
Jangan merusak apa yang kamu miliki dengan menginginkan apa yang tidak kamu miliki. Ingatlah bahwa apa yang kamu miliki sekarang pernah menjadi salah satu hal yang hanya kamu harapkan.
Hari pernikahan pun tiba, keluarga papi Kalandra sudah berada di hotel untuk melihat persiapan pernikahan Kenan dan Belinda.
Semua dekorasi di siapkan oleh Key, karena setelah membuka butik Key membuka bisnis dekor yang baru di resmikan satu bulan yang lalu, Kenan dan Belinda mempercayakan dekorasi pernikahan mereka kepada Key yang baru merintis bisnisnya.
“Hai ndra.” Sapa papa Ryan yang baru saja datang ke rumah papi Kalandra.
“Hai yan, kamu kok baru dateng sih, ga tau di sini heboh banget apalagi para wanita itu!” ucap papi Kalandra sambil melihat ke arah mami Khansa dan mama Rose yang sedang heboh ke sana kemari.
“Aku kan ke perusahaan dulu tadi ndra, yang penting istri dan anakku sudah di sini kan? Oh iya kemana anak nakal itu?” ucap papa Ryan.
“Kenan? dia ada di atas, kalau Elsa sedang berdandan bersama yang lain.” Ucap papi Kalandra.
Acara pernikahan Kenan dan Belinda berada di hotel bintang lima milik papi Kalandra yang akan di wariskan kepadanya, dan hari itu semua pengunjung di alihkan ke hotel papi Kalandra yang lain karena semua kamar sudah di pesan untuk seluruh keluarga Kenan dan Belinda nanti.
“Baiklah aku ingin menyusul Kenan dulu ya.” ucap papa Ryan.
“Loh kamu ga mau nyamperin Rose dulu?” tanya papi Kalandra.
“Engga deh, yang ada aku di suruh-suruh sama dia kalau tau aku udah datang.” ucap papa Ryan yang langsung meninggalkan papi Kalandra sebelum mama Rose melihatnya.
“Sialan kamu yan! Curang sekali dia, sedangkan aku dari tadi di suruh-suruh oleh Khansa.” Gumam papi Kalandra.
“Mas…” panggil mami Khansa dari jauh.
Mendengar panggilan istrinya, papi Kalandra hanya bisa menghela nafas panjang dan berbalik untuk meghampiri istrinya.
“Nasib nasib,, kalo bukan karena Khansa ngancem ga bakal kasih jatah malem sih aku ga akan mau di suruh begini..” gumam papi Kalandra sambil berjalan dengan lemas.
Di sisi lain, papa Ryan mengetuk pintu kamar Kenan, dengan segera Kenan menyuruh seseorang yang mengetuk pintu itu masuk ke dalam kamarnya.
“Hai Kenan!” sapa papa Ryan.
“Papa? Papa katanya masih ngurus kerjaan kantor?” tanya Kenan.
“Papa segera menyelesaikannya agar bisa ke sini secepat mungkin.” Ucap papa Ryan.
“Bagaimana perasaanmu?”
“Gugup pa, Kenan baru pertama kali ini merasa gugup begini, biasanya walaupun harus berpidato di depan ribuan orang aku tidak gugup sama sekali.” ucap Kenan.
“Tentu saja, ini adalah acara yang sakral, kamu akan menikahi anak perempuan seseorang, mereka sangat menghargai anak mereka dan sangat menjaganya, mereka mempercayakan kamu untuk menikahinya karena mereka percaya kalau kamu bisa menggantikan mereka untuk menghargai dan menjaga anak perempuan mereka.” Jelas papa Ryan.
“Papa tenang saja, Kenan akan menjaga dan menghargai Belinda dengan tulus.”
“Baguslah kalau begitu, ingatlah kalau kamu lahir dari rahim seorang perempuan, kamu juga memiliki tiga perempuan yang menjadi ibumu, mama Amel yang melahirkanmu, mami Khansa yang merawat dan menjagamu dan mama Rose sangat menyayangimu, kamu juga harus ingat kalau kamu memiliki dua adik perempuan, dan juga Alya yang sebentar lagi akan kamu angkat menjadi anakmu.” Ucap papa Ryan.
“Papa benar, aku memiliki banyak perempuan berharga di sekitarku, tentu saja aku tidak akan menyakiti Belinda.” Ucap Kenan yang di balas senyuman oleh papa Ryan.
“Oh iya, papa dan mama Rose jangan lupa kalau kalian yang akan duduk di sebelahku.” Ucap Kenan.
“Apa?! Tunggu, kenapa papa? Bukannya papi Kalandra?” tanya Ryan yang terkejut mendengar ucapan Kenan.
“Tidak pa, Kenan ingin papa dan mama yang duduk di depan, Kenan juga sudah mendiskusikan hal ini kepada papi dan mami dan mereka berdua sangat setuju dengan hal ini.” jelas Kenan.
Papa Ryan tersenyum bahagia karena dia mendapatkan kesempatan untuk menemani anaknya menikah dan hal ini adalah sesuatu yang hanya di alami sekali seumur hidup.
“Terimakasih Kenan, terimakasih karena sudah memberikan papa kesempatan untuk menemanimu di pelaminan.” Ucap papa Ryan sambil memeluk Kenan.
Setelah berbincang-bincang, Ken dan Rey masuk ke dalam kamar Kenan untuk memberikan beberapa roti dan juga kopi untuk Kenan.
“Hai papa Ryan.” Sapa Ken.
“Hai om Ryan.” Sapa Rey.
“Hai Ken, Ryan, kalian habis dari mana?” tanya papa Ryan.
“Kami habis dari toko membelikan roti sama kopi buat abang, pasti abang capek banget ngurusin pernikahannya.” Jelas Ken.
Karena sudah ada Ken dan Rey di kamar Kenan, papa Ryan memutuskan untuk keluar dan menghampiri yang lain di bawah.
“Kamu juga mulai sekarang harus fokus untuk membagi waktu di dua perusahaan Ken.” Ucap Kenan.
“Ha? maksudnya apa bang?”
“Aku memutuskan untuk kembali menjadi dokter setelah menikah nanti.”
“Apa? Bang yang bener aja lah! Masa iya aku di suruh mengurus dua perusahaan sekaligus? Perusahaanku baru saja maju sekarang bang ayolah..” rengek Ken.
“Sudahlah jangan mengeluh, kamu bisa menyuruh Rey membantumu kalau dia sedang senggang, dana bang juga akan sering mengunjungi perusahaan, sekretaris dan asisten kepercayaan abang juga tetap berada di sana untuk membantumu.” Ucap Kenan.
“Wah abang kebiasaan nih ga ada ancang-ancang tiba-tiba memberikan tanggung jawab yang besar untukku, kenapa tidak Key saja bang.”
“Key baru saja merintis usaha dekornya, dia bilang mau membuat perusahaan untuk dekor dan gaun pengantin sekaligus jadi biarkan dia fokus dulu di usahanya, kalau perusahaanmu kan sudah mulai maju jadi abang percaya kalau kamu bisa mengatasinya.” Ucap Kenan.
Mendengar ucapan abangnya membuat Ken tidak berani mengucapkan apapun lagi, dia tau kalau abangnya memang sangat menyukai profesinya menjadi dokter jadi dia tidak bisa memaksa abangnya untuk berhenti menjadi dokter.
“Baiklah kalau begitu, aku akan berusaha untuk mengurus dua perusahaan sekaligus.” Ucap Ken.
“Semangat bang, aku yakin kalau abang akan menjadi dokter yang sukses.” Ucap Rey.
“Tentu saja! abang Kenan adalah lulusan terbaik di kampusnya.” Sambung Ken.
“Sudahlah jangan memujiku, kemana Audrey? Bukankah kamu dan dia sedang memiliki hubungan?” tanya Kenan.
“Tidak, aku tidak memiliki hubungan dengannya, dia tidak pernah menerimaku menjadi pacarnya.” Ucap Ken.
“Lalu dia tidak ke sini?” tanya Kenan.
“Jangan di harapkan bang, Ken sedang galau karena akhir-akhir ini dia dan Audrey selalu bertengkar dan sekarang mereka tidak pernah berhubungan lagi.” Jelas Rey.
“Benarkah? sudahlah tidak masalah, kamu masih muda dan sukses, wanita mana yang akan menolakmu?” ucap Kenan.
“Tapi tidak ada wanita yang bisa membuatku menyukainya.”
“Pasti ada Ken! Abang yakin kalau ada seseorang yang akan membuatmu jatuh cinta.” Ucap Kenan.
“Abang benar, kamu akan menemukan wanita yang tepat suatu saat nanti.” Sambung Rey.
“Sudahlah bang, kenapa abang tidak berdandan saja, acaranya akan di mulai sebentar lagi.” Ucap Ken.
“Aku penasaran sekali, bagaimana penampilan Belinda ya, dan kemana Bernard itu! Dia bilang mau ke sini tapi tidak terlihat batang hidungnya sampai sekarang!” ucap Kenan.
“Sabarlah bang, di sana juga butuh laki-laki untuk melakukan sesuatu karena para wanita sedang berdandan, dan Key yang mengurus kak Belinda sendirian di sana.” Ucap Ken.
“Setelah menikah cepetan bikin ponakan yang banyak ya bang.” Ucap Rey.
“Kamu ini! ngurus perusahaan aja ga bener gimana mau ngurus anak-anakku nanti!” ketus Kenan.