MENIKAH DENGAN HOT DADDY

MENIKAH DENGAN HOT DADDY
ASISTEN RUMAH TANGGA


Belajar untuk mengalah adalah langkah pertama untuk menajdi pemenang.




Khansa terkejut dan terbangun dari tidurnya karena mendengar telfonnya berdering, karena gerakan Khansa yang terkejut membuat Kalandra yang sedang tertidur juga ikut terbangun.



Khansa melihat layar hpnya, terlihat nama Rose terpampang disana lalu Khansa segera mengangkat telfonnya.



Setelah lama berbincang dengan Rose Khansa menaruh hpnya kembali di meja setelah dia mengangkat telfon dari Rose.



“Sayang, siapa sih yang ganggu pagi-pagi begini?” tanya Kalandra yang masih tertidur di sebelah Khansa dengan tangan yang masih memeluk Khansa.



“Rose mas, dia bercerita tentang Ryan.”



“Kenapa Ryan?”



“Tidak apa-apa, ini rahasia wanita.” Ucap Khansa.



Khansa segera beranjak dari tempat tidurnya lalu di tahan oleh Kalandra.



“Kamu mau kemana?” tanya Kalandra.



“Mau ke bawah mas, aku mau menyiapkan sarapan untukmu dan Kenan.”



“Besok Kenan liburan sekolah kan? Bagaimana jika kita berlibur ke Jepang.” Ucap Kalandra.



Khansa menoleh ke arah suaminya, ia heran karena suaminya mengajaknya berlibur secara tiba-tiba.



“Jepang? Kita akan berlibur bersama Rose dan kak Ryan?” tanya Khansa.



“Tidak, kita hanya akan menginap di hotel yang sama dengan mereka. Aku ingin kita berlibur hanya bertiga tidak ada pengganggu.”



“Kalo aku terserah padamu mas, aku akan sangat bahagia jika kita selalu meluangkan waktu untuk berlibur bersama anak kita.” Ucap Khansa.



Kalandra menghampiri Khansa yang sudah berada di dekat pintu kamarnya. Tiba-tiba Kalandra berjongkok dan mencium perut buncit Khansa.



“Sebenarnya ada perasaan suka dan tidak suka saat menanti kehadiran kalian.” Ucap Kalandra yang sedang berbicara dengan perut Khansa.



Khansa yang mendengar ucapan Kalandra yang belum selesai itu hanya merengut heran dengan maksud perkataan suaminya itu.



“Papi senang karena kehadiran kalian akan melengkapi kebahagiaan kami, abang Kenan juga sangat senang karena akan memiliki dua adik sekaligus.


Tapi di sisi lain papi juga takut karena kalian akan merasakan kejamnya dunia ini nak, papi takut jika papi tidak bisa menjaga kalian dengan baik, papi takut jika kalian akan bertemu dengan orang-orang jahat di luar sana.” Ucap Kalandra dengan suara yang bergetar yang membuat Khansa juga ikut meneteskan air mata.



Khansa mengelus rambut suaminya itu dengan sangat lembut bermaksud untuk menenangkannya.



“Aku dan ketiga anak kita sangat dan selalu mempercayaimu mas, aku yakin kamu mampu menjaga ketiga anak kita dengan sangat baik.” Ucap Khansa sambil tersenyum kepada suaminya.



Kalandra mengangkat wajahnya melihat ke arah Khansa dan tersenyum kepadanya.



“Terimakasih karena sudah mempercayaiku.” Ucap Kalandra.



Khansa memegang bahu suaminya dan membantunya untuk berdiri kembali.



“Sekarang kamu mandilah lalu kebawah untuk sarapan bersama, aku akan membangunkan Kenan dan menyuruhnya untuk mandi. Kita akan mengambil raport Kenan bersama di sekolahnya bukan?”



“Iya sayang, kita akan menghadiri acara pengambilan raport di sekolah Kenan bersama.” Ucap Kalandra.



Khansa berjalan menuju kamar Kenan dan membangunkannya, Khansa menyiapkan baju yang akan di gunakan oleh anaknya itu lalu pergi menuju dapur untuk membuat sarapan pagi.



Pagi itu karena sedang terburu-buru, Khansa hanya membuat nasi goreng special untuk suami dan anaknya.



Kalandra yang sudah selesai bersiap segera menuruni tangga dan menghampiri istrinya yang sedangberada di dapur. Kalandra terlihat sangat gagah dengan jas putihnya itu.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605340395135.jpg)



Khansa kagum melihat ketampanan dan kegagahan suaminya itu, ia bersyukur karena Allah telah memberinya suami yang sempurna untuknya.




“Aku mandi dulu ya mas, kamu tunggu Kenan di sini.” Pinta Khansa.



Kalandra mengiyakan ucapan Khansa dan menunggu di meja makan sambil membaca laporan pekerjaannya dengan serius hingga tidak menyadari kehadiran Kenan di sana.



Setelah selesai berkutat dengan laporannya, Kalandra terkejut melihat Kenan yang sudah duduk di hadapannya.



“Astaga Kenan, kamu ngagetin papi aja sih. Sejak kapan kamu ada di sini?” tanya Kalandra.



“Kenan udah dari tadi di sini pi, papi aja yang terlalu serius membaca kertas-kertas itu.” Ucap Kenan sambil melirik ke arah laporan Kalandra yang masih berserakan di meja makan.



Khansa yang sudah siap dengan pakaian lengkapnya itu menghampiri suami dan anaknya, Khansa melihat ada banyak kertas yang berserakan di meja makannya.



“Mas, itu semua laporan milikmu?” tanya Khansa.



Kalandra mengangguk mengiyakan pertanyaan Khansa sambil melihat ke arah istrinya itu.



“Cepat bereskan karena kita akan sarapan, aku tidak ingin kamu marah jika salah satu laporanmu itu terkena kotoran dari makanan.” Perintah Khansa.



Kalandra dengan segera membereskan laporannya satu per satu tanpa ada yang tertinggal.



Setelah melihat meja akan yang sudah rapi, Khansa langsung menyajikan makanan kepada Kalandra dan Kenan, lalu mereka makan dengan tenang.



Setelah selesai sarapan, Khansa merapihkan piring dan gelas kotor bekas makan mereka dan kembali duduk di meja makan karena masih ada waktu untuk menghadiri pertemuan di sekolah Kenan.



“Sayang, apa tidak sebaiknya kita memperkerjakan asisten rumah tangga lagi?” tanya Kalandra.



“Loh, kita kan sudah memiliki asisten rumah tangga yang akan datang dan langsung pulang mas.”



“Bukan itu maksudku, aku ingin asisten rumah tangga yang tinggal di rumah ini, sebentar lagi kandunganmu akan semakin membersar dan kamu tidak akan ke perusahaan untuk bekerja, jika aku dan Kenan sedang tidak ada di rumah, aku tidak ingin kamu merasa kesepian. Aku ingin kamu memiliki teman berbicara saat sendirian.” Ucap Kalandra.



“Baiklah jika begitu, tapi aku hanya ingin bi Rini yang bekerja kembali di rumah ini.”



“Sayang, tapikan bi Rini..” ucapan Kalandra diputus oleh Khansa.



“Sstt..” ucap Khansa dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Khansa tidak ingin anaknya tau jika orang yang telah merawatnya selama ini adalah salah satu orang yang ikut serta dalam penculikannya.



“Bi Rini sudah bersekongkol dengan penculikmu.” Tegas Kalandra yang tidak memperdulikan larangan istrinya.



Kenan terkejut mendengar ucapan papinya itu, Kenan tidak mempercayai perkataan Kalandra karena menurut Kenan bi Rini tidak mungkin melakukan hal sekejam itu kepadanya.



“Papi bohong! Kenan yakin pasti papi berbohong kepada Kenan!” Teriak Kenan.



“Itu kenyataannya Kenan, dan kamu harus mengetahui kebenaran ini agar kamu bisa belajar untuk tidak mempercayai sembarang orang.” Tegas Kalandra.



“Mas, aku tau kamu kecewa sama bi Rini begitu pun aku. Saat pertama kali bi Rini mengakui kesalahannya aku juga kecewa dan tidak menyangka jika bi Rini melakukan hal itu. Tapi dia memiliki alasan dibaik itu semua mas, dia melakukan itu karena di ancam oleh Robert.” Jelas Khansa.



“Itu sama saja, dia lebih memilik untuk bekerja sama dengan Robert.” Ketus Kalandra.



“Setidaknya dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada kita mas.”



“Dan setidaknya aku juga tidak melaporkannya ke polisi dan memenjarakannya sa.” Ucap Kalandra yang langsung meninggalkan meja makan dengan perasaan kesal.



Kenan yang sedari tadi hanya melihat Kalandra dan Khansa berdebat itu pun hanya diam.



“Sayang, memang betul perkataan papi jika kita tidak boleh mempercayai sembarang orang, tapi semua orang juga membutuhkan kesempatan ke dua untuk berubah dan menebus kesalahannya dimasa lalu.



Jadi mami tidak ingin Kenan membenci orang yang sudah bersikap buruk kepada Kenan, percayalah jika Allah akan membalas semua orang yang berniat jahat kepada kita. Mengerti sayang?” Khansa berusaha memberi pengertian kepada anaknya itu agar tidak membenci bi Rini.



![](contribute/fiction/1401978/markdown/4875207/1605340395131.jpg)



“Mengerti mami.” Ucap Kenan dengan pasrah.



Khansa langsung memeluk Kenan dan mencium kening anaknya itu berkali-kali.