
Sinar matahari sudah memasuki ke sela-sela kamar Key dan Bernard yang pagi itu tidur di tempat tidur yang sama, entah karena apa mereka berdua akhirnya melakukan hubungan suami istri setelah kejadian kecoa yang membuat mereka berteriak-teriak.
Bernard membuka kedua matanya dan melihat ke arah Key yang sedang tidur di sebelahnya yang hanya tertutup oleh selimut sambil tersenyum dan tangannya membelai rambut indah Key.
“Benar-benar malam pertama kita lucu sekali! aku tidak bisa berhenti tertawa jika mengingat tentang malam tadi.” ucap Bernard sambil menatap ke arah Key yang masih terpejam.
Bernard memutuskan untuk memasak sarapan mereka karena pelayan di rumahnya dia liburkan selama sebulan, dia ingin sebulan ini hanya bersama dengan istrinya saja.
“Kamu mau kemana om beruang?” tanya Key yang terbangun saat Bernard menuruni tempat tidurnya.
“Aku mau memasak sarapan untuk kita, kamu diam saja di sini ya.” ucap Bernard.
“Tidak usah, biar aku saja yang memasak, aku juga bisa memasak tau!” ucap Key yang ingin bangun dari tempat tidurnya tapi tiba-tiba
dia merintih kesakitan.
“Aw!” ucap Key membuat Bernard khawatir.
“Kamu masih sakit?” tanya Bernard.
“Tentu saja sakit! Masih tanya saja.” ketus Key.
“Biarkan aku menggendongmu.”
“Tidak, aku akan berjalan sendiri, aku bisa menahannya.” Tolak Key.
“Sudahlah sayang, kamu mandi saja dulu aku yang akan memasak sarapan untuk kita.” Ucap Bernard yang langsung keluar dari kamarnya.
Sedangkan Key menuruti ucapan Bernard untuk membersihkan dirinya lebih dulu di dalam kamar mandi, Key menuangkan banyak sekali sabun hingga membuat air di dalam bath up berbusa banyak lalu dia merendamkan tubuhnya
di dalam bath up.
“Hah, enak sekali rasanya berendam air hangat seperti ini, badanku rasanya remuk karena om beruang!” gumam Key kesal saat mengingat Bernard yang melakukan pertarungan berkali-kali kepadanya.
Di dapur, Bernard sedang sibuk berkutat dengan bahan masakan dan peralatan dapur, dia sudah bertanya kepada mami mertuanya makanan kesukaan istrinya, jadi dia ingin mencoba membuat masakan kesukaan istrinya dengan resep mami Khansa.
“Aku yakin dia akan menyukainya bukan? Hihihi aku kasihan sekali dengannya, pasti dia kelelahan semalam.” Gumam Bernard yang masih fokus memasak.
Key yang sudah selesai mandi, dan mengganti pakaiannya langsung keluar dari kamar untuk menyusul suaminya di dapur, baru saja dia menuruni tangga tapi bau masakan yang berasal dari dapur membuatnya menjadi lapar sekali.
“Hmm,, bau masakan mami! Jangan-jangan om beruang mengajak mami kemari untuk memasak makanan kesukaanku!” ucap Key yang berlari menuruni tangga dengan semangat.
“Om beruang, apa mami kemari?” tanya Key.
“Ha? mami? Tidak ada mami di sini, aku hanya memasak makanan kesukaanmu menggunakan resep yang di berikan oleh mami, duduk dan makanlah masakan yang ku buat sudah matang.” Ucap Bernard.
“Huh! Aku kira mami datang kemari, padahal aku sudah semangat sekali loh.” ucap Key dengan lemas.
“Aku hari ini sudah bekerja, kamu ikutlah denganku, sebelum berangkat kerja aku akan menurunkanmu di rumah papi dan aku akan menjemputmu saat aku kembali dari perusahaan.” Ucap Bernard.
“Benarkah? Om beruang akan mengantarku ke rumah papi?” tanya Key meyakinkan dan di balas anggukan kepala oleh Bernard.
“Hm, tapi dengan satu syarat!”
“Apa itu?”
“Aku ingin kamu mengganti nama panggilanku! Panggil aku sayang.” ucap Bernard.
“Baiklah sayang, sayang, sayang!!! puas kan?” ucap Key dengan santainya.
“Kamu ini benar-benar menggemaskan! Jangan salahkan aku kalau nanti malam aku akan memakanmu lagi!” ucap Bernard.
“Sudah jangan banyak bicara, kamu habiskan sarapanmu aku akan mandi dan bersiap ke perusahaan.”
“Kamu tidak sarapan bersamaku?” tanya Key.
“Kamu sarapan duluan saja.” ucap Bernard sambil tersenyum ke arah Key.
“Tidak mau! Aku akan ikut kamu ke atas dan menyiapkan pakaianmu, aku adalah istrimu jadi aku ingin melakukan tugasku sebagai istrimu.” Ucap Key yang ikut beranjak dari meja makan.
Bernard hanya tersenyum mendengar ucapan Key, Bernard hanya tidak ingin terlalu banyak menuntut Key karena dia tahu kalau di rumahnya Key tidak pernah mengurus kebutuhan kakak laki-lakinya.
“Om, eh sayang, mungkin kamu mengira aku tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah selama ini, tapi kamu salah besar! Aku selalu di ajarkan untuk menjadi ibu rumah tangga sejak aku kecil, aku dan mami selalu
membersihkan meja makan dan piring kotor sejak aku SMP.” Ucap Key.
“Papi dan mamiku tidak pernah memanjakan anak-anaknya, mungkin kalau anak perempuan keluarga kaya lainnya akan di manja oleh orang tuanya, tapi tidak denganku!” lanjutnya.
“Apa kamu tidak pernah iri kepada kakak-kakakmu?”
“Iri? Tentu saja aku iri, aku selalu mengerjakan banyak sekali pekerjaan rumah, sedangkan kedua kakak laki-lakiku hanya mendapat tugas untuk merapihkan kamar mereka masing-masing, tapi mami selalu memberiku pengertian kalau semua yang aku lakukan untuk masa depanku kelak.” Ucap Key.
“Aku benar-benar bersyukur karena mendapatkan dirimu.” Ucap Bernard.
Bernard segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sedangkan Key berjalan ke arah lemari untuk menyiapkan pakaian suaminya.
“Oh iya, bulan depan aku akan menghadiri kelulusan Elsa sayang.” ucap Key kepada Bernard yang baru keluar dari kamar mandi.
“Sebulan kan masih lama, kenapa kamu bilang sekarang?” tanya Bernard.
“Aku hanya ingin memberitahumu dulu, jadi kalau kamu melarangku untuk ikut aku bisa bilang kepada Elsa.”
“Aku tidak mungkin melarangmu sayang, kamu boleh menghadiri acara kelulusan Elsa tapi jangan sampai kamu melirik laki-laki lain di sana.” Ucap Bernard.
“Yaelah, kenapa kamu sudah ngomong seperti itu sih! Padahal kan itu kesempatanku untuk cuci mata.” Goda Key.
“Apa kamu bilang? Awas saja kalau sampai kamu berani melirik laki-laki lain! Aku akan mengikat kain di matamu agar tidak bisa melihat kemana-mana.”
“Apaan sih kamu jangan berlebihan begitu! Sudah ayo kita sarapan!” ajak Key.
Pagi itu mereka berdua menikmati sarapan dengan sedikit perbincangan ringan mereka, Key sangat menikmati makanan buatan suaminya yang rasanya mirip seperti buatan mami Khansa.
Setelah menyelesaikan sarapan, Key membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor bekas sarapan mereka, sedangkan Bernard lebih dulu ke halaman rumah untuk memanaskan mobilnya.
“Ayo berangkat.” Ajak Key yang sudah masuk ke dalam mobil.
Bernard melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena dia ingin menikmati perjalanannya dengan sang istri.
“Oh iya, kenapa tidak ada pelayan di rumahmu sayang?” tanya Key.
“Aku meliburkan mereka selama sebulan karena aku ingin berdua bersamamu di rumah.”
“Kalau memang seperti itu, lebih baik kita mempekerjakan pelayan dari pagi sampai sore saja untuk membersihkan seluruh rumah, setelah sore hari mereka bisa pulang ke rumah mereka jadi tinggal kita berdua di rumah.” Usul Key.
“Ah iya, kamu benar, kenapa aku tidak terfikir sampai di sana! Lalu kamar pelayan yang ada di belakang untuk apa?”
“Kita bisa membuatnya menjadi ruang karaoke, atau tempat bermain anak-anak agar nanti kalau anak abang Kenan main ke rumah kita dia bisa bermain di ruangan itu.” Ucap Key.
“Lalu kapan kita memiliki anak kita sendiri?” tanya Bernard.
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut suaminya membuat Key tidak menjawab apa-apa dan tersipu malu.