MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
SEASON 2 (MENGHILANGKAN SIKAP EGOIS)


Jangan mencintai orang yang tidak mencintai Tuhannya. Jika mereka bisa meninggalkan Tuhannya, maka mereka juga bisa dengan mudah untuk meninggalkanmu.



Setelah mendapat persetujuan dari Aldi, Ken segera menelfon Audrey untuk menyuruhnya bersiap dan ikut dengannya.



“Halo..” ucap Audrey dari sebrang telfon.



“Halo Audrey, kamu segera bersiaplah sebentar lagi aku akan menjemputmu.” Ucap Ken yang membuat Audrey tidak mengerti.



“Apa? Kenapa? Ada apa sebenarnya Ken?” tanya Audrey.



“Aku akan mengajakmu ke Jepang dan bertemu dengan keluargaku.” Ucap Ken.



“Apa!? Mengenalkanku kepada keluargamu? Tapi bagaimana? Maksudnya kenapa kamu mau mengenalkanku?”



“Karena aku ingin membuktikan kepadamu kalau aku serius denganmu Audrey.”



“Tapi aku belum minta ijin papaku Ken, aku tidak yakin jika papa akan memberikan ijin.” Ucap Audrey.



“Kamu tenanglah, aku sudah meminta ijin kepada papamu dan dia mengijinkannya, jadi kamu segera bersiaplah bawa barang yang kamu butuhkan saja sisanya kita bisa membelinya di sana karena sebentar lagi aku akan menjemputmu dan jadwal keberangkatan kita sangat mepet.” Ucap Ken lalu mematikan telfonnya.



Setelah Ken mematikan telfonnya, Audrey segera mengemasi barang-barang yang di perlukannya dan bersiap untuk ikut Ken ke Jepang.



Key dan Bernard sudah ada di parkiran rumah sakit, di sana Key tetap kekeh untuk pulang dan tidak ingin ke dokter.


“Om beruang sudahlah tidak usah ke rumah sakit, kamu tau kan kalau lukaku hanya segini. Aku akan baik-baik saja setelah kamu belikan cairan untuk mensterilkan luka dan perban.” Ucap Key.


“Tidak Key, apa kamu tau kalau sekarang aku sedang ketakutan?” tanya Bernard.


“Ha? aku yang mau ke dokter kenapa om beruang yang ketakutan?” tanya Key dengan heran.


“Ya aku takut kalau papi dan abangmu akan menggantungku hidup-hidup melihat kamu terluka seperti itu! Aku kan masih mau hidup, masih mau menikah dan memiliki anak-anak yang banyak.” Ucap Bernard.


Key yang mendengar ucapan Bernard hanya tertawa tidak menyangka jika Bernard akan memikirkan hal sejauh itu.


“Kamu kenapa ketawa? Emang ada yang lucu dengan omonganku barusan?” tanya Bernard.


“Ada, semua yang om beruang omongin tadi itu lucu tau!”


“Lucu di mana sih Key, aku ini sedang bicara serius.”


“Aku tau aku tau, baiklah aku akan ke dokter jadi om beruang tidak usah ketakutan. Lagi pula besok papi dana bang akan sibuk dengan acara lamaran abang dan kak Belinda jadi mereka tidak memiliki waktu untuk memperhatikan lukaku.” Ucap Key mencoba untuk menenangkan Bernard.


“Apa kamu yakin?” selidik Bernard yang di balas anggukan oleh Key.


“Aku tidak yakin sebenarnya, tidak mungkin papi dan abang tidak memperhatikan lukaku besok. Tapi setidaknya perkataanku barusan bisa membuatmu sedikit lebih tenang om beruang.” Gumam Key di dalam hati sambil tersenyum ke arah Bernard.


Setelah meyakinkan Bernard, Key mengajak Bernard masuk ke dalam dan mendaftarkannya untuk melakukan pemeriksaan.


“Tidak usah mendaftar, aku adalah pemegang saham terbesar di rumah sakit ini.” ucap Bernard.


“Ada apa Key? Ayo.” Ajak Bernard.


“Om beruang, lebih baik kita mendaftar dan mengantri terlebih dahulu. Lihatlah orang-orang itu, mereka sudah dari tadi atau bahkan dari pagi mengantri untuk mendapatkan perawatan, bahkan mungkin sakit yang mereka derita lebih parah dariku yang hanya tergores sedikit ini.” ucap Key sambil melihat orang-orang yang sedang duduk menunggu nomer antrian mereka di panggil.


“Dan om beruang mau mendahului mereka? Itu bukanlah sikap seorang CEO perusahaan, lebih tepatnya itu adalah sikap yang di lakukan oleh seorang egois yang mementingkan dirinya sendiri. Memanfaatkan kekuasaan memang boleh, tapi tidak di rumah sakit karena nyawa orang tidak bisa di bayar dengan kekuasaan seseorang.” Lanjut Key.


Bernard yang mendengar ucapan Key hanya bisa menelan ludah dan mematung sambil melihat orang-orang yang sedang menunggu dengan wajah lelahnya.


“Baiklah, kamu tunggu di sini aku akan mendaftarkan pemeriksaanmu lebih dulu.” Ucap Bernard lalu pergi ke ruang pendaftaran.



Key tersenyum melihat Bernard yang mau menuruti permintaannya, setidaknya Bernard harus mengerti kalau kita harus melihat orang-orang yang berada di bawah.


“Setidaknya aku ingin saat kamu bersamaku, kamu bisa menghilangkan sikap egoismu dan melihat orang-orang yang berada di bawahmu.” Gumam Key yang melihat kepergian Bernard.


Key duduk di salah satu bangku yang ada di sana, di sebelahnya ada seorang ibu-ibu bersama dengan anak perempuannya. Key melihat anak perempuan itu tersenyum manis kepadanya.


“Permisi bu, anaknya umur berapa? Lucu sekali dia..” ucap Key menggunakan bahasa Jepang sambil tersenyum melihat gadis kecil itu.


Key harus menggunakan Bahasa Jepang di sana karena tidak semua orang mengerti Bahasa inggris apalagi Bahasa Indonesia.


“Umurnya sudah 5 tahun.” Ucap ibu tersebut sambil tersenyum ramah kepada Key.


“Maaf bu, tapi kalau boleh tau dia sakit apa?” tanya Key dengan ragu karena takut menyinggung perasaan ibu anak itu.


“Sebenarnya dia tidak sakit apa-apa, tapi kemarin dia habis terjatuh dari ayunan dan tadi pagi mengeluh kalau dada dan perutnya sangat sakit, jadi saya mencoba untuk memeriksa keadaannya.” Jelas ibu anak itu.


Tiba-tiba saja anak kecil itu terbatuk dan mengeluarkan darah yang lumayan banyak, ibu dari bayi itu panik dan hanya bisa menangis, sedangkan Key yang melihat hal itu segera berdiri dan mengambil anak kecil itu dari tangan ibunya yang tidak bisa berbuat apa-apa karena panik.


Key langsung berlari melewati beberapa orang yang sedang mengantri dan menggedor pintu ruang perawatan dengan sangat kencang hingga membuat semua orang melihat ke arahnya. Key tidak memperdulikan semua orang yang sedang menatapnya dan tidak memperdulikan bagaimana penampilannya yang bajunya penuh dengan darah itu, yang ada di fikirannya hanya menyelamatkan gadis kecil itu.


“Anda ini sedang apa sih! Apa tidak tau jika di dalam ada seorang pasien yang sedang di periksa!” bentak perawat yang ada di sana.


“Apa kamu buta! Lihatlah anak ini, dia sedang sekarat dan kamu masih memprioritaskan pasien yang masih baik-baik saja ha!” Key yang kesal membentak balik perawat yang ada di depannya.


“Tapi semua orang juga sudah lama mengantri!”


“Dimana dokternya! Aku ingin bertemu dengan dokternya sekarang juga! Biar dia yang memutuskan siapa yang harus di tangani lebih dulu!” ketus Key.


Mendengar suara berisik dari luar, dokter yang ada di dalam memeriksa keadaan yang ada di luar dan terkejut melihat ada seorang wanita yang sudah di penuhi oleh darah di bajunya.


“Kenapa gadis kecil ini!?” tanya dokter laki-laki itu dengan nada yang panik.


“Dia tiba-tiba batuk dan mengeluarkan banyak darah, tapi perawat anda melarangku untuk masuk ke dalam sedangkan kondisi gadis ini lebih parah dari pasien yang lain!” jelas Key sambil menatap sinis ke arah perawat itu.



“Baiklah, silahkan masuk! Saya benar-benar minta maaf dengan sikap perawat saya yang seenaknya.” Ucap dokter itu lalu mempersilahkan Key dan anak kecil yang di gendongnya masuk ke dalam ruangan.


Key menaruh anak kecil itu di atas kasur pasien dan membiarkan dokter untuk memeriksanya.


“Dok, saya tinggal ke luar untuk menenangkan ibu dari anak kecil ini yang masih terkejut karena kejadian ini dulu.” ucap Key yang di balas anggukan oleh dokter tersebut.


Key yang baru saja keluar dari ruang perawatan itu melihat ibu anak kecil itu menangis dengan histeris di bangkunya, Key segera menghampiri ibu itu untuk mencoba menenangkannya.


“Key! Kamu kenapa? Kenapa ada banyak darah di bajumu!?” tanya Bernard dengan nada yang sangat khawatir.


“Aku tidak apa-apa om beruang.”


“Tidak apa-apa bagaimana jika di bajumu penuh dengan darah seperti ini!” ketus Bernard sambil memutar-mutar tubuh Key untuk memeriksa keadaannya.


“Nanti akan aku jelaskan, aku harus menenangkan ibu itu dulu karena anaknya sedang berada di ruang perawatan.” Ucap Key lalu menepis tangan Bernard yang ada di pundaknya.


Bernard melihat kemana Key berjalan ke arah seorang wanita yang sedang menangis histeris dan melihat Key memeluk wanita itu untuk menenangkannya.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku tidak mengerti akan situasi yang sedang terjadi di sini.” Gumam Bernard yang heran melihat sikap Key.