
Karena itu jagalah cinta yang dianugerahkan itu sebaik-baiknya agar ia terus mekar dan wangi sepanjang musim.
***Ryan&Rose***
Setelah kejadian malam itu, Rose menjadi canggung jika berada di dekat Ryan. Rose selalu menghindar agar tidak bertemu dengan Ryan kecuali masalah pekerjaan.
Karena mengetahui jika Rose menghindarinya, Ryan menjadi tidak nyaman dan ingin berbicara berdua dengan Rose.
Ryan menunggu Rose di luar kamarnya, karena biasanya Rose keluar pagi untuk menghindari Ryan, hari itu Ryan menunggu lebih pagi agar bisa bertemu dengan Rose.
Cklek.
Rose membuka pintu kamarnya dan melihat keberadaan Ryan di depan pintu kamarnya.

Rose ingin berbalik masuk ke dalam kamarnya namun tangannya di Tarik oleh Ryan sehingga Rose jatuh ke dalam pelukan Ryan.
Rose berusaha melepaskan dri dari pelukan Ryan namun tidak berhasil karena tenaga Ryan lebih besar dibanding dengan dirinya.
“Diamlah, kamu akan kelelahan sendiri jika memaksa melepaskan diri dari pelukanku.” Bisik Ryan.
“Apa yang kamu inginkan dariku! Setelah merampas ciuman pertamaku lalu kamu bilang itu adalah kesalahan tanpa meminta maaf kepadaku? Bagaimana bisa kamu mengatakan sesuatu tanpa memikirkan perasaan orang lain.”
**FLASHBACK**
Saat mencium Rose, Ryan sadar akan kesalahannya dan segera menjauhkan wajahnya dari Rose. Seketika keadaan di dalam mobil menjadi canggung dan hening.
“A,,aku tidak sengaja, apa yang aku lakukan hanya kesalahan, jangan diambil hati dan lupakan kejadian tadi.” Ucap Ryan dengan entengnya.
Rose hanya diam menahan amarahnya, Rose sangat kesal karena Ryan sudah mengambil ciuman pertamanya dengan tiba-tiba tanpa merasa bersalah sama sekali, bahkan menyuruhnya untuk melupakan kejadian itu.
“Aku ingin pulang!” ketus Rose.
“Kenapa? Bukankah kamu lapar? Kita akan pulang setelah memakan sesuatu.” Ucap Ryan.
“TIDAK! Aku ingin pulang sekarang juga!” bentak Rose.
Ryan terkejut karena itu adalah pertama kalinya Rose membentaknya, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi Ryan langsung memutar balikkan mobilnya menuju ke hotel dan semenjak itu dia hanya berbicara kepada Rose mengenai pekerjaan, selain itu Rose tidak pernah menjawab pertanyaannya.
**FLASHBACK END**
“Maaf. Aku benar-benar minta maaf kepadamu Rose, jangan mendiamkan aku seperti ini.” pinta Ryan.
Rose hanya diam sambil melirik Ryan yang sedang meminta maaf kepadanya.
“Aku tulus meminta maaf kepadamu Rose, kejadian malam itu aku benar-benar salah telah menciummu secara tiba-tiba. Tapi entah sejak kapan aku selalu terbiasa berada di dekatmu, aku belum yakin dengan perasaanku tapi sepertinya aku menyukaimu.” Ucap Ryan.
Rose hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Ryan, dia berusaha untuk tidak mempercayai perkataannya.
Ryan melihat ekspresi Rose, dia tau betul jika Rose menganggap ucapannya hanya candaan belaka. Ryan memberanikan diri untuk meraih tangan Rose dan menggenggamnya dengan erat.
“Rose, aku tau mungkin kamu tidak mempercayaiku, tapi aku mohon jangan menolakku. Aku akan berusaha untuk membuatmu percaya dengan kata-kataku.” Ucap Ryan dengan tulus.
“Itu hanyalah rasa penasaranmu kak, jika belum mendapatkannya kamu akan terus berusaha untuk mengejarnya, sedangkan jika sudah mendapatkannya ya kamu akan tidak perduli kepadaku.” Ucap Rose.
“Aku tidak akan seperti itu, aku mohon maafkan aku. Aku akan berusaha asal kamu tidak menolak usahaku.”
Ryan senang karena akhirnya Rose mau mengalah dan menerima permintaannya.
Rose yang tadinya ingin mencari sarapan akhirnya kembali masuk ke dalam kamarnya karena moodnya sudah jelek karena Ryan.
Di kamarnya, Rose memikirkan perkataan Ryan lalu dia melihat ke arah hpnya dengan ragu. Setelah memikirkannya, akhirnya Rose mengambil hpnya dan menghubungi seseorang.

“Halo kak sasa?” ucap Rose yang menghubungi Khansa.
“Halo Rose, ada apa?”
“Aku ingin menceritakan sesuatu kak.”
“Ceritakanlah.”
Rose menceritakan kejadian yang di alaminya semalam tanpa terlewatkan satu katapun.
“Benarkah itu Rose? Apakah kak Ryan benar-benar melakukan hal itu?” tanya Khansa tidak percaya.
“Iya kak, yang bikin aku kesel itu dia bahkan ga ngerasa bersalah sama sekali, dia malah bilang kejadian itu adalah sebuah kesalahan. Bagaimana bisa seorang pria yang mencuri ciuman pertama seorang gadis malah dengan seenaknya bicara seperti itu.”
“Sabarlah Rose, aku yakin kak Ryan tidak bermaksud menyakiti hatimu dan merebut ciuman pertamamu. Kamu tau kan kisah kak Ryan di masa lalu, mungkin dia masih ragu untuk membuka hati sepenuhnya keada wanita lain, mungkin dia sebenarnya tertarik padamu hanya saja dia masih takut untuk membuka seluruh hatinya untukmu.”
“Lagipula kamu dan kak Ryan kebetulan selalu kerja bersama bukan? Jika kamu memang mulai menyukainya, bersabarlah dan biarkan waktu yang akan mendekatkan kalian berdua secara alami dan perlahan.” Khansa menasehati Rose untuk bersabar menghadapi Ryan yang sudah pernah mengalami patah hati yang sangat dalam saat masih bersama Amelia.
“Baiklah kak, aku akan mencoba untuk bersabar dan membiarkan waktu menjawab semuanya.”
“Baguslah, yakinkan dirimu terlebih dahulu apakah kamu benar-benar menyukainya atau hanya sekedar kagum sesaat, setelah itu mantapkan hatimu untuk menanggung segala resiko yang akan kamu hadapi jika ingin bersamanya.” Jelas Khansa.
Khansa merasa jika Rose sama seperti dirinya dulu sebelum menikah dengan Kalandra, bedanya Rose masih bisa memilih dan memantapkan hatinya, sedangkan Khansa saat itu tidak memiliki pilihan lain selain menikahi Kalandra.
“Terimakasih banyak kak sudah mau mendengar curhatan hatiku di pagi hari.” Ucap Rose.
“Sama-sama Rose, aku senang jika kamu menceritakan sesuatu kepadaku karena itu berarti kamu menganggapku sebagai kakakmu. Sudahlah, jangan lupa dengan sarapanmu, jangan sampai kamu sakit saat harus liburan disana.” Ucap Khansa sebelum akhirnya mematikan telfonnya.
Rose merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia merasa lega karena sudah bercerita dengan Khansa. Rose menaruh kedua tangannya di atas dadanya dan memejamkan matanya untuk merasakan detak jantungnya.
“Jantungku, apakah dia berdetak saat dekat dengan kak Ryan? Apa aku menyukainya? Tapi masa iya aku menyukai orang yang lebih tua dariku.” Gumam Rose.
“Ah sudahlah jika terus memikirkan itu perutku akan demo karena kelaparan. Ikuti saja alurnya Rose, semangat!” Rose menyemangati dirinya sendiri dan dengan segera bangun dari kasurnya untuk mencari sarapan di luar.
Rose membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Ryan yang baru saja datang dengan sekantong plastik besar yang berisi box makanan.
Rose tidak menghiraukan kedatangan Ryan, Rose segera mengunci pintu kamarnya dan ingin beranjak pergi namun Ryan menegurnya.
“Makanlah bersamaku Rose, kebetulah aku membeli banyak sekali makanan.”
Rose hanya diam menatap Ryan dengan tatapan tidak bersahabat.
“Bukankah makan bersama terasa lebih nikmat dibandingkan makan sendiri-sendiri?” lanjut Ryan yang melihat ekspresi wajah Rose.
“Ayolah Rose, aku tidak menaruh racun di dalam makanan ini tenang saja. Aku tidak ingin kamu makan dengan kesepian, aku juga tidak ingin kamu kelaparan.” Ucap Ryan mencoba membujuk Rose.
Dengan berat hati akhirnya Rose mengiyakan ajakan Ryan, karena perutnya sudah sangat lapar dan sangat ingin memakan sesuatu.