
Miliki hati yang tak pernah membenci, senyuman yang tak pernah menyakiti dan kasih sayang yang tak pernah berakhir.
Papi Kalandra, mami Khansa, Key, Kenan, Bernard dan Belinda sudah berada di bandara, mereka semua menunggu kedatangan Ken dengan sangat bersemangat.
“Mami plis nanti jangan drama ya ketemu sama Ken.” Ucap Kenan.
“Ih, drama apaan sih Kenan? mami ini ga pernah drama tau, biasa aja.” Ucap mami Khansa.
Setelah menunggu hampir setengah jam, tiba-tiba saja Key terkejut melihat seseorang yang sangat di kenalnya.
“Oh my god! Dia beneran Kenzo?” tanya Key sambil menunjuk ke arah Ken.
Semua orang yang mendengar Key menyebut nama Ken langsung menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Key. Semua orang terkejut melihat laki-laki tampan berjalan ke arah mereka.

“Yaampun! Kenapa rambut anakku jadi kayak anak desa yang kepanasan begitu?!” ucap mami Khansa yang ikut terkejut.
“Kayaknya dia lagi ngajak perang ke papi deh.” Sambung Kenan.
“Wah, kayaknya aku juga harus mengganti warna rambutku.” Ucap Key.
“Berani macem-macem, mami ga akan kasih kamu uang jajan dan ijin untuk keluar rumah!” ketus mami Khansa.
Key yang mendengar peringatan dari sang mami langsung memamerkan gigi putihnya tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
“Oh iya, papi kamu kemana Kenan?” tanya Belinda yang tidak melihat keberadaan papi Kalandra.
“Katanya ada barangnya yang ketinggalan di mobil, kalau sampai papi melihat Ken yang sekarang pasti dia sudah sangat heboh.” Jawab Kenan.
“Hai semuanya, hai mami, Ken kangen banget sama mami huhuhu.” Rengek Ken sambil merentangkan tangannya untuk memeluk maminya.
Melihat anaknya yang merentangkan tangan dan ingin memeluknya, mami Khansa langsung menyentil kening Ken dengan keras hingga dia meringis kesakitan.
“Aw! Mami kok malah nyentil Ken sih? Sakit tau!” ucap Ken sambil memegang keningnya yang memerah karena sentilan maminya.
“Kamu ini mau jadi apa? Mentang-mentang sudah berhasil membangun perusahaan sendiri jadi bergaya? Kamu tau kan papi kamu paling ga suka kalau anak-anaknya mewarnai rambutnya? Emang kamu turis?” omel mami Khansa.
“Yah mami, Ken kan cuma mau mencoba suasana baru aja, ntar juga Ken ganti lagi warnanya kok.” Ucap Ken.
“Aduh, mami ga tau lagi deh kalau papi kamu liat kamu kayak begini.” Ucap mami Khansa sambil memukul keningnya sendiri.
“Sudahlah mi, Ken baru saja sampai jadi jangan marah-marah ya.” ucap Kenan yang mencoba untuk menenangkan maminya.
“Kemarilah Ken, emang kamu ga kangen sama abangmu ini?” tanya Kenan sambil merentangkan tangannya.
Ken yang melihat abangnya merentangkan tangannya langsung berlari menghampiri Kenan dan memeluknya dengan erat.
“Tentu saja aku sangat merindukan abang! Setiap hari aku membayangkan rasa kesepian kalau abang menikah nanti.” Ucap Ken.
“Kan abang sudah bilang, kalau pintu rumah abang akan selalu terbuka untuk adik-adik abang, kamu tinggal di rumah abang pun tidak masalah.” Ucap Kenan.
“Tidak boleh! Kalau Ken tinggal di rumahmu, dia akan mengganggu kamu dan Belinda untuk membuatkan mami cucu yang lucu.” Sambung mami Khansa.
Mendengar ucapan mami Khansa, semua orang menjadi terkejut dan melihat ke arah mami Khansa dengan tatapan yang tidak bisa di gambarkan.
“Huh, mami semangat banget mau punya cucu.” Gumam Key yang masih bisa di dengar oleh Bernard.
“Apa? Om beruang udah gila ya? aku ini masih kecil tau!” ketus Key.
Tiba-tiba saja ekspresi wajah mami Khansa berubah, semua yang melihat perubahan ekspresi mami Khansa langsung menoleh ke arah mata mami Khansa tertuju. Mereka semua terkejut melihat papi Kalandra yang terdiam tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“P-papi..” sapa Ken dengan ragu sambil berjalan perlahan mendekati papinya.
“Kamu Kenzo? Kenzo anakku kan? Ada apa dengan rambutmu?” tanya papi Kalandra.
Mendengar pertanyaan papi Kalandra membuat Ken semakin menjadi tegang dan gugup, dia juga hanya bisa menelan salivanya.
“Em, papi, Ken bisa menjelaskan semua, jangan marah dulu ya pi.” Ucap Ken.
“Kenapa papi harus marah? Warna rambut itu sangat cocok untukmu! Papi tidak tau ternyata anak papi sangat tampan dengan warna rambut seperti itu!” ucap papi Kalandra dengan nada yang ramah.
Semua orang yang ada di sana sangat terkejut dengan reaksi papi Kalandra yang biasa saja dengan perubahan warna rambut Ken yang baru.
“What!?” ucap Key yang melihat reaksi papinya yang justru terlihat bahagia melihat rambut Ken yang sudah di warnai.
“Apa papi hari ini salah minum obat ya bang?” bisik Key kepada abangnya.
“Entahlah, abang juga kaget banget liat ekspresi papi yang biasa saja melihat perubahan Ken.” Jawab Kenan.
“Apa itu hanya tipuan om Kalandra saja ya? apa jangan-jangan dia akan mengeluarkan amarahnya saat di rumah?” tanya Bernard.
“Tidak, aku tau betul kalau sekarang ini papi benar-benar bahagia melihat Ken.” Jawab Key.
Papi Kalandra memeluk Ken dengan sangat erat seperti orang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu satu sama lain.
“Selamat datang kembali Ken! Papi sangat bangga karena kamu benar-benar bisa membuat papi bangga!” puji papi Kalandra.
“Mas, kamu tidak masalah dengan prubahan rambut Ken? Bukankah kamu paling tidak suka kalau anak-anakmu mewarnai rambutnya?” tanya mami Khansa.
“Kenapa dengan warna rambutnya sayang? Ken sangat bagus dengan warna rambut seperti ini, besok juga dia akan melakukan wawancara dengan para wartawan mengenai perusahaan barunya, aku yakin kalau anak kita akan menjadi pusat perhatian besok karena di sana kita juga akan mengumumkan mengenai Ken dan Key kepada seluruh dunia!” jelas papi Kalandra.
“Ah, baiklah ayo kita pulang dan membahas masalah besok di rumah, Ken pasti sangat kelelahan.” Ucap mami Khansa.
Akhirnya mereka semua segera pulang ke rumah keluarga Kalandra bersama-sama, Ken dan Key berada di satu mobil yang sama, suasana di dalam mobil sangat canggung karena keduanya tidak ada yang mau memulai pembicaraan.
“Kalian berdua kenapa tidak saling menyapa? Kalian kan baru saja bertemu kembali.” Ucap Bernard yang mencoba untuk mencairkan suasana.
“Waktu di Jepang juga kita ketemu kan?” ucap Key.
“Iya, baru kemarin rasanya kita bertemu di Jepang dan kamu sudah membuat masalah yang besar bukan Key?” ucap Ken dengan senyum sinisnya.
“Itu hanya masalah kecil, jadi tidak usah di ungkit lagi!” ketus Key.
“Kamu ini perempuan Key, jadi jangan terlalu menjadi pemberani! Maksud papi menyuruhmu mempelajari bela diri itu hanya untuk berjaga-jaga jika ada bahaya yang mendatangimu, bukan malah kamu yang mendatangi masalah itu!” jelas Ken.
“Apa saat aku di terror seperti itu namanya bukan masalah!? Apa menurutmu aku bisa menerima semua itu?” tanya Key.
“Tidak! Aku tau kamu tidak bisa menerima itu semua, begitu pun denganku! Mendengar kabarmu dari Rey membuatku ingin kembali ke Jepang dan menghajar orang yang sudah menerrormu! Tapi setidaknya kamu masih sempat memberitau papi dan mami tentang masalah ini!” ketus Ken yang mulai kesal.
“Kamu tau betapa sakitnya hati papi dan mami saat mengetahui apa yang terjadi kepada anaknya dari mulut orang lain? Mereka pasti sangat kecewa padamu! Dan lagi, kalau sampai ada apa-apa denganmu pasti mereka semua akan menyalahkan diri mereka sendiri karena tidak bisa menjagamu dengan baik!” lanjutnya.
Mendengar ucapan Ken yang panjang lebar itu membuat Key terdiam tanpa menjawab apa-apa, begitu pula dengan Bernard yang hanya diam dan tidak mau ikut campur dalam masalah kedua saudara kembar itu.