
Jangan menunggu segala sesuatu terjadi dengan sendirinya, anda harus melakukan sesuatu untuk membuatnya menjadi kenyataan.
Khansa sudah memakai pakaian untuk ke kantor, di dalam kamarnya Khansa dan Kalandra saling diam menunggu mama Alisha dan Kenan yang masih berbicara.

“Mas, kenapa mereka lama ya?” tanya Khansa sambil menoleh ke arah Kalandra.
“Entahlah, aku juga bingung sebenarnya apa yang mereka bicarakan..”
Tidak lama kemudian, Kenan dan mama Alisha datang dengan senyum ceria di wajah Kenan.
“Kenapa kamu tersenyum seperti itu sayang?” tanya Khansa kepada Kenan.
“Gapapa mi. Kenan juga udah ga kaget lagi sama kedatangan adek Rey.” Ucap Kenan.
“Benarkah? apa kamu akan menyayangi adek Rey juga sama seperti kamu menyayangi Ken dan Key?” tanya Khansa.
Kenan menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin dan membuat Khansa tersenyum lega karena Kenan bisa menerima keberadaan Rey.
Rose sedang berada di rumah sakit untuk periksa karena sudah beberapa hari ini dia mengalami sakit di bagian perutnya.
“Selamat pagi nona Rose?” Sapa dokter yang ada di ruangan itu.
“Selamat pagi dok.” Ucap Rose lalu duduk di hadapan dokter tersebut.
“Ada keluhan apa nona?”
“Sudah beberapa hari ini perut saya sering sakit dok, saya juga ga paham saya kita hanya sakit biasa tapi ga sembuh-sembuh.” Jelas Rose sambil memegangi bagian perutnya.
“Baiklah saya periksa dulu ya, silahkan berbaring di tempat tidur.” Suruh dokter tersebut.
Rose berbaring di tempat tidur yang ada di ruangan itu untuk di periksa oleh dokter tersebut. Setelah di periksa, Rose turun dari tempat tidur dan menunggu hasil yang akan di ucapkan oleh dokter tersebut.
“Bagaimana dok?” tanya Rose.
“Begini nona, sebenarnya anda terkena penyakit autoimun.” Ucap dokter tersebut.
“Autoimun itu apa dok?” tanya Rose yang tidak mengerti maksud dari perkataan dokter itu.
“Penyakit autoimun adalah salah satu penyakit yang berkaitan dengan perubahan hormone, biasanya penyakit ini di sebabkan oleh system kekebalan tubuh yang seharusnya bersifat melindungi malah menyerang sel-sel di dalam tubuh. Biasanya mengakibatkan jaringan yang sehat menjadi rusak termasuk jaringan pada organ reproduksi.” Jelas dokter.
“Maksudnya organ reproduksi saya juga rusak dok? Apa akibat yang akan terjadi dan apa penyebab adanya penyakit ini?” tanya Rose dengan ragu.
“Kemungkinan terburuk anda akan sulit untuk hamil, tapi bukan berarti tidak bisa hanya saja kemungkinannya kecil. Dan biasanya penyakit ini di sebabkan oleh factor keturunan, lingkungan, perubahan hormon dan infeksi.”
“S,,saya akan sulit hamil dok? Apa tidak ad acara lain untuk menyembuhkan penyakit ini?”
“Cukup rutin datang untuk melakukan terapi pengganti hormon, saya yakin anda akan membaik secara perlahan.” Ucap dokter tersebut.
“Terimakasih dok..” ucap Rose lemas lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Rose pergi ke toilet terlebih dahulu dengan berjalan lemas dan menangis sejadi-jadinya karena penyakit yang di deritanya.
“Hikss,, hikss,, bagaimana ini apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa memberikan keturunan. Apa aku harus menghapus harapan untuk menikah dengan kak Ryan?
Aku tidak pantas untuk kak Ryan, aku tidak bisa memberinya keturunan hikss.. yaAllah aku harus bagaimana? Hikss..” Rose menangis, dia meratapi nasibnya yang menurutnya tidak sempurna karena tidak bisa memberikan keturunan.
Padahal Ryan sudah merencanakan untuk datang ke rumah Rose untuk melamarnya, namun setelah mengetahui tentang penyakit ini Rose tidak yakin untuk menikah dengan Ryan.
Rose menyeka air matanya dan mencoba menahan kesedihan yang dia rasakan.
“Sudahlah, aku akan mengakhiri hubunganku dengan kak Ryan, dia pantas mendapatkan yang lebih baik dan lebih sempurna dariku.” Gumam Rose.
Khansa dan Kalandra sudah berada di kantor bersama dengan kedua bayinya. Kalandra menunjukkan ruang istirahat yang sudah di desain sendiri oleh Kalandra.
Khansa terkejut melihat ruangan yang minimalis namun sangat indah menurutnya, tempat tidur yang besar dan bisa melihat pemandangan perkotaan dari dalam.

“Wah mas, ini sangat bagus..”
“Benarkah? aku senang jika kamu menyukainya sayang.” ucap Kalandra sambil mencium pucuk kepala istrinya.
Khansa dan Kalandra menaruh si kembar yang masih tertidur di atas kasur. Lalu Khansa berdiri tepat di depan jendela dan melihat pemandangan luar.
“Sayang, sebentar lagi anak-anak kita sudah berusia 1 bulan..” ucap Kalandra sambil memeluk Khansa yang sedang melihat ke luar jendela.
“Lalu?” tanya Khansa.
“Aku merindukanmu sayang..”
“Aku kan setiap hari ada di dekatmu mas, masa masih rindu?” tanya Khansa yang sebenarnya tau jika suaminya sudah tidak melakukan hubungan dengannya sejak dia selesai melahirkan.
“Tau ah, kamu ini ga peka deh.” Ucap Kalandra dengan nada kesal.
“Pfftt,, sabarlah mas karena masa nifasku masih belum selesai. Setelah selesai aku pasti akan bicara kepadamu.” Ucap Khansa sambil memeluk tubuh suaminya itu.
Kalandra membalas pelukan istrinya dan mencium bibir mungil Khansa dengan bersemangat lalu tangannya mulai masuk ke dalam bajunya.
“Stop mas, ada anak-anak nanti dia bangun.” Ucap Khansa yang menghetikan aktifitas suaminya dan langsung merapihkan bajunya kembali.
Khansa keluar dari ruangan istirahat itu yang di susul oleh Kalandra, di luar Edo sudah menunggu Kalandra dan Khansa.
“Kak Edo sejak kapan ada di sini?” tanya Khansa.
“Sejak tadi, aku menunggu kalian tapi kalian sedang enak-enakan di dalam.”
“Ngawur! Enak-enakan dari mana.” ketus Kalandra.
Khansa merasa bersalah kepada suaminya karena belum bisa melakukan tugasnya sebagai istri kembali.
“Oh iya sa, dimana Rose?” tanya Edo.
“Entahlah, kemarin dia bilang sebelum bekerja dia ada urusan dulu dan akan langsung datang ke perusahaan, tapi sampai sekarang dia masih belum datang dan tidak ada kabar juga.” Jelas Khansa.
Khansa mengambil hpnya dan mencoba untuk menghubungi Rose, namun nomer telfonnya tidak aktif. Khansa yang mulai merasa khawatir segera menelfon Ryan untuk menanyakan keberadaan Rose.
“Halo kak Ryan.” Ucap Khansa.
“Halo sa, ada apa?” tanya Ryan.
“Kak, apa kamu tau dimana Rose?”
“Loh bukankah hari ini dia sudah mulai bekerja?”
“Iya, tapi dia bilang sebelum bekerja dia akan melakuan sesuatu setelah itu baru ke perusahaan, tapi sampai sekarang dia masih belum datang kak.”
“Apa kamu tidak mencoba menelfonnya?” tanya Ryan yang mulai merasa khawatir.
“Aku sudah menelfonnya kak, tapi nomernya tidak aktif.” Ucap Khansa.
“Tunggu sebentar aku akan memeriksa keberadaannya terlebih dahulu.” Ucap Ryan yang langsung mematikan telfon Khansa.
Tiba-tiba Rose masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang kusut dan lemas. Khansa terkejut melihat keadaan Rose yang seperti itu.
“Rose, apa yang terjadi kepadamu!?” tanya Khansa.
“Hikss,, hikss.. kakak. A,aaku..” Rose menangis secara tiba-tiba.
“Bisakah kalian berdua keluar sebentar?” Khansa memohon kepada Kalandra dan Edo untuk keluar dari ruangan.
Kalandra dan Edo menuruti ucapan Khansa dan langsung keluar dari ruangan kerja Kalandra.
“Baiklah Rose, ceritalah ada apa sebenarnya?” tanya Khansa yang berusaha untuk menenangkan dirinya.
“Kak, aku tidak bisa menikah dengan kak Ryan hikss..” Pernyataan Rose membuat Khansa terkejut mendengarnya.
“Maksudnya apa? Bagaimana bisa kamu tiba-tiba berkata seperti itu? Bukankah kamu dan Ryan sudah semakin dekat? Kenan juga sudah mulai nyaman bersamamu Rose.”
“Kak,, hikss.. aku.. aku tidak bisa memberikan keturunan untuk kak Ryan..”
“APA!?”
“Hikss,, bagaimana aku bisa menikahi pria yang sempurna seperti dirinya sedangkan aku tidak bisa memberinya keturunan hikss..”
“Jelaskan padaku bagaimana bisa kamu tidak bisa memberinya keturunan?”
Akhirnya Rose menjelaskan secara detil apa yang dikatakan oleh dokter kepadanya.
“Rose, kamu masih memiliki kemungkinan untuk hamil selama kamu mau berusaha dan menjalani terapi secara rutin.”
“Aku tidak memiliki banyak uang untuk terus menerus terapi kak, aku juga tidak ingin kak Ryan mengetahuinya karena aku yakin dia akan membiayai biaya terapiku, aku tidak ingin menyusahkannya.”
“Aku yang akan membayar biaya terapimu, aku akan menanggung semuanya sampai kamu sembuh total.” Tegas Khansa.
“Engga kak, aku ga mau aku ga mau menjadi beban untuk siapapun.”
“Apa kamu menganggapku sebagai kakakmu? Jika iya berarti kamu harus menerimanya, kamu adalah adikku jadi kamu adalah tanggung jawabku.” Tegas Khansa.
“Hikss,, hikss,, maafkan aku kak maaf karena aku sudah menyusahkan kakak dan terimakasih banyak karena kakak mau membantuku..” ucap Rose sambil memeluk tubuh Khansa dengan erat.