenanglah, mereka akan baik-baik saja.” ucap Lila.
“Aku takut, kenapa mereka belum memberikan kabar?”
“Itu karena mereka belum menemukan gudang yang digunakan untuk menculik Kenan kak, jika mereka sudah menemukannya mereka akan segera menghubungi kita.” Jelas Rose.
Khansa terus menggenggam hpnya menunggu kabar dari suaminya. Sudah hampir setengah hari Kalandra dan lainnya belum memberi kabar membuat Khansa menjadi khawatir dengan keadaan mereka.
“Assalamualaikum..” ucap seseorang yang berdiri di depan pintu.
“Waalaikumsalam..” Khansa, Rose dan Lila melihat ke arah pintu secara bersamaan.
Khansa yang melihat orang yang ada di depan pintu itu langsung berdiri dengan semangat dan berlari untuk memeluk orang itu.
Itu adalah Kalandra yang baru saja pulang bersama dengan Ryan dan Anita.
“Mas, aku khawatir. Kamu kemana aja kenapa lama sekali? Di mana Kenan? kalian tidak apa-apa kan? Apa ada yang terluka?” tanya Khansa secara bertubi-tubi.
“Kami baik-baik saja sa.” Ucap Anita sambil tersenyum.
“Kita sudah menemukan gudang dimana Kenan diculik, tapi kita tidak bisa langsung membawa Kenan karena disana penjagaannya sangat ketat.” Ucap Kalandra.
“Iya betul, kita harus membuat rencana yang lebih matang dan membutuhkan bantuan yang lebih banyak.” Lanjut Ryan.
Kalandra mengangguk mengiyakan perkataan Ryan yang menurutnya benar.
“Kalau begitu aku juga akan ikut menyelamatkan Kenan.” ucap Khansa.
“Tidak! Kamu dan Lila akan tetap berada di rumah, kalian sedang mengandung aku tidak ingin mengambil resiko apapun. Aku akan membawa Rose besok bersama kami, apa kalian tidak keberatan jika hanya berdua di rumah?” ujar Kalandra.
“Kami tidak apa-apa, toh di rumahmu ada banyak pelayan bersama kami.” Ucap Lila.
“Mas, kalian harus menjaga kak Anita dan Rose dengan sekuat tenaga, jangan sampai mereka terluka mas.”
Kalandra tersenyum dan memeluk istrinya itu.
“Tenanglah sayang, orang yang kamu sayangi berarti orang yang penting juga bagiku dan aku akan menjaganya.”
“Terimakasih mas..”
Ryan segera menelfon Edo dan Riko untuk ke rumah Kalandra dan membahas rencana mereka.
Sekitar 30 menit Edo dan Riko sampai di rumah Kalandra, Edo mencari keberadaan Anita lalu dengan segera menghampir Anita dan memeluknya dengan erat.
Anita yang mendapat perlakuan seperti itu dari Edo terkejut dan berusaha melepaskan pelukan Edo namun tenaga Edo jauh lebih besar dibandingkan Anita.
“Do kamu apa-apaan sih!?” ketus Anita yang masih berusaha melepaskan pelukan dari Edo.
“Kamu ga tau apa, gimana khawatirnya aku denger kamu ikut sama Kalandra dan Ryan!? Kamu ga tau pas kamu matiin telfon, tiba-tiba perasaan aku jadi ga tenang!” tegas Edo.
“Sudahlah do, kamu berlebihan!” ucap Anita.
“Berlebihan? Bagaimana bisa aku berlebihan jika aku mencintaimu!” tegas Edo yang langsung menutup mulutnya engan kedua tangannya karena dia sudah keceplosan dan mengatakan jika dia mencintai Anita.
Semua orang yang sedari tadi melihat perdebatan mereka juga sangat terkejut mendengar pernyataan cinta dari Edo kepada Anita.
“Wah akhirnya keluar juga kata-kata cintanya yang udah terpendam sejak lama.” Ejek Kalandra.
Anita yang sedari tadi terkejut hanya bisa diam dan pipinya memerah karena pengakuan cinta Edo didepan banyak orang.
“Bodoh banget si Edo bikin malu aja ih.” Batin Anita.
“Ciye,, kak Anita akhirnya cintanya ga bertepuk sebelah tangan lagi..” Ejek Khansa yang diikuti tawa dari yang lain.
“Sudahlah, ayo kita menyusun rencana untuk menyelamatkan Kenan.” ucap Edo mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya mereka kembali melakukan pembicaraan serius mengenai rencana untuk menyelamatkan Kenan.
Drrtt,, drrtt,,
Tiba-tiba hp Khansa berbunyi dan membuat Khansa yang sedang mendengarkan dengan serius menjadi terkejut.
“Yaampun mas! Ini Hani.” Ucap Khansa.
“Ssstt,, semuanya diam. Sayang kamu angkat dan nyalakan mode speaker biar semua yang ada di sini bisa mendengarnya.” Ucap Kalandra.
Khansa mengangguk tanda mengerti dengan ucapan suaminya, Khansa menarik nafas panjang lalu mengangkat telfon dari Hani.
“Halo..?” ucap Khansa.
“Kalo kamu mau menyelamatkan anakmu, dalanglah kemari besok malam setelah maghrib saat itu Robert tidak ada di sini.” Ucap Hani.
“Baiklah.” Ucap Khansa lalu mematikan telfonnya.
Semua orang saling bertatapan dan merasa aneh karena sikap Hani yang tiba-tiba memberi peluang kepada mereka untuk menyelamatkan Kenan.
“Kayaknya ada yang aneh Ndra.” Ucap Edo.
“Iya, aku juga merasa sepertinya ada jebakan dibalik perkataannya.” Ucap Kalandra.
“Lalu bagaimana ini?” tanya Ryan.
Khansa melihat sekeliling rumahnya, sebenarnya Khansa merasa sedikit curiga dengan bi Rini, karena dari pertama kali ada kabar jika Kenan hilang dia tidak menunjukkan ekspresi sedih, tapi Khansa juga tidak ingin asal menuduh karena bi Rini adalah orang yang membantu mengasuh Kenan dari kecil.
“Tidak, aku tidak boleh asal menuduh orang. Tidak mungkin bi Rini akan setega itu dengan Kenan.” batin Khansa.
Akhirnya Khansa menyuruh mereka naik ke kamar Kenan untuk membicarakan hal penting. Di kamar Kenan mereka sudah duduk dan mulai memikirkan rencana.
“Kita ikuti saja, aku dan Ryan akan ke gudang itu sesuai perkataan Hani. Sedangkan Edo, Riko, Rose dan Leo akan menjaga dari jauh. Aku akan menyuruh bodyguardku untuk berpencar menjaga kalian dan menjagaku.” Ucap Kalandra.
Semua orang mengangguk setuju dengan rencana Kalandra.
“Lalu apa yang aku dan Lila lakukan di sini mas?” tanya Khansa.
“Kalian tetap di rumah dan melihat jika ada seseorang yang kalian curigai.” Ucap Kalandra.
“Aku dan Ryan akan pergi menggunakan mobil terpisah dan bertemu di luar, sedangkan kalian keluar secara terpisah juga agar tidak ada yang curiga jika kalian mengikutiku dan Ryan.” Lanjut Kalandra.
Setelah mereka mengerti mereka pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan segalanya, setelah itu mereka akan bertemu di tempat yang sudah di janjikan besok malam.
“Mas, kamu yakin dengan rencana ini?” tanya Khansa kepada suaminya yang sedang bersiap di kamarnya.
“Yakin sayang..”
“Apa tidak sebaiknya kita pergi bersama kesana?”
Kalandra menggelengkan kepalanya. “Tidak sayang, kita harus berpencar, jika ada apa-apa denganku dan Ryan yang lain akan membantu kami.”
“Jangan sampai ada apa-apa dengan kalian, aku tidak ingin ada korban mas..”
“Iya sayang, tidak akan ada korban aku janji.” Ucap Kalandra memeluk istrinya.
Kalandra mengajak istrinya untuk beristirahat sejenak. Khansa dan Kalandra berbaring di tempat tidur namun mereka sama-sama tidak bisa menutup matanya.

“Mas, apakah kamu mencurigai seseorang di rumah ini?” tanya Khansa.
“Hmm..”
“Siapa mas? Apakah kamu mau memberitahuku?”
“Jangan sekarang, aku tidak bisa menyebutkan namanya karena takut dia akan mendengar. Ingatlah sayang, bahkan dinding di rumah ini juga memiliki telinga untuk mendengar.” Bisik Kalandra.
“Ih apaan sih mas, mana ada dinding punya telinga. Aneh-aneh aja kamu.” Ucap Khansa dan dijawab dengan tawa oleh Kalandra.
“Mas, Kenan lagi apa ya sekarang? Apa dia sudah makan? Kita yang memikirkannya saja tidak bisa makan teratur dan tidur dengan nyenyak” tanya Khansa.
“Ntahlah sayang, aku berharap dia akan diperlakukan dengan baik dan tidak akan mengakibatkan trauma untuknya.” ucap Kalandra sambil berusaha untuk memejamkan matanya.

“Setelah kita berhasil menyelamatkan Kenan, aku mau dia segera dibawa ke dokter untuk diperiksa mas, aku tidak ingin ada trauma yang akan menghantuinya.”
“Iya sayang, sekarang kita harus tidur dan mengumpulkan tenaga untuk menyelamatkannya besok malam.”