MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
KECURIGAAN KHANSA


Seberat apapun beban masalah yang kamu hadapi saat ini, percayalah bahwa semua itu tidak pernah melebihi batas kemampuan kamu.




Hari sudah mulai terang, Khansa masih setia menjaga suaminya yang masih terlelap itu. Setelah cukup lama menatap sang suami yang sedang tertidur.



“*Kamu sudah terlalu lama memendam kesedihanmu sendirian mas. Kita tidak boleh terus berlarut dalam kesedihan, orang yang menculik Kenan akan senang jika melihat kita terus bersedih*.” Batin Khansa sambil menatap wajah suaminya.



Khansa beranjak dari tempat tidurnya lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri dan memakai pakaian yang rapih, Khansa langsung turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan untuk adik dan suaminya.



“Selamat pagi nyonya” ucap bi Rini.



“Selamat pagi bi.”



“Saya ikut sedih atas hilangnya tuan Kenan ya nyonya.” Ucap bi Rini dengan nada yang sedih.



“Saya tau bibi lebih merasa sedih dibandingkan saya, karena bibi adalah orang yang mengasuh Kenan sejak kecil” ucap Khansa.



Bi Rini mulai meneteskan air mata, ia menangis sekencang-kencangnya karena merasakan kesedihan akan hilangnya Kenan.



Khansa menghampiri bi Rini dan memeluknya sambil tangannya mengelus punggung bi Rini.



“Tenanglah bi, kita harus tegar untuk mencari Kenan.” ucap Khansa menenangkan bi Rini.



“Ah iya, nyonya butuh apa di dapur?” tanya bi Rini yang baru menyadari jika majikannya sedang ada di dapur.



“Sasa mau nyiapin sarapan buat mas Andra dan Leo bi” ucap Khansa



“Biar saya saja nyonya..”



“Tidak bi, bibi ngerjain yang lain aja, biar sasa yang nyiapin sarapan” ucap Khansa menghalangi bi Rini untuk membantunya.



Saat Khansa sedang menyiapkan sarapan dan mentanya di atas meja makan, Rose sudah berada di depan rumahnya dengan tepat waktu.



Khansa yang melihat kedatangan Rose pagi itu menghentikan aktifitasnya dan langsung menghampirinya.



“Hai Rose, kamu sudah datang?” tanya Khansa dengan senyum ceria.



Rose merasa aneh karena melihat majikannya itu sangat berbeda dibandingkan kemarin.



“*Bagaimana bisa kak sasa tersenyum seceria ini padahal kemarin dia menangis sampai air matanya habis*” batin Rose yang masih menatap majikannya dengan tatapan aneh.



“Ada apa Rose? Apa ada yang aneh denganku?” tanya Khansa yang melihat Rose sedang menatapnya dengan tatapan aneh.



Rose dengan segera menggelengkan kepalanya, “Apakah Kenan sudah ketemu kak?” tanya Rose ragu.



Khansa menundukkan kepalanya dan menggeleng, “Belum Rose. Aku berusaha untuk bahagia agar nanti saat bertemu dengan Kenan dia tidak akan sedih melihatku mengkhawatirkannya. Tapi aku tetap saja mengingatnya.”



Dengan perlahan dan ragu, Rose memeluk Khansa dan menepuk pelan punggung Khansa untuk menenangkannya.



“Kita akan menemukannya kak, pasti! Aku akan membantu mencari Kenan walaupun nyawaku taruhannya.”



“Tidak Rose! Tidak ada yang harus kehilangan nyawanya untuk ini. karena sebelum penculik itu menghilangkan nyawa salah satu keluargaku, dialah yang akan kehilangan nyawanya ditanganku dan di tangan suamiku.” Ucap Khansa dengan penuh amarah.



Rose tidak menyangka melihat Khansa yang selama ini polos ternyata punya sisi yang seperti itu.



“*Dia polos dan baik hati, tapi jika sudah menyangkut tentang keluarganya dia bisa menjadi sesadis itu*” batin Rose.



Khansa menoleh ke arah Rose lalu tersenyum.



“Apa aku menyeramkan?” tanya Khansa yang berhasil membuat Rose membuyarkan lamunannya.



“T,,tidak. Hanya saja aku baru mengetahui jika kak sasa memiliki sifat yang seperti ini.” ucap Rose.



“Duduklah, kita sarapan bersama. Kamu datang sepagi ini tentu belum sarapan bukan?” tanya Khansa yang menyuruh Rose untuk duduk di kursi makan.



Rose menuruti perintah Khansa untuk duduk, sedangkan Khansa ke atas untuk membangunkan suami dan adiknya.



“Mas, kamu sudah bangun? Apa kamu masih merasa pusing?” tanya Khansa yang melihat suaminya sudah duduk di pinggir tempat tidur.



“Aku tidak apa-apa sayang, kemarin aku hanya kelelahan.” Ucap Kalandra sambil tersenyum ke arah istrinya.



“Kamu cuci muka dan sikat gigi aja ya mas, terus kita sarapan bersama di bawah. Rose juga sudah ada di bawah sedang menunggu kita.”



“Dia sudah datang? sepagi ini?” tanya Kalandra heran.



“Iya mas dia sudah datang, mungkin dia merasa memiliki tanggung jawab atas Kenan makanya dia datang sepagi ini.” ucap Khansa.



“Kalau begitu aku mandi dulu saja, sebentar lagi juga Edo dan Ryan akan datang kemari” ucap Kalandra.




Kalandra tersenyum menghampiri Khansa dan mencium kening istrinya itu.



“Tidak akan sayang, aku akan lebih berhati-hati lagi.” Ucap Kalandra.



Khansa mengangguk dan keluar dari kamar untuk membangunkan adiknya. Setelah membangunkan adiknya, Khansa kembali turun untuk menemani Rose yang ada di bawah.



“Rose aku membutuhkan bantuanmu.” Ucap Khansa



“Ada apa kak?”



“Nanti aku akan bilang kepada suamiku jika aku akan pergi menemui Lila bersamamu, lalu kita pergi ke café X untuk menemui seseorang.” Ujar Khansa dengan nada berbisik.



“Kita akan bertemu dengan siapa kak?” tanya Rose penasaran.



“Nanti akan aku ceritakan di jalan.”


Tidak lama kemudian Kalandra dan Leo datang dan ikut duduk bersama mereka.



Rose dengan sopan langsung berdiri dan membungkuk kepada Kalandra dan Leo.



“Kalo ke aku ga usah beri salam, kita seumuran” bisik Leo yang duduk disebelah Rose.



Rose tidak menjawab ucapan Leo dan hanya tersenyum kecil.



“Mas, aku nanti mau ketemu sama Lila ya.” Ucap Khansa.



“Ngapain sayang? Bukannya ntar dia akan kesini?”



“Aku mau jemput dia, soalnya Riko berangkat sebelum dia terbangun.”



“Benarkah? Aku akan menegur Riko jika kalau begitu.”



“Eh,, jangan mas, udahlah aku sekalian mau refreshing, aku sama Rose kok mas.” Ucap Khansa menahan suaminya agar tidak mengabari Riko.



Kalandra akhirnya menyetujui permintaan Khansa.



Di mobil, Khansa langsung menghubungi Lila dan mengatakan jika dia akan menjemputnya nanti.



Khansa dan Rose diantar oleh pak Asep menuju café dimana Hani bekerja disana.



“Pak, jangan bilang mas Andra kalo saya kesini ya.” Ucap Khansa meminta tolong ke pak Asep agar dia tidak melaporkannya kepada Kalandra.



Pak Asep hanya mengangguk mengiyakan ucapan Khansa.



Khansa langsung masuk ke dalam café yang di ikuti dengan Rose, disana mereka memilih tempat duduk di pojok.



Khansa melihat sekeliling untuk mencari Hani, tapi dia tidak menemukannya.


Khansa langsung menghampiri kasir café itu untuk menanyakan keberadaan Hani.



“Ada yang bisa saya bantu?” tanya kasir itu.



“Apakah disini ada pegawai yang bernama Hani?” tanya Khansa.



“dulu ada, tapi udah dua hari yang lalu dia berhenti mbak.” Ucap kasir itu.



Khansa terkejut dan berterima kasih kepada pegawai itu lalu meminta nomer hp Hani.



Setelah mendapatkan nomer hp Hani, Khansa langsung mengajak Rose untuk pulang.



“Ada apa kak? Orang yang kakak cari ga ada?” tanya Rose.



“Iya, orang yang aku cari udah berhenti dua hari yang lalu.”



“Apa kak sasa mencurigai orang itu?”



“Bagaimana kamu tau?”



“Aku bisa melihat dari ekspresi kakak.”



“Kamu ternyata sangat peka ya Rose. Sudahlah ayo kita jemput Lila.” ajak Khansa.



Setelah mereka sampai di rumah Lila, Lila langsung masuk kedalam mobil, Khansa menceritakan kenapa dia akhirnya menjemput Lila.



“Sepertinya dia memang harus di curigai sa.” Ucap Lila setelah mendengar cerita Khansa.



Setelah lama berbincang, mereka sudah sampai di rumah Khansa dan mereka langsung masuk ke dalam dengan tenang agar Kalandra tidak mencurigai apapun.