
Kalandra, Khansa, dan Kenan sudah berada di tempat wisata yang mereka tuju, Ryan datang di tempat wisata tidak lama setelah Kalandra sampai, sedangkan Edo dan Anita sangat lama, semua orang sudah menunggu mereka tapi mereka tidak kunjung datang.
“mas, kok kak Edo sama kak Anita lama ya? Apa jangan-jangan ada apa-apa sama mereka?” tanya Khansa yang merasa khawatir dengan Edo dan Anita.
“kamu tenang saja sayang, si buaya Edo itu sengaja pasti lama-lamain bawa mobilnya biar bisa lama berduaan sama Anita.” Ucap Kalandra dengan senyum sinisnya.
“mami, Kenan udah laper kita makan dulu yuk..” ajakan Kenan membuyarkan pikiran mereka.
“Kenan makan sama om Ryan aja yuk, biar papi dan mami menunggu om Edo dan tante Anita disini.” Ucap Ryan berusaha untuk mendekatkan dirinya kepada Kenan.
Kenan yang diajak oleh Ryan diam sejenak dan menoleh ke arah maminya. Khansa yang melihat reaksi Kenan langsung berjongkok dan memegang bahu Kenan.
“sayang, inget ga kemarin mami ngomong apa? Tidak apa-apa sayang, om Ryan orang baik dia akan menjagamu sama seperti papi dan mami menjagamu.” Jelas Khansa kepada anaknya yang merasa tidak nyaman berada disisi Ryan.
Setelah dijelaskan baik-baik dengan maminya, akhirnya Kenan mengiyakan ajakan Ryan dan menerima gandengan tangan Ryan. Ryan yang mendapat lampu kuning dari Kenan sangat bahagia dan memegang tangan Kenan dengan sangat erat sampai ia tidak ingin melepaskannya lagi.
Kalandara dan Khansa melihat kepergian Kenan dan Ryan dengan tersenyum senang karena Kenan sudah mau membuka hatinya sedikit demi sedikit untuk Ryan.
“mas, bahkan sekarang saat aku melihat kenan jauh dariku aku merasa sakit, apa kak Ryan benar-benar tidak akan membawa kenan dari kita?” tanya Khansa kepada Kalandra tapi tatapan matanya masih menuju ke arah putranya yang sudah jauh itu.
“mungkin saat besar nanti, Kenan harus menjadi penerus untuk perusahaannya sayang. Itupun semua terserah keputusan Kenan, walaupun dia menjadi penerus perusahaan Ryan, aku juga akan tetap memberikan perusahaanku pada Kenan.”
“jadi maksud mas, Kenan akan menjadi penerus 2 perusahaan sekaligus?”
“mungkin saja..”
“apa itu tidak akan menjadi beban untuk Kenan mas?”
“aku harap tidak sayang, aku percaya penuh pada anak kita”
Tidak lama setelah perbincangan kecil mereka, Edo dan Anita datang dan langsung menghampiri Kalandra dan Khansa yang sudah menunggu mereka.
“astaga kak Edo sama kak Anita kemana aja sih? Kita udah nunggu daritadi loh” ucap Khansa
“maaf sa, tadi jalanan macet” alasan Edo kepada mereka
“ha? macet? Di mana yang macet, perasaan tadi lancar-lancar aja yak an mas?” tanya Khansa kepada suaminya yang hanya menggelengkan kepalanya kearah Edo dan Anita.
“Edo tuh sengaja jalannya lama sayang biar bisa lama-lama sama Anita, kenapa ga sekalian aja kalian liburan sendiri sana.” Ketus Kalandra yang sengaja membuat suasana menjadi canggung.
“Ndra apaan sih, aku kan sama Edo juga ga macem-macem. Yang penting aku kan udah sampe.” Tegas Anita yang tidak terima karena sepupunya menyalahkan Edo.
“aduh kak Anita, mas Andra Cuma bercanda kok tenang aja.” Ucap Khansa mencairkan suasana.
Kalandra langsung tertawa terbahak-bahak dan merangkul pundah Edo yang dari tadi sudah tegang karena kemarahan Kalandra.
“biasa aja mukanya pak, kayak mau foto KTP aja tegang banget, hahaha” ucap Kalandra
Khansa ikut tertawa karena melihat suaminya yang sangat jail, sedangkan Edo dan Anita bingung karena telah di kerjai oleh Kalandra.
“sialan kamu Ndra, udah tegang aku denger kamu marah gitu.” Ucap Edo yang sudah bisa bernafas lega karena mengetahui jika Kalandra hanya mengerjainya lalu tersenyum lega.
“sudahlah ayo kita menyusul Kenan dan Ryan” ajak Kalandra.
“ga salah, udah ayo ikut aja bawel amat kamu do.” Kalandra menarik Edo yang masih berada di rangkulannya.
Khansa dan Anita yang melihat keakraban Kalandra dan Edo tersenyum bahagia, Khansa menoleh ke arah Anita yang terus menatap ke arah Edo.
“kak, jangan diliatin terus ga akan hilang kok kak Edonya” ejek Khansa
“ih kamu tuh sa lama-lama ketularan Andra suka ngeledek orang.”
“hahaha, lagian aku yakin banget kak kalian itu sama-sama suka tapi sama-sama gengsi.”
“dih, kayak yang tau tentang cinta aja kamu sa dasar anak kemarin sore pfftt...” Canda Anita
“aku anak kemarin sore udah mau jadi ibu loh kak, kakak yang udah anak tua kapan mau jadi ibu?” Khansa langsung melarikan diri setelah berhasil membuat Anita memerah.
“Astaga, ini sih namanya senjata makan tuan.” Batin Anita sambil menepuk jidatnya.
Mereka semua sudah berada di depan restoran yang di beri tau oleh Ryan, namun betapa terkejutnya mereka karena melihat kenan tersenyum lebar kepada Ryan yang berada di hadapannya. Khansa yang tidak ingin melewati kesempatan itu langsung mengambil hpnya yang ada di tasnya dan mengabadikan moment dimana Kenan dan Ryan tertawa bersama dan bercanda bersama, bahkan Ryan menyuapi Kenan dengan telaten.
Akhirnya mereka semua memutuskan untuk mencari restoran lain yang berada didekat situ. Kalandra menghubungi Ryan jika mereka berada di restoran sebelah mereka.
“mas aku senang sekali Kenan bisa tertawa seperti itu dengan kak Ryan.” Ucap Khansa kepada suaminya.
“kalian dari tadi kayaknya emang sengaja banget deketin Ryan sama Kenan, emang ada apa sih?” tanya Anita yang dari tadi tidak mengetahui rencana mereka.
“loh kak Anita ga tau mas?” tanya Khansa
“tidak, yang tau hanyalah aku, Amelia dan Edo lalu baru-baru ini kamu dan Ryan juga mengetahuinya.” Ucap Kalandra
Anita yang makin penasaran langsung menoleh ke arah Edo untuk mendapat jawaban.
“Ndra, Anita dikasih tau ga?” tanya Edo
“kasih tau aja lah.” Ucap Kalandra
Lalu Edo menceritakan semua kejadian yang sudah di alami ketiga sahabat itu, Anita yang terkejut hanya bisa melebarkan matanya dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
“Astaga, apakah itu benar Ndra?” tanya Anita yang masih tidak percaya.
“benar kak, aku awalnya juga sama terkejutnya seperti kakak, tapi bagaimanapun juga aku harus menerima semua kebenaran ini” ucap Khansa yang membantu suaminya untuk menjawab pertanyaan Anita.
“apakah om dan tante sudah tau?” tanya Anita dengan ragu
“tentu saja belum! Jika sampai mereka tau, mama akan sangat terpukul dengan kebenaran ini, mama adalah orang yang paling menyayangi Kenan, jika mama mengetahui kebenaran ini dia tidak akan mengijinkan Ryan untuk mendekati Kenan, bahkan mungkin Ryan tidak akan bisa mendekati rumahku.” Jelas Kalandra
“bagaimana ini? cepat atau lambat mereka harus mengetahuinya Ndra.”
“aku tau, tapi tidak dalam waktu dekat ini, aku akan memberi tau mama dan papa bersamaan dengan Kenan juga. Aku akan memberitau kebenaran ini kepada mereka bertiga secara bersamaan.” Jelas Kalandra
Anita hanya terdiam, dia masih belum mengerti tentang ketidak masuk akalan yang terjadi di kehidupan sepupunya itu.
“bagaimana mungkin kehidupan sepupuku ternyata serumit ini” batin Anita sambil menatap ke arah Kalandra dengan sendu.