
Hidup adalah mimpi bagi mereka yang bijaksana, permainan bagi mereka yang bodoh, komedi bagi mereka yang kaya, dan tragedi bagi mereka yang miskin.
“Rey, berhentilah bermain-main! Kamu sudah harus mengikuti jejak papa untuk meneruskan perusahaan!” tegas Robert kepada Rey.
“Tapi pa, Rey masih ingin menikmati masa muda Rey pa.” protes Rey.
“Kamu sudah terlalu lama papa berikan waktu untuk bermain, sekarang waktunya kamu serius melanjutkan usaha papa.”
“Tapi Ken masih bisa bermain pa, om Kalandra juga ga pernah menyuruh Ken untuk belajar bisnis.” Ucap Rey.

“Itu karena om kamu masih memiliki Kenan untuk meneruskan perusahaannya, lagipula om kamu juga belum mengenalkan Ken sebagai anaknya, sedangkan papa hanya memilikimu dan semua orang sudah tau jika kamu adalah anak papa satu-satunya.” Jelas Robert.
Rey hanya diam saja tanpa membalas perkataan papanya lalu pergi menuju kamarnya. Robert pusing karena Rey yang selalu saja bermain-main dengan temannya dan tidak memperdulikan perusahaannya.
“Sudahlah sayang, aku yakin dia akan mengerti suatu saat nanti.” Ucap Hani mencoba untuk menenangkan suaminya.
“Tapi sampai kapan kita harus menunggunya mengerti sayang?”
“Dia kan sudah mengambil jurusan bisnis sayang jadi setidaknya dia sudah belajar di kampus.”
“Kamu tau kan kalau di kampus mereka hanya mempelajari dasar-dasarnya aja, sedangkan untuk memperdalamnya harus belajar secara langsung.”
Hani tidak menjawab ucapan suaminya itu, dia mengerti kalau suaminya sangat mengkhawatirkan anak semata wayangnya itu.
Di kamarnya Rey menelfon saudara sepupunya dan mengajaknya untuk bertemu di luar dan di iyakan oleh Ken.
Di café langganan Ken dan Rey, mereka berdua sudah datang dan duduk di kursi mereka masing-masing.
“Kamu kenapa mukanya di tekuk gitu sih Rey?” tanya Ken.
“Kamu tau, papaku selalu menyuruhku untuk belajar bisnis.”
“Kamu kan sudah mengambil jurusan bisnis Rey..”
“Maksudnya seperti les privat gitu, dan papa juga akan turun tangan langsung untuk mengajariku.” Jelas Rey.
“Huhh,, sama sepertiku Rey. Biasanya abang Kenan yang mengurusku dan mengajariku tapi mulai hari ini papi yang akan mengajariku langsung.” Ucap Ken dengan nada lemas.
“Oh iya, bagaimana dengan usaha yang sedang kamu kerjakan?” tanya Rey.
“Sudah berjalan, aku sudah menyelesaikan semuanya hanya tinggal mencari perusahaan yang ingin berinvestasi denganku.” Jelas Ken.
“Apa sesulit itu mencari perusahaan yang mau berinvestasi?”
“Tentu saja sulit, mereka juga tidak ingin mudah percaya begitu saja dengan usaha yang baru aku bentuk ini.” jelas Ken.
Ken memilikii kecerdasan tinggi yang memudahkannya mampu untuk membuat dan mengembangkan gamenya sendiri. Dia sudah menyelesaikan game miliknya sendiri namun dia masih belum bisa menemukan perusahaan yang mau menginvestasikan saham kepadanya.
Sebenarnya Ken bisa dengan mudah untuk mendapatkan perusahaan yang mau menginvestasikan saham miliknya jika dia menggunakan nama papi atau abangnya, namun Ken tidak ingin seperti itu, Ken ingin jika sebelum seluruh dunia mengetahui identitas aslinya dia sudah di akui oleh seluruh dunia akan kehebatannya sendiri.
Rumah Kalandra
“Assalamualaikum..” ucap Kenan dan Key secara bersamaan.
“Waalaikumsalam..” balas mami Khansa dan Rose.
Key menghampiri mami dan mamanya itu dan mencium punggung tangan mereka secara bergantian di susul oleh Kenan.
“Hai cantiknya mama..” sapa Rose kepada Key.
“Hai mama Rose,, apa kabar?” ucap Key sambil memeluk tubuh Rose.
“Baik sayang..”
“Mama ada apa kesini? Mama tidak mungkin hanya kebetulan ke sini kan?” selidik Kenan.
“Mama ke sini karena kamu bilang akan mengenalkan seseorang kepada kami jadi papa dan mama langsung kemari untuk berkenalan dengannya langsung.” Ucap Rose.
“Abang serius mau mengenalkan nenek lampir itu kepada orang tua kita?” tanya Key kepada Kenan.
Kenan yang mendapat pertanyaan seperti itu dari adiknya hanya bisa diam tidak menjawab apapun kepada adiknya itu.
“Abang, fikirkan baik-baik. Jika dia saat masih berpacaran saja dia tidak bisa menghormati abang, berarti dia tidak bisa dijadikan istri.” Lanjut Key.
Khansa dan Rose yang dari tadi hanya mendengarkan kedua anaknya tanpa mengerti apa yang mereka bicarakan merasa penasaran.
“Sebenarnya kalian ini membicarakan apa? Siapa nenek lampir?” tanya mama Khansa.
“Itu loh ma, jadi kan tadi…” Key menceritakan semua kejadian tadi kepada mami dan mamanya itu hingga membuat mereka berdua juga saling menatap satu sama lain.
Khansa menghela nafas panjang mendengar penjelasan dari anak perempuannya itu.
“Sayang, mami tau kamu sedang jatuh cinta kepada wanita itu. Semua terserah kepadamu apakah kamu masih mau melanjutkan hubungan bersamanya atau tidak, tapi yang mau mami beritahu kepadamu tidak ada wanita yang membentak pasangannya jika dia benar-benar mencintainya. Mami mau kamu coba tanya kepada hatimu dan mantapkan pilihanmu.” Ucap Khansa.
“Kami akan selalu mendukung apapun pilihanmu Kenan, kami hanya ingin kamu bahagia dengan wanita yang bisa mencintaimu dengan tulus.” Lanjut Rose.
Kenan hanya tersenyum mendengar ucapan mami dan mamanya itu, dia selalu bersyukur memiliki keluarga yang selalu mendukungnya dalam keadaan apapun.
Di kamar, Kenan yang sedang berbaring tiba-tiba saja tersenyum karena memikirkan tentang pertemuannya dengan Belinda tadi.
*Flashback*
“Diana, apa kamu tidak ingin melakukan pemotretan hari ini?” tanya Kenan.
“Tapi aku tidak mau pergi jika wanita ini masih ada di sini!” ketus Diana.
“Dia adalah calon sekretarisku jadi dia harus berada di sisiku.” Tegas Kenan.
Akhirnya Diana memutuskan untuk menuruti perintah Kenan dengan terpaksa dan keluar dari ruangannya karena dia ada pemotretan sebentar lagi.
“Duduklah” perintah Kenan mempersilahkan Belinda untuk duduk.
“Ehem,, karena Key ga mau jadi obat nyamuk jadi Key beristirahat di ruang rahasia aja ya kak sekalian ganti baju.” Ucap Key yang berjalan menuju ruang rahasia di ruangan itu.
Kenan dan Belinda hanya tersenyum melihat tingkah laku Key. Belinda duduk di kursi yang sudah di sediakan dan mulai merasakan kecanggungan di antara mereka.
“Apakah kamu masih bawel seperti dulu?” tanya Kenan memulai pembicaraannya.
“Menurutmu?” ucap Belinda dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
“Entahlah, aku juga tidak tau karena kita baru saja bertemu kembali. Maafkan sikapku kepadamu dulu ya Bel, aku tau aku sangat jahat kepadamu dulu..” ucap Kenan dengan perasaan menyesal.
Belinda sangat senang karena Kenan sudah bukan Kenan yang dia kenal dulu, yang selalu cuek kepadanya dan selalu mengusirnya jika sedang berada di dekatnya.
“Oh iya, dua hari yang lalu aku bertemu dengan Bernard di bandara.” Ucap Kenan.
“Iya, dia sudah memberitahuku tentang itu.”
“Lalu kemana dia sekarang?”
“Dia sedang mengurus perusahaannya yang ada di Indonesia.” Jawab Belinda yang di balas anggukan oleh Kenan.
“Lalu kenapa kamu malah melamar menjadi sekretarisku?” tanya Kenan yang membuat Belinda semakin gugup karena tidak tau apa yang harus dia katakan.
“Duh, bagaimana ini? bodohnya aku tidak menyiapkan alasan lebih dulu sebelum datang ke sini.” Batin Belinda sambil menatap Kenan yang sedang menunggu jawaban darinya.
“A,,aku.. aku hanya tidak suka saja melamar di perusahaanku sendiri karena akan dengan mudah untukku bekerja di sana terlebih lagi semua karyawan di sana sudah megenalku, mereka akan memperlakukanku dengan istimewa walaupun aku hanya menjadi karyawan biasa.” Jelas Belinda.
“Itu hanya salah satu dari alasanku, tapi alasan utamaku bekerja di sini karena kamu Kenan.” lanjut Belinda di dalam hati.
*Flashback end*