
Bangga atas pencapaian, tapi jangan sombong. Bekerja keras, tapi jangan terpaksa. Bersyukur, tapi jangan terlalu puas diri.
“Kak Ryan, kita harus pulang sekarang!” ucap Rose kepada suaminya.
“Kenapa sayang? waktu kita di sini masih ada 2 malam lagi, apa Kalandra menyuruhmu untuk segera pulang? Aku akan berbicara dengannya!” ucap Ryan.
“Tidak kak, bukan karena kak Andra atau kak Sasa.”
“Lalu kenapa kamu buru-buru ingin pulang? Apa kamu tidak suka berduaan denganku!?”
“Aku tidak bisa menghubungi ibu atau Rein!”
Yap, Rein adalah adik kandung Rose. Saat acara pernikahan Rose, Rein datang namun tidak menghampiri atau mengenalkan dirinya kepada kerabat Ryan, itulah kenapa Kalandra dan Khansa tidak mengenal Rein sebagai adik dari Rose.
“Aku akan menyuruh orang untuk melihat keadaan mereka sayang!” ucap Ryan.
“Baiklah, tapi jika sesuatu terjadi dengan mereka kita harus segera pulang ya..” pinta Rose.
“Pasti sayang! aku yakin semua akan baik-baik saja. kemarilah..” ucap Ryan sambil merentangkan tangannya untuk memeluk Rose.
Rose yang melihat suaminya sedang memberikan kode untuk memeluknya akhirnya segera mendekat dan memeluk suaminya dengan erat.
Drrtt,, drtt
Hp Khansa berbunyi, Khansa melihat layar telfon dan membaca nama yang terpampang di layar hpnya lalu mengankatnya.
“Halo kak Anita, masih ingat menelfonku saat berbulan madu?!” protes Khansa.
“Aku lupa tuh, aku nelfon cuma mau ngomong bilangin ke Kalandra kalo dia jangan nyuruh suamiku pulang terus! Aku kan masih ingin menikmati waktu berduaan, Andra itu selalu menggangguku dan Edo!” ketus Anita.
“Yaampu kak, kakak nelfon aku cuma mau ngomong itu?”
“Iyalah..”
“YaAllah jahatnya dirimu kak!”
“Bodo amat! Aku hanya ingin memikirkan bulan maduku bersama suamiku saja saat ini, tidak ada yang lain! Pokonya kamu harus berbicara kepada Kalandra!” tegas Anita lalu mematikan telfonnya tanpa mendengar jawaban dari Khansa.
“Yaampun kenapa kakakku yang satu ini sangat agresif..” batin Khansa sambil menggelengkan kepalanya sambil melihat hpnya.
“Siapa sayang?” tanya Kalandra yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya sedang menggelengkan kepala sambil melihat hpnya.
“Ini loh mas, kak Anita marah-marah karena kamu selalu menyuruh kak Edo pulang hehehe.” Ucap Khansa sambil menertawakan tingkah Anita tadi.
“Dia itu udah terlalu lama berharap sama Edo terus pas udah dapet senengnya minta ampun, ya jadinya begitu itu!” ketus Kalandra sambil menghela nafas panjang.
“Oh iya sayang, aku besok akan mengadakan acara pergantian CEO baru.” Ucap Kalandra dengan senyum getir.
Sebenarnya Kalandra bukannya sedih karena dia sudah bukan CEO perusahaan lagi, tapi dia sedih karena keringat dan jerih payahnya semua sudah dia tumpahkan untuk membuat perusahaan itu menjadi besar seperti sekarang.
Khansa yang mengetahui jika suaminya itu merasa sedih akhirnya menghampirinya dan memeluk erat tubuh suaminya.
“Tenanglah mas, aku ada di sini untukmu, kita akan membangun kembali perusahaan property yang baru kamu bangun agar menjadi perusahaan besar seperti perusahaan yang sekarang. Dan kali ini aku akan ikut menuangkan keringat dan jerih payah itu bersamamu untuk perusahaan barumu.” Ucap Khansa.
Semenjak menikah, Robert membawa Hani dan Rey untuk tinggal di rumahnya sendiri, sedangkan mama Alisha dan papa Arnold memutuskan untuk tetap tinggal di rumah Kalandra.
Karena Khansa lebih membutuhkan mereka untuk menjaga ketiga anaknya karena Kalandra dan Khansa sama-sama bekerja, sedangkan Hani tidak bekerja dan mampu mengurus Rey sendiri, namun sesekali Kalandra, Khansa, mama Alisha, papa Arnold dan Kenan pergi ke rumah Robert untuk bermain bersama Rey.
“Besok sebelum ke kantor kita antar Rein dulu ke rumahnya ya mas, jadi kita harus berangkat lebih awal dari rumah.” Ucap Khansa.
“Iya sayang, jadi sekarang tidurlah aku sudah sangat mengantuk..” ucap Kalandra sambil menggendong Khansa ke atas tempat tidur.
***Rumah Robert***
“Sayang, apa kamu benar-benar akan mengambil alih perusahaan?” tanya Hani kepada Robert.
Robert yang mendengar pertanyaan istrinya hanya menoleh dan tersenyum penuh arti namun Hani tidak mengetahui apa arti dari senyuman suaminya itu.
“Tenanglah sayang, kamu hanya perlu ikut aku datang ke sana dan disana kamu akan tau apa sebenarnya rencanaku mengadakan acara seperti ini.” ucap Robert.
“Kamu ini benar-benar penuh teka-teki! Kita sudah menikah tapi tetap saja aku tidak bisa menebak teka-teki yang kamu berikan!” ketus Hani.
“Sayang, aku sudah berubah sekarang. Aku tidak akan membuat adikku bangkrut, dia memiliki 3 anak yang harus di urus. Dan aku juga tidak akan membuat diriku sendiri bangkrut, aku juga membuat perusahaan untuk anak-anakku kelak!” jelas Robert.
“Iya, aku percaya dengan keputusanmu sayang!”
“Oh iya, kemana Rey sayang?” tanya Robert.
“Rey tidur sayang, entahlah dia anteng banget hari ini, tadi juga bangun hanya kedip-kedip aja ga nangis.” Jelas Hani.
“Mungkin dia tau jika dia akan di ajak papanya ke acara penting, jadi dia ga rewel deh.”
“Ha? emang apa hubungannya coba?” tanya Hani penasaran.
“Ya dia kan tau kalo mamanya butuh waktu se abad untuk berdandan dan memilih pakaian, jadi dia gam au rewel soalnya dia tau kalo mamanya akan marah-marah kalau dia mengganggu waktu mamanya untuk berdandan.” Ucap Robert sambil tertawa.
Hani yang mendengar perkataan suaminya itu segera mencubit perutnya, namun Robert berhasil lolos dan akhirnya mereka bermain kejar-kejaran seperti anak kembali ke masa kecil.
“Kita beneran mau pulang hari ini do?” rengek Anita dengan manja.
“Iya sayang, kita harus pulang. Besok adalah hari terberat untuk Kalandra karena dia harus merelakan perusahaan yang sudah dia bangun sejak dulu kepada orang lain.” Jelas Edo memberi pengertian kepada istrinya.
“Andra kan sudah ada sasa do, dia saja sudah cukup untuk memberika semangat untuknya.”
“Tidak sayang, setidaknya aku datang sebagai asisten Kalandra dan sahabatnya. Ryang dan Rose juga akan pulang hari ini.” ucap Edo.
“Hhh,, baiklah aku ikut kamu aja deh!” ucap Anita dengan menghela nafas panjang.
Edo hanya tersenyum melihat istrinya yang kecewa karena waktu bulan madu mereka terpotong karena acara Kalandra yang mendadak.
“Sudahlah, nanti aku akan mengambil cuti lagi jika pekerjaan sudah selesai.” Ucap Edo berusaha untuk menenagnkan Anita.
“Janji kan do?” ucap Anita yang hanya di balas anggukan oleh Edo sambil tersenyum.
“Hmm,, akhirnya aku akan bertemu dengan ginjal, jantung, usus besar, usus kecil lagi huaaa..” rengek Anita di dalam hati.
“Apa!? Jadi itu benar!? Baiklah aku juga memang berencana untuk pulang hari ini, aku akan segera menghampirimu saat tiba di Indonesia.” Ucap Ryan lalu mematikan telfon dan membanting hpnya di sembarang tempat dan melemparkan dirinya di atas kasur.
Rose yang sedang melipat baju dan memasukannya di koper, melihat suaminya yang sedang frustasi setelah menerima panggilan dari seseorang.
“Kak, kamu kenapa? Apa itu telfon dari orang yang kamu suruh untuk melihat keadaan rumahku?” tanya Rose yang menghampiri suaminya.
Ryan duduk dan merentangkan tangannya untuk memeluknya. “Kemarilah sayang..”
“I,,ini maksudnya apa kak? Apa benar-benar ada masalah di keluargaku!?” tanya Rose yang mulai khawatir.
Ryan yang melihat istrinya terpaku dan mulai khawatir itu segera beranjak dari tempat tidur dan memeluknya dengan erat.
“Aku janji akan menyelesaikan semuanya sayang.” ucap Ryan menenangkan Rose.
“Sebenarnya kenapa Rein meninggalkan rumah? Kenapa mereka tidak memberi kabar kepadaku kak? Hikss..”
“Sudahlah jangan menangis, mereka pasti memiliki alasan melakukan hal itu..”
“Hikss,, aku adalah anak dan kakak yang tidak becus kak, bahkan aku bersenang-senang di saat keluargaku sedang mengalami masalah hikss,,”
Ryan tidak bisa berkata apa-apa karena memang dia sendri juga bingung harus bicara apalagi kepada istrinya itu.