
Cinta membutuhkan pasangan. Itulah mengapa Tuhan menciptakan kekosongan diantara jemari tangan kita agar nanti ada jemari lainnya yang akan melengkapi dan membantu mengisi kekosongan itu.
“Papa, kita sebenarnya mau jalan-jalan ke mana?” tanya Kenan yang tidak tau ingin di bawa kemana oleh papanya.
“Papa ingin mengajakmu ke Dufan sayang, kamu pernah ke Dufan?” Tanya Ryan.
“Wah,, benarkah pa? Kenan belum pernah kesana, papi selalu sibuk dengan pekerjaannya.”
“Karena itu papa mengajakmu ke sana sekarang sayang.”
Kenan tersenyum senang karena papanya akan mengajaknya jalan-jalan ke tempat yang belum sempat ia datangi.
“Kenan pasti belum makan kan? Tadi tante bikin roti bakar nih, Kenan mau?” tanya Rose.
“Mau tante..” ucap Kenan dengan semangat.
Rose memberikan sepotong roti bakar kepada Kenan, dan tersenyum melihat Kenan yang memakan roti buatannya dengan lahap.
Ryan tersenyum melihat interaksi antara anak dan kekasihnya yang mulai dekat itu.
“Kita sudah sampai, ayo kita turun.” Ajak Ryan.
“Apakah benar kita sudah sampai kak?” tanya Rose.
“Iya, kita sudah sampai ayo turun.”
Ryan turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Rose dan Kenan.
“Silahkan turun ratu dan pangeranku.” Ucap Ryan sambil membungkukan badannya.
Kenan dan Rose tertawa melihat kelakuan Ryan yang menurutnya terlalu berlebihan itu.
“Papa ih malu tau di latin orang-orang.” Rengek Kenan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Kenapa malu? Emang kita nyolong? Emang kita ga pake baju?” ucap Ryan.
“Ya engga sih pa,,”
“Makanya, selama kita ga merugikan orang lain kita ga boleh malu.” Jelas Ryan.
Kenan mengangguk tanda mengerti ucapan papanya. Akhirnya mereka bertiga bermain dan menaiki wahana bersama, hari itu Ryan, Rose dan Kenan sudah seperti keluarga yang sangat bahagia.
Rumah Kalandra
Kalandra baru saja pulang dari kantor dengan sangat bersemangat karena ia sangat ingin cepat-cepat bertemu dengan anak-anaknya.
“Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam..” balas Khansa sambil melihat ke arah pintu rumahnya.
“Hai sayang, kamu tau kan Kenan di ajak Ryan dan Rose?”
“Iya mas aku tau kok, tadi sebelum jemput Kenan mereka ke rumah dulu ngambil baju ganti buat Kenan, oh iya kamu mau minum apa mas?”
“Bikinin aku minuman yang seger deh sayang, hari ini panas banget soalnya.”
“Okedeh mas, aku bikini dulu ya kamu tunggu sini aja ya..”
Khansa masuk ke dapur untuk membuatkan minuman segar untuk suaminya itu. Sedangkan Kalandra bersandar di sofa sambil memejamkan kedua matanya.
“Terimakasih sayang.. oh iya si kembar mana?”
“Si kembar baru aja minum susu terus tidur deh.”
“Bangunin lah sayang, aku udah kangen banget sama mereka.” Rengek Kalandra.
“Jangan ah kasian mereka kalo di bangunin, emang kamu mau kalo lagi enak-enak tidur di bangunin?” ketus Khansa.
“Hehehe ya engga mau sih sayang.” ucap Kalandra sambil memamerkan gigi putihnya.
Kalandra dan Khansa menikmati minuman bersama sambil berbincang-bincang.
“Oh iya mas, aku ingin kamu menemaniku menjenguk Hani.” Ucap Khansa tiba-tiba yang membuat Kalandra terkejut.
“Ngapain sayang?”
“Ya pokoknya aku ingin menjenguknya mas, aku ingin tau keadaannya apakah dia sudah melahirkan atau belum. Jujur sebenarnya aku kasihan melihat hanya dirinya yang menerima hukuman berat ini, sedangkan otak dari kejahatan itu mungkin sedang bersenang-senang di luar sana.” Ucap Khansa dengan emosi yang tertahan.
“Baiklah aku akan mengantarmu untuk menjenguknya, tapi kamu harus memanggil ibu juga buat jagain si kembar, soalnya mama akan repot jika mengurusi ketiga cucunya sendirian.” Ucap Kalandra yang di balas anggukan oleh Khansa.
Khansa segera mengambil hpnya dan menghubungi ibunya untuk datang ke rumah besok dan membantu mama mertuanya menjaga si kembar.
Sebenarnya bisa saja Kalandra meminta bi Rini menjaga si kembar, bukannya tidak percaya namun Kalandra ingin mencegah kejadian yang pernah terjadi agar tidak terulang lagi dan membahayakan ketiga anaknya.
“Halo Assalamualaikum bu..” salam Khansa.
“Waalaikumsalam nak, ada apa sa?”
“Ibu besok sibuk ga?”
“Insyaallah engga kok sayang, ada apa?”
“Aku mau minta tolong ibu buat ke rumah mas Andra besok dan membantu mama untuk menjaga si kembar, karena sasa dan mas Andra besok mau ke penjara.” Jelas Khansa.
“Penjara!? Apa kalian melakukan kesalahan sa? yaAllah nak, anak-anakmu masih merah bisa-bisanya kalian masuk ke penjara!” ibu Khansa mulai memarahi Khansa.
“Stop bu, Khansa dan mas Andra tidak melakukan kesalahan apapun.”
“Lalu untuk apa kalian ke penjara?”
“Aku ingin menjenguk Hani di penjara, dia sedang hamil dan aku mengkhawatirkan bayinya bu.”
“Dia itu orang jahat nak, untuk apa kamu menjenguknya dan mengasihaninya?”
“Semua orang punya sifat jahat di dalam dirinya bu, tapi ada yang bisa mengendalikannya dan ada juga yang tidak bisa mengendalikannya. Bukankah ibu sendiri yang bilang ke Khansa kalau manusia adalah tempatnya salah, jadi sasa yakin dia bisa berubah bu.” Jelas Khansa.
“Khansa tidak mengkhawatirkan keadaan Hani bu, sasa hanya mengkhawatirkan keadaan bayinya, sasa kasihan dengan bayi itu karena harus lahir dan tumbuh di penjara yang dingin.” lanjut Khansa.
“Terserah kamu deh sa, ibu cuma bisa bilang ke kamu hati-hati, jangan sampai kebaikanmu dan suamimu akan membuat kejadian di masa lalu terulang kembali.” Ucap ibu Khansa.
“Terimakasih bu, sasa sayang banget sama ibu..” ucap Khansa sebelum akhirnya mematikan telfonnya.
Khansa kembali menaruh hpnya di tempat semula dan menghampiri suaminya kembali.
“Gimana sayang, mama bisa?” tanya Kalandra yang melihat istrinya baru saja datang.
“Bisa kok mas, cuma rada ada kesalahpahaman aja tadi sama ibu.”
“Kesalahpahaman gimana?” tanya Kalandra heran.
“Iya tadi ibu kira kita yang masuk penjara, terus dia ceramah panjang lebar.” Keluh Khansa sambil memanyunkan bibirnya.
“Pfftt,, dasar ibu emang pikirannya parno banget ya sayang berbanding terbalik sama mama yang selalu santuy dan berfikiran positif.”
“Hm, mereka memang bagaikan langit dan bumi tapi kalo udah bareng mereka kompak dan akrab banget mas.”
“Nah bener banget tuh sayang.”
“Oh iya, mungkin mulai lusa kamu sudah bisa bekerja di perusahaan.” Ucap Kalandra.
“Benarkah mas? Apakah kantormu sudah selesai di renovasi?” tanya Khansa.
“Sudah sayang, mungkin besok tinggal menata barang-barang yang baru aku beli, setelah itu finish..” jelas Kalandra dengan semangat.
“Semangat banget sih kamu mas.”
“Iya sayang, aku udah nungguin hari dimana aku bisa bekerja di dekat istri dan ketiga anakku, aku sudah memutuskan untuk menjemput Kenan dari sekolah dan langsung membawanya ke kantor sekalian agar dia bisa melihat bagaimana cara papinya bekerja.”
“Wah, kamu memang memiliki rencana yang sudah sangat matang ya mas.” Puji Khansa.
“Tentu saja, sebenarnya ada banyak rencana di otakku untuk selalu menghabiskan waktuku untuk kamu dan anak-anak, jadi saat aku sudah memenuhinya satu per satu aku akan sangat bersemangat.”
“Sudahlah, kamu mandi dan ganti baju dulu sana. Setelah itu aku akan menyediakan makan untukmu.”
“Baiklah sayang aku ke atas dulu ya sekalian mau bangunin si kembar muahh..” Kalandra mencium pipi istrinya dan langsung berlari menuju kamarnya.
“Jangat di bangunin mas…” teriak Khansa yang sudah melihat suaminya masuk ke dalam kamar.
Khansa hanya menggelengkan kepalanya dengan tangan di lipat ke dadanya.
“Dasar bapak-bapak, ga tau apa ya dari tadi si kembar ga tidur sekalinya tidur di bangunin lagi, lah aku kapan istirahatnya? Huaa..” batin Khansa sambil melihat kepergian suaminya.