
Berjagalah untuk hal yang terburuk, berharaplah akan hal yang terbaik dan terimalah apapun yang datang.
Dorr!!
Suara tembakan terdengar dengan sangat kencang dari dalam gedung hingga membuat semua orang yang mendengarnya terkejut.
Namun suara tembakan tersebut bukan dari pistol Dina, melainkan suara dari pistol Key yang di berikan oleh Rey untuk berjaga-jaga dan dia taruh di dalam kantong celananya yang cukup tebal.
Key yang melihat Dina sudah mau menekan pistol tersebut langsung mengeluarkan pistolnya dari dalam kantong celananya dan menembakkan pelurunya ke tanah dekat kaki Diana hingga dirinya menjatuhkan pistolnya karena terkejut.
**Flashback**
Di dalam parkiran bawah tanah, Rey tiba-tiba saja mengeluarkan pistol dari dalam jaket tebalnya dan di berikan kepada Key.
“Bawalah ini.” ucap Rey.
“Apa? Kenapa aku harus membawa pistol? Aku tidak mau! Aku sudah memiliki senjataku sendiri.” ucap Key.
“Apa? Gas air mata? Atau panahmu itu? Itu akan memakan waktu lama Key, aku yakin mereka pasti memiliki pistol juga, kamu juga handal bukan menggunakan pistol.” Ucap Rey.
“Aku tidak mau berurusan dengan polisi Rey, pistol hanya membuatku berurusan dengan polisi.”
“Tidak akan, yang berurusan dengan polisi adalah dia yang tidak memiliki surat ijin, sedangkan kamu memilikinya bukan?” tanya Rey yang di balas anggukan oleh Key.
“Sudahlah, intinya kamu harus menyimpan ini karena hanya benda ini saja yang mudah di bawa kemanapun.” Ucap Rey.
Akhirnya Key menerima pistol yang di berikan oleh Rey dan di masukkan ke dalam kantong celananya yang memang tebal jadi tidak akan ada yang tau kalau Key sedang membawa pistol.
“Terimakasih Rey, tapi aku akan berusaha untuk tidak menggunakannya selama aku masih bisa melawannya tanpa senjata.” Ucap Key.
Rey hanya tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Key, akhirnya mereka masuk ke dalam mobil Key untuk menghampiri Bernard yang menunggu di sebrang jalan.
**Flashback end**.
“Bagaimana ini? kenapa Key tidak memberi sinyal apapun?” tanya Jonathan.
“Tenanglah kak, tunggu sebentar lagi.” Ucap Rey.
Dan benar saja, tidak lama kemudian Key berbicara hingga membuat semua orang menjadi lega.
“Wah, untung saja Rey memberikanku pistol kalau tidak aku sudah mati hari ini. tapi pistolmu sangat lamban Rey.” Ucap Key dengan santai.
Semua orang bernafas lega mendengar suara Key yang sangat santai itu. Mereka sudah mengetahui kalau tidak ada yang terjadi kepada Key.
“Benar bukan aku bilang? Key tidak akan membiarkan dirinya dalam bahaya kak.” Ucap Rey.
“Ya, kamu benar tapi aku tetap tidak akan pernahmengijinkannya melakukan hal yang berbahaya seperti ini lagi.” Ucap Bernard.
“Bagaimana? Apa kita harus masuk ke dalam?” tanya Jonathan.
“Jangan dulu, aku yakin Key masih ingin berbicara dengan Dina.”
Di dalam gedung, Key melihat kalau Dina ingin mengambil kembali pistolnya yang berada di bawah kakinya, namun Key segera berlari untuk mengambil pistol milik Dina dan meletakkan pistolnya ke arah kepala Dina.
“Kalau kalian mendekat, wanita ini akan mati di tanganku.” Ucap Key yang membuat laki-laki bertubuh besar itu yang tadinya mau mendekati mereka perlahan berjalan mejauh.
“Kalian kenapa penakut sekali? apa kalian tida malu dengan badan besar kalian itu!? Dasar tidak berguna!” teriak Dina.
“Huh, kalian semua ini di bayar berapa oleh Dina? apa kalian tidak tau kalau aku adalah anak Kalandra, pebisnis yang terkenal di Indonesia dan di Jepang? Kalian akan dengan mudah aku masukkan ke dalam penjara dan membusuk di sana kalau aku mau.” Ucap Key dengan santai.
“Jangan dengarkan dia! Apa kalian semua takut hanya karena dia menyebutkan nama Kalandra?” tanya Dina.
“Kamu tau Dina? setidaknya kamu harus melakukan persiapan yang matang untuk melawan aku. Kamu seharusnya memiliki rencana yang sangat hebat jika mau melawanku, tapi tidak! Aku adalah anak Kalandra dan aku pun tidak akan memberikan kesempatan untuk membiarkanmu mengancamku untuk yang kedua kalinya.” Bisik Key tepat di telinga Dina.
“Kamu tidak akan bahagia Key! Kamu sudah menghancurkan hidup kakakku dan hidupmu pun akan hancur.” Ucap Dina.
“Tidak aku tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan hidupku! Kakakmu sendirilah yang membuat hidupnya hancur Dina bukan aku.” Ucap Key.
“Untuk kalian semua, jika kalian tidak ingin masuk ke dalam penjara aku akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk pergi dari sini karena aku tau kalau kalian semua ini hanya melakukan pekerjaan kalian untuk menafkahi keluarga kalian, tapi aku harap kalian tidak akan melakukan hal-hal yang akan merugikan kalian nantinya seperti sekarang ini. cepatlah keluar sebelum aku berubah fikiran.” ucap Key kepada kelima laki-laki bertubuh besar itu.
Mendengar ucapan Key, pada laki-laki itu hanya saling melihat satu sama lain lalu memutuskan untuk pergi keluar dari gedung tersebut karena mereka semua ingin mencari aman.
Melihat para laki-laki berbadan besar itu sudah keluar dari dalam gedung, Bernard dan yang lainnya memutuskan untuk masuk ke dalam gedung dan menjemput Key.
“Key!” teriak Bernard yang baru saja masuk ke dalam gedung.
“Kau! Kau membawa teman?! Bukankah aku sudah bilang kalau kamu harus datang sendiri!” ucap Dina yang kesal melihat kehadiran Bernard dan yang lainnya.
“Apa kau fikir aku akan mempercayaimu? Aku tidak sebodoh dirimu yang mengira aku akan datang sendirian kesini.” Ucap Key.
“Rey sepertinya kamu harus mengurusnya.” Ucap Key kepada Rey.
“Aku? Mengurus wanita ini?” tanya Rey yang di balas anggukan oleh Key.
Akhirnya Rey menuruti perintah Key untuk mengurus Dina untuk di bawa ke pihak berwajib.
“Key apakah kamu tau? Gadis ini cantik sekali, tapi sayang kelakuannya busuk sekali tidak sesuai dengan wajahnya.” Ucap Rey dengan lantang.
“Benar, dia sama seperti kakaknya yang cantik tapi hanya menyukai harta abangku saja padahal dulu abangku sering sekali melamarnya dan ingin menjadikannya istrinya tapi kakaknya lah yang tidak mau dan mementingkan karirnya.” Ucap Key.
“Tidak! Kamu jangan berbohong Key! Kakakmu tidak pernah melamar kakaku!” bentak Dina.
“Terserah kamu saja! bahkan cincin untuk melamar kakakmu masih ada di lemari lama abangku dan di dalam cincin itu ada ukiran nama si nenek lampir itu, sebenarnya abangku sudah menyuruhku membuangnya namun aku sengaja tidak membuangnya untuk berjaga-jaga kalau ada kejadian seperti ini atau saat nenek lampir itu menuntut sesuatu kepada abangku.” Jelas Key.
Bernard langsung menghampiri Key dan memeluknya dengan erat hingga membuat Key terkejut.
“Om beruang kamu kenapa?” tanya Key.
“Kamu ini bodoh atau apa? Kenapa kamu memancing emosinya ha? jantungku benar-benar akan berhenti saat mendengar suara tembakan tadi!” ucap Bernard.
“Aku tidak bodoh om beruang, aku yakin kalau kamu tidak akan membiarkanku kenapa-kenapa.” Ucap Key yang membalas pelukan Bernard.
“Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal-hal berbahaya seperti ini lagi! Aku tidak akan membiarkanmu terluka!” ucap Bernard.
“Iya-iya, aku tidak akan melakukan hal-hal yang berbahaya lagi aku janji. Loh kenapa kak Jo dan dokter Harry ada di sini?” tanya Key yang melihat Jonathan dan Harry yang berada di belakang Bernard.
“Aku yang mengajak mereka, Harry akan mengobati korban yang terluka dan Jonathan akan menyusun rencana untuk kita menyelamatkanmu. Tapi ternyata kamu lebih handal dari yang aku kira.” Ucap Bernard.
“Aku kan sudah bilang kalau aku akan menunjukkan betapa kerennya aku, apa aku keren?” tanya Key.
“Tidak! Kamu ini menyebalkan sudahlah aku tidak mau kamu melakukan hal itu lagi. Ayo kita pulang, mami kamu sudah menunggumu di apartment.” Ucap Bernard.
“Apa? Maksud om beruang mami sudah tau tentang hal ini?” tanya Key sambil melepaskan pelukannya.
“Tentu saja dia tau, salah siapa yang membicarakan rencananya dengan keras?” tanya Bernard.
“Ah, jadi mami mendengar pembicaraanku dengan Elsa dan Lana ya?” tanya Key yang di balas anggukan oleh Bernard.
Akhirnya Bernard pulang bersama Key menggunakan mobil Key, sedangkan Rey, Jonathan dan Harry membawa Dina untuk di serahkan ke kantor polisi menggunakan mobil Bernard.