MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
TIDAK BISA MENGONTROL UCAPAN.


Jangan sesali satu haripun dalam hidupmu. Kenanglah hari baik yang telah memberimu kebahagiaan dan hari buruk yg memberimu pengalaman.




“Kamu nanti jadi menemui Ryan?” tanya Kalandra yang masih fokus menyetir.



“Hm, entahlah mas soalnya aku juga menunggu kak Ryan menghubungiku lagi.” Ucap Khansa.



“Aku akan ikut bersamamu bertemu dengan Ryan dan mengajak si kembar keluar.” Ucap Kalandra.



“Baiklah mas, tapi kamu jangan mengejek kak Ryan ya mas. Kasihan dia lagi galau.” Ucap Khansa mengingat watak suaminya yang sangat suka mengejek.



“Baiklah sayang..”



Sesampainya di lobby perusahaan, Kalandra dan Khansa turun dari mobil sambil menggendong si kembar dan menyuruh satpam perusahaannya untuk memarkirkan mobilnya.



Seperti biasa, semua karyawan yang melihat kehadiran Kalandra dan Khansa langsung menghampiri mereka berdua untuk memberi salam dan melihat kelucuan si kembar yang sudah semakin besar itu.



“Lucu sekali anak-anak tuan Kalandra.” ucap salah satu karyawannya.



“Iya benar, lihatlah pipi mereka berdua seperti akan tumpah.” Sahut yang lainnya.



Kalandra hanya diam melanjutkan jalannya dan tetap memasang wajah dinginnya, sedangkan Khansa tersenyum kepada para karyawan mendengar setiap pujian yang terlontar dari bibir mereka sampai mereka berdua masuk ke dalam lift khusus untuk CEO.



“Mas, bisakah kamu tersenyum sedikit saja kepada karyawanmu?” ketus Khansa yang sedari tadi melihat suaminya tidak berekspresi sama sekali.



“Mengapa aku harus tersenyum?”



“Karena mereka memuji anak-anak kita, setidaknya kita harus tersenyum untuk menunjukkan rasa terimakasih kita mas.”



“Mereka kan hanya berbicara apa adanya, anak-anak kita memang sangat lucu dan menggemaskan jadi untuk apa berterimakasih.” Ketus Kalandra.



Khansa hanya menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah suaminya yang susah di nasehati.



“Selamat pagi tuan Kalandra, selamat pagi kak sasa..” ucap Rose yang sudah duduk di depan ruangan Kalandra.



“Selamat pagi Rose, apa kamu sudah datang dari tadi?” tanya Khansa.



“Tidak kak, aku baru saja datang. Dan ini ada laporan keuangan yang baru saja di antar oleh pak Riko untuk tuan Andra.” Ucap Rose sambil memberikan berkas kepada Kalandra.



“Baiklah terimakasih.” Ujar Kalandra sambil mengambil berkas yang di berikan oleh Rose dengan tangan yang masih menggendong Key.



Kalandra dan Khansa fokus bekerja di ruangannya masing-masing, Kalandra masih fokus membaca laporan keuangan yang baru saja di berikan oleh Rose, sedangkan Khansa sedang merencanakan ide baru untuk mendesain pakaian untuk perusahaan dari Inggris yang akan menjalani kerjasama dengan perusahaan mereka.



Kalandra melihat ke arah jam di tangannya yang sudah menunjukkan jam istirahat makan siang, Kalandra segera menutup berkas yang sedang ia baca dan segera menghampiri istrinya untuk mengajaknya makan bersama di luar.



“Hai sayang, apa Ryan sudah menghubungimu?” tanya Kalandra yang sedang berdiri di depan pintu.



Khansa yang tadinya fokus dengan kertas dan pensil di tangannya itu segera melihat ke arah suaminya dan tersenyum.



“Tadi kak Ryan sudah menelfon, dia akan menunggu kita di café mas.” Ucap Khansa.



“Baiklah, ayo kita bawa anak-anak dan segera ke café tersebut.” Ajak Kalandra yang di balas anggukan oleh Khansa.



Mereka keluar dari ruangan secara bersamaan, Rose yang melihat kedua bosnya sudah keluar segera berdiri dan menyapa mereka.



“Rose, apa kamu mau ikut kami untuk makan siang bersama di luar?” tanya Khansa.



“Tidak kak terimakasih, aku akan makan bersama karyawan lainnya di kantin perusahaan.” Ucap Rose.



“Baiklah jika begitu, kamu harus makan yang banyak ya Rose.” Khansa mengingatkan Rose untuk makan yang banyak karena Khansa melihat jika tubuh Rose semakin hari semakit kurus.



Kalandra dan Khansa sudah sampai di café dan di sambut oleh lambaian tangan Ryan yang duduk di pojok ruangan.



“Hai kak.” Sapa Khansa.



“Hai sa, duh keponakan-keponakan om Ryan sudah semakin besar ya.” ucap Ryan.



“Mereka bukan keponakanmu.” Ketus Kalandra.



“Mas..” ucap Khansa mengingatkan suaminya.




“Sini keponakanku, aku akan menggendongnya.” Ryan mengulurkan kedua tangannya untuk menggendong Ken yang ada di gendongan Khansa.



“Dia sudah mulai berat loh kak, aku saja sudah lelah menggendong mereka terus menerus.” Ucap Khansa sambil memberikan Ken kepada Ryan.



“Tidak apa, aku senang jika mereka tumbuh dengan baik.”



“Kamu segeralah menikah dan memiliki bayimu sendiri agar tidak menggendong bayi orang lain.” Ejek Kalandra.



“Aku sudah memiliki Kenan.” ucap Ryan.



“Tapi Kenan bukan bayi.”



“Sudahlah, kenapa kalian ini selalu ada saja topik untuk menjadi bahan perdebatan?” Khansa mencoba melerai keduanya sebelum semakin panjang.



“Kak, apakah kakak ingin tau kenapa Rose menjauhi kak Ryan?” ucap Khansa secara tiba-tiba.



“Karena dia di diagnosa oleh dokter sulit memiliki keturunan.” Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Kalandra.



Ryan menatap Kalandra dengan tatapan yang tidak dapat di artikan, sedangkan Khansa menatap sinis kepada suaminya yang tidak bisa mengontrol ucapannya.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1607594183501.jpg)



“Mas!” tegas Khansa.



“M,,maaf sayang aku tidak sengaja.” Ucap Kalandra yang melihat istrinya sedang marah kepadanya.



“Apa yang di katakan Kalandra benar Ndra? Apakah Rose memiliki penyakit yang di bicarakan Kalandra?” tanya Ryan dengan nada pasrah.



“Biar aku yang menggendong Ken kak, kakak minumlah dulu dan tenangkan diri kakak terlebih dahulu. Aku akan menjelaskan semuanya kepada kak Ryan.” Ucap Khansa yang langsung mengambil alih Ken dari gendongan Ryan.



Setelah memastikan Ryan sudah meminum airnya dan sudah lebih tenang, Khansa berusaha untuk melanjutkan penjelasannya.



“Benar apa yang di katakan mas Andra kak, Rose memiliki penyakit yang membuatnya sulit untuk mendapat keturunan, tapi bukan berarti tidak bisa loh. Selama ini aku sudah membantunya untuk membiayai terapinya di rumah sakit yang bagus, aku yakin dia bisa memiliki keturunan setelah terapi rutin yang dia jalankan.” Jelas Khansa.



“Lalu kenapa dia memutuskan hubungan kami? Bukankah dia bisa membicarakannya padaku dan aku akan membantunya untuk membiayai semua biaya pengobatannya.” Ujar Ryan.



“Kak, Rose merasa dirinya tidak sempurna untukmu, dia yakin jika kak Ryan bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan dirinya yang tidak bisa memberikan kak Ryan dan keluarga kakak keturunan.”



“Aku bisa menerimanya apa adanya, aku sangat mencintainya sa. Di mana dia sekarang? Apakah dia bekerja hari ini?” ucap Ryan dengan tergesa-gesa.



“Tenanglah kak, dia bekerja dan setauku dia akan makan siang di kantin perusahaan.”



“Aku akan menghampirinya sekarang juga,.” Ryan segera beranjak dari kursinya dan berlari keluar menuju perusahaan Kalandra yang memang hanya berjarak 3 menit jika berjalan kaki.



Khansa berdiri dari tempat duduknya ingin menyusul Ryan namun di tahan oleh Kalandra yang menyuruh Khansa untuk kembali duduk di kursinya.



Khansa menuruti perkataan suaminya untuk duduk kembali dan langsung menoleh ke arah Kalandra dengan tatapan sinisnya.



“Mas, apa kamu tidak bisa mengontrol ucapanmu? Bagaimana jika kak Ryan memiliki penyakit jantung dan seketika dia serangan jantung mendengar ucapanmu tadi.” ketus Khansa.



“Aku kan sudah meminta maaf sayang, aku juga tidak tau kenapa mulutku ini tidak bisa di rem.” Ucap Kalandra.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1607594183506.jpg)



“Sudahlah kamu kembali duduk dan makan makananmu sebelum dingin.” lanjut Kalandra.


Akhirnya Khansa memakan makanan yang sudah berada di mejanya dari tadi.



Sedangkan Ryan yang baru saja memasuki perusahaan Kalandra dengan nafas yang terengah-engah segera menuju ke kantin perusahaan dan mencari keberadaan Rose.



Semua karyawan yang sedang menyentap makan siangnya menatap ke arah Ryan dengan tatapan aneh karena penampilan Ryan yang sudah tidak karuan karena berlari.



Ryan sudah melihat Rose yang sedang asik menyantap makan siangnya, Ryan segera menghampiri Rose dan menarik tangannya untuk berdiri.



“Kak Ryan? K,,kenapa kak Ryan bisa berada di sini? Dan kenapa baju kak Ryan berantakan?” Rose yang melihat Ryan sudah tidak karuan hanya bisa melontarkan berbagai pertanyaan kepada Ryan.



Tanpa mengatakan apapun Ryan segera memeluk Rose dengan erat dan membuat seluruh karyawan bersorak karena perlakuan Ryan kepada Rose. Rose terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu secara tiba-tiba dari Ryan.



Edo yang kebetulan juga berada di kantin pun tersenyum melihat kejadian yang di lakukan sahabatnya itu, ia segera mengeluarkan hpnya dan mem videokan kejadian itu lalu mengirimnya ke Kalandra.